Valentine, Kasih Sayang yang Dikomersialkan…

-catatan pas valentine-

Ketika aku masih kecil, mungkin TK atau SD, keluargaku tidak mengenal Valentine. Mungkin sampe sekarang pun mereka belum mengerti. Maklum, kami tinggal di kampung kecil, lumayan jauh dari kota. Namun, tanpa pernah tau apa itu Valentine, bukan berarti kami tidak mengenal kasih sayang.

Ketika itu, aku sering tidur di pangkuan ibuku kalo malam. Sambil ngobrol di depan rumah, beralas tikar, dan melihat rembulan. –Hm, i really miss it- Atau sekali-kali aku digendong bapakku di punggung menuju sawah atau hanya jalan-jalan. Atau aku makan sepiring bertiga atau berempat dengan kakak-kakakku. Kami semua saling menyayangi tanpa harus diverbalkan dengan bunga atau coklat atau kata-kata.

Ketika kuliah, aku baru tau kalau ada hari khusus untuk memperingati Valentine. Aku pernah baca sih Valentine itu nama seorang santo (?) yang dihukum mati karena berjuang demi cintanya. Atau semacam itulah. Valentine diperingati tiap 14 Februari. Biasanya sih memang dilakukan dengan pasangan misal pacar atau suami atau istri. But, tidak jarang pula dengan orang-orang terdekat.

Sikap orang pada Valentine pun macam-macam. Ada yang menolak karena Valentine identik dengan ajaran agama tertentu. -Ini sih sebenarnya dari kelompok orang yang bawaannya memang curiga melulu dengan agama orang lain-. Ada pula yang menolak merayakan dengan alasan budaya Barat (dengan B besar). Karena itu tidak perlu dirayakan. Toh, banyak juga yang merayakan, terutama mereka yang lagi kasmaran.

Dan semalam, aku melihat betapa banyak orang yang bersiap-siap merayakan Valentine. Di Jl Sutoyo Denpasar, tempat orang jualan bunga, bener-bener macet karena banyaknya orang yang beli mawar. Di Jl Sudirman, tumben-tumben aku lihat orang jualan bunga di pick up dengan tulisan Jual Bunga dan Bingkisan untuk Valentine. Toko pernak-pernik bernama Valentine di Jl Waturenggong dan Jl Diponegoro juga penuh sesak dengan pembeli. Malah pecalang (pengaman desa adat) ikut jadi tukang parkir. Di mall-mall, aku liat pembeli pada ngantri mau membeli pernak-pernik untuk diberi pada orang yang dikasihi.

Hm, begitulah. Selalu saja pasar memang mengambil kesempatan pada setiap perayaan. Tidak hanya pas Idul Fitri, Natal, Nyepi, atau Imlek. Semua momen selalu dijadikan kesempatan untuk melariskan produk. Dan, ketika Valentine, yang dikomersialkan itu kasih sayang. Seolah-olah kita tidak menyayangi orang terdekat kalau tidak memberikan hadiah pada orang tersebut.

Tentu saja, itu hak tiap orang untuk memilih merayakan atau tidak. Tapi aku memilih tidak. Tanpa merayakan Valentine, setiap hari hidup ini sudah penuh dengan kasih sayang. Dan, aku tidak mau jadi korban komersialisasi kasih sayang itu..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s