Benar-benar Perjalanan di Atas Awan…

-catatan perjalanan pekan lalu-

Jumat, 31 Desember 2004. Pukul 09.30 wib di Jl Garut No 6 Malang. Kami berdoa terlebih dahulu sebelum berangkat. Rombongan terdiri dari 28 orang yang berasal dari tiga kelompok: alumni Encompass Trust, anggota YEPE Malang, dan Gladi Yogyakarta. Hari ini kami akan melakukan perjalanan ke desa Ranupane di kaki gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa. -kalau gak salah malah tertinggi di Indonesia-

Kami akan meresmikan contoh rumah sehat di desa perbatasan Malang-Lumajang tersebut. Rumah ini dibangun oleh tiga organisasi yaitu Yayasan Agadhipa, Encompass Trust, serta YEPE Malang. Aku dan teman alumni Encompass yang lain diundang untuk hadir di peresmian itu. Sekalian jalan-jalan tahun baru kenapa tidak?

Rombongan dibagi jadi dalam lima mobil. Tiga mobil Land Rover punya Gladi yang warnanya seragam, oranye. Dua yang lain di Kijang dan Panther. Aku dan lima tujuh teman lain naik di Land Rover panjang bernopol BG 1070 KA. Ini memang mobil paling panjang. Karena itu penumpang dan bawaannya pun paling banyak. Biar bisa saling kontak, tiap mobil Land Rover itu dilengkapi radio Orari. Jadi inget tahun 80-an pas Orari ngetrend di kampungku.🙂

Ketika sampai di Tumpang, dua mobil “baik-baik” (Kijang dan Panther) berganti dengan Hard Top hitam nyewa di penduduk setempat. Beberapa warga Tumpang memang menyewakan mobil untuk dipakai ke Ranupane. Harganya sekitar Rp 150 ribu sekali jalan.

Keluar Tumpang, kami mulai melewati beberapa desa penghasil apel. Asik banget lihat langsung kebun apel dengan buah yang dibungkus kertas putih. Maklum, selama ini kan aku jarang liat pohon apel. Jadi pas lihat itu ya seneng banget. Kaya orang gunung liat pantailah.. Di desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo ratusan hektar kebun apel itu berada di kanan kiri jalan. Beberapa orang sedang memetik apel. Ada pula tumpukan apel di dalam keranjang yang siap dijual. Maunya sih kami membeli dari mereka. But, ga enak sama rombongan. Jadi ya liatin aja.

Setelah itu perjalanan semakin mendaki. Jalan masih beraspal meski tidak sebagus sebelumnya. Di kanan kiri kami mulai terlihat jurang dengan kedalaman ratusan meter. Ngeri campur takjub. Dingin pun mulai terasa di tengkuk. Syal Khmer yang semula kuikat di kepala mulai kuturunkan di leher. Jaket dieratkan.

Jurang semakin dalam dan mengerikan, juga menakjubkan setelah itu. Jalan tak lagi beraspal tapi berpaving. Kadang-kadang rusak. Di satu point, jalanan yang kami lalui sangat kecil, hanya cukup untuk satu mobil dan di kanan kirinya persis ada jurang. Tikungan juga semakin tajam. Aku merasa ngeri. Takut bagaimana kalau mobil yang kami tumpangi tergelincir jatuh ke bawah sana. Ih, ngeri..

Kengerian semakin bertambah ketika mobil yang aku tumpangi terlihat mulai kurang beres. Kadang-kadang mati. Paling parah terjadi sekitar tiga jam perjalanan dari Malang. Ketika jalanan mendaki, tiba-tiba mobil mati. Di kiri kami hanya jurang. Secara refleks, kami turun lalu menahan mobil agar tidak mundur. But, mobil masih mundur meski sudah diganjal. Jantung berdegup kencang.

Parahnya lagi, mobil bener-bener gak mau hidup. Akhirnya didorong dengan mobil di belakangnya. But, jalanan semakin mendaki. Tajamnya bahkan sampai 45 derajat kali. Selain itu juga berkelok. Alhasil, mobil yang mogok pun ditinggal. Beberapa penumpang pindah ke mobil lain. Juga barang bawaannya.

