Monthly Archives: January 2005

Ketika Polisi Belagak Jadi Koboi

Anggota Poltabes Denpasar punya tugas tambahan. Mereka tidak hanya menangkap penjahat atau menilang pelanggar lalu lintas. Sejak Senin kemarin, mereka juga harus memantau sapi-sapi liar di Denpasar. Perintah itu disampaikan Kapoltabes Denpasar Kombes Made Dewa Parsana pada anak buahnya. Menurut Parsana, sapi-sapi liar di Denpasar rentan mengakibatkan kecelakaan.

Esoknya, perintah itu langsung dilaksanakan. Selasa kemarin, dua peleton polisi melakukan operasi di daerah Ubung yang memang banyak sapi liarnya. Dua pasukan itu masih dibantu beberapa intel berpakaian preman serta babinsa setempat. Beberapa warga juga membantu.

Berbekal tambang, layaknya koboi, mereka mencoba menangkap sapi-sapi tanpa KTP itu.

Kejar-kejaran di tanah terbuka itu pun terjadi. “Seharusnya kita pakai jaring. Kalau pakai tambang, takutnya nanti disepak,” kata salah satu polisi. Hasilnya, eh, tak satu pun sapi yang mereka dapat. Walhasil, operasi penertiban akan terus dilakukan..

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Artinya, Pelanggaran HAM Diperbolehkan dengan Alasan Tertentu?

“Lalu kenapa kalau melanggar HAM?” bupati itu balik bertanya. Kami diam. Aku baru hendak menjawab, dia sudah menambah lagi. “Saya kan berhak melindungi masyarakat saya dari ancaman HIV/AIDS.” HAM yang sedang kami bicarakan tentu saja hak asasi manusia, bukan HAM-burger apalagi HAAAM, apa ya? :p Aku dan teman sedang liputan soal HIV/AIDS di Jembrana, kabupaten paling barat Bali selama dua hari kemarin.

Ceritanya, 13-14 Januari lalu Pemkab Jembrana melakukan sweeping kartu tanda penduduk (KTP) bagi warga pendatang. Ini sih hal yang biasa dilakukan di daerah urban seperti Denpasar, Jakarta, Batam, atau kota lain. Persoalannya, pemeriksaan bukti sebagai warga negara yang baik itu dilakukan dengan tendensi pencegahan HIV/AIDS.

Dua hari sebelumnya, bupati menerima proposal lokakarya tentang HIV/AIDS. Di dalam proposal yang dibuat Dinas Kesehatan setempat itu disebutkan bahwa saat ini ada lima warga Jembrana positif HIV/AIDS. Data berdasar pada hasil serosurvey yang rutin dilakukan dinas kesehatan. Serosurvey itu tes darah secara unlink dan anonymus, artinya tidak diketahui darah siapa yang positif HIV/AIDS. Lokasinya di daerah beresiko tinggi (resti) seperti lokalisasi (terbuka maupun terselubung) dan cafe-cafe.

Nah, begitu tahu soal data tersebut, bupati terkesan panik. Apalagi, data tersebut juga dimuta media-media lokal di Bali. Bupati yang juga dokter gigi itu segera membuat tim gabungan dari satpol PP -yang selalu menangkap orang-orang kecil-, polisi -yang beraninya juga cuma penjahat kecil-, anggota DPRD -yang tidak berani digaji kecil ;p-, dan lain-lain. Tim gabungan itu ditugaskan melaksanakan pemantauan, pembinaan, dan penertiban kependudukan pada 13-31 Januari. Tim ini dibuat per 12 Januari 2005.

Dilihat dari tanggal proposal masuk, tanggal pembentukan tim gabungan, serta waktu operasi, jelas terlihat kalo operasi itu khusus nangkepin orang yang dicurigai positif HIV/AIDS. Maka, sasaran operasi pun daerah-daerah resti seperti lokalisasi (tertutup) di Gilimanuk dan kafe-kafe di pantai Delodberawah. Hasilnya, 11 orang dibawa ke kantor Satpol PP. Mereka lalu dites darah untuk mengetahui positif HIV/AIDS apa tidak.

