Monthly Archives: February 2005

Adakah Tempat untuk Orang-orang Miskin?

Menjelang siang di Jl Waturenggong, Denpasar. Jalan dua arah ini sering banget menyebalkan. Lebarnya cuma cukup untuk tiga mobil berjejer. Tapi banyak banget yang parkir di kanan kiri jalan. Kalo udah gini, bawaannya pasti macet. Motor saling serobot. Mobil saling ngotot. Semrawut! But, mau gak mau aku harus melewatinya tiap hari.

Jalan ini relatif kecil, seperti umumnya jalan raya di Denpasar. Pernah sih ada yang bilang kalau Denpasar memang tidak disiapkan sebagai kota. Karena itu jalannya kecil-kecil, meskipun jalan utama. Untuk tiga mobil berjejer aja jalan udah penuh.

Tapi siang itu jalan relatif lancar. Hanya ada mobil berjalan pelan di depanku. Aku juga ikut pelan.

Tiba-tiba saja mobil itu nglakson kenceng-kenceng. Aku menangkapnya sebagai petanda dia sebal atau marah. Dan benar saja. Mobil itu pelan, ternyata karena ada seorang pemulung barang bekas naik sepeda. Mobil itu mau nyalip, tapi agak susah. Mungkin karena lama nunggu tetap saja gak bisa nyalip, akhirnya dia sebal lalu bunyiin klakson kenceng-kenceng.

Pemulung itu lalu berhenti dan menepi. Pas mobil bisa nyalip, sopirnya bentak-bentak ke arah pemulung. Tentu saja pemulung itu hanya bisa diam. Secara ekonomi dan secara sosial jelas dia kalah. Pengendara mobil itu jelas naik mobil, dia hanya naik sepeda. Secara mental -dalam pengertian berani melawan- pemulung itu juga kalah. Lalu mau apa dia? Melawan?

Mata pemulung itu jelas tidak senang dibentak-bentak. Tapi dia kemudian hanya menunduk. Dia hanya berhenti.

Aku melihatnya, dan hanya bisa menahan nafas. Tidakkah pemulung itu juga punya hak pake jalan tanpa harus dibentak-bentak? Tidakkah semua sarana itu memang dibangun untuk kepentingan bersama, tidak hanya untuk mereka yang punya mobil? Kalau begitu, mereka yang naik mobil juga sekali-kali harus mengalah, dong.

Masa selalu saja orang miskin dan lemah harus dikalahkan?

1 Comment

Filed under Uncategorized

Iri Juga Melihat Napi Itu Melakukan Yoga…

Jumat ini sepertinya jadi hari yang melelahkan. Aku harus bangun jam enam pagi. Padahal semalem abis nglembur. Liputan lalu nulis laporan soal kontroversi pengangkatan psikiater yang belum ujian nasional sampe pukul 11an. Abis kirim laporan lanjut ngopi di tempat nongkrong baru di Jl Waturenggong sampai setengah satu. Menjelang tidur, masih ngetik feature soal Candi Singasari di Malang untuk majalah The Echo. Deadline-nya hari ini padahal liputan sudah sejak akhir tahun lalu. Syukurlah akhirnya selesai juga pukul setengah tiga pagi.

Jam enam persis alarm HP berbunyi. Huh, padahal mata masih ngantuk banget. Udah capek, eh tidur cuma 3,5 jam. Padahal standarnya kan delapan jam. But, gimana lagi. Sudah resiko kerja tak terikat jam. Mau gak mau toh tetap harus bangun.

Pagi ini aku ke penjara Kerobokan di Kuta Utara. Aku lagi liputan soal narkoba di penjara. Kemarin sih udah ngobrol banyak sama petugas. Juga dikasi tau tentang bagaimana seluk beluk peredarannya dan bagaimana cara masuknya. Gila juga. Penjara ternyata bisa jadi tempat transaksi yang aman. Biar gak cuma ngobrol ma petugas, pagi ini aku masuk ke Blok H, blok khusus untuk napi narkoba. Asiknya lagi, pagi ini ada yoga untuk mereka.

Jadilah pagi ini aku ikut mereka yoga. But, karena belum bisa, jadi ya aku cuma ngeliat lalu foto-foto. He.he. Salut juga, ternyata mereka sangat disiplin. Dengan senang hati mereka bangun ketika dokter dan pemimpin yoganya sudah dateng. Tak sampai 10 menit, mereka semua sudah duduk rapi di aula seluas sekitar 10×10 meter persegi.

