Monthly Archives: July 2004

Untunglah Tetap Semangat..

Dor!

Sekarang di salah satu pojok gate E1, Bandara Changi, Singapore. Aku dalam perjalanan ke Phnom Penh, Kamboja utk ikut kursus jurnalisme investigasi sampe 1 Agustus ntar. Sejak dari Bali tadi pagi, di Jakarta, dan sekarang fisikku masih payah. Pilek, demam, dan sedikit pusing. Padahal aku udah minum Sanaflu. Ya, untunglah semangat tetap menyala! He.he.

Ok. Ntar lagi pesawat Silk Air take off. Aku harus siap2.

-dari s’pore jam 3.30 waktu setempat-

Leave a comment

Filed under Daily Life, Jurnalisme, Perjalanan, Uncategorized

Mengkaji Mitos Modern Bernama Barbie

Resensi Buku Barbie Culture: Ikon Budaya Konsumerisme

Boneka Barbie mengkomodifikasi piranti bermain gadis kecil menjadi sebuah mitos tentang kecantikan. Melalui buku ini, Mary F. Rogers menyatakan bahwa boneka Barbie adalah ikon rasisme, seksisme, konsumerisme, dan materialisme.

Awalnya, Elliot Handler membuat boneka Barbie hanya karena anak perempuannya, Barbara Handler tertarik pada sebuah boneka Lili yang dilihatnya ketika belanja selama liburan di Swiss pada 1956. Boneka Lili merupakan boneka produksi Jerman yang diilhami kartun strip dan dibuat sebagai simbol seks bagi laki-laki. Tiga tahun kemudian, Mattel Inc memproduksi boneka Barbie. Mattel Inc, sendiri didirikan Elliot bersama temannya Harold Matson pada 1944. Makanya perusahaan itu bernama Matt (dari Matson) dan El (dari Elliot). Barbie yang kemudian menjadi ikon budaya itu juga meminjam nama anak Elliot, Barbara. Demikian pula pacar Barbie, Kendra. Dalam kehidupan nyata, Barbie dan Ken adalah dua bersaudara. Namun dalam imajinasi produksi Mattel, keduanya adalah sepasang kekasih.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Buku, Daily Life, Pikiran, Uncategorized

say hello sajalah

ya, daripada ga nulis apa2. aku say hello sajalah. mgkn ntar agustus baru nulis2 lagi. sekarang masih fokus di kuliah. biar cepet lulus.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Mempertanyakan Rasionalitas Pemilih

Finally, Pemilihan Presiden (Pilpres) secara langsung di Indonesia bisa dilaksanakan juga. Inilah hal yang paling membanggakan di Indonesia, paling tidak sejak aku lahir. Untuk pertama kalinya rakyat Indonesia memilih calon presidennya secara langsung. Ya, meskipun masih ada tahap selanjutnya yang belem selesai. But, tidakkah Pilpres 5 Juli kemarin suatu langkah yang luar biasa.

Kebetulan sekali aku bisa menikmati Pilpres di rumah, Mencorek sebuah desa di pesisir utara Lamongan, Jawa Timur. Asik juga melihat bagaimana antusiasme tetangga-tetanggaku menuju tempat pemungutan suara di sekolah satu-satunya di kampungku. Namun masih ada beberapa yang mengganjal.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Pikiran, Uncategorized