Menyelami Keindahan Laut Tulamben

Perjalanan ke Tulamben, Bagian Timur Bali

Karang, ikan, dan bangkai kapal (wreck) di Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem membuatnya jadi tempat menyelam yang disejajarkan dengan Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan Bunaken, Sulawesi Utara.

Agar puas menikmati perjalanan di Tulamben, sebaiknya datang ke Tulamben sejak sore, atau paling tidak bermalam di sana. Sebab, kita bisa menikmati sun rise di selat Lombok tersebut. Desa Tulamben masuk Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali. Jaraknya sekitar 200 km dari Denpasar, atau 60 km dari ibukota Kabupaten Karangasem. Sebelah timur desa ini adalah selat Lombok, yang jadi tempat menyelam, dan sebelah barat kita bisa melihat Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali.

Jaraknya yang jauh ini pun bisa jadi pertimbangan. Kalau berangkat pagi dari Denpasar, fisik kita sudah lelah karena lamanya perjalanan. Apalagi medan perjalanannya naik turun. Fisik yang lelah, tidak bagus untuk melakukan menyelam (diving). Masalah lain, kalau kita datang terlalu siang, visibility (jarak pandang) selama menyelam pun tidak bagus. Antara pukul 07.30-10.00 wita, visibility di Tulamben mencapai 25-30 meter. Kalau jam 10.30 ke atas tinggal maksimal 10 meter.

Hampir semua diver di Tulamben memulai penyelamannya di Puri Mada entry point. Selain karena ombak di lokasi ini relatif kecil, juga karena dekatnya tempat nyebur ini dengan wreck point. Lokasi penyelaman inilah yang membuat Tulamben terkenal. Wreck point hanya sekitar 15 meter entry point Puri Mada tersebut. Di lokasi ini, ada bangkai kapal Liberty milik Amerika yang tenggelam pada Januari 1942.

Sebelum mencapai tepat di atas bangkai kapal, sepuluh meter dari garis pantai, berbagai ikan sudah menyambut kedatangan. Ikan-ikan ini datang dalam bentuk bergerombol. Yang dominan bentuknya mirip tongkol cuma agak pipih. Jumlahnya ratusan, dan jinak. Mereka berenang dekat wajah kita. Ketika akan disentuh, gerombolan ikan ini berpencar untuk kemudian kembali bergerombol dan mendekati kita. Di kalangan penyelam dikenal dengan nama jack fish (Caran sexfasciatus). Melihat ke bawah, ada ikan seukuran jempol kaki orang dewasa memancarkan cahaya biru di bagian siripnya. Latar belakang pasir berwarna hitam membuat wara ikan itu menarik perhatian mata kita. Ikan ini dikenal dengan nama ikan neon, karena cahayanya yang mirip neon itu tadi.

Eksotisme ikan-ikan yang berenang itu, tentu saja menarik untuk dilihat. Tapi ingat, bangkai kapal (wreck point) adalah tujuan utama. Kita tinggal berenang lebih ke tengah dan amati baik-baik di bawah. Kita akan melihat buritan kapal yang tenggelam akibat ditembak terpedo milik Jepang pada perang dunia I tersebut. Bagian paling atas kapal ini hanya sedalam tiga meter dari permukaan. Kedalaman di tempat ini maksmimal 30 meter.

Kapal ini membujur utara-selatan. Panjangnya 120 meter. Bangkai kapal ini sudah dipenuhi tumbuhan-tumbuhan laut. Penyelam biasanya masuk dan menikmati bagian dalam kapal. “Di bagian bawah kapal, melihat ke permukaan dengan ribuan ikan di sekelilingnya adalah sensasi yang tidak akan kamu temukan dimana pun,” kata Pariama Hutasoit, wartawan media pariwisata yang biasa menyelam.

Di sekeliling kapal ini ikan yang bisa ditemui adalah ikan beo, roditence, mola-mola, stringray, gorgonian, sea fans, bahkan yang berukuran dua meter, napoleon (Cheilinus undulatus). Ikan ini termasuk jarang ditemui di tempat lain. Di Bali hanya terdapat di Tulamben. Ada juga ikan seukuran mujahir bergaris-garis kuning di tubuhnya. Ikan ini berenangnya cepat dan sensitif gerakan. Kalau ingin menikmatinya, kita harus mempertahankan bouyancy (keseimbangan tubuh ketika berenang).

Selsai menikmati wreck point, poin kedua yang tidak kalah menariknya adalah drop off point. Menariknya tempat ini karena bentuknya yang seperti tebing. Sekitar 10 meter dari garis pantai, kita akan mendapatkan bentuk dasar laut yang tiba-tiba curam dan dalam, sekitar 70 meter. Lalu di dinding tebing itu berbagai bentuk karang menari-nari terkena arus.

Sayangnya, kondisi karang di poin ini terlihat sudah rusak. Di beberapa titik, puncak terumbu karangnya patah. Tumbuhan lautnya, yang mirip semak kalau di hutan, juga tidak sebanyak di Pulau Menjangan, misalnya.

Tulamben sendiri merupakan tempat menyelam yang relatif baru, mulai sekitar 1994. Kawasan ini mulai dikenal setelah Mimpi Resort membuka cabang di sana. Mimpi memang intens di wisata selam. Menurut Nyoman Widiarsana, Operation Manager Mimpi Resort Tulamben, 90% tamunya adalah wisatawan yang diving. Sisanya baru trecking atau hiking ke Gunung Agung.

Enaknya diving di Tulamben, dibandingkan Pulau Menjangan atau Pulau Nusa Lembongan, adalah karena lokasinya yang tidak terlalu dalam, dan tidak usah naik boat. Kita bisa langsung nyebur dari pantai. Wreck poin, dalamnya hanya sekitar 15-30 meter. Bandingkan dengan wreck poin di Pulau Menjangan yang mencapai 40 meter.

Tempat menginapnya juga lebih murah. Ada yang hanya Rp 50 ribu per malam, misalnya di Hotel Puri Mada, yang lokasinya jadi entry poin. Namun kalau mau mahal, bisa di Mimpi Resort yang minimal US$ 80 per malam. Karena mahalnya itu, 90% tamu yang menginap di Mimpi Resort berasal dari wisatawan asing. Ada juga Tauch Terminal yang dikenal sebagai tempat mangkalnya tamu dari Jerman. Jonathan Schaber, misalnya, mengaku tinggal seminggu di Tauch Terminal bersama enam kawannya dengan tarif US$ 50 per malam. Dia tahu tentang Tulamben setelah buka-buka internet tentang Tulamben. “Saya ke sini karena tertarik dengan wreck poinnya,” aku pemuda 24 tahun yang siang itu sedang di restoran hotel bersama teman-temannya.

Atau kalau mau murah, kita bisa berangkat pagi dari Denpasar sekitar pukul 05.30 wita. Saba Dive Operator misalnya, hanya mengenakan Rp 250 ribu-300 ribu untuk dua kali diving. Harga itu, menurut Gede Sateb, manager Saba, sudah termasuk alat menyelam, makan siang, transport, dua kali diving, dan guide. Hanya kalau berangkat pagi dari Denpasar, kita tidak bisa menikmati sun rise di Tulamben yang juga memikat itu tadi.

Leave a comment

Filed under Bali, Pekerjaan, Perjalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s