Tag Archives: Diskusi

Kata-kata yang Sering Salah Tulis

Di tengah banyak kerjaan yang tidak selesai juga, aku bikin tulisan ini saja. Sekali-kali belajar jadi guru bahasa Indonesia yang baik dan benar. Makanya menulis masalah ini pun menggunakan ejaan yang disempurnakan. Resmi sekali. Hihihi..

Ini sekadar menulis tentang beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang sering kali salah ditulis. Modal sambil menulis ini adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga Terbitan Balai Pustaka. Kata-kata yang sering salah ditulis antara lain:

Continue reading

27 Comments

Filed under Aneka Rupa, Pikiran

Kronologis Pengadilan Bersihar Lubis

Karena ada beberapa teman yang menanyakan kronologi kasus Bersihar Lubis, maka aku posting kronologi kasus tersebut di blog ini. Semuanya aku ambil dari milis Pantau Komunitas.

Kronologis Pengadilan Bersihar Lubis

Oleh Bersihar Lubis
Menulis itu, Kapok Sambal (Untuk Rekan Bonnie Triyana dan kawan-kawan)

Belum seratus hari saya bekerja di Majalah B-Watch pada awal Maret 2007 itu. Majalah Berita Dwimingguan MEDIUM, tempat saya bekerja sebelumnya, tak lagi terbit sejak awal 2006. Majalah ini sudah “megap-megap” sejak 2005. Biasalah. Soal modal, dan sebagainya, “bahaya laten” yang selalu mengintai penerbitan pers. Apa yang bisa saya kerjakan hanya menulis, dan menulis.

Saya sudah menjadi wartawan sejak 1970, menjadi reporter koran Medan, Mercu-Suar dan Mingguan Taruna Baru.  Jadinya, saya “dungu” – dan ini bukan dosa — untuk bekerja di bidang lain. Misalnya membuka kedai kopi, atau menjadi pedagang ikan di kampungku, Sibolga yang pantai pasir putih dan rimbunan pohon kelapanya molek di pantai barat Sumatera Utara. Saya juga “dungu” soal nuklir. Yang Maha Tahu segalanya, hanya DIA.

Continue reading

6 Comments

Filed under Jurnalisme, Kliping, Pikiran

Mari Bersikap. Sebab Blogger pun Terancam..

Semeton Belogger yth,

Rabu pekan depan (20/2/08) Pengadilan Negeri Depok akan mengeluarkan vonis untuk Bersihar Lubis, penulis opini yang mengkritik pembakaran buku oleh Kejaksaan Negeri Depok. Jaksa menuntut Bersihar dengan hukuman penjara delapan bulan karena dianggap melanggar pasal 207 (penghinaan terhadap penguasa) dan 310 (penghinaan terhadap orang lain) KUHP.

Tuntutan Jaksa tersebut bertolakbelakang dari semangat umum masyarakat yang menginginkan kebebasan menyatakan pendapat tidak dibatasi. Tuntutan tersebut merupakan bentuk baru pengerdilan masyarakat dalam menyatakan pendapat yang telah dijamin dalam Undang-undang Dasar 1945.

Continue reading

10 Comments

Filed under Pikiran

Rwa Bhineda di Pulau Dewata

Tadi siang ada diskusi kecil dengan Win, semeton blogger Bali yang lagi studi di Pittsburgh, Amrik sono. Obrolan via Yahoo Messenger ini bermula dari tulisan dia di blognya soal kekerasan di Bali. Win mempertanyakan apakah orang Bali sudah berubah sehingga sudah demikian akrab dengan kekerasan?

Pemicu pertanyaan itu adalah tawuran di Kuta pas tahun baru lalu. Pas pergantian tahun itu, dua orang tewas akibat tawuran di salah satu kafe. Sebatas yang aku baca di media lokal, hanya disebut tawuran. Tapi Jun, teman wartawan The Jakarta Post, menyebut itu sebagai tawuran antar-preman.

Continue reading

19 Comments

Filed under Bali, Jurnalisme, Pikiran

Jangan Globalwarmingkan Tulisan Ini

Sore tadi ada diskusi di Sloka sama Hira Jhamtani, aktivis Third World Network, dan Harry Surjadi, Direktur Eksekutif Society of Indonesian Environtmental Journalist (SIEJ). Diskusi ini tindak lanjut pasca-Konferensi Tingkat Tinggi tentang Perubahan Iklim di Nusa Dua 3-14 Desember lalu.

Kami ngobrol soal bagaimana sih media memberitakan UNFCCC dan apa yang bisa ditulis media pasca konferensi yang membuat Bali layaknya darurat militer saking banyaknya petugas keamanan tersebut. Ada sekitar 13 orang aktivis dan wartawan yang ikut diskusi lesehannya Walhi Bali, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar, dan Sloka Institute ini. Eh, ada empat blogger anggota Bali Blogger Community juga ding.

