Festival Musik Demi Pasar

Festival musik dunia diadakan di Bali. Nuansa promosi lebih kentara.

Sembilan orang terkesan sedang main-main. Mereka berjalan, berjingkat, meloncat, berlari, di panggung. Bertingkah seenaknya. Dua perempuan dan tujuh laki-laki, umur 30-an ke atas itu kemudian mengambil perkakas maing-masing. Sesaat kemudian laki-laki, seperti mengomando, mengalunkan suara-suara naik turun. Tinggi. Turun. Melengking. Serentak mereka kemudian menyanyikan lagu-lagu mainan dari daerah asal mereka, Minangkabau. Cubadak kantang! Cubadak kantang! Cubadak kantang! Cubadak kantang! Ka! Ka! Ka! Kajuang. Cubadak kantang! Iramanya rancak. Berulang-ulang.

Sembari menyanyi rancak, masing-masing mengambil posisi membentuk barisan agak melengkung ke depan. Alat musik mereka, barangkali, tidak awam bagi kita. Ada canang, yang sehari-hari digunakan untuk memanggil warga ketika akan rapat dengan cara memukulnya, ada gamelan Sunda, gandang batuan, ganto, rebana, gandang jihin, bahkan bakiak, yang sehari-hari di Minangkabau digunakan sebagai alas kaki ketika ke Masjid.

Nuansa Minangkabau begitu terasa ketika Kelompok Musik Talago Buni asal Padang tampil pada hari kedua Festival Musik Dunia di Bali pekan ini. Nyanyian yang mereka bawakan pun merupakan nyanyian sehari-hari masyarakat Minang. “Konsep pertunjukan kami memang bagurau,” kata Edy Utama, Pimpinan Group dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang, Sumatera Barat tersebut. Bagurau itu artinya bercanda. Yah, jadinya seperti main-main, orang memang becanda. Tapi serius.

Konsep ini, lanjutnya, merupakan representasi budaya Minang yang komunal dan kolektif. Tidak ada dominasi jenis musik tertentu. Rebana ditabuh bersamaan dengan suling ditiup, ganto digoyang (seperti membunyikan genta), gong dan canang dipukul, juga gendang besar (mirip drum) digebuk. Bahkan bakiak di kaki pun dibunyikan dengan irama tertentu sehingga nyambung dengan irama bebunyian perkakas lain. Alamak, rancak bana!

Pertunjukan oleh Talago Buni sendiri mengambil repertoar dari masyarakat Padang Panjang tentang Indang Karamolai. Repertoar ini bercerita tentang kehidupan masyarakat setempat yang bernuansa Islam. Hadirlah rebana yang seperti telah menjadi ikon berkesenian masyarakat Islam tradisional. Repertoar ini digarap dan dikembangkan Edy Utama yang juga Ketua Umum Dewan Kesenian Sumatera Barat dengan menambahkan beberapa instrumen baru. Lahirlah perkakas-perkakas musik yang tak awam tadi seperti canang, bakiak, ganto, dan gandang jihin. Instrumen terakhir ini malah belum punya nama resmi. “Tapi kawan-kawan menyebutnya begitu,” aku Edy. Maklum alat beralas mirip kendang tapi berbentuk mirip drum dari bambu memang ciptaan mereka sendiri. Ketika tampil di Bali mereka membawakan lima karya komposisi. Lengkap dengan olah vokal khas Minang yang mendayu-dayu.

Talago Buni, yang berarti telaga bunyi hanya salah satu dari kelompok yang hadir dalam Festival Musik Dunia ini. Sebelum mereka, sudah ada SonoSeni Ensemble yang tampil pada malam yang sama. Malam sebelumnya sudah hadir Batuan Etnik Fushion yang, diakui atau tidak, terlalu berpatron pada kemampuan Nyoman Balawan mencabik senar-senar gitar. Nyaris tidak ada beda dengan penampilan Batuan Etnik Fushion pada saat-saat lain.

Selesai penampilan kelompok musik dari Batuan, Ginayar, Bali tersebut giliran Sarabag tampil. Tidak ada yang istimewa dari penampilan kelompok musik yang ditangai Lukman Sarabag ini. Kalau tidak menggunakan jargon Festival Musik Dunia, bisa jadi kita akan melihatnya sebagai konser biasa. Musiknya juga modern terlihat dari piano, drum, gitar, bas, dan olah vokal. Yah, barangkali mirip konser Jamrud atau Sheila on 7 lah. Garing!

Esok malam masih ada Sawong Jabo dengan Oyot Suket-nya dan Kahanan yang dipimpin Inisisri. Sedangkan malam terakhir akan tampil Suarasama dan Sujiwo Tejo. Pertunjukan empat hari itu dimulai pada 19.30-22.15. Setiap malam, selesai mereka tampil sendiri-sendiri, akan ada Jamz Session.

Mendengar nama pertunjukan Festival Musik Dunia, yang dalam pamflet dan sarana promosi lain lebih sering disebut Bali World Music Festival 2002, pertama kali bisa jadi akan terbayang sebuah gegap gempita musik. Nyatanya toh tidak. Delapan kelompok musik yang hadir nyaris tidak terdengar sama sekali. Penonton yang hadir pun bisa dihitung dengan jari. Paling banter 150 orang. Padahal kapasitas tempat duduk pertunjukan di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Jimbaran, Bali itu 500.