Ini masalahnya! Selama ini, untuk tahu orang itu positif HIV/AIDS atau tidak tuh dilakukan dengan VCT alias tes darah sukarela. Tidak boleh dipaksa. Namun kali ini mereka dipaksa. Kata kepala dinasnya sih itu bukan VCT tapi serosurvey. Tapi serosuvery pun tidak boleh dilakukan secara paksa. Ini sudah standar penanganan masalah HIV/AIDS internasional. Hasilnya sendiri semuanya negatif.

Tes darah secara paksa inilah yang dikategorikan melanggar HAM. Tudingan itu datang dari kalangan aktivis HIV/AIDS di Bali maupun nasional. HIV/AIDS tidak mengenal identitas. Semua bisa tertular. Eh, bupati yang cerdas itu malah dengan santainya bilang kaya gitu tadi. Jadi heran aja. Padahal dia kan juga profesor di salah satu universitas swasta di Denpasar. Kalau memang mau menanggulangi HIV/AIDS, tidak bisa dong dengan cara-cara melanggar hak asasi penjaja seks komersial dan cewek kafe itu. Kan seperti lagu Seurius, “Cewek juga manusia. Punya mata punya hati..” 🙂

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Ah, Masa Harus Ngancurin Berhala Kaya’ Ibrahim?

-huh, akhirnya bisa juga posting catatan pas Idul Adha ini. beberapa kali mau posting, ada aja masalah soale-

Soal khotbah Idul Adha yang bagiku tidak menarik. Secara body language. Dari awal hingga akhir khotbah, khotib itu terus saja melihat catatan yang dipegangnya. Mukanya aku lihat selalu menunduk. Padahal ribuan umat yang hadir di Masjid Agung Sudirman Denpasar itu melihat ke arahnya. Mbok ya sekali-kali melihat ke arah kami, kek. Biar keliatan gimana mimiknya.

Selain wajah, tangannya juga terus menerus memegang catatan. Jadi, tidak ada gerakan atau bahasa tubuh yang bisa membuat kami -atau cuma aku ya?- menikmati khotbahnya. Monoton. Boring!

But, paling parah justru materi khotbahnya. Selama sekitar 30 menit, khotib itu melulu ngomong soal bagaimana perintah berqurban bisa turun. Perintah ini tidak lepas dari sejarah Ibrahim, yang kemudian melahirkan keturunan pembawa Yahudi, Nasrani, dan Islam. -Iya ya, padahal satu kakek, kok kebanyakan penganut tiga agama ini sering gontok-gontokan-. Sejak kecil, Ibrahim sudah berani melawan keyakinan orang tuanya. Salah satunya dengan menghancurkan berhala-berhala di tempat kelahirannya. Lalu, kapak yang dipake untuk menghancurkan itu dikalungkan pada leher berhala paling besar. “Kita harus meneladani keberanian Ibrahim melawan keyakinan orang tuanya,” kata khotib itu.

Khotib itu tidak menjelaskan bagaimana “melawan” itu. Cuma aku pikir, masa iya sih melawan dengan cara sekasar itu. Secara frontal. Menghancurkan. Juga, masa harus menghilangkan keyakinan orang lain? Aduh-aduh, hari gini kok masih ada khotib kaya gitu.

Lalu, berlanjut soal bagaimana Ibrahim mengurbankan Ismail untuk disembelih sebagai tanda cinta kepada Tuhan. Dengan kuasa Tuhan, Ismail diganti qibas -ya, mungkin di Indonesia semacam kambinglah-. But aku heran kenapa khotib itu kok tidak memberi sesuatu yang kontekstual ya. Biar kita bisa mengambil hikmah dari khotbah itu.

Tidak usah berat-beratlah. Paling baru kan ada soal Aceh. Kenapa tidak nyinggung soal bagaimana harus membangun solidaritas. Atau mengorbankan sesuatu untuk kemanusiaan di tempat lain-lain. Khotib itu cuma cerita tentang sejarah. Tapi tidak memberikan sesuatu yang bisa dicontoh. Jadi, tidak ada bedanya dengan cerita guruku pas masih di SD.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Lalu, Kenapa Media Itu Mati Satu per Satu?