Untungnya tak lama abis itu mesin mau hidup setelah disiram pake air segala. Penumpang berganti. Kali ini semuanya cowok. Posisinya pun semuanya siap loncat sewaktu-waktu mobil mogok. Semua juga bawa satu penahan ban entah batu, kayu, atau benda lain. Eh, ternyata abis itu mobil melaju dengan lancar. Padahal jalanan tetap semakin mendaki, kelokan semakin banyak, dan tambah rusak.

Kami malah menyalip beberapa mobil yang lain. Lalu kami berada paling depan. Sampai di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, mobil berhenti. Inilah satu-satunya desa yang kami temui dalam perjalanan setelah masuk kawasan Taman Nasional Tengger Bromo Semeru. Petani di desa ini bertanam di tanah yang miring banget. Gimana mereka bisa berdiri di tempat miring begitu? Gila juga, pikirku.

Sekitar pukul 1.30 siang, kami sampai di point Jemplang. Di tempat ini ada dua tempat istirahat. Sayangnya penuh coretan. Kabut menyelimuti kami. Ketika bernafas, asap keluar dari mulut kami. Wah, serasa di luar negeri pas musim dingin.🙂

Point Jemplang merupakan pertigaan. Kalau terus akan mengarah ke Ranupane sedangkan kalau belok kiri akan mengarah ke gunung Bromo. Ada lembah yang terbentuk dari lingkaran gunung Widodaren. Di bawah sana, hamparan semak menjadi pemandangan menarik. Awan berarak di bawah sana. Kami di atas awan! Udara jauh lebih dingin. Mungkin sekitar 5 derajat celcius.

Usai melepas penat, perjalanan dilanjutkan. Hingga dua jam kemudian tiba di Ranupane. Desa kecil ini merupakan desa terakhir sebelum mendaki Semeru. Katanya sih perlu waktu tiga hari untuk sampai di puncak Semeru dari tempat ini. Mau nyoba? Kalau aku sih kapan-kapan aja.🙂

Ranupane masuk Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. But, jalan paling cepat ya lewat jalanan yang aku lewati tadi. Petani di desa ini menanam bawang prei, kubis, dan sayur lain. Penduduknya sekitar 300 orang dengan rumah yang terpencar. Ada satu SD, satu puskesmas, satu masjid, dan satu… pura! Pura itu hanya berjarak sekitar 100 meter dari masjid. Wah, mereka ternyata hidup berdampingan dengan damai meski beda agama. Hm, kali banyak orang harus belajar soal toleransi ke desa ini.

Setelah istirahat bentar, acara peresmian rumah sehat itu dilakukan. Ya, seremonial gitulah. Rumah itu diharapkan jadi contoh rumah sehat bagi warga lain. But, aku juga tidak melihat sesuatu yang berbeda kecuali perapian yang dipindah ke ruang tamu dan kamar mandi yang terpisah. That’s all.

Sore itu pula kami kembali. Aku berganti mobil. Ternyata perjalanan pulang jauh lebih menyenangkan. Mungkin karena sudah tahu medannya. Juga karena jalanan lebih banyak turun. Semburat merah matahari tenggelam membuat sore itu begitu menakjubkan. Di kanan kiri kabut. Dan di depan sana cakrawala itu merekah begitu indah. Cakrawala dan kabut itu lebih rendah dari tempatku berada. Lagi-lagi, aku benar-benar berjalan di atas awan..

1 Comment

Filed under Uncategorized

One response to “Benar-benar Perjalanan di Atas Awan…

  1. Anonymous

    Orang yang percaya kepada Anak itu akan mendapat hidup sejati dan kekal. Tetapi orang yang tidak taat kepada Anak itu tidak mendapat hidup. Ia dihukum Allah untuk selama-lamanya
    jn 3,36

    Dan jikalau barang seorang tiada dijumpai namanya tersurat di dalam kitab hayat itu, maka ia pun dicampakkanlah ke dalam laut api itu
    rev 20,15

    Believe on the Lord Jesus Christ, and thou shalt be saved

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s