Monthly Archives: May 2007

Nasi Goreng Organik Rasa Bayar

Wah, lama juga tidak posting apa pun ke blogku setelah soal profesor yang disensor. He.he Kali ini soal liputan di Batukaru saja lah. Meski udah lewat, teep saja harus disimpan. Suatu saat pasti ada gunanya.

Liputan ke pegunungan Batukaru, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan, sekitar 70 km barat daya Denpasar, ku lakukan Rabu minggu lalu. Liputan ini untuk menambahi artikel tentang Subak di SALAM yang ditulis DNK Widnyana. Tulisan staf Pengairan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bangli itu terlalu teoritis. Ketika aku telepon untuk menambahi artiel dengan kisah nyata, dia bilang tidak ada waktu. Selain itu, menurutnya, kemauan redaksi SALAM agak berbeda dengan maunya dia. Continue reading

1 Comment

Filed under Aneka Rupa, Bali, Pekerjaan

Jangan Undang Profesor [Tiiiiit! Awas Sensor]

Selesailah sudah satu beban pekan ini. Tadi pukul 11 siang lebih sekian, talk show di Radio Global FM pun berakhir. Maka berakhir pula satu kerjaan dengan Kemitraan Jakarta dan Koalisi NGO.

Kerja sama itu bermula dari telepon Tio (Indonesian Parlemantary Centre) Sabtu atau Minggu dua pekan lalu. Dia bilang mau ngajak kerja sama untuk diskusi tentang Undang-undang Partai Politik 2007. Diskusi itu kerja sama antara Koalisi NGO untuk Perubahan UU Politik (Cetro, Pusat Studi Hukum dan Kebijakan, Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, dan IPC) dengan Kemitraan. Di Bali mereka ngajak aku. Mungkin mas Hanif LSPP yang ngasi kontak ke mereka. Setelah jelas bagaimana kerjaannya, aku mengiyakan. Aku pakai Sloka Institute sebagai kendaraan. Continue reading

1 Comment

Filed under Pekerjaan, Pikiran

Multitasking yang Bikin Pusing

Di Kompas sekitar sebulan lalu, Ninok Leksono menulis tentang fenomena multitasking. Mengutip penelitian ilmuwan Amrik –siapa ya namanya?- wartawan senior Kompas yang setauku doktor di bidang nuklir itu menulis bahwa multitasking alias mengerjakan beberapa hal pada satu waktu itu tidak akan efektif. Tulisan itu berawal dari banyaknya komputer yang menggunakan intel core duo.

Sebatas yang aku pahami adalah begini: dengan intel core duo sebagai prosesor, maka komputer akan punya dua prosesor untuk mengerjakan beberapa aplikasi pada satu saat yang sama. Misalnya pada saat komputer bekerja untuk mengetik, komputer juga dipakai untuk mendengarkan lagu. Atau pada saat komputer dipakai edit foto juga lagi online. Atau malah melakukan tiga empat hal sekaligus: mengetik, menyetel lagu, surfing internet, dst. Dengan dua prosesor, maka kerja multitasking lebih ringan dan cepat. Continue reading

Leave a comment

Filed under Daily Life, Pekerjaan, Pikiran

Mari Memproduksi Informasi Sendiri

Judul : Media Rakyat, Mengorganisasi Diri Melalui Informasi
Editor : Ahmad Nasir dkk
Penerbit : Combine Resource Institution Yogyakarta, Januari 2007
Halaman : viii+184 halaman

Media massa yang disebut sebagai media mainstream (media arus utama) kurang memberi tempat bagi kelompok-kelompok marjinal. Lihatlah TV, maka kita lebih sering melihat wajah-wajah penguasa modal politik, ekonomi, maupun sosial. Bacalah koran maka nama-nama sama juga yang kita temukan. Kelompok-kelompok yang tak punya cukup modal hanya diposisikan sebagai konsumen media, bukan produsen, atau setidaknya dilibatkan. Continue reading

Leave a comment

Filed under Jurnalisme, Pekerjaan, Pikiran

Soto Karangasem, Weteng Wareg Gumi Ajeg

Soto karangasem menambah kekayaan kuliner Bali. Tak hanya mapan secara ekonomi, pedagangnya pun bisa jadi tuan di tanah sendiri. Mereka punya slogan weteng wareg gumi ajeg.

Di bawah bangunan semi permanen beratap dan berdinding seng, Wayan Sukanada, 44 tahun, melawan stereotip bahwa orang Bali malu bekerja di sektor informal. Sejak 1980 pria asal Desa Ngis, Kecamatan Manggis, Karangasem itu berdagang soto sapi di pinggir jalan raya di daerah Oongan, Denpasar timur. Tiap hari dia melayani pelanggan yang rata-rata karyawan swasta di sekitar tempat mangkalnya.

