Monthly Archives: May 2005

Setelah Mei Berlalu…

Mei berlalu. Banyak momen juga berlalu. Sepertinya Mei tahun ini memang istimewa bagiku. Agak selfish kali ya cerita soal diri sendiri.

Pertama soal kuliah. Setelah delapan tahun, empat tahunnya males-malesan. he.he.- akhirnya aku lulus juga. Sebenarnya lulus pas 31 Maret lalu. Tapi kan habis ujian masih banyak yang diurus kaya perbaikan dst. Nah, 7 Mei kemarin akhirnya aku wisuda juga. Sekarang sudah punya gelar Sarjana Teknologi Pertanian (STP). Ya gak penting-penting amat sih lulus S1, tapi bagi banyak orang tetep aja penting. Misalnya untuk nglamar kerja harus lulus S1, mau nglamar beasiswa harus lulus S1, dan mau nglamar anak orang juga harus lulus S1. He.he.

Asiknya lagi pas wisuda tuh keluarga pada datang. Gak main-main, rombongan 10 orang ditambah ponakan-ponakan. Rame banget jadinya. Tiga hari pun keliling ke tempat-tempat wisata di Bali bareng mereka. Ke Garuda Wisnu Kencana, Kuta, Tanah Lot, Sanur.. Agak tekor tapi sungguh seneng bisa menjamu mereka di Bali. Keluarga bener2 candu! Ketagihan yang membahayakan..

Lulus S1, tentu saja lega. Sudah tidak ada beban kalau harus “terbang ke mana aku suka” atau “pergi ke mana aku mau”. Cuma kan juga ternyata diam-diam ada beban yang lain. Kalau kemarin pas masih jadi mahasiswa kan punya pembenaran kerja santai-santai. “Kan masih mahasiswa yang penting bisa hidup saja cukup,” gitu analoginya. Tapi sekarang kan juga harus mikir masa depan, sesuatu yang pasti datang tapi belum tentu aku lewati. Ya bisa saja abis nulis blog ini lalu aku jatuh, bruk!, mati. Masa depan kadang memang kaya tiran. -Gawat banget ya?-

Masa depan membuat banyak orang harus berpikir keras, bekerja keras, padahal belum tentu juga mereka ngalami. Soal masa depan ini pula yang harus membuatku sekarang berpikir tentang kerja lebih mapan (ehm, mapan?), atau sekolah lebih tinggi, atau nglamar anak orang. Btw, aku pernah berpikir bahwa kemapanan adalah hal yang paling menakutkan lho..

Hal kedua, Mei ini aku juga sudah lunas kredit motor. He.he. Ketahuan juga kalau tukang kredit. Yup, setelah kredit sepeda motor Honad Legenda sejak Juni 2002 lalu, akhirnya Mei ini aku lunas. Lumayan sih, tiap bulan harus menyediakan 400 ribu untuk nyicil. Mana pendapatan gak pasti. Kini motor itu sudah sepenuhnya milikku hasil jerih payahku selama ini.

Motor itu memang sungguh membantu. Hidup di Bali tanpa kendaraan sendiri, wa’alaikum salam aja. Susah banget. Apalagi jadi wartawan yang mobilitasnya tinggi (hatjing!). Motor itu bolehlah jadi ukuran bahwa ada proses yang telah kulewati. Bahwa setelah sekian tahun bekerja, ada benda yang bisa dikenang. Agak matre ya? Ya itu kan hanya salah satu ukuran. Ukuran lain ya bisa jalan2 dan kenal banyak orang.

Hal ketiga, Mei ini aku juga udah ngobrol ma orang tua Lode. Soal lima tahun pacaran, rencana masa depan, dan seterusnya. Lumayanlah. Paling tidak mereka sudah tak kasi kepastian rencana kami. Tak tahunya mereka yang malah repot. Bikinin rumah, upacara, dan tetek bengen lainnya. Hmm, mewujudkan keluarga kecil di pinggir kota dengan rumah terbuka dan perpustakaan untuk anak-anak tetangga semoga segera terwujud tahun ini.

