Monthly Archives: October 2005

Be Es-Be Es ala Bule

Sebenarnya ini cerita pekan lalu. But, karena ga sempat posting jadi ya aru kali ini bisa nulis di blog. Ceritanya, persis seminggu lalu ada teman, tepatnya bos -karena aku kerja bantu dia-, wartawan The Australian, yg ultah. Dia pun ngundang aku untuk makan malam. Karena ku pikir bule tuh kalo dinner bawaannya agak resmi, aku pun dg PD-nya pake kemeja, pakaian yg paling kubenci.

Abis buka puasa, aku pun dateng ke sana ma satu teman, yg sebenarnya ga diundang. But daripada aku garing di sana aku ajak teman itu aja. Toh si bule juga kenal baik ma dia. Ga ada salahnya kan ngajak teman.

Sampai di tempat, salah satu restoran Italia di Sanur, ternyata udah ada sekitar lima bule Ausi juga. Semuanya wartawan. Ada dari AAP, SMH, Chanel 7. Ternyata, sebagian besar pake kaos oblong aja. Santai banget. Gedubrak! Tau gitu aku ga pake baju yg bikin gerah itu tadi. But, udah kadung.

Sejam ngobrol ma minum, kami pun pindah ke meja makan. Pesan makanan pembuka+ makanan utama. Pas pesan itulah aku baru tau kalo mereka mau bayar masing2. Soale diitung berdasarak kantor masing2. Heran aja aku. Bukannya kalau ada yg ultah dan makan malem berarti yg ultah yg bayarin. Di Indonesia kan biasanya gitu. But ini enggak. Bener2 enggak. Jadi mereka tuh pesen makan lalu diitung per kantor. Untungnya bule si bosku tuh bilang, “Ga usah khawatir. Aku yg bayarin kamu ma temanmu.” Dalam ati aku bilang, ya ialah. Kamu yg ngundang aku masa aku yg bayarin kamu.”

Abis makan, aku kemdian baru tau kalo itu emang biasa bagi bule. Meskipun diundang makan malem seseorang yg ultah, belum tentu yg ngundang tuh bakal bayarin kamu. So, besok2 kalo diundang bule dinner, siap2 aja bayar sendiri. :))

4 Comments

Filed under Uncategorized

Satu Pintu Lagi Telah Terbuka

Pas lagi buka puasa ma sodara di Bali dua hari lalu, masuk SMS dari sepupu yg lagi ngambil master di Australian National University (ANU) Australia. “Udah baca pengumuman IFP. Congrat! Namamu masuk yang lolos tahap berikut.” Gitu SMS-nya.

Tentu saja senang bukan kepalang. Malam itu juga, setelah buka dan maghriban tentu saja, dengan senang hati aku ke warnet. Cek http://www.iief.or.id. Liat news, dan waaah, ternyata bener. Namaku dengan manisnya ada di urutan 79. Lalu, besoknya surat+formulir lengkap dalam basa Indon dan English itupun tiba.

Setelah nunggu sejak Juli lalu, akhirnya ada juga pengumuman pra-pendaftaran calon penerima beasiswa IFP. Dan, Thanx God, aku lolos juga meski masih tahap yang sangat awal. Paling tidak, satu pintu udah kebuka meski masih ada tiga atau empat pintu lain yang belum tentu bisa kulewati. Gak ada salahnya dicoba. Kalau toh nanti gak lulus, paling gak aku udah pernah mencobanya.

Ceritanya, begitu lulus S1 Mei lalu -(akhirnya, setelah 8 tahun kuliah!)-, aku kirim lamaran fellowship ke Ford Foundation. Nothing to loose. Toh cuma modal kirim email. Niatnya pengen belajar jurnalisme kalo lolos nanti. Dan, ternyata lolos juga.

Tinggal sekarang ngurus semua syarat pendaftaran itu. Selain itu juga mikir jadinya kira2 belajar dimana ya soal jurnalisme? Hal yang paling penting sih di negara yang pake English untuk percakapan sehari-hari. Soale niat belajar tuh cuma biar Englishku lancar aja. Bukan cari titel. :)

4 Comments

Filed under Uncategorized

Melihat Kepala2 Itu, Bulu Kudukku Berdiri

Sebenarnya kejadian ini sudah sekitar tiga hari lalu. Aku lagi nulis berita untuk media tempatku kerja. Katanya sih untuk Laporan Utama, mereka akan nulis tentang Bom Bali. So, dengan semangat 45 aku pun nulis laporan tentang itu.

Deadline, Jumat pagi. Tapi aku pikir akan lebih baik kalo aku bisa kirim Kamis malam. Jadilah akau nglembur Kamis pekan lalu. Maksudnya biar aku bisa kirim malam itu juga.

Ada dua laporan yang kutulis. Pertama soal round up kejadian. Hanya laporan mata dan keterangan beberapa saksi. Sekalian korban-korban. Dan beres.

