Hingga hari ini Soeharto masih terbujur sakit di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta. Begitu banyak perhatian oleh media menimbulkan banyak pertanyaan di kepalaku. Dari sudut pandang muatan media atau analisis isi media, sangat jelas bahwa berita soal Soeharto mendapat tempat utama di media. Sebatas pada media-media yang kubaca seperti Bali Post, Jawa Pos, dan Kompas, berita tentang Soeharto hampir selalu jadi headline.
Di semua TV juga begitu. Tiada berita tanpa sakitnya Soeharto. Metro TV, Trans TV, SCTV, RCTI, TPI, dan seterusnya semua memberitakan Soeharto. Berita tentang Soeharto dengan segera menenggelamkan berita-berita tentang bencana di berbagai tempat, termasuk banjir di sepanjang Bengawan Solo. Entah ke mana semua berita itu menghilang? Masalah ribuan pengungsi kini berganti sakitnya mantan diktator sekaligus pahlawan di negeri ini.
Berita-berita itu juga terlalu menempatkan Soeharto sebagai orang yang amat berjasa pada negara ini. Maka ketika ada sekelompok korban pelanggaran HAM menuntut agar Soeharto tetap diadili, sebagian media melihatnya agak sinis. Analisis framing secara sederhana jelas memperlihatkan bahwa Soeharto, meski sakit, tidaklah dianggap sebagai penjahat. Di mata media massa, Soeharto tetap pahlawan. Tidak ada cela.
Lalu, ini mengingatkanku soal peta media di Indonesia yang memang belum jah-jauh dari duitnya Cendana. Aku kurang tahu di media cetak. Tapi di TV, jejak-jejak kuasa Cendana itu masih ada. Sangat kuat bahkan.
Sekadar contoh. Media Nusantara Citra (MNC) yang punya RCTI, TPI, dan Global jelas-jelas punya Cendana. Dulu Tutut, anak pertama Soeharto, yang mendirikan. Btw, Direktur TPI Nyoman Suwisma kini ikut rebutan bakal calon gubernur Bali. MNC ini juga punya Trijaya FM –aku pernah bantu nyumbang berita di sini- dan Koran Seputar Indonesia. Btw lagi, Koran Sindo juga segera terbit lagi di Bali. Rencana awal Januari ini tapi ternyata tertunda lagi. Seorang teman menganalisis koran ini juga untuk mengamankan bisnis Cendana di Bali kayak Bali Turtle Island Development (BTID) di Serangan dan Pecatu Graha di Bukit Jimbaran. Selain itu, Pemilu 2009 jelas jadi salah satu alasan. Bisa jadi juga untuk Pilgub Bali 2008.
TV lain, SCTV misalnya, jelas-jelas Titik, anak Soeharto lainnya, punya saham. Kasus paling memalukan adalah ketika Titik jadi presenter Piala Dunia 2006. Dia maksa banget jadi presenter meski tidak punya cukup kemampuan untuk itu. Eh, bukan tidak cukup ding. Memang tidak punya kemampuan sama sekali. Hehe..
Ada teman yang bercerita bagaimana pas dialog di SCTV, Adnan Buyung Nasution tidak jadi hadir gara-gara merasa acara itu sudah disetting sedemikian rupa agar membela Soeharto. Jadinya dialog itu pun isinya ya puja puji soal tiran ini. Parah benar.
Metro TV punya Surya Paloh, salah satu pembina Golkar. Ini jabatan sama yang pernah dimiliki Soeharto. Jadi meski pernah jadi korban pembredelan Orde Baru, Surya Paloh kini juga mesra dengan Cendana. Soeharto dan Golkar kan ibarat dua sisi mata uang. Tidak bisa dibedakan.
Lalu, Trans TV milik Para Group. Aku tidak tahu persis. Salah satu yang aku tahu hanya bahwa Agum Gumelar adalah salah satu pemegang saham di Para Group yang punya Trans TV dan juga membeli Trans 7. Agum Gumelar, mertuanya Taufik Hidayat yang purnawirawan itu juga pernah jadi anak buah Soeharto. Jadi ya susah juga untuk melawan komandan sendiri.
Lalu ANTV, ini kan punya grup Bakrie meski raja media dunia Rupert Murdoch juga ikut memilikinya. Aburizal Bakrie, bos besar grup Bakrie, juga orang Golkar. Jadi ya mirip Surya Paloh juga.
Jelaslah sudah. Cendana nyaris memegang semua media, terutama TV. Jadi, jangan harap akan ada berita yang agak kritis soal sakitnya Soeharto. Percuma.. Mari percaya blogger saja. ![]()











15 Comments
January 14, 2008 at 12:23 am
mari ….
January 14, 2008 at 2:57 pm
rite… let’s blog till drop…
January 14, 2008 at 2:58 pm
rite, lets blog till drop…
January 14, 2008 at 11:43 pm
Setuju, blogger lebih bisa dipercaya….
Eh, ini blog bukan jaringan medianya Cendana kan???
Kabur…..
January 15, 2008 at 1:04 am
Sebenarnya saat ini bukan masalah cendana dan bukan mas wartawan
cuman karena moral aja. masak kakek dah tua maling ayam masih tega kita gebukin kekekekek.. pak tua lagi sakit, kita stop dulu ngomongin jeleknya kasian…
January 15, 2008 at 1:07 am
tambah lagi, walaupun bukan maling ayam, kita gebukin setelah dia sembuh aja
lebih indonesia.. saya bukan soehartoisme lo ya 
January 15, 2008 at 2:38 am
Saya ingat kasus yang Titit .. ups Titik waktu jadi presenter Piala Dunia tu. Waks, asli matahan ken sambal matah bli. Saya waktu to langsung ngirim surat protes ke SCTV (sama seperti orang - orang lainnya).
Saya seh berharap agar Bapak Panglima Besar (Purn) Haji Muhammad Soeharto bisa cepat sembuh, biar bisa cepat digantung, ato dipancung, ato malah di-dor aja sekalian.
January 15, 2008 at 9:23 am
@ didut: mari juga..
@ dek didi: maunya gitu. eh, mereka gak mau kasih duit. ya gak jadi.
@ baladika: waduh, masa soeharto hanya setara dg maling ayam. dia bosnya maling ayam. :p
@ win: you sholud comment in english. so, i can reply u’r comment.
January 15, 2008 at 1:58 pm
tiada gading yg tak retak, begitu pula soeharto, bila dia memang bersalah dan belum mendapat hukuman di dunia, biarlah dia dihukum di alam sono..
*sambil memanjatkan doa, sok religius
January 15, 2008 at 2:48 pm
[...] mungkin berita banjir, tanah longsor, dan bencana lainnya tenggelam oleh berita Soeharto. Maklum, konon kabarnya semua media terutama televisi memang merupakan gurita usaha [...]
January 15, 2008 at 3:22 pm
kasian amat
January 23, 2008 at 6:04 pm
yang penting blogger dapat mempertanggungjawabkan apa yang ditulisnya
January 29, 2008 at 10:20 am
sip, ton! gambaran yang membuat semakin jelas apa yang sedang terjadi dengan media tv di indonesia…
Salut,
Agung
April 12, 2008 at 11:45 am
beh, jeg mekejang dueg gati jelemane. memang ci lebih bersih jak suharto, megae gen selegang malu. urusan sorga neraka, urusan iba pedidi.
April 30, 2008 at 3:09 pm
assalamualaikum buat keluarga cendana yang tabah menghadapinya, mudah-mudahan arwah nya pak harto di terima di sisi tuhan yang maha esa , sekian terimakasih
Leave a Reply