Ya semoga saja. Paling tidak kami sedang berusaha mewujudkan semuanya: kerja, beasiswa, keluarga..

3 Comments

Filed under Uncategorized

Mereka Tak Melakukan Apa-apa. Tapi Mereka yang Menderita…

Setelah beberapa kali tertunda, akhirnya Jumat pekan lalu aku bisa ke Desa Goris, Singaraja. Desa ini berjarak 200 km lebih dari Denpasar ke arah utara. Perjalanan lebih dari tiga jam lewat darat. Maka perlu waktu sehari penuh untuk bisa ke desa ini. Karena itulah beberapa kali niatku tertunda. But, ya syukurnya kesampain juga.

Desa Goirs, berada di jalur utara (pantura) Bali. Secara adminisitratif masuk kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Desa kecil ini terbelah oleh jalan raya antara Gilimanuk, pintu masuk Bali dari Jawa, dengan Singaraja, bekas ibukota provinsi Bali. Toh, desa ini terlihat gersang. Tidak sepadan dengan mereka yang lalu lalang. Ketika aku datang, debu beterbangan. Apalagi kendaraan yang lalu lalang juga banyak. Suasana desa sangat panas.

Niatku datang ke desa ini karena aku udah dengar sebelumnya tentang anak-anak di desa ini. Dan itu memang benar adanya.

Aku ke desa itu untuk bertemu dengan anak-anak yang sudah yatim, piatu, atau yatim piatu. Orang tua mereka meninggal karena AIDS, sindrom yang menyerang kekebalan tubuh itu. Ada 14 anak di desa ini yang demikian. Ada Kadek Setiawan, 10 tahun yang bapaknya meninggal dua tahun lalu. Sulatra bapaknya Setiawan meninggal karena AIDS. Ketika masih hidup dia suka ganti-ganti pasangan dan tidak pakai pengaman. HIV yang diidapnya ditularkan pada Widiasih, istrinya. Setahun lalu, istrinya juga meninggal. Kadek kini tinggal bersama Made Yasa pamannya.

Kadek, tentu saja, tidak pernah ganti-ganti pasangan, atau pake jarum suntik bersama, atau berbuat hal yang beresiko tinggi kena HIV. Umurnya masih muda, baru 10 tahun. Tapi kini dia harus hidup sendiri karena perbuatan bapaknya. Ketika aku ajak ngobrol tak ada cahaya sama sekali dimata itu. Dia hanya menatap kosong. “Padahal dulu dia pinter,” kata pamannya.

Ada pula Sunanjaya dan Susanti, kakak beradik yang masih balita. Mereka kini diasuh neneknya. Mereka tidak pernah berbuat sesuatu yang melanggar norma, dan semacamnya namun mereka harus menanggung akibat yang begitu berat.

Untungnya 14 anak di desa itu tak ada satupun yang positif HV. Mereka kini didampingi Suryakanta, kelompok dukungan untuk anak2 yatim karena AIDS. Pengasuh mereka diberi babi untuk kemudian diternakkan. “Meski tidak besar, ternak babi bisa menghidupi mereka,” kata Planet yang mengunjungi mereka tiap akhir pekan.

Hari itu, aku dan teman-teman hanya bisa bertemu dan ngobrol dengan mereka. Belum banyak yang bisa kami lakukan selain bantuan sekadarnya. But, tatatp mata mereka seperti mengharap kapan2 kami untuk kembali lagi..

2 Comments

Filed under Uncategorized

"Berapa Tarif Wartawan di Sini, Dik?"

Pada 20 – 23 Mei ini, Partai Demokrat akan ngadain kongres pertamanya. Seperti juga Partai Golkar dan PDI Perjuangan, mereka memilih Bali. Kata ketuanya, Subur Budisantoso sih karena Bali yang paling siap dengan akomodasi dan fasilitas lain. Ya, bisa aja sih dibuat gitu. Padahal toh daerah lain, katakanlah Jakarta, Surabaya, dan seterusnya juga bisa saja.