Sekitar 48 orang itu duduk bersila beralas kain tipis di ubin. Hampir semuanya buka baju. Ngiri juga melihat tato mereka yang memenuhi tubuh dan bagus-basgus. -Ehm, dari dulu aku pengen nato tubuh, tapi gak cukup berani menahan sakit. Jadi cuma bisa ngiri liat tato bagus-bagus-. Duduk mereka pun tidak perlu diatur-atur lagi karena sudah bisa mencari posisi masing-masing.

Yoga itu sendiri dilakukan untuk mengobati ketergantungan mereka pada narkoba. Kata pemimpinnya sih agar ketika keluar dari penjara, mereka semua bisa hidup lebih baik. Klise memang. But, harapan itu memang ada pada beberapa napi yang ngobrol sama aku. Dan, aku pikir memang demikian adanya. Salah satu buktinya ya mereka begitu disiplin ikut yoga.

Para napi itu pun disiplin mengikuti gerakan-gerakan I Putu Hardiyanto, yang memimpin yoga pagi itu. Dari sekitar setengah delapan sampe setengah sepuluh, mereka begitu biasa melakukan gerakan-gerakan tersebut. Hanya ada satu dua yang sekadarnya, bahkan ada pula yang berhenti karena kepalanya pusing.

Aku, sekali lagi cuma bisa melihat mereka. Juga moto-moto. Ya, lumayanlah buat bahan liputan, stok foto, juga bahan renungan. Aku menikmatinya meski masih sedikit ngantuk. Aku sering banget nguap..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Ogoh-ogoh pun Membawa Jarum Suntik..

Minggu kemarin perempatan Catur Muka Denpasar penuh sesak oleh lautan manusia. Catur muka merupakan patung dengan empat wajah yang ada di perempatan antara Jl Surapati, Jl Veteran, Jl Gajah Mada, dan Jl Sutoyo. Keempat jalan ini penuh dengan manusia. Saking penuhnya aku harus berjalan berhimpitan dengan orang-orang. Jalannya pun pelan banget. Maklum, kemarin adalah hari pertama Lomba Pawai Ogoh-ogoh. Kebetulan juga hari Minggu, jadi banyak orang yang nonton.

Ogoh-ogoh di Bali lahir awal 1980-an. Idenya dari Gubernur Bali saat itu, Ida Bagus Mantra. Ogoh-ogoh menjadi simbol hal buruk berupa patung dari bambu atau kayu dengan wujud raksasa jahat (buta kala). Dulunya, ogoh-ogoh dibuat menjelang Nyepi di hampir tiap banjar. Sehari menjelang Nyepi (disebut pengrupukan), ogoh-ogoh itu diarak ke kuburan terdekat lalu dibakar. Ini sebagai simbol membakar hal-hal buruk sebelum penyucian pas Nyepi yang juga tahun baru dalam kalender Bali.

Dua tahun terakhir, pemerintah Bali melarang adanya arak-arakan ogoh-ogoh. Sebab, kadang-kadang memang terjadi kericuhan ketika membawa ogoh-ogoh. Sepertinya larangan itu berlebihan. But, begitulah adanya. Sejak taun lalu, tidak ada lagi pawai ogoh-ogoh. Sebagai gantinya, pemkot Denpasar ngadain lomba itu tadi. Kali ini dalam rangka ultah Denpasar.

Karena lomba, bentuk ogoh-ogohnya pun tidak lagi konvensional berupa raksasa berwajah jelek. Kemarin misalnya, ada ogoh-ogoh yang berwujud perempuan berpakaian minim membawa jarum suntik dan minuman keras. Ada tulisannya Dewi Kenikmatan Penyakit Masyarakat. Heran juga kenapa harus cewek ya? -Eh, kalo cowok juga mungkin ada yang tanya kenapa cowok ya-.

