Monthly Archives: October 2006

Doa Mau Makan pun Jadi

Aku pikir bakal ada doa bersama anak-anak panti asuhan atau semacamnya. Eh, ternyata ga ada. Yaudah. Gapapa lah. Yang penting toh udah niat, dan semoga itu jadi hal baik.

Ceritanya sebagai umat yang baik, kami menyisihkan sebagian harta –cailah, kaya punya harta aja- sebagai rasa syukur atas kelahiran Bani, anak kami. Kami menentukan Sabtu lalu untuk perayaan aqiqahnya. Karena Bani cowok, maka harus motong dua ekor kambing.

Semula kami pengen membagi daging kambing yang udah jadi sate dan gule ke anak-anak pengemis di Pasar Badung. Tapi karena istri tiba-tiba sebel lihat gaya mereka yang ga bisa berterima kasih, kami pindah tujuan. Daging itu disumbangkan ke panti asuhan aja. Biar sekaligus saling mengenal ajaran masing-masing.

Setelah konfirmasi ke panti asuhan setempat, ternyata mereka oke. Jadilah Sabtu pagi lalu kami bawa gule, sate, dan nasi untuk anak-anak pantai asuhan. Awalnya sih aku pikir akan ada doa bersama atau semacamnya, eh, ternyata anak-anak pada sekolah. Sebab, maunya kami biar anak-anak itu juga tahu apa itu aqiqah, apa tujuannya, dst. Jadi ada obrolan gitu. Paling tidak kan bisa mereka jadi lebih tahu. Tapi karena ga ada, ya gimana lagi. Kami nyumbang gitu aja lalu caw..

Siangnya baru ada ngumpulin teman-teman di rumah. Jadi masih ada simbolis upacara kecil. Rambut Bani dipotong. Abis itu dibacain doa. Karena bukan ustadz yang baca doa, jadinya cuma Al-Fatihah sama doa mau makan. He.he.. Ya, kan sama-sama doa.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Lebaran yang Tak Terasa Apa-apa

Inilah lebaran pertamaku tanpa keluarga. Eh, salah ding. Tanpa keluarga di Lamongan kali yang benar. Lebaran kali ini aku merayakannya di Bali bersama istri dan Bani, anak kami.

Lebaran kali ini terasa sepi. Mungkin ini penyebabnya.

Pertama ini lebaran di Bali. Muslim di Bali sebagian besar pada mudik. Kalau aku ga ada Bani yang baru lahir, pasti juga memilih pulang ke desa kelahiran. Denpasar terasa sepi juga tanpa mereka. Ada enaknya, jalanan lebih lengang. Ada ga enaknya, mau beli makan lebih susah.

Kedua lebaran tahun ini berbeda harinya. Muhammadiyah dan NU Jawa Timur sepakat learan Senin [23/10]. Tapi pemerintah dan ormas lain, termasuk pengurus besar NU menentukan lebaran Selasa [24/10]. Aku, istri, dan Bani memilih merayakan Senin. Ya sebagai warga Muhammadiyah yang baik sekaligus umat Islam yang sholeh [he.he] maka kami memilih menyegerakan lebaran. Jadilah Senin kami sudah merayakan lebaran. Selasa kami baru sholat ied.

But, sebab paling penting ya mungkin karena aku ga ngrayain lebaran bareng keluarga besar. Biasanya kan di sana pada ngumpul, meski kadang ada saja yang ga bisa dateng. Tahun lalu sih sepupu yg lagi ambil master di Aussie ga bisa dateng. Giliran dia, istri, dan anaknya dateng, eh, tahun ini aku dan adik di Riau yang ga bisa hadir. Yowislah. Ambil enaknya aja.

Paling tidak lebaran ini aku ga perlu berbasa-basi ke tetangga untuk minta maaf untuk hal yg juga aku ga tau apa itu. Atau paling tidak tahun ini aku terhindar dari ruwetnya urusan mudik ke Lamongan.

Lebaan ini, untunglah, masih ada ketupat pesan di tetangga, kare ayam pesan di mertua, dan sate sapi dari salah satu bibi. Makan ketupat dan kare ayam pagi-pagi. Habis itu main game FIFA 2005 sepuasnya. Seperti biasa..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Apa Sih Susahnya Ngantri

Barusan aja, ya hitungan menit lalu, aku antri di ATM. Pengen cek aja apa ada THR dari kantor. He.he.

Pas aku baru sampe ATM, seorang ibu masuk dengan dua anaknya. Abis itu ada cowok juga masuk. Di dalam ruang ATM itu memang ada dua mesin. Satu untuk tunai, satu untuk non-tunai. Misalnya transfer atau cek rekening dst.

Aku nunggu karena aku liat dua mesin itu kepake. Ibu dan dua anaknya keluar. Cowok yg tadi masuk masih di ATM tunai. Aku masih nunggu karena mau pake ATM yg tunai itu. Datang cowok berkaca mata di depan ATM. Eh, dengan cueknya dia nyelonong masuk. Aku pikir dia mau ke ATM non-tunai itu. Ternyata dia masuk pas cowok pertama baru aja kelar.

