Monthly Archives: August 2002

Festival Musik Demi Pasar

Festival musik dunia diadakan di Bali. Nuansa promosi lebih kentara.

Sembilan orang terkesan sedang main-main. Mereka berjalan, berjingkat, meloncat, berlari, di panggung. Bertingkah seenaknya. Dua perempuan dan tujuh laki-laki, umur 30-an ke atas itu kemudian mengambil perkakas maing-masing. Sesaat kemudian laki-laki, seperti mengomando, mengalunkan suara-suara naik turun. Tinggi. Turun. Melengking. Serentak mereka kemudian menyanyikan lagu-lagu mainan dari daerah asal mereka, Minangkabau. Cubadak kantang! Cubadak kantang! Cubadak kantang! Cubadak kantang! Ka! Ka! Ka! Kajuang. Cubadak kantang! Iramanya rancak. Berulang-ulang.

Sembari menyanyi rancak, masing-masing mengambil posisi membentuk barisan agak melengkung ke depan. Alat musik mereka, barangkali, tidak awam bagi kita. Ada canang, yang sehari-hari digunakan untuk memanggil warga ketika akan rapat dengan cara memukulnya, ada gamelan Sunda, gandang batuan, ganto, rebana, gandang jihin, bahkan bakiak, yang sehari-hari di Minangkabau digunakan sebagai alas kaki ketika ke Masjid.

Continue reading

1 Comment

Filed under Bali, Pekerjaan

Derita Istana Swarga Mayapada

Dianggap melecehkan agama, sebuah tempat pengobatan diserbu massa. PHDI lamban mengurusi.

Meski berada di Markas Kepolisian Kota Besar (Mapoltabes) Denpasar, I Made Sarjana, 40 tahun, masih menunjukkan punya wibawa. Setiap hari antara 30-40 pamedek (pengikut) datang mengunjunginya di ruang Wakasat Intel Poltabes. Secara bergantian, masuk 5-7 orang. 2-3 jam kemudian berganti rombongan lain. Sejak Kamis pekan lalu, Sarjana terpaksa diinapkan di Poltabes.

Pengamanan ini dilakukan akibat amuk massa yang terjadi di tempat pengobatannya pada hari yang sama. Tanpa disangka-sangka, 200-an massa menyerbu tempat pengobatan yang olehnya disebut Istana Kerajaan Swarga Mayapada alias istana surga di dunia di Kelurahan Panjer, Denpasar Selatan. Awalnya massa bermaksud menemui Sarjana, namun karena yang dicari tak juga keluar, massa pun mengamuk. Mereka memecah kaca di ruang depan rumah dan memporakporandakan ruangan. Meja, lemari, kain prada (hiasan) di dinding, foto-foto, kotak penyimpan, dan benda-benda lain dikeluarkan dari ruangan untuk kemudian dihancurkan di jalan persis di depan rumah Sarjana. Namun barang semacam keris, sesabuk, jimat untel-untelan, dan kertas rerajahan masih selamat. Massa tidak berani membakar. “Takut kualat,” kata salah seorang diantara mereka.
Continue reading

Leave a comment

Filed under Bali, Pekerjaan