Nama besar Festival Musik Dunia pun nyaris tenggelam. Bisa jadi karena jenis musik yang ditampilkan memang tidak awam. Dan, karena itulah disebut world music. World music, yang lebih sering disebut world music cultures atau music cultures of the world memang tak sepopuler pop, jazz, ataupun rock n roll. Jenis musik ini lahir sebagai wujud ragam ekspresi kebudayaan musik dunia. Sebut saja musik India, Afrika, Jawa, Batak, Latin, dan lainnya. Awalnya jenis ini disebut ethnic music atau tribal atau primitive. Karena terkesan udik, digantilah dengan musik dunia. Konsepnya sama juga, musik kelompok masyarakat tertentu. Atau di Indonesia juga tetap akrab disebut musik tradisi.

Di Indonesia, keberadaan world music tentu saja kalah pamor dibanding jenis musik lain. Misal sajalah, keroncong. Apalagi dengan pop yang sudah hegemonik. Selama ini keberadaan mereka masih bersifat underground. “Kami hanya mengandalkan militansi,” kata Joko S Gombloh, Komposer SonoSeni Ensemble. Hidup mereka hanya dari satu festival ke festival lain. Karena itu Gombloh mengaku sangat langsung menerima ketika ada undangan tampil dalam festival ini.

Ketika hadir pun, katanya, karena keinginan para seniman “nyleneh” ini untuk kembali berinteraksi. Sebab selama ini mereka hanya berjalan sendiri-sendiri. Akibatnya gerakan world music pun tak terlihat. Jenis musik ini lebih dikenal oleh kelompk yang sangat eksklusif. Di luar negeri, mereka bahkan memiliki komunitas penikmat tersendiri. Bagi Gombloh diperlukan konsep tersendiri agar jenis musik ini juga diterima. Salah satunya promosi. “Wujudnya, ya, melalui festival semacam ini,” kata lulusan STSI Surakarta jurusan Etnomusikologi itu.

SonoSeni sendiri dalam festival ini mengaku tidak terlalu mengambil pusing dengan target pasar yang ingin dicapai pelaksana. “Kami hanya bermodal idealisme ketika tampil,” ujarnya. Jadilah penampilan mereka pun semaunya. Dalam artian tidak mau terpakem pada jenis musik tertentu yang sudah dikotak-kotakkan. Ada paradoks antara SonoSeni dan Talago Buni. Bila Talago Buni sangat kental nuansa etnik Minangnya, dan menurut Edy Utama itulah world music menurut mereka, maka SonoSeni sebliknya.

“Kami tidak ingin membebani musik dengan identitas kultural,” kata Gombloh. Maksudnya mereka coba melawan konsep musik yang sudah mapan. Misalnya gitar yang sudah kadung identik dengan kord. Artinya SonoSeni coba menghadirkan irama gitar tidak dari gitar tapi dari instrumen lain semisal gendang. Sembari tampil mereka juga mengaku masih belajar. Kerennya learning by proses. “Konsep kami memang selalu mencari,” kata Gombloh. Tak usah heran, SonoSeni selama ini memang dikenal sebagai kelompok musik yang secara intens menggali kemungkinan perspektif baru dalam berolah musik. Dan bebas tanpa beban kultural. Tanpa merasa berdosa, mereka memainkan gamelan dengan irama drum.

Secara konseptual menurut Gombloh pendekatan musikaal SonoSeni berangkat dari instrumen musik apapun termasuk combo band (alat musik populer). Mereka kemudian memasukkan unsur modern ini dalam irama tradisi. “Kami mencoba mengembalikan musik pada hakikat sejati sebagai sumber bunyi yang bebas nilai,” ujarnya. Konsep ini persis yang dilakukan Balawan pada malam sebelumnya ketika dia memainkan gitarnya dengan irama gamelan, gong, bahkan biola. Seandainya hanya mendengar, orang akan terkecoh denga suara-suara itu. Hanya bedanya, “Balawan menggunakan teknologi (sinthezyer?) untuk memanipulasi suara, sedang kami tidak,” kata Gombloh.

Festival ini sendiri kemudian seperti menjadi ajang reuni para pegiat world music. Beberapa festival yang sama toh sudah pernah digelar sebelumnya. Juga mempertemukan mereka, meski tidak semuanya. Sebut saja The Jak@rt, Festival Cak Durasim di Surabaya, Festival Gamelan di Yogyarakta, atau festival musik etnik lainnua.

Toh menurut penyelenggara ini merupakan momentum pertama kali bertemuanya para pegiat musik etnik ini. Festival ini sendiri diadakan oleh Pulu International Travel Network Bali, sebuah usaha travel yang berpusat di Bali. Menurut General Manager Pulu International Andrew Paulus, kegiatan ini memang bermaksud memancing datangnya wisatawan. Festival kemudian menjadi topeng untuk menarik wisatawan tersebut. Masih beruntung karena meski untuk mencari wisatawan, para pemain tidak mendapat titipan apapun dari penyelenggara. “Mereka tidak pernah mengganggu kami dengan kepentingan tersebut,” kata Edy.

Toh, nuansa promosi pun masih kental dalam festival ini. Balawan begitu selesai memainkan aransemen andalannya, GloBalism, kemudian menyeru lantang. “Ladies and Gentleman. Anda dapat menikmati musik saya ini dalam CD yang sudah beredar di pasar dan bertajuk GloBalism,” serunya pada penonton. Sujiwo Tejo lebih parah. Dalam pesan singkatnya di press release, dia menulis, “Dua album saya, Pada Suatu Ketika dan Pada Sebuah Ranjang, yang oleh sebagian pengamat dianggap sebagai world music, mendapat pasaran yang lumayan di sebuah toko di Ubud. Di Bali. Makasih.”

1 Comment

Filed under Bali, Pekerjaan

One response to “Festival Musik Demi Pasar

  1. well, aku jd ingat even itu. Sono Seni masih komit dengan idealismenya. Kami telah bikin 4 album, indie tentu: Suita Suit, Suita 42 Hari, Autis 4 G, dan No End In Sight.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s