Minggu kemarin sekitar 55 ogoh-ogoh diarak di perempatan catur muka itu. Tiap desa adat di Denpasar menampilkan ogoh-ogoh berukuran besar. Ada yang bertugas memikul, memainkan musik, menari, atau membawa tulisan. Dari pukul satu siang sampai sembilan malam, satu per satu ogoh-ogoh itu diarak. Bukan menang kalah yang dicari. Tapi bagaimana bisa membuat tradisi itu tetap bertahan. -Hm, karena inilah hidup di Bali sangat menyenangkan. Tiap ritual selalu bernuansa seni-

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Valentine, Kasih Sayang yang Dikomersialkan…

-catatan pas valentine-

Ketika aku masih kecil, mungkin TK atau SD, keluargaku tidak mengenal Valentine. Mungkin sampe sekarang pun mereka belum mengerti. Maklum, kami tinggal di kampung kecil, lumayan jauh dari kota. Namun, tanpa pernah tau apa itu Valentine, bukan berarti kami tidak mengenal kasih sayang.

Ketika itu, aku sering tidur di pangkuan ibuku kalo malam. Sambil ngobrol di depan rumah, beralas tikar, dan melihat rembulan. –Hm, i really miss it- Atau sekali-kali aku digendong bapakku di punggung menuju sawah atau hanya jalan-jalan. Atau aku makan sepiring bertiga atau berempat dengan kakak-kakakku. Kami semua saling menyayangi tanpa harus diverbalkan dengan bunga atau coklat atau kata-kata.

Ketika kuliah, aku baru tau kalau ada hari khusus untuk memperingati Valentine. Aku pernah baca sih Valentine itu nama seorang santo (?) yang dihukum mati karena berjuang demi cintanya. Atau semacam itulah. Valentine diperingati tiap 14 Februari. Biasanya sih memang dilakukan dengan pasangan misal pacar atau suami atau istri. But, tidak jarang pula dengan orang-orang terdekat.

Sikap orang pada Valentine pun macam-macam. Ada yang menolak karena Valentine identik dengan ajaran agama tertentu. -Ini sih sebenarnya dari kelompok orang yang bawaannya memang curiga melulu dengan agama orang lain-. Ada pula yang menolak merayakan dengan alasan budaya Barat (dengan B besar). Karena itu tidak perlu dirayakan. Toh, banyak juga yang merayakan, terutama mereka yang lagi kasmaran.

Dan semalam, aku melihat betapa banyak orang yang bersiap-siap merayakan Valentine. Di Jl Sutoyo Denpasar, tempat orang jualan bunga, bener-bener macet karena banyaknya orang yang beli mawar. Di Jl Sudirman, tumben-tumben aku lihat orang jualan bunga di pick up dengan tulisan Jual Bunga dan Bingkisan untuk Valentine. Toko pernak-pernik bernama Valentine di Jl Waturenggong dan Jl Diponegoro juga penuh sesak dengan pembeli. Malah pecalang (pengaman desa adat) ikut jadi tukang parkir. Di mall-mall, aku liat pembeli pada ngantri mau membeli pernak-pernik untuk diberi pada orang yang dikasihi.

Hm, begitulah. Selalu saja pasar memang mengambil kesempatan pada setiap perayaan. Tidak hanya pas Idul Fitri, Natal, Nyepi, atau Imlek. Semua momen selalu dijadikan kesempatan untuk melariskan produk. Dan, ketika Valentine, yang dikomersialkan itu kasih sayang. Seolah-olah kita tidak menyayangi orang terdekat kalau tidak memberikan hadiah pada orang tersebut.

Tentu saja, itu hak tiap orang untuk memilih merayakan atau tidak. Tapi aku memilih tidak. Tanpa merayakan Valentine, setiap hari hidup ini sudah penuh dengan kasih sayang. Dan, aku tidak mau jadi korban komersialisasi kasih sayang itu..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Betapa Bermaknanya Angka-angka Itu

Akhirnya tadi pagi aku bisa ambil duit lagi lewat ATM BNI. Soale udah tiga hari aku ingat-ingat dan tetap saja lupa. Semalem aku coba lagi semua angka yang aku ingat. Hasilnya? Tetap saja dibilang PIN ku salah. Lalu, tadi pagi aku coba kembali. Kali ini dengan angka-angka kombinasi 9 1 2 5. Mirip pelajaran Matematika pas SMP. -lucu juga, ternyata aku pernah begitu hobi Matematika ;p- Aku coba saja kombinasi-kombinasi yang mungkin dari angka-angka itu. Yang aku ingat cuma angka terakhir tuh 5. Jadi lebih mudahlah. And… pagi ini berhasil. Langsung aja aku ganti dengan PIN baru. Biar lebih gampang diingat.

Kasus ATM BNI berakhir dengan jalan keluar. But, kasus ATM Niaga-ku berakhir jelek. Sad ending. Ceritanya sudah pekan lalu.

Ketika sudah di depan mesin ATM, aku tiba-tiba lupa berapa nomor PIN-ku. Aku coba-coba 9 1 6 2 6 2. Mesin menjawab PIN salah. Aku coba lagi. 9 1 6 2 6 7. “Rasanya juga salah,” pikirku. Mesin itu kembali menjawab kalau PIN-ku salah. Parahnya, kartu ATM ku malah masuk dan tidak keluar-keluar. Sh*t!

Aku kembali mengingat-ingat. God! Ternyata aku benar-benar lupa. Bagaimana mungkin aku tiba-tiba lupa. Padahal tiap hari aku selalu ingat angka-angka “ajaib” itu. Sebab, tanpa angka-angka itu aku tidak bisa mengambil duit. Tanpa duit, alamaak, kecuali kita hidup di surga (atau neraka) baru kita bisa hidup.

Pada akhirnya, aku benar-benar lupa PIN-ku. Lalu besoknya aku terpaksa ganti kartu.

Hm, ternyata benar. Hidup kita memang hanya terdiri dari angka-angka. Banyak hal pada diri manusia saat ini sudah diberi kode-kode angka agar mudah mengenalinya. Misalnya KTP, SIM, paspor, dan seterusnya. Tanpa angka-angka itu, bisa jadi kita akan menjadi orang asing. Misalnya kita masuk Bali lewat jalur darat. Tanpa KTP, kita akan menjadi orang tidak jelas. Sebab, di Gilimanuk selalu diadakan cek KTP. Tanpa KTP, kita tidak boleh masuk.

Atau misalnya soal duit. Hanya dengan bermain angka, kita bisa tiba-tiba menjadi kaya raya. Bayangkan kita bisa bobol sistem pertahanan salah satu bank dengan nasabah jutaan. Tidak usah repot. Kita cukup pindahkan saja angka rupiah terakhir di tiap rekening ke rekening kita. Tidak banyak kan, cuma satu rupiah?

Tapi gimana kalau nasabah bank itu jumlahnya sampai puluhan juta. Lakukan seminggu sekali atau sebulan sekali. Maka kita bisa dapat puluhan juta hanya bermodal bisa membobol sistem keamanan bank itu. –he.he. ini sih terinspirasi dari Pret, temannya Elektra di Supernova edisi Petir-. Ya, tapi kenyataannya begitu. Angka-angka itu membuat kita tiba-tiba jadi kaya.

Lalu dengan karu Visa Elektron misalnya, kita tinggal membeli barang apa saja selama tabungan cukup. Kita tidak pernah melihat bagaimana wujud uang itu. Uang itu hanya rekaan. Hanya ilusi. Hanya angka-angka. Tapi tiba-tiba angka itu bisa berubah jadi kompi baru, DVD player baru, dan seterusnya.

Dalam skala lebih besar, ketika distatistik, kita juga disederhanakan dalam angka-angka. Dari situlah kemudian kebijakan pemerintah diambil. Pengaruhnya ke apa yang akan dibangun, bagaimana teknisnya, dan seterusnya. Angka-angka itu jadi hal yang sangat menentukan bagaimana hidup kita selanjutnya. Tanpa angka kita bukan apa-apa..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tahun Baru Imlek Sih Ok. But, Hari Pers Nasional, Nanti Dulu…

Hari ini (Rabu, 9 Februari) hari libur nasional karena tahun baru Imlek. Soal tahun baru Cina, -yang bener pake Cina apa China sih?-, aku juga setuju. Kan kita juga harus menghormati teman-teman yang merayakan taun baru ini dengan suasana yang lebih khidmat. So,


Selamat Taun Baru
untuk Teman-teman yang Ngrayain..

Hari ini juga Hari Pers Nasional (HPN). Di beberapa sudut Denpasar ada spanduk bertuliskan Dirgahayu Pers Nasional Ke-21. Tulisan yang salah. Dirgahayu kan berarti semoga panjang umur. Berarti seharusnya Dirgahayu Pers Nasional gitu aja. Gak usah pake ke-21.