Yowis. Aku ngalah. Aku nunggu lagi.

Eh, datang lagi ibu2. Aku pikir dia mau ke ATM non-tunai itu. Ternyata dia nyerobot juga! Dia langsung masuk begitu cowok kedua habis ambil duit. Anehnya dia ga nanya sama sekali aku lagi antri apa nggak. Dia kan baru dateng dan aku udah nunggu di situ sebelumnya.

Aku jadi dongkol. Sering banget soalnya kejadian kaya gitu. Dia duluan ga masalah kalo dia bilang permisi kek atau tanya kek. Tapi kalau aku di situ dan dianggap ga ada, wah, itu dia yang jadi masalah.

Hal2 gini ini yang bikin sebel. Kejadian yg paling sering tuh kalau lagi antri di POM bensin. Malah yang pernah kejadian tuh ada bapak2 nyerobot aku. Tak liat belakang motornya ada stiker, ANTRI! JANGAN EGOIS. Alamak..

1 Comment

Filed under Uncategorized

Perihal : Hasil Seleksi Staf SALAM

“Ya nothing to loose ajalah,” kataku pada teman Minggu malam lalu pada seoranng teman. Dia bekerja di tempat aku melamar jadi team leader. Kepasrahan memang salah satu jalan keluar.

Setelah melihat istri menangis pas aku pulang tes, aku memang sempat bimbang antara kebebasan waktu atau kepastian pekerjaan. Toh, aku diam2 tetap berharap aku lolos jadi team leader di tempat aku nglamar. Sambil demikian, aku juga siap2 nerima kenyataan kalau aku ga lolos.

Dan, barusan aku buka imel ada jawaban hasil seleksi itu. Ternyata, kecewa juga baca hasilnya. Hiks. Hiks.. But, semoga aja harapan di bagian paling bawah itu bener. :))

***

Perihal : Hasil Seleksi Staf SALAM

Dengan hormat,

Setelah mempelajari hasil penilaian terhadap hasil test Saudara oleh tim penilai seleksi Team Leader Majalah SALAM, maka Tim Management VECO-Indonesia menyimpulkan bahwa Saudara belum memenuhi keseluruhan persyaratan untuk direkrut sebagai staff VECO-Indonesia, dengan tugas sebagai Team Leader Majalah SALAM.

Sebagai feedback, bahwa Saudara mempunyai potensi yang sangat baik dalam publikasi dan jurnalistik, mempunyai komitmen untuk bekerja keras dengan dedikasi tinggi serta kemauan belajar yang baik. Namun demikian tim seleksi menilai kemampuan Saudara dalam konsep Sustainable Agriculture-SA (Pertanian Berkelanjutan) dan Bahasa Inggris (tulis and lisan) masih kurang dibandingkan dengan calon yang lain.

Untuk pengelolaan Majalah SALAM kedua faktor ini merupakan hal yang sangat penting, mengingat SALAM harus menterjemahkan minimal 50% artikel dari majalah induk SALAM yaitu LEISA Magazine yang diterbitkan oleh ILEIA Belanda. Kemampuan team leader SALAM dalam konsep SA dan/atau LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture) mutlak diperlukan dalam rangka menjamin kualitas Majalah SALAM.

Kami berharap bahwa dengan kemampuan yang Saudara miliki bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik.
Atas nama management VECO Indonesia, saya menyampaikan terima kasih atas partisipasi Saudara dalam rangkaian test yang kami lakukan.

Demikian pemberitahuan kami dan harap maklum.

Salam,

Yuliati
Office Manager

1 Comment

Filed under Uncategorized

Aku Suntik Maka Aku Menarik

Cerita ketika liputan Minggu malam pekan lalu. Pengennya untuk dimuat Playboy Indonesia. Semoga saja bisa.

***

Lampu temaram. Musik berdentam. Malam merambat di Hulu Cafe, Seminyak, Kuta. Edi Purwanto, 28 tahun, meliuk-liukkan tubuh di panggung. Bibirnya meniru lagu Anastacia. Pengunjung bersorak. Dua turis -keduanya laki-laki- saling memagut bibir sambil melihat ke Eta, nama panggung Edi.

Lagu usai. Eta kembali ke belakang panggung. Naik ke tempat dia dan enam waria lainnya berdandan sebelum manggung. Pengunjung bertepuk tangan. Dua bule itu tertawa-tawa. Mereka sepertinya puas.

Tapi Eta tidak. “Lagu pertama bikin bete,” katanya. Satu jam sebelumnya Eta menyanyi lagu slow, lagu yang kurang asik menurutnya. Karena itu dia sebel.

Tak hanya lagu pertama yang membuatnya tak puas. Eta juga tak puas dengan tubuhnya. “Badanku terlalu gendut. Dadaku kurang gede,” katanya.

Padahal, Eta sudah melakukan banyak usaha membuat tubuhnya lebih menarik. Enam bulan lalu dia mulai menyuntik dadanya dengan silikon. Dada yang semula rata itu pun terlihat padat berisi, dan lebih kenyal. Tapi, sekali lagi, Eta belum puas. Dia ingin memperbesar dadanya.

Sebelum nyuntik dada, Eta sudah mengubah bentuk mukanya. Dia menyuntik hidung dan dagunya. “Biar lebih terlihat seperti cewek,” akunya.

Suntik hanya salah satu cara. Ada beragam cara lain bagi waria untuk mempercantik diri: pil dan suntik KB, suntik silikon, serta operasi. Tergantung duit masing-masing.

Ada Sisca, yang tubuhnya penuh dengan tato, dan sangat bangga dengan dadanya. Meski disuntik tujuh tahun lalu, sampai sekarang masih padat berisi. Ada Vivi yang minum pil KB sampai sembilan butir tiap hari. Dia senang karena kulitnya lebih bersih. Urat-uratnya tak kelihatan. Tapi ada pula Tuti yang dadanya pecah setelah tujuh tahun operasi tak diganti-ganti.

Cerita waria adalah cerita bagaimana tubuh menjadi aset. Tak hanya secara psikologis, tapi juga ekonomis.

***

2 Comments

Filed under Uncategorized

Mari Beribadah dengan Merdeka

Puasa uda hampir kelar. Ga kerasa apa-apa. :))

Posting soal puasa juga baru kali ini, seingetku. Jadi aku ambil dari tulisan di Kompas beberapa hari lalu aja deh.

Ada tiga jenis orang yg beribadah.
1) orang beribadah karena pengen masuk surga. ini jenis pedagang.
2) orang beribadah karena takut masuk neraka. ini jenis budak.
3) orang beribadah karena syukur pada-Nya. ini jenis orang merdeka.

Ah, syukurlah aku jarang beribadah krn alasan pengen masuk surga atau takut masuk neraka. Ya gimana. Mau masuk surga modal pas2an. Mau nolak masuk neraka, dosanya banyak. :))

Yowis. Gitu aja lah..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Menimbang antara Kebebasan dan Kepastian

“Aku ga butuh siapa-siapa. Aku cuma butuh kamu,” kata istriku di tengah isaknya.

Aduh, sedemikiankah? Aku diem. Ga bisa jawab.

Kemarin malam pukul 7.30an aku baru sampai rumah. Seharian ada exercise interview untuk lamaran pekerjaan baru.

Ceritanya aku mulai bosen jadi wartawan koresponden -kadang2 freelance- di Bali. Lahirnya Bani membuat aku berpikir ulang tentang perlunya kepastian masa depan. Bahwa ada sesuatu yg lebih pasti dibanding kebebasan. Lalu aku nglamar jadi pemimpin redaksi majalah komunitas NGO internasional di bidang pertanian berkelanjutan. Ya sekaligus melompat ke tempat yg lebih baik. Apa salahnya?

Kemarin pada tahap terakhir untuk penentuan diterima apa tidak. Katanya sih aku satu dari dua kandidat terpilih dari 36 pelamar. Artinya kans-ku separuh2 untuk diterima di sana.

Karena seharian wawacara itu, aku pulang agak telat. Padahal setelah Bani lahir dan kebetualn banget pas puasa, aku jarang ke luar rumah. Lebih sering momong anak atau hanya main game di rumah. Lahirnya Bani, bagiku, seperti keajaiban. Ada sesuatu yg luar biasa dan jadi motivasi.

Tapi istriku agak berbeda. Dua malam pertama di rumah setelah melahirkan, dia tiba2 menangis. Air matanya mengalir. Dia terisak-isak. Dia mengaku kena sindrom ketakutan tidak bisa ngasuh anak. Atau setidaknya takut anak kami kenapa2 dan kami tidak bisa mengurusnya. Sejak awal, kami memang memutuskan akan mengasuh anak kami berdua saja. Tidak usah ada orang lain, orang tua kami sekali pun. Karena itu kalau salah satu di antara kami keluar, maka salah satunya mengurus Bani. Sendiri.

Dan, aku yang lebih sering keluar..

Biasanya sih cuma sampai sore. Tapi kemarin sampai lewat setelah Maghrib. Dan itu jadi masalah. Ketakutan istriku muncul lagi. Dia nangis terisak. Bahkan ketika aku sudah sampai rumah. Aku antara ngrasa berdosa dan bingung.

Bingung karena aku jadi menimbang kembali: Apakah aku akan memilih kerja di tempat lebih bagus dan pasti namun waktu utk keluarga berkurang? Atau aku tetap seperti ini: Pekerjaan dan pendapatan tak pasti, tapi lebih punya kebebasan bersama istri, dan BANI?

Aku masih di persimpangan. Bimbang..

1 Comment

Filed under Uncategorized