Lalu tulisan kedua soal penyelidikan oleh polisi. Berbekal kontak beberapa polisi yang terlibat di investigasi, aku dapat beberapa hal yang bagiku berbeda. Jadilah aku nulis tentang itu.

Nah, di salah satu bagian tulisan itu aku harus menulis tentang tiga pelaku bom bunuh diri di Jimbaran da Kuta 1 Oktober lalu. Kebetuluan aku punya foto2 tiga pelaku bom bunuh diri itu. Selain cetak sendiri, dari foto repro punya polisi, juga ada selebaran full colour dari Polda Bali. Pas nulis, aku beberapa kali liat wajah2 yang agak berantakan itu. Foto2 itu diambil dari lokasi kejadian. Hanya kepala. Mukanya mengerikan.

Sekitar pukul 11 malam lebih pas aku nulis laporan itu. Beberapa kali liat foto2 itu, tiba2 aku ngrasa ngeri. Bulu kudukku berdiri. Tumben2 aku ngrasa gitu. Di tengkukku terasa dingin. Seperti ada angin yang berhebmbus tiba2. Aku selama ini ga terlalu takut pada urusan begituan. But, malam itu aku bener2 takut. Segera aku matiin komputer. Lalu pindah ke kamar temenku. Ngeri di kamar sendiri. “Mending tak lanjutin besok pagi,” pikirku.

Bl**dy Hell! Ternyata teroris yang sudah mati itu pun masih bikin masalah padaku. Huh!

4 Comments

Filed under Uncategorized

Yang Aneh Tapi Benar di Bom Bali

Pas Lagi nunggu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Jimbaran, Minggu siang pekan lalu, polisi dikagetkan kedatangan Ni Kadek Suastari. Ibu rumah tangga warga Jimbaran itu tiba-tiba datang ke lokasi yang diamankan petugas. Dalam kondisi kerauhan (trance) Suastari menyebut dirinya sebagai Gajah Mada dan Dewi Kwan In. Dia pun menyebut nama tersangka pelaku bom di Jimbaran dan Kuta serta tempat mereka pernah tinggal. Suastari menyebut nama Abdullah, Abdul Gani, dan Dedy Miswar.

Selain itu, menurutnya, mereka pernah tinggal di Jl Anggrek No 32 Denpasar. Anehnya, apa yang dikatakan Suastari itu sebagian besar memang benar termasuk nama tersangka pelaku dan dugaan lokasi mereka pernah tinggal.

Suastari menyebut nama tersangka dan tempat tingal mereka Minggu siang. Namun pada Sabtu malam, hanya berkisar dua jam setelah bom meledak, polisi sudah mendatangi tempat kos di Jl Anggrek, Denpasar. Di jalan kecil ini polisi bertanya pada warga tentang keberadaan suami istri yang perempuannya berjilbab. Kepada warga setempat, polisi juga bertanya apakah pernah melihat mobil kijang hijau dan karimun silver di sekitar tempat itu.

Di sepanjang jalan itu sendiri ada tiga rumah yang jadi tempat kos yaitu di No 19, No 23, dan No 5. Polisi mendatangi semua tempat kos itu dan menanyakan identitas penghuninya. “Mereka juga bawa alat kaya GPS (Global Positioning System),” kata tambah IGN Raden Suardana, warga setempat. Ketika bertanya padanya, Suardana mendengar suara tit tit tit dari alat seperti laptop tersebut.

Seluruh warga yang ditanya di sekitar tempat itu mengaku tidak mengenal sepasangan suami istri yan dicari polisi tersebut. “Di sini tidak ada orang baru akhir-akhir ini,” kata Mertadana kelian adat setempat. Sementara itu pemilik kos di Jl Anggrek No 19, AA Kompyang Gede, mengaku mereka yang kos di rumahnya hanya mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta tak jauh dari situ. “Itu pun cewek semua,” tambahnya.

Toh, polisi tetap mendatangi tempat kos itu beberapa kali. Dan, hasilnya tetap nihil.

Beberapa jam setelah bom meledak, polisi juga sudah menyebar nama yang diduga terlibat pengeboman. Melalui radio, polisi menyebut nama Abdullah, Abdul Gani, dan Dedy Miswar itu. Dan, nama itu sama dengan yang disebut Suastari esok hari. Tiga nama itu oleh polisi kemudian diinformasikan ke seluruh Bali terutama di Tabanan, Gianyar, dan Badung, tiga daerah tetanggan kejadian. Selain itu, polisi di pintu keluar masuk Bali di Gilimanuk, Jembrana dan Padangbai, Karangasem pun ditugaskan untuk memeriksa tiap orang yang keluar.