But, bukan itu poinnya. Hari Pers Nasional diperingati setiap 9 Februari karena pada tanggal inilah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) lahir. Kalau memang hari pers, tidakkah seharusnya memakai tanggal terbit koran pertama kali di Indonesia. Ya, meskipun ini juga harus dilihat media tersebut apakah untuk kepentingan penjajah ketika itu atau untuk perjuangan. Mungkin kita bisa minta bantu sejarawan. So, soal 9 Februari sebagai HPN bisa diperbaiki demi sejarah. -Gawat banget ya. Jadi inget soal G30S/PKI-

HPN taun ini diperingati di Pekanbaru Riau. Parahnya, panitia menghabiskan dana sekitar Rp 6 milyar pake APBD Riau. Kegiatannya seperti seminar, pekan olahraga, dan semacamnya. Alamaaak, benar-benar memalukan. Masa wartawan harus make dana pemerintah untuk kegiatan yang gak jelas itu. Kalau udah gitu, gak usah nulis soal korupsi. Soalnya, jangan-jangan mereka (wartawan yang ikut HPN) juga bagian dari korupsi itu.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Minum Larutan Kodok, Eh Tambah Keok..

Wayan Kariasa, sebut saja namanya begitu, dua minggu terakhir kaget. Badannya semakin kurus. Lengannya tidak lagi terlihat gagah. Padahal sebagai laki-laki tulen, jelas Kariasa ingin sekali berbadan kekar. Apa lagi pekerjaannya sebagai kernet jelas mengharuskan tubuhnya tetap sehat. Apa daya, berat badan semakin turun.

Bapak dua anak itu semakin cemas. Selain badannya semakin kurus, bagian tubuh yang lain juga terlihat bercak-bercak seperti cacar. Semakin hari, bercak itu semakin banyak. Kariasa mulai kalut dan takut.

Atas saran bapaknya, warga Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali itu kemudian bertanya pada balian (dukun). Kariasa awalnya menolak. Namun karena semakin hari badannya semakin kurus dan bercak di lengannya semakin bertambah, Kariasa pun akhirnya pergi ke balian. Sebagai ganti biaya, Kariasa membawa rokok Gudang Garam satu bungkus, beras setengah kilogram, dan duit Rp 5000.

Setelah berkonsentrasi sejenak dengan dupa mengepul di depannya, si balian itu berbicara kepada Kariasa. “Adik ini kena penyakit karena sering jalan malam. Sebagai obat, coba adik bawa tiga kodok hijau ke tiang (saya),” kata balian itu.

“Kenapa harus kodok?” tanya Kariasa.

“Adik mau sembuh apa tidak?” balian itu bertanya balik. Kariasa diam saja.

Malamnya, Kariasa pun berburu kodok hijau di selokan belakang rumahnya. Hanya dengan tangan kosong, Kariasa menangkap tidak hanya tiga tapi lima kodok sekaligus. Dibawanya lima kodok itu pada sang balian keesokan harinya.

Di tempat praktik balian, kodok itu dimasak tiga ekor. Sisanya dilepas kembali. Oleh balian, kodok itu direbus lalu airnya diberikan kepada Kariasa. Satu gelas air kecoklatan itu pun dihabiskan Kariasa sekali teguk. “Rasanya kaya air kencing,” kata Kariasa. Namun dengan harapan bisa sembuh, Kariasa tetap minum air tersebut.

Esoknya, Kariasa kembali meminum segelas air saktit tersebut. Namun penyakitnya tidak juga sembuh. Badannya tetap kurus. Bercak-bercaknya tetap saja ada. Bahkan kali ini dia mulai mencret. Kariasa pun mencari balian yang lain dengan biaya lebih besar dua kali lipat dari balian pertama.

Balian lain itu bilang kalau Kariasa kena kutukan. Karena itu harus meminta maaf pada leluhur. Namun, meski sudah melakukan permohonan maaf, Kariasa tetap tidak sembuh dari penyakit “aneh” yang dideritanya. Dia pun pasrah.

Lalu, dia mulai mencari informasi tentang penyakit tersebut. Dari buku yang dibacanya, bapak dua anak itu tahu bahwa dia mengidap gejala HIV/AIDS. Dia pun berkonsultasi ke relawan di Singaraja. Kini, Kariasa terus minum ARV untuk mempertahankan kekebalan tubuhnya. Kariasa tidak mau lagi minum larutan kodok hijau.

“Takut tambah keok,” katanya sambil tertawa..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Multi Level Marketing tuh Penghisapan!