Buka sejak pukul 6.30 Wita hingga sekitar pukul 12.30 Wita, Sukanada menghabiskan paling sedikit 6 kg daging sapi untuk soto dan 1 kg untuk sate. Sedangkan beras rata-rata 10 kg per hari. Dengan jumlah tersebut dia bisa memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp 500 ribu per hari.

Maka, bukan hanya secara sosial ekonomi dia mapan, misalnya bisa menyekolahkan tiga anaknya. Urusan ritual pun dia berbangga karena bisa melakukan upacara penghormatan leluhur yang dianggap paling besar di desanya, Nawur Sanjana. Upacara itu hanya dilakukan sekali seumur hidup oleh sebuah keluarga yang merasa diberkahi secara ekonomi. Kalau ada orang yang tidak bisa melakukannya, maka keturunannya tetap harus melaksanakan upacara itu.

Tidak setiap orang bisa melaksanakan karena mahalnya biaya upacara ini. Misalnya, Sukanada dan empat saudaranya harus mengorbankan sepuluh sapi untuk upacara itu.

“Kan bangga ya dari jual soto saja bisa melaksanakan upacara itu,” kata Sukanada.

Ketika tiba upacara di desanya, sekitar 100 km timur Denpasar, Sukanada bisa menunjukkan keberhasilannya berdagang soto sapi. Tak hanya dia tapi juga keluarga, bahkan desanya. Soto karangasem memang jadi salah satu kebanggaan desa tetangga Candi Dasa tersebut.

Sukanada hanya satu dari puluhan pedagang soto karangasem di Denpasar. Mereka tersebar di Kreneng, Oongan, Tainsiat, Pasar Badung, Tonja, dan tempat lain di Denpasar. Semua pedagang itu berasal dari satu keluarga, atau setidaknya satu desa.

Terkenalnya soto karangasem di Denpasar diawali Nengah Widana, 55 tahun. Pak Ngah, demikian panggilannya, mulai menjual soto pada 1968 di Pekambingan, Denpasar. Dia bekerja di warung soto milik Nengah Karta, yang juga asal Karangasem.

Dari Pak Ngah inilah soto karangasem jadi terkenal. Sempat berganti pekerjaan, dengan menjual rokok dan minuman serta kursus menjahit, Pak Ngah memilih jual soto sendiri sejak 1974. Dia memulai dengan gerobak dorong di belakang Pasar Kumbasari. Saat itu dia menjual satu mangkuk soto dan satu piring nasi seharga Rp 35.

Mengandalkan pembeli yang sebagian besar kuli pembangunan Pasar Badung, jualan Pak Ngah laris. Buktinya dia bisa membeli tanah seluas 2,5 are di Amlapura, kota kabupaten Karangasem hanya lima bulan setelah mulai berdagang soto.

Pada 1982 Pak Ngah pindah ke Pasar Badung yang baru selesai dibangun. Jualannya makin laris. “Setelah itu saya berpikir untuk membuka warung di tempat lain,” kata bapak empat anak ini. Mantan Kelian Adat Banjar Taman Sari ini kemudian memilih tempat di Jl Patimura, tak jauh dari rumahnya. Tiap bulan dia bisa mendapat untung sekitar Rp 2,5 juta.

Keuntungan berdagang soto sapi itu digunakan membeli tanah. “Karena beli tanah kan tidak mungkin rugi,” katanya. Pak Ngah melawan anekdot bahwa orang Bali menjual tanah untuk beli bakso. Dia justru menjual soto untuk beli tanah.

Pelan-pelan usahanya makin banyak mendapatkan keuntungan. Selesai beli tanah di daerah Oongan, dia membangun rumahnya jadi tingkat dua. Padahal ketika pertama kali ditempati, rumah di Jl Banteng tersebut itu hanya berdinding bedek.

Meski usaha makin berkembang, Pak Ngah tak ingin menikmatinya sendiri. “Saya mulai ngajak adik-adik. Biar mereka juga bisa bekerja dan mandiri,” kata anak pertama dari lima bersaudara ini.

Kakek lima cucu ini pun mulai mengajak adik-adiknya berjualan satu per satu. Salah satunya Wayan Sukanada. “Saya dulu belajar juga sama Pak Ngah,” kata Sukanada. Pak Ngah memang hanya mengajari, bukan menjadikan mereka sebagai anak buah. Maka ketika dianggap sudah mampu, adik-adiknya pun membuka usaha dagang soto sendiri.

Adik-adik yang sudah mampu itu ada yang mengajak sepupu atau tetangga desa. Setelah sepupu atau tetangga itu bisa, mereka membuat usaha dagang soto sendiri.

Dari situ, soto karangasem menyebar ke berbagai tempat di Denpasar. Tidak ada data pasti. Namun sebagai gambaran, dari keluarga Pak Ngah saja ada sekitar 14 pedagang soto sapi. Contoh lain sepanjang di Jl Nangka Denpasar saja saat ini ada sekitar sembilan. “Tapi semua pasti pernah bekerja di dagangan saya sendiri atau keluarga saya,” kata Pak Ngah.

Karena berasal dari satu akar itulah, maka semua soto karangasem punya ciri dan cita rasa yang sama. Semua menggunakan daging sapi dipotong kecil-kecil mirip dadu. Kuahnya pakai aneka rempah seperti bumbu bawang putih, jahe, seledri, bawang goreng, cabe, merica, dan penyedap rasa. Sebagai tambahan, dan ini biasanya tergantung pedagang masing-masing, bisa ditambah lengkuas, bumbu rajang, ketumbar, dan pala. Kuah dan daging sapi segar ini kadang-kadang juga ditambah sate.

Pak Ngah sendiri sampai saat ini masih berjualan di Pasar Badung. Namun sudah tak banyak ikut campur sebab kini istrinya, Nengah Ariani, yang jualan sendiri di pasar terbesar di Bali tersebut. Dia hanya mengantar ketika berangkat ke pasar pukul tiga pagi dan menjemput pukul 16.30 wita.

Dari hasil jualan tersebut, Pak Ngah dan istrinya bisa membangun rumah untuk empat anaknya. Dia pun bisa beli tanah untuk simpanan serta menyama braya dengan bebas kapan pun dia mau. “Kalau ada tetangga upacara, kami bisa libur kerja dan mengikutinya dengan leluasa. Kalau pegawai (negeri maupun swasta) kan susah,” katanya.

Namun ada yang lebih membuat Pak Ngah bangga. “Kami bisa membuat makanan yang jadi ciri khas desa,” katanya. Soto karangasem identik dengan Karangasem, seperti juga ayam betutu identik dengan Gilimanuk atau serombotan identik dengan Klungkung. Soto karangasem menambah kekayaan kuliner Bali.

Meski demikian, Sukanada dan Pak Ngah masih menyimpan kegalauan. Menurut mereka keberhasilan soto karangasem seharusnya memacu orang Bali untuk berani melakukan pekerjaan yang selama ini dianggap menurunkan gengsi, seperti halnya berdagang kaki lima di pinggir jalan. “Saya lihat orang Bali masih sedikit yang punya semangat kerja berdagang kaki lima,” ujar Pak Ngah.

Kalau toh ada yang punya usaha dagang kaki lima, lanjut Pak Ngah, kemampuan mereka untuk mengelola usaha masih kurang. Misalnya kurang promosi, kurang bersih, hingga kurang ramah dengan pelanggan. “Kalau usahanya serius dan tahan banting, kita pasti berhasil. Kalau sudah berhasil kan pasti bisa beli tanah. Jadi bukannya malah jual tanah untuk bisa hidup,” katanya.

Dalam bahasa Pak Ngah, kalau perut sudah kenyang, maka tanah milik mereka tidak akan terjual. Bahasa balinya, weteng wareg gumi ajeg. Sukanada dan pedagang soto lain tak hanya menjadikannya sebagai slogan. Mereka telah membuktikan. [+++]

Leave a comment

Filed under Bali, Keluarga, Pekerjaan

Penangkapan Teman dan Kepercayaan yang Hilang

Pagi tadi aku kaget banget baca koran. Satu teman lagi ditangkap polisi gara-gara bawa heroin. Aduh, ini telak banget bagiku. Soalnya Novian, teman yg ditangkap itu, akrab banget sama aku. Dia sering cerita masalah pribadinya: ceweknya hingga keputusannya utk berhenti minum ARV, obat terapi HIV. Beberapa kali dia cerita dengan embel-embel, “Gua cerita ini hanya ke Elu..” Aku sih yakin tidak begitu. Tapi keterbukaannya padaku, dan mungkin pada tiap temannya, membuatku merasa dipercaya. Kepercayaan bukankah sesuatu yg susah didapatkan?

Dalam beberapa kasus tentang HIV/AIDS, aku juga sering tanya ke dia. Soale, Novian memang salah satu aktivis LSM yang peduli pada pengobatan. Aku inget ketika liputan masalah ini, melihat dia mendampingi ODHA sakit, mengganti infus, ngelapin badan. Semua membuatku tersentuh. Continue reading

1 Comment

Filed under Daily Life, Keluarga, Pikiran

Hari Kedua, Begitu Cepat Waktu Berjalan

Hmm, sudah pukul lima lebih.Waktunya pulang nih. But, aku masih di meja kerja. Manfaatin laptop buat ngetik blog ini. He.he.

Hari kedua kerja, mulai keliatan iramanya. Tadi pagi pukul 09.00 ngobrolin materi-materi lokal. Ada 18 artikel yg masuk ke SALAM, tapi harus dipilih sekitar lima artikel. Aku sih milihnya udah sejak minggu lalu kali ya. Dari 18 artikel, ada tujuh yang temanya relevan dengan edisi depan: Bagaimana Petani Berorganisasi. But, ada teman yg milih artikel yg tak kupilih. Jadilah ada sembilan artikel yg kami diskusikan. Continue reading

Leave a comment

Filed under Blogging, Pekerjaan