Perintah itu pun sampai di KP3 Gilimanuk malam itu juga. Minggu pagi, sekitar pukul 06.00 wita, polisi setempat menahan seseorang bernama Abdullah. “Kami mengamankan dia karena nama yang sama,” kata Kapolsek KP3 Gilimanuk AKP Agung Sukasana per telpon.

Di Bali, memang banyak hal yang kadang2 ga bisa diterima akal sehat. Ini salah satunya..

1 Comment

Filed under Uncategorized

Kenapa Harus Ada Bom Lagi di Bali?

Semula aku berniat mulai posting lagi kalo udah ganti bulan. Maunya 1 Oktober kemarin. Asik aja kalau ada momentum awal bulan. But, karena Sabtu itu masih banyak kerjaan belum kelar, jadilah aku nunda. Maunya sih Minggu esok harinya.

Ternyata Tuhan berkehendak lain. 1 Oktober lalu bom kembali meledak di Bali. Sama dengan 12 Oktober tiga tahun lalu, kali ini juga terjadi di tiga lokasi. Tiga tahun lalu di Sari Club, Paddy’s Cafe, dan dekat Konsul AS, maka sekarang di Raja’s Restaurant Kuta, Nyoman Cafe, dan Menega Cafe Jimbaran.

Malam itu aku baru balik dari rumah Lode, cewekku. Sekitar pukul 08.00 malam. Karena laper, aku makan mie dulu. Pas lagi makan mie, masuk SMS dari Lode. “Katanya ada ledakan di Kuta Square dan Jimbaran. Aku ditelpon AP (kantor berita).” Aku ga terlalu percaya. But, mau gak mau aku harus cek juga. Aku telpon Humas Polda Bali. HP ga bisa dihubungi. Aku telpon temen wartawan lokal. Ga bisa juga. Teman intel. Juga ga bisa. Semua nomor yang aku punya dan sekiranya bisa aku hubungi, ternyata ga bisa semua.

Aku mulai panik. Jangan2 memang benar. Masuk telpon dari Kepala Pusat Liputan Jakarta. “Katanya ada bom di Kuta dan Jimbaran. Tolong cek,” katanya. Aku makin yakin bom itu benar terjadi. Aku terus coba menghubungi tiap nomer yang aku punya dan mungkin tahu tentang bom itu. Nihil. Mie di mangkok belum habis. Aku bayar. Lalu cabut lalu ke kos.

Ambil tas, kamera, dan semuanya. Aku ke Kuta. Di jalan raya ambulans meraung-raung. “F**k. Pasti benar ada bom,” pikirku. Kukebut. 60. 80 km per jam malam2. Sampai Kuta. Benar. Memang ada bom. Di Kuta Square, ratusan orang berkerumun. Bom itu di Raja’s Restaurant. Sekitar dua bulan lalu aku makan di sana sama dua teman dari Jakarta.

Kondisinya hancur. Bangunan tiga lantai itu rusak atapnya. Kursi berantakan. Kaca-kaca bangunan di sekitarnya juga pecah berhamburan. Ambulan hilir mudik ngambil korban. Polisi, petugas kebakaran, dan petugas palang merah sibuk mencari korban. Ada yang bilang ada kepala tergeletak tanpa kepala, sekitar 10 meter dari lokasi.

Sekitar 1,5 jam di Kuta, aku kemudian ke RS Sanglah. Suasana terlihat panik. Beberapa korban baru sampai dengan kondisi badan penuh darah. Ada pula yang mengerang kesakitan. Petugas, meski panik, terlihat lebih bisa menguasai keadaan dibanding tiga tahun lalu. Di kamar jenazah, malam itu sudah ada 25 mayat. -Tapi kemudian dibilang rumah sakit ataupun polisi hanya ada 22, sebab ada tubuh yang ternyata cuma punya satu orang tapi semula dipisah-

Bau menyengat, seperti formalin, membuatku perutku mual. Sebelum aku muntah, aku cabut. Lalu ke Jimbaran.

Sekitar pukul 01.00 dini hari. Aku sebenarnya pengen balik aja dulu, istirahat. Minggu sebelumnya aku kerja banyak banget, jd pengen agak santai. But, mau gak mau harus ke lokasi malam itu. Ternyata di Jimbaran kondisi lebih parah. Jumlah korban lebih banyak. Tak banyak yang bisa dilakukan. Sebab polisi sudah melarang tiap orang selain petugas untuk masuk.

Aku hanya tanya2 ke beberapa saksi mati. Lalu beberapa pejabat tinggi seperti Kapolda, Kapolri, juga Menko Polkam malam itu datang. Hanya basa-basi. Lalu mereka pergi.

Pukul dua pagi lebih. Aku bener2 pengen istirahat. Aku pikir juga ga banyak yang bisa didapat malam itu. Aku pulang ke kos. Istirahat. But, susah banget. Aku terus terganggu pikiran, “Kenapa harus ada bom lagi di Bali? