Tag Archives: HIV/AIDS

Togel, Godel, Whadehel!

Tak terasa, ternyata sudah lama juga aku tidak ketemu dengan karibku yang satu ini. Namanya tidak boleh disebut. Tidak etis. Soale ini hubungannya dengan konfidensialitas, prinsip di mana kerahasiaan status seseorang harus disimpan sampai dia sendiri yang membuka statusnya. Teman itu positif HIV. Aku boleh nyebut status saja, asal tidak menyebut nama. Sebut sajalah namanya Adi. Dia pernah bertahun-tahun kecanduan heroin. Dan karena ini dia tertular HIV.

Kami teman akrab sejak aku kenal lebih dekat isu HIV/AIDS dan narkoba di Bali pada 2005 lalu. Tapi teman ini pula, yang aku wawancarai pertama kali ketika aku menulis isu AIDS untuk GATRA, tempatku kerja waktu itu. Adi inilah orang dengan HIV/AIDS yang kukenal pertama kali, sekitar 2002. Eh, lha dalah, ketika aku kenal lebih intens soal HIV/AIDS ternyata dia jadi teman akrabku.

Continue reading

10 Comments

Filed under Aneka Rupa, Daily Life, Pikiran

Seandainya Saja Pacar Koming Pakai Kondom

Sejak awal saya tahu kalau Koming, tetangga saya di Denpasar, memang tidak terlalu “normal”. Saya tidak tahu persis bagian mana dari perilakunya yang menunjukkan “ketidaknormalan” itu. Saya hanya bisa merasakan, tidak bisa menjelaskan. 

Meski begitu, saya tetap kaget ketika melihat perilaku Koming, cewek berumur 20 tahun, itu tiba-tiba berubah. Tatapan matanya kosong. Ketika saya sapa, dia diam saja. Raut wajahnya sama sekali bukan Koming yang saya kenal sebelumnya. Muram. Bahkan ketika ketemu dengan anak saya, yang biasa membuatnya tertawa lalu menyorongkan tangan untuk menggendong, dia tak bereaksi apa pun.

Continue reading

16 Comments

Filed under Daily Life, Pikiran

Terus Berjuanglah, Semua Teman

Hari AIDS Sedunia tiba kembali. Hmm, lalu apa ya yang menarik dari momen tahun ini. Temen-temenku yang positif HIV, atau malah sudah pada fase AIDS, atau bahkan yang sudah kena infeksi oportunistik belum banyak berubah. Mereka masih saja bertarung dengan masa depan yang suram. Belum banyak harapan.

Rey, teman paling dekat, baru minggu lalu bertemu. Tubuhnya makin kurus. Dia harus lebih banyak istirahat karena ketahanan tubuhnya makin rendah. Rambutnya mulai rontok. Aku lihat tubuhnya juga makin lemah dengan cahaya mata makin redup meski aku tahu dia berusaha terus menunjukkan semangat.

Continue reading

10 Comments

Filed under Daily Life, Pikiran

Akhirnya Buku Lentera Terbit Juga

Kami duduk lesehan di lapangan rumput belakang Danes Art Veranda Jl Hayam Wuruk, sore tadi. Ada sekitar 50 orang. Suasana santai. Aku aja cuma pake celana pendek dan kaos oblong seperti biasa. Pak Alit Kelakan, wakil gubernur Bali yang datang telat satu jam setelah acara berlangsung pun kemudian ikut lesehan di sana. -btw, pejabat yang satu ini memang rada edan. Dia tidak pernah menganggap diri sebagai pejabat. Selalu santai. Tapi omongannya berisi. Aduh, kok jadi jurkamnya dia. :))-

Petang itu kami merayakan terbitnya Buku Lentera, Lembaran tentang Realitas AIDS. Ini buku terbitan Sloka Institute tapi pesanan Komisi Penanggulangan AIDS Bali dan didanai Australia Indonesia Partnership. Aku dan dua teman lain, Ervi dan Mercya, bantu ngedit buku kumpulan artikel tersebut.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Bali, Daily Life, Pekerjaan, Pikiran

Mengabarkan Perjuangan Odha Lewat Gambar

-huh, sibuk ngurusi persiapan pameran hingga hari H dan pasca. sampe lupa terus utk posting. jd ya posting press release ajalah. sptnya belum telat-

Enam fotografer memamerkan foto kehidupan Odha. Menggambarkan optimisme. Sekaligus membongkar mitos bahwa HIV/AIDS adalah akhir segalanya.

Sabtu (20/1) menjelang tengah malam, seorang wartawan bertanya di sela-sela persiapan pameran foto ini, “Kenapa pameran ini tidak memperlihatkan orang-orang kena AIDS yang kurus dan tinggal tulang?” Kami terhenyak. Pertanyaan ini makin membuktikan bahwa masih banyak kesalahpahaman dan mitos tentang HIV/AIDS. Karena itulah kami berharap bahwa pameran foto ini bisa menjawab kesalahpahaman dan mitos itu.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Aneka Rupa, Bali, Daily Life, Pikiran, Uncategorized

Satu Teman Lagi Masuk Penjara

“Aku baru saja mau mulai hidup baru. Tiba-tiba saja bruk!” kata Sara, temanku. Ketika ngomong dia mengangkat tangan lalu menurunkannya dengan cepat. Mungkin jatuh seperti nasibnya sekarang.

Sara, temanku itu, baru kukenal seminggu ini. Kami sama2 jadi peserta Pelatian Relawan Sobat Orang dengan HIV/AIDS (Odha) pekan lalu. Selama seminggu dalam ruangan dan tema sama membuat kami cepat akrab. Sara waria. Dan dia cerita lumayan soal kisah hidupnya. Seperti pada umumnya waria di Indonesia, Sara juga dapat diskriminasi luar biasa.

Continue reading

2 Comments

Filed under Daily Life, Uncategorized

Bani Nawalapatra

Hari ini terakhir ikut pelatihan relawan sobat setelah mulai dari Senin lalu. Tiap hari dateng dari jam 9 smp jam 5 sore di dalam kelas terus kecuali utk dua kali break dan sekali makan siang. Melelahkan.. Tapi sykurlah kelar juga. Pelatian ini utk tahu bagaimana jadi sobat bagi orang dengan HIV/AIDS (Odha). Yang ngadain pelatian, Bali+ lembaga support untuk Odha di Bali. Ya, itu ajalah soal kegiatan minggu ini.

Sekarang udah Jumat. Selalu menyenangkan kalo akhir pekan gini. Paling ga Sabtu+Minggu bisa sedikit santai meski masih ada tulisan yang belum kelar. Now lagi buka2 imel+blog. Ada yang menarik di jiwamerdeka.blogspot.com dan electronposts.blogspot.com. Dua milis yg lumayan menambah spirit melawan otoritarian yg makin parah di negara ini: soal RU APP.

Oya, semalem udah dapat nama. Anak kami -kata dokter sih akan lahir sekitar Oktober- udah kami siapin nama: Bani Nawalapatra.

Udah, ah. Istirahat dulu..

Leave a comment

Filed under Daily Life, Keluarga, Uncategorized