Tag Archives: Jurnalisme

Kronologis Pengadilan Bersihar Lubis

Karena ada beberapa teman yang menanyakan kronologi kasus Bersihar Lubis, maka aku posting kronologi kasus tersebut di blog ini. Semuanya aku ambil dari milis Pantau Komunitas.

Kronologis Pengadilan Bersihar Lubis

Oleh Bersihar Lubis
Menulis itu, Kapok Sambal (Untuk Rekan Bonnie Triyana dan kawan-kawan)

Belum seratus hari saya bekerja di Majalah B-Watch pada awal Maret 2007 itu. Majalah Berita Dwimingguan MEDIUM, tempat saya bekerja sebelumnya, tak lagi terbit sejak awal 2006. Majalah ini sudah “megap-megap” sejak 2005. Biasalah. Soal modal, dan sebagainya, “bahaya laten” yang selalu mengintai penerbitan pers. Apa yang bisa saya kerjakan hanya menulis, dan menulis.

Saya sudah menjadi wartawan sejak 1970, menjadi reporter koran Medan, Mercu-Suar dan Mingguan Taruna Baru.  Jadinya, saya “dungu” – dan ini bukan dosa — untuk bekerja di bidang lain. Misalnya membuka kedai kopi, atau menjadi pedagang ikan di kampungku, Sibolga yang pantai pasir putih dan rimbunan pohon kelapanya molek di pantai barat Sumatera Utara. Saya juga “dungu” soal nuklir. Yang Maha Tahu segalanya, hanya DIA.

Continue reading

6 Comments

Filed under Jurnalisme, Kliping, Pikiran

Tidak Perlu Tetek Bengek Blogging

Daripada malas tidak jelas, aku nulis sesuatu yang beda saja. Kali otakku perlu peralihan sebentar dari soal perjalanan ke Flores dan Jawa seminggu penuh kemarin. Maka, kali ini aku nulis soal standar ngeblog saja. Ini juga pikiran sudah lama. Tapi karena si tukang malas ini tidak nemu mood untuk nulis, jadi ya tertunda terus.

Mood untuk nulis soal standar ngeblog itu tiba-tiba muncul pas aku blogwalking ke beberapa semeton belogger. Membaca blog orang lain selalu memunculkan ide atau sesuatu untuk ditulis. Blowalking memang salah satu cara untuk mencari inspirasi. Jadi kalau ada orang bingung mesti menulis soal apa, tentu saja aneh bagiku. Kan bisa saja dia nulis soal kebingungan dia. Tidak ada informasi bisa jadi informasi itu sendiri. *Nah kan nglantur maneh?*

Continue reading

14 Comments

Filed under Blogging, Jurnalisme, Pikiran

Gurita Media Keluarga Cendana

Hingga hari ini Soeharto masih terbujur sakit di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta. Begitu banyak perhatian oleh media menimbulkan banyak pertanyaan di kepalaku. Dari sudut pandang muatan media atau analisis isi media, sangat jelas bahwa berita soal Soeharto mendapat tempat utama di media. Sebatas pada media-media yang kubaca seperti Bali Post, Jawa Pos, dan Kompas, berita tentang Soeharto hampir selalu jadi headline.

Di semua TV juga begitu. Tiada berita tanpa sakitnya Soeharto. Metro TV, Trans TV, SCTV, RCTI, TPI, dan seterusnya semua memberitakan Soeharto. Berita tentang Soeharto dengan segera menenggelamkan berita-berita tentang bencana di berbagai tempat, termasuk banjir di sepanjang Bengawan Solo. Entah ke mana semua berita itu menghilang? Masalah ribuan pengungsi kini berganti sakitnya mantan diktator sekaligus pahlawan di negeri ini.

Continue reading

15 Comments

Filed under Jurnalisme, Pikiran

Hantu Blok M dalam Sejarah Tempo

Kesimpulan yang langsung muncul di otakku setelah baca buku ini adalah: membaca buku ini sama dengan bercinta. Bagian paling enak (orgasme) ada di akhir. Begitu pula buku ini.

Setelah membaca delapan bab ditambah Prolog dan Pengantar, aku merasa bagian paling enak dari buku ini ternyata ada di Bab 9. Bab berjudul Hantu Belau ini menampilkan fakta yang belum pernah aku tahu sebelumnya dari mana pun. Bahwa pernah ada hantu bernama Blok M dalam sejarah majalah ikon kebebasan pers di Indonesia ini.

Continue reading

11 Comments

Filed under Buku, Jurnalisme, Pikiran

Tanggapan terhadap Hak Jawab soal Bali Post

Kritikku terhadap jual beli berita oleh Bali Post ternyata lumayan membuat repot. Tapi ini menyenangkan. Mendapat kritik sama menyenangkannya dengan menulis itu sendiri. Kata William Shakespeare, ”Tanpa kritik, kita bukanlah apa-apa.”

Makanya aku sampai nulis berhari-hari -cailah!- untuk bikin tanggapan terhadap tanggapan dua penanggap seperti di tulisan-tulisan sebelumnya. Jadi ini sudah kayak zaman Piala Dunia kemarin. Ada pemain, ada komentator, ada pengomentar komentator, ada lagi orang yang mengomentari komentar dari orang yang mengomentari komentator. Bingung kan? :)

Continue reading

14 Comments

Filed under Aneka Rupa, Daily Life, Jurnalisme, Pikiran

Bukan Hak Jawab, Harap Diposting

Masih soal tulisan Ada Uang Anda Masuk Koran. Hari ini ada email masuk ke inbox-ku mengomentari tulisan tersebut. Pengirimnya Retno Endah Kadarwati Sadar Retno. Aku tidak tahu hubungan Bu Retno ini dengan Bali Post atau Kelompok Media Bali Post. Dia juga tidak menyebut hubungannya dengan Bali Post. Namun dari isi emailnya, sepertinya Bu Retno ini bekerja di sana.

Aku tidak mengedit tulisan itu. Hanya memilah beberapa paragraf karena terlalu gemuk. Selebihnya tidak ada sama sekali yang berubah.

Continue reading

15 Comments

Filed under Bali, Jurnalisme

Hak Jawab tentang Bali Post

Seorang teman mengirim email yang isinya berupa tanggapan terhadap tulisanku tentang Bali Post. Ratna Hidayati, teman yang bekerja di Koran Tokoh (masuk Kelompok Media Bali Post), itu pada dasarnya menceritakan bagaimana praktik jual beli berita juga terjadi di banyak media, tidak hanya Bali Post.

Dan, seterusnya silakan baca di bawah. Tulisan yang sekaligus sebagai hak jawab (meskipun blog ini bukan media umum yang terikat pada UU Pokok Pers) ini aku muat apa adanya. Tanpa edit titik koma sekali pun.

Continue reading

28 Comments

Filed under Jurnalisme