Continue reading

7 Comments

Filed under Pekerjaan, Pikiran

Bukan Hak Jawab, Harap Diposting

Masih soal tulisan Ada Uang Anda Masuk Koran. Hari ini ada email masuk ke inbox-ku mengomentari tulisan tersebut. Pengirimnya Retno Endah Kadarwati Sadar Retno. Aku tidak tahu hubungan Bu Retno ini dengan Bali Post atau Kelompok Media Bali Post. Dia juga tidak menyebut hubungannya dengan Bali Post. Namun dari isi emailnya, sepertinya Bu Retno ini bekerja di sana.

Aku tidak mengedit tulisan itu. Hanya memilah beberapa paragraf karena terlalu gemuk. Selebihnya tidak ada sama sekali yang berubah.

Continue reading

15 Comments

Filed under Bali, Jurnalisme

Rebutan Wacana di Rumah Tangga

Sebenarnya hari ini aku berniat posting tentang Bali Post. –Aduh, kok aku sentimen banget sih sama mereka?-. Tapi karena ada diskusi “gawat” di rumah pagi ini, maka aku pikir hasil diskusi atau diskusinya itu sendiri lebih menarik untuk ditulis. Kali ini soal rebutan wacana di rumah tangga.

Pagi ini, ketika aku menikmati sarapan dengan menu ayam suwir, tempe goreng, dan oseng-oseng kangkung, Lode, istriku, tiba-tiba nyeletuk, “Kenapa sih tidak banyak orang yang mau membicarakan isu dapur. Padahal kan ini isu yang penting juga. Sekali-kali kek tanya tentang bagaimana prosesnya, apa susahnya masak, bla-bla-bla.”

Intinya ada dua hal yang diprotes istriku.

Continue reading

8 Comments

Filed under Aneka Rupa, Daily Life, Keluarga, Pikiran

Berikan Bantuan, Bukan Khotbah

Abis ada diskusi tentang global warming di Renon tadi pagi. Hasilnya ada di Bale Bengong. Overall, ini diskusi menarik. Sayangnya sih temanya trlalu abstrak. Tentang budaya lokal menghadapi global warming. Bahwa Bali punya Tri Hita Karana, local genius, dst untuk mengantisipasi global warming. Cuma, gimana ya? Abstrak banget.

Logika goblokku -dan ini pasti bener2 goblok-, penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca tuh Amrik dan negara2 maju lain. Peran Indonesi sangat kecil, apalagi khususnya Bali. Mungkin lebih menarik kalau ada hal lebih praktikal. Misalnya boikot produk Amrik -hi.hi.hi, ngetik blog saja pake Microsoft- dst.

Ikut diskusi pagi tadi jadi ingat cerita anak kecebur sungai.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Aneka Rupa, Bali, Daily Life, Pekerjaan

Jangan-jangan Remaja Hanya Kambing Hitam pada Masalah Narkoba

Tadi pagi ngobrol ma psikolog soal narkoba. Mengalir begitu saja sih. Hingga pada satu titik dia bilang kalau masalah narkoba itu terjadi karena remaja sedang dalam masa pencarian identitas . Akibatnya, remaja pun berusaha mencoba-coba, termasuk narkoba.

Aku tanya dia. Apa benar sebagian besar pengguna narkoba adalah remaja? Jangan-jangan hanya mitos? Atau malah kambing hitam?

Continue reading

4 Comments

Filed under Pikiran, Uncategorized

Antara Pepsi, Mercy, dan Machiaveli

Di zaman yang digambarkan Marshall McLuhan sebagai perkampungan global ini, informasi apa yang bisa dibendung? Dunia hanya ibarat kampung kecil karena informasi dengan cepat menyebar antar kampung, antar negara, antar benua. Revolusi informasi membuatnya telah melintas batas tanpa lagi terikat pada teritori ataupun ideologi. Turunannya, hampir tidak ada yang tidak bisa dipasarkan dalam kampung kecil tersebut. Bukan hanya berupa barang yang dijual tetapi juga gaya hidup, identitas, lalu ideologi. Semuanya berkelindan dalam kata benda abstrak bernama globalisasi.Pendidikan berada di antara pusaran modal global itu. Ia tidak semata menjadi kebutuhan dasar manusia akan pengetahuan, sebab pasar telah melakukan komodifikasi sehingga pendidikan bisa menjadi produk yang dipasarkan, lalu dijual. Pendidikan tidak bisa lari bersembunyi dari cengkraman globalisasi yang seperti dikatakan Anthony Giddens, tidak hanya merupakan persoalan ekonomi tapi juga menyangkut masalah politik, sosial, dan budaya.

Continue reading

1 Comment

Filed under Pikiran, Uncategorized