Bali Akan Cepat Pulih

Wawancara dengan I Gde Wiratha, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran [PHRI] dan Ketua Kamar Dagang Industri [Kadin] Bali terkait recovery pasca-bom Bali 12 Oktober 2002.

Bagaimana pengaruh pengeboman di Legian terhadap pariwisata Bali?
Pariwisata di Bali memiliki aset sampai Rp 190 trilyun. Itu hanya hotel dan restoran di Bali. Devisa yang dihasilkan mencapai Rp 70 trilyun per tahun untuk Bali. Karenanya terang saja ini akan mengakibatkan sedikit goncangan bagi perekonomian Bali. Tapi tidak akan lama. Saya yakin akan cepat pulih.

Seberapa cepat?
Enam bulan.

Apa dasarnya sehingga begitu optimis?
Bali memiliki banyak modal untuk melakukan recovery. Anda lihat, dua jam setelah kejadian itu, masyarakat adat bahu membantu petugas kesehatan, keamanan, petugas kebakaran, polisi, tentara, dan masyarakat lain. Artinya masyarakat adat punya rasa kemanusiaan yang luar biasa. Tidak memperdulikan berasal dari mana, masyarakat adat membantu. Kedua, masyarakat adat tidak melihat siapa yang punya tempat yang dibom. Begitu terjadi, mereka langsung mengeluarkan peralatan sekop, kain-kain putih. Ketiga, restoran, hotel, pub, artshop, dan toko-toko yang hancur tidak dijarah. Kalau di tempat lain, tidak ada lima menit, habis itu. Tapi ini tidak dijarah sama sekali. Keempat, aset lain adalah kedatangan Megawati. Responnya luar biasa. Langsung datang. Meski tidak menyatakan apapun, namun sikap dan perbuatannya dunia akan melihat bahwa pemerintah Indonesia memperhatiakn hal ini. Kelima, ketika Mega datang, masyarakat tetap melakukan sembahyang. Mereka tidak memperdulikan siapa yang datang. Artinya ketakwaan masyarakat Bali tidak berkurang meski ada pejabat yang datang.

Tapi kan dunia internasional mengecam pengeboman ini?
Siapa bilang… Kepada saya mereka mengatakan pada saya, “Pak Gde, don’t worry, kami tahu kok bagaimana kejadiannya.” Tamu dari Australia, Jepang, Kanada, AS, Taiwan, dan negara lainnya sadar bahwa mereka ke Bali bukan karena murah dan aman. Mereka ke sini karena culture. Bali merupakan cerminan budaya bangsa Indonesia. Inilah yang dilihat oleh tamu. Memang masyarakat Kuta sangat tertekan akibat kejadian ini. Tapi kalau tertekan terus, kapan kita akan maju. Sejak tiga bulan setelah ini, tamu akan bergegas pergi, tapi enam bulan lagi, akan terjadi recovery. Saya yakin itu.

Bukankah Bali belum pulih pasca serangan di WTC tahun lalu?
Itu biasa. Di WTC sendiri aktivitas sudah kembali normal. Di Bali memang belum senormal sebelum terjadinya tragedi 11 September. Tapi itu kan ibarat gelombang angin. Ketika di lokasi kejadian sudah normal, daerah lain memang malah mengalami. Nah, di Bali pun akan terjadi hal yang sama. Empat bulan setelah WTC saya ke sana. Dan saya lihat sudah ramai. Tamu yang intelek kan tahu bahwa teroris tidak akan mengebom dua kali pada tempat yang sama. Setelah Bali dibom, tidak mungkin akan dibom lagi. Ya mungkin di tempat lain. Ini analisa mereka. Kita harus ambil bahwa hari esok pasti lebih baik dari hari sekarang.

Memulainya dengan apa?
Buka dulu jalan Legian [lokasi bom].

Persoalan teknis kan belum selesai?
Lalu apakah kalau persoalan teknis belum selesai dalam enam bulan, selama itu juga jalan Legian tidak akan dibuka. Setelah ini selesai, harus dilakukan penyucian secara religius agar masyarakat bisa tenang. Ya, kalau di Bali kan dikenal mecaru (upacara penyucian setelah terjadi bencana). Kalau sudah dilakukan, saya yakin akan cepat pulih.

Berapa data jumlah tamu hotel yang pergi?
Saya tidak tahu. Kalau toh pergi, itu emosional. Tapi tidak bisa dipakai menganalisa suatu permasalahan.

Kalau dihitung secara materi?
Saya nggak mau ngitung. Dalam kondisi seperti ini, masa sih akan ngitung kerugian materi. Itu egois. Bayangin, berapa nyawa yang hilang karena kejadian ini. Itu lebih tidak ternilai daripada Paddy’s yang terkena bom.

Seberapa banyak tamu yang keluar atau membatalkan perjalanan ke Bali?
PHRI belum bisa memberikan data.

Apakah ada laporan dari daerah semacam Ubud, Nusa Dua, dan Sanur perihal tamu yang pergi?
Tidak. Kami memang belum mendata. Kami masih berkonsentrasi pada pelayanan kepada tamu yang ada sehingga kesan positif yang ada. Di Bounty Hotel misalnya, kami berikan pelayanan gratis mulai dari makanan, minuman, sampai akomodasi.

Selaku Ketua Kadin, menurut Anda, tragedi ini akan berdampak pada sektor apa saja?
Ya sektor-sektor yang berhubungan langsung dengan pariwisata. Pertanian yang mensuplai sayur, buah-buahan, dan perikanan, tingkat pendapatan masyarakat umum juga. Investasi dengan modal besar juga bisa jadi akan lari.

Untuk mengantisipasi, apa yang Anda lakukan?
Selaku Ketua Kadin, saya lapor dulu ke Aburizal Bakrie [Ketua Kadin Nasional]. Saya tanya apa yang bisa diperbuat Kadin karena tragedi ini. Kadin Indonesia memberikan bantuan Rp 1 milyar untuk penanganan korban. Untuk upacara desa adat, untuk membantu polisi dan tentara, kesehatan, Bali Tourism Board untuk recovering, dan masyarakat lain untuk keperluan-keperluan kecil lain. Dan, harap dicatat, Jumat depan akan datang Ical bersama 15 konglomerat dari Jakarta untuk memberikan satu dorongan atas solidaritas nasionalnya sebagai pengusaha. Ini untuk menumbuhkan kepercayaan investor menanam modal di Bali. Antara lain James Riady dan Sofjan Wanandi.

Leave a comment

Filed under Bali, Kliping, Pekerjaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s