Rekan-rekan,

Jika Anda perhatikan, sudah 2 bulan terakhir ini (Desember 2004 dan Januari 2005), halaman khusus “Bentara” di harian Kompas yang biasanya hadir Rabu pertama setiap bulan, tidak terbit. Kabar yang saya terima dari beberapa rekan di Kompas, bahwa halaman khusus itu akan dihentikan penerbitannya. Tak ada alasan yang jelas dan pasti. Sementara sejumlah rekan, penulis esai, penyair, pengamat seni-budaya, seniman, mahasiswa, yang selama ini rajin mengikuti pertukaran pemikiran di dalam “Bentara”, merasa kehilangan.

Selama 4 tahun kehadirannya, “Bentara” telah menjadi ruang latihan intelektual yang berharga bagi kita untuk mengembangkan kemampuan mengemukakan pendapat dan pemikiran dalam bentuk esai. Juga ruang yang berharga di mana puisi masih mendapat tempat penting sebagai bagian perkembangan kesenian di negeri ini. Ia juga jadi etalase bagi ilustrasi atau foto karya seni rupa agar bisa tampil ke hadapan publik yang lebih luas.

Sebagai salah seorang yang awalnya terlibat ‘urun gagasan’ penerbitan “Bentara” tentu saja saya sangat berharap lembar khusus itu bisa terus terbit di Kompas.

Untuk itu, saya mengajak rekan-rekan mengirim e-mail kepada rekan-rekan di Kompas yang selama ini menjadi penjaga rubrik “Kebudayaan” termasuk “Bentara”–untuk mempertanyakan hal ini, sekaligus memberi dukungan dan dorongan agar lembar khusus “Bentara” segera terbit kembali.

Harapan saya, semua e-mail itu bisa jadi semacam ‘mosi dukungan’ bagitim editor “Bentara” untuk diajukan kepada Dewan Redaksi Kompasyang “entah apa alasannya” telah menghentikan penerbitan “Bentara”. Mohon sebarluaskan permintaan dukungan ini. Dan, segeralah berkirim e-mail ke:

Bre Redana: don@k…

Efix Mulyadi: efix@k…

Salomo Simanungkalit: sal@k…

Terima kasih.

Enin Supriyanto

==========================

-Aku dapet email itu dari milis pantau-komunitas@yahoogroups.com. Kaget juga tahu bahwa Kompas, media yang selalu jadi ukuran kemapanan media di Indonesia, ternyata terancam rugi juga. Buktinya ya Bentara, rubrik yang berbobot itu tutup juga. Padahal, Bentara memang sesuatu yang sangat berbeda di tengah “kedangkalan” informasi di Indonesia.

Dan, kemarin aku juga ngobrol sama teman wartawan Latitudes, majalah budaya di Bali yang terbit dalam bahasa Inggris, bahwa medianya juga akan tutup. Padahal Latitudes termasuk media yang mendapat tempat di kalangan pecinta budaya, entah yang pop, tradisional, maupun yang lain. Buktinya, Goenawan Muhamad, Adrian Vickers, Ayu Utami, Clifford Geertz, Maria Hartiningsih, dan penulis bagus lainnya pernah nulis di media yang berdiri lima tahun lalu tersebut.

Dan, baru kemarin rasanya aku baca berita bahwa Far Eastern Economic Review -berpusat di Hongkong- juga tutup. Dua media di Singapura yaitu Channel U News TV dan koran Streats, milik Singapore Press Holding, yang nerbitin The Straits Time, juga tutup.

Ah, kenapa semakin banyak saja media bermutu yang mati. Padahal, baru tadi pagi aku baca tulisan di buku Lifestyle Ecstasy, bahwa abad ini adalah abad informasi. Lalu kenapa satu per satu penyedia informasi itu mati?

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Sepi Itu Belati

Lalu, semakin kusadari

sepi adalah belati

yang membawamu mati

Sendiri..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Soal Keberanian, Uang, dan Pilihan

Seorang teman, juga senior, hari ini ngobrol dengan agak sinis. Bahkan, ketika ngobrol bibirnya terlihat bergetar. Entah karena marah atau karena memendam sesuatu yang dia sendiri tidak bisa menyampaikan persis lewat kata-kata yang disampaikan padaku. Kami bertemu di cafe, tempat yang biasanya identik dengan hal-hal santai. Jadi, agak ironi juga.

