Monthly Archives: November 2004

Just Say Hallo..

Dua minggu gak ngisi blog karena lebaran. Rasanya belum telat. Minal Aidin Wal Faizin. Mohon maaf lahir batin. Swear, ini bukan basa basi..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Idul Fitri, Hari untuk Berbasa-basi

Jumat. Sabtu. Minggu. Hm, lebaran tinggal tiga hari lagi. Mereka, -eh, aku juga ding!- yang akan merayakan udah pada kembali ke keluarga. Berkumpul dengan orang tua, saudara, keluarga besar, maupun tetangga. Pas hari H, kita akan sholat ied dan abis itu silaturahmi, main ke rumah keluarga dan tetangga.

Aku jadi inget. Biasanya aku ngumpul sama sepupu-sepupu. Ada yang dari Malang, Yogya, Surabaya. Asik banget. –Dan bener memang keluarga itu candu-. Soalnya, lebaran jadi terasa kurang lengkap kalau tidak kumpul dengan mereka. Kami jalan bareng keliling kampung. Dulu sih hampir semua. Sekarang karena jarang di rumah ya pilih beberapa saja. Toh, jarang ketemu mereka (tetangga kampung maksudnya). Jadi, tidak punya dosa sama mereka. :)

Continue reading

Leave a comment

Filed under Aneka Rupa, Keluarga, Pikiran, Uncategorized

(Jangan-jangan) Keluarga Itu Candu?

Denpasar terasa agak sepi. Sudah jarang ada yang jual gorengan, atau martabak, atau penjual di pinggir jalan lainnya. Sepertinya karena sebagian warganya -yang ngrayain lebaran- pada mudik. Sebab, lebaran tinggal lima hari lagi. Banyak orang mulai berbenah, siap2 mudik.

Tradisi mudik ini memang dilakukan banyak orang menjelang hari raya keagamaan. Umat Islam menjelang lebaran. Umat Nasrani menjelang natal. Umat Hindu menjelang Nyepi. Dst. Kalo gak salah, Amrik pun mengenal Thanksgiving Day, dimana mereka biasanya kumpul, selain natal tentu saja.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Daily Life, Keluarga, Pikiran, Uncategorized

Lebaran Meriah Harga Termurah. Alah-alah..

Hari-hari ini iklan soal lebaran memenuhi berbagai tempat. Koran, TV, radio, baliho, kampus, perempatan, sekolah, apalagi mall. Denpasar pun tidak ketinggalan. Berbagai tempat dipenuhi iklan-iklan tersebut. Misalnya perempatan Jl Raya Puputan-Jl Sudirman, perempatan Jl Diponegoro-Jl Teuku Umar. Puluhan spanduk soal lebaran, mulai dari angkutan, pakaian, atau hotel memakai kata lebaran. Di berbagai sudut Denpasar dipenuhi spanduk-spanduk itu.

Memang tidak hanya hari-hari ini, sih. Biasanya juga banyak. Malah bagiku kadang keliatan merusak kota. Maka, kalo Bali adalah Pulau Seribu Pura, maka Denpasar adalah Kota Seribu Spanduk. :)

Barusan lewat Jl Sudirman. Dekat lampu merah perempatan jalan ini ada dua mall besar, Matahari dan Robinson. Keduanya tidak mau ketinggalan memasang spanduk besar, sekitar 5 m x 3 m. Matahari memasang spanduk hijau besar bertuliskan, “Sambut Lebaran dengan Bergaya dan Diskon Istimewa.” Sedangkan Robinson memasang spanduk merah, “Lebaran Meriah, Harga Termurah. Diskon hingga 75%” Juga ada puluhan spanduk lain di dua mall tersebut.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Daily Life, Pikiran, Uncategorized

Lelaki Tua yang Kulihat Itu Ternyata…

Aku tidak tahu kenapa. Pas pertama kali melihatnya, seperti ada yang langsung menyuruhku merhatiin orang itu. Tidak hanya sekilas melihat. Aku pun jadi benar-benar merhatiin orang itu. Dan mengingatnya di otakku. Waktu itu dia berkaos hijau bergaris-garis horizontal putih, sejajar dengan dada. Mirip zebra. Kaos berkerah itu kusam. Dekil. Celananya coklat. Jauh lebih dekil dibanding kaosnya. Ada titik-titik putih, seperti bekas cat di celana robek di lutut tersebut. Makanya aku pikir dia selesai ngecat rumah atau bangunan. Apalagi wajahnya keliatan capek.

Dia duduk bersila di depanku. Gurat-gurat keriput berentuk spiral mengelilingi mulutnya. Ketika dia menggerakkan mulut, keriput itu masih terlihat. Wajahnya kecil. Rambutnya, yang banyak uban, agak basah. Entahlah, aku seperti merasakan beban berat orang tua itu pas melihatnya. Padahal aku hanya menduga. Aku tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan dia. Di mana dia tinggal. Atau siapa namanya. Aku kemudian merekam wajah tua itu di pikiranku.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Daily Life, Pikiran, Uncategorized

Lelaki Tua Itu

Semalam aku melihatnya lagi. Laki-laki tua itu di depanku. Duduk bersandar di kaca. Wajahnya keliatan capek. Sepertinya usai kerja keras. Setua itu, sekitar 75 tahun, tapi masih kerja begitu melelahkan. Aku jadi bayangin masa depan. Jangan-jangan ntar aku juga seperti dia..

Leave a comment

Filed under Uncategorized