Menjelang kongres, seperti biasa aku juga kena dampak. Paling tidak karena aku mesti liputan penuh di kongres itu. Tapi kali ini agak berbeda. Ada tiga tim sukses yang minta bantuanku untuk ngoordinir media di Bali. Maksudnya aku yang ngasi tau teman-teman wartawan kalo tim itu butuh wartawan, atau bantu mereka untuk sebar info, dst. Ya mirip2 gitulah.

Dua tim sukses sudah ngomong langsung. Satunya lagi hanya bantuin cari base camp.

Aku sih asik-asik saja bantuin mereka. Tapi hanya demi persahabatan. Aku kasih aja kontak wartawan-wartawan di Bali, entah lokal ataupun nasional. Aku ga mau yang ngontak. Hanya demi kebaikanku sendiri. Kalo aku yang sampe ngundang, kesannya aku pro salah satu calon. Jadi aku tolak aja.

Masalahnya kemudian, salah satu diantara tiga tim sukses itu terang-terangan nembak pake duit. “Kami sudah anggarin uang rokok untuk teman-teman wartawan. Nah, kalo di sini kira-kira berapa sih tarif satu wartawan?” kata salah satu orang yang minta bantuan itu.

GILA! Emangnya wartawan itu apaan. Aku ngrasa dia udah memandang rendah wartawan. Mungkin dalam pikirannya, dengan ngasih amplop dia akan lebih mudah ngatur wartawan. Aku lalu bilang, kalo memang dikasih amplop kaya gitu, saya gak bisa bantuin. “Kalau memang nilai beritanya bagus, wartawan pasti akan muat tanpa dikasi duit, Mas,” kataku.

Aku pikir ini juga karena memang ada wartawan yang hanya ngejar-ngejar amplop, atau setidaknya tidak menolak ketika dikasi uang transport, uang rokok, uang bensin, dan bermacam istilah lain. Jadi pada satu sisi ya anggapan kaya gitu ga berlebihan mungkin.

Setelah itu bawaanku jadi ga enak. Aku seneng aja bantuin, tapi kalau sampai aku harus terlibat dalam orang-orang yang ngasi amplop pada wartawan, ya maaf sajalah. Aku males!

2 Comments

Filed under Uncategorized

Setelah Empat Bulan Akrab dengan HIV/AIDS dan Narkoba

Dua hari lalu Tabloid Kulkul edisi Mei terbit. Artinya sudah lima bulan ini aku kerja di tabloid soal HIV/AIDS dan narkoba ini. Tabloid bulanan ini diterbitkan Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPAD) dan Badan Narkotika Provinsi (BNP) Bali. Jadi ya ini punya pemerintah.

Lima bulan, banyak banget pelajaran yang ku dapat.

Continue reading

28 Comments

Filed under Daily Life, Pekerjaan, Pikiran, Uncategorized

Tiap Warga Negara Berhak Bekerja di Mana pun!

Malem minggu lalu aku lewat Lapangan Puputan Badung. Pas lewat, tiba-tiba beberapa pedagang acung berlari-lari sambil bawa dagangannya. Dua pedagang balon berlari sambil sesekali melihat ke belakang. Pedagang jagung bakar lari sambil mendorong gerobaknya. Namun sial bagi pedagang bakso, dia digiring petugas ketentraman dan ketertiban (Tramtib), yang justru tidak pernah bikin tentram dan tertib, ke mobil yang menggaruknya.

Lapangan Puputan Badung adalah salah satu tempat terbuka yang ddimiliki Denpasar. Lokasinya strategis. Di tengah kota. Di sekelilingya ada Markas Kodam IX/Udayana, rumah jabatan Gubernur Bali alias Wisma Sabha, kantor Walikota, dan kantor BUMN kaya Garuda dan Pertamina.

Continue reading

2 Comments

Filed under Daily Life, Uncategorized