Baiklah, aku tuliskan kembali. Aku hanya mengutip dari Manifesto Partai Komunis, -buku fotokopian usang bersampul hijau dengan stiker Marlboro di tengahnya. Ironis! Salah satu pinggirnya rusak dimakan rayap, seperti komunisme yang semakin usang itu kali-.

Sebanding dengan berkembangnya borjuasi, yaitu kapital, maka dalam perbandingan yang sama berkembang jugalah proletariat, kelas pekerja modern, yaitu suatu kelas buruh yang hanya hidup selama mereka mendapat pekerjaan dan mendapat pekerjaan selama kerja mereka mendambah besar kapital (hal 32).



Prosesnya kurang lebih demikian. Buruh menjual tenaga untuk memproduksi barang di pabrik yang milik pemodal. Lalu barang itu dijual dengan keuntungan tertentu untuk kemudian diambil pemodal. Dari situ pemodal mendapat untung, dan lalu menggaji buruh. Semakin besar modal, semakin besar untung yang didapat. Buruh akan tetap dipertahankan kalau mereka menghasilkan untung. Maka, tidak ada pilihan lain selain kerja, kerja, kerja, kerja,…. Menurut logika ekonomi, kata Adam Smith, itu wajar.

Tentu saja itu tidak adil. Dan, memang itulah sisi buruk kapitalisme. Sisi baiknya, sih banyak juga. Seperti aku bisa nulis di komputer, kirim surat lewat email, bikin blog, juga posting tulisan ini. :p

But, soal kapitalisme, aku pikir juga bener kata Ichlasul Amal ketika masih jadi rektor UGM Yogya. “Emang kita mau hidup di planet asing (lalu lari dari kapitalisme?),” katanya ketika diwawancarai majalah Balairung. Kali ini soal multi level marketing (MLM).

Seorang bekas teman, -lucu juga ya, bekas teman?- sekarang ikut MLM. Kalau cuma ML aja sih enak :p, but ini soal MLM. Padahal dulunya dia getol ngomong soal anti penghisapan dan seterusnya. Rak bukunya juga penuh dengan buku “kiri” seperti karya Semaoen, Tan Malaka, Karla Marx, Antonio Gramsci, dan seterusnya. Ya, kali soal pilihan hidup. Tapi apa yang dicari: Duit? Kebahagiaan?

MLM, apa bedanya dengan sisi gelap kapitalisme itu? Dia menghisap jauh lebih sadis pada tenaga orang lain. Langgengnya kapitalisme karena adanya modal berupa uang, entah pinjam atau warisan. Tapi MLM, modalnya apa? Jelas sangat sedikit uang lalu selebihnya adalah omong kosong. Anda harus membeli produk tertentu dengan harga yang jauh lebih mahal, bisa sampai puluhan kali lipat dari barang sejenis di pasar.

Barangnya bisa mulai sabun, pemutih kulit –ehm!-, minyak wangi –yang menyemprot mahasiswa layaknya gas air mata-, dan barang-barang tersier alias barang yang tidak ada pun kita gak bakal mati.

Bukan soal mutu, tapi soal citra. Barang dengan harga mahal itu belum tentu lebih bagus dari barang sejenis di pasar. Tapi citranya itu lho. Karena lebih mahal, seolah-olah barang itu lebih bagus. Padahal itu omong kosong. Ongkos omong kosong itu harus ditebus pembeli dengan harga yang tinggi. Dari omong kosong itulah seseorang bisa dapat untung.

Lalu dia memberi pada up line atau apalah istilahnya, pokoknya pada orang yang posisinya lebih tinggi karena sudah mengajaknya masuk dalam bisnis tersebut. Orang di atasnya akan memberi keuntungan lagi pada orang yang lebih tinggi. Sistemnya mirip piramida. Terus bertumpuk. Orang di bawah bawahan Anda akan otomatis memberikan keuntungannya pada Anda, meski Anda tidak mengenalnya. Sebab dia ikut bisnis lewat bawahan Anda. Namanya downline.

Nah, dengan modal omong kosong itu Anda bisa dapat untung tanpa bekerja karena down line-down line Anda akan terus memberikan keuntungan. Sekali lagi, Anda hanya butuh modal omong kosong. Lalu uang itu akan datang dengan sendirinya. Anda tinggal duduk santai di rumah atau baca blog ini sambil menghisap rokok. Sama halnya dengan menghisap kerja keras down line Anda.

Tertarik?

Leave a comment

Filed under Uncategorized