Soal keberanian. Tiba-tiba dia menyalahkanku karena aku dianggap tidak berani bekerja di media lokal. Tak hanya itu dia juga menyalahkan pers mahasiswa di mana aku pernah belajar. Juga, organisasi jurnalis yang saat ini aku ikut di dalamnya. -Eh, dia juga ikut di situ, ding. Bahkan dia yang mendirikan-

Bermula dari obrolan soal media yang dia didirikan sekitar sebulan ini. Tabloid mingguan dengan topik umum. Laporan utamanya sih selalu politik.Tapi isinya ada juga seni, berita nasional, juga tokoh. Aku pernah diajak masuk. But ku tolak. Ketika ngobrol itu aku baru tahu bahwa tiga wartawan tabloid itu sudah keluar. “Ah, mereka memang tidak sanggup dengan ritme kerjanya,” kata teman itu. Lalu dia menyalahkan kenapa tidak ada alumni pers mahasiswa tempatku yang tidak mau masuk di medianya. Juga mengatakan bahwa alumni pers mahasiswa itu tidak berani kritis.

Aku sebutkan dua nama alumni yang di Komisi Pemilihan Umum Provinsi Bali dan di Bali Corruption Watch.

“Itu kan dulu. Yang sekarang mana?”

Lalu dia nyerocos soal pilihan yang kuambil. “Kamu masuk media mingguan nasional hanya karena mau enaknya. Karena kamu tidak mau susah bekerja di harian lokal.”

“Ya, itu soal pilihan. Kalau ada pilihan enak, kenapa harus cari yang susah.”

“Karena kamu hanya mikir soal duit.”

“Itu hanya salah satu faktor. Sebab lainnya karena soal waktu. Kerja di harian lokal sangat memeras waktu sementara duit kecil.”

“Kalau begitu tidak usah ngomong soal anti amplop dan serikat pekerja. Kalau kamu tidak bekerja di media lokal, berarti kamu tidak berani untuk melakukan itu semua. Bla bla bla..”

Banyak banget omongannya. Semua menyudutkanku. Menyalahkanku.

Melihat wajahnya yang memerah dan omongan yang semakin meninggi. Aku diam saja. Lalu pembicaraan usai.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Lokal, Global, Gombal!

Sore tadi ikut nimbrung ngobrol santai sama David T Hill dan Krishna Sen. Mereka suami istri dari Australia. Si Suami adalah profesor kajian Asia Tenggara Univ Murdoch sedangkan istrinya profesor kajian Media di Asia. Krishna, katanya, masih punya hubungan keluarga dengan Amartya Sen, pemenang nobel di bidang ekonomi. Aku lupa tahun berapa.

Diskusinya santai banget. Sekitar 20 orang duduk mengitari dua meja sambil minum teh anget. Juga, pisang goreng dll. Pesertanya ada mahasiswa, wartawan, aktivis, dosen, juga penulis.

Obrolan seputar politik media lokal. But, obrolan agak mentok di definisi media lokal. Hari gini masihkah ada yang lokal. Atas dasar apa? Segmen pembaca? Materi berita? Jangkauan? Kalau toh ada definisi itu, lalu untuk keperluan apa? Ekonomis? Politis?

Lokal, apakah harus yang bersifat kedaerahan? Kalau toh di daerah, tidakkah lambang-lambang yang global itu juga semula hanya lokal. Meski agak beda konteks, KFC pun hanya resep ayam goreng dari sebuah kota bernama Kentucky. Lalu, dengan kekuatan promosi dia menjadi besar. Jadilah sesuatu yang identik dengan globalisasi. Juga di dunia mode. Tidakkah ada penyeragaman style dari lokal banget kemudian dipublikasikan sehingga kemudian jadi sesuatu yang melintas batas kelas atau ras atau apalah. Bla..bla..bla..

Atau, di dunia media, cobalah kita ambil contoh Jawa Pos. Tidakkah dia semula hanya sesuatu yang bersifat lokal. Bahkan sampai sekarang pun kantor pusatnya masih di Surabaya, kota yang juga masih identik dengan “daerah”. But, siapa sih yang tidak tahu Jawa Pos? Dia menggurita dengan Radar yang hampir ada di tiap daerah di Indonesia.

Lokal, global, jangan-jangan sesuatu yang gombal. -Ih, maksa banget , ya?-

1 Comment

Filed under Uncategorized