Perempuan di Sarang Penasun [6]

***
Ngobrol santai lebih sering dilakukan saat klien mengembalikan jarum. Misalnya Yeni mengajak klien ikut kelompok dampingan sebaya (KDS) atau client meeting. Atau kalau sudah tahu statusnya positif diajak Positive Chat. Bahan obrolan kadang termasuk soal keluarga atau pasangan. “Biar pun statusnya ODHA, mereka terbuka. Masalahnya cuma lingkungan keluarga atau rumah masih ada yang belum bisa nerima sepenuhnya,” tambahnya.

Setelah warung sepi, Yeni baru balik ke kantor membuat laporan harian tentang di mana lokasi jangkauan, siapa kliennya, berapa jarum, untuk berapa orang, jam berapa ambil, kapan jarum kembali, atau minta kondom apa tidak. Sebelum balik, Yeni harus memastikan tak ada jarum bekas di warung, meski hanya plastik bekas bungkus sekali pun. Kadang-kadang dia harus memungut jarum bekas itu di selokan atau tempat sampah.

Pulang kerja bukan berarti tanggungjawab Yeni selesai. “Itu udah jadi tanggung jawab moral,” katanya. Karena itu dia selalu membawa jarum paling tidak 20 batang di tasnya. Kadang-kadang ada pula klien telepon minta dianterin jarum. “Mau nggak mau ya harus nganterin,” tambah Yeni. Sebagian klien memang tidak minta jarum di depan anak-anak lain. Ada pula klien yang minta jarum ke rumah Yeni, tidak peduli pukul 11 malam sekali pun.

Seringnya klien datang minta jarum ke rumah ini sempat jadi masalah. Setelah dapat jarum, mereka malah pakaw di balik rimbun pohon pisang atau ilalang liar tak jauh dari rumah Yeni. “Aku nggak enak aja sama orang sekitar sini. Kalo ada apa-apa kan aku yang kena,” tambah Yeni. Untungnya junkie yang pakaw di situ hanya sebentar, sekitar satu bulan. Setelah diberitahu, mereka tak pernah lagi pakaw di sekitar rumah Yeni.

Toh, satu dua tetangganya mulai curiga. Salah satunya pemuda belasan tahun di kanan rumah Yeni suka menyindir.

“Narkoba, narkoba..” katanya tiap ketemu Yeni.

Semula Yeni berpikir kebetulan saja pemuda itu ngomong begitu saat ada dia. Karena terus ngomong begitu tiap ketemu, Yeni tidak tahan juga.

“Apa masalahmu sama aku?” tanya Yeni pada pemuda itu.

Pemuda itu diam saja. Tidak jawab apa pun. Lalu pergi dengan sepeda motornya.

“Dasar pengecut!” kata Yeni tinggi. [lanjut ke posting berikutnya]

***

Leave a comment

Filed under Bali, Keluarga, Pekerjaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s