Lelaki Tua yang Kulihat Itu Ternyata…

Aku tidak tahu kenapa. Pas pertama kali melihatnya, seperti ada yang langsung menyuruhku merhatiin orang itu. Tidak hanya sekilas melihat. Aku pun jadi benar-benar merhatiin orang itu. Dan mengingatnya di otakku. Waktu itu dia berkaos hijau bergaris-garis horizontal putih, sejajar dengan dada. Mirip zebra. Kaos berkerah itu kusam. Dekil. Celananya coklat. Jauh lebih dekil dibanding kaosnya. Ada titik-titik putih, seperti bekas cat di celana robek di lutut tersebut. Makanya aku pikir dia selesai ngecat rumah atau bangunan. Apalagi wajahnya keliatan capek.

Dia duduk bersila di depanku. Gurat-gurat keriput berentuk spiral mengelilingi mulutnya. Ketika dia menggerakkan mulut, keriput itu masih terlihat. Wajahnya kecil. Rambutnya, yang banyak uban, agak basah. Entahlah, aku seperti merasakan beban berat orang tua itu pas melihatnya. Padahal aku hanya menduga. Aku tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan dia. Di mana dia tinggal. Atau siapa namanya. Aku kemudian merekam wajah tua itu di pikiranku.

Lalu, kali kedua aku melihatnya. Dia (lagi-lagi) di depanku, meski agak ke kiri. Duduknya dengan merebahkan satu kaki di lantai dan kaki lain didirikan. Dia agak bersandar di kaca. Kali ini dia bersarung merah kusam, berbaju coklat. Bungkusan di sampingnya masih sama seperti sebelumnya. Tas kresek hitam yang tidak rapi.

“Kira-kira berapa umur orang itu?” tanyaku pada teman di sebelah.

“Ya, 60-70 lah.”

“75 kali.”

Dia melakukan hal agak aneh. Meminta dua bungkus kue untuk berbuka puasa. Lalu tiga kurma di tiap bungkus plastik itu diambil isinya. Isi kurma itu dimasukkan ke air mineral di gelas plastik. Ketika waktunya berbuka, air itu diminum. Dan, entah karena apa, aku tetap melihat beban berat di wajah bapak itu. Aku mikir, gimana kalau ntar tua aku juga seperti dia. Masih harus bekerja keras sementara tubuh sudah terlihat ringkih. Wajah orang tua itu masih juga ada di pikiranku ketika aku sudah tidak melihatnya.

Lalu, kemarin aku melihat kembali orang tua itu. Di tengah terik panas Denpasar –terpanas yang pernah kurasakan selama tinggal di Denpasar bahkan-, laki-laki tua itu duduk di pembatas tengah jalan dekat lampu merah. Aku tidak ingat baju yang dia pake. Namun dia berpeci kumal hitam. Menengadahkan tangan ke tiap kendaraan yang lewat di depannya. Ya Tuhan. Lelaki tua itu ternyata mengemis..

Leave a comment

Filed under Daily Life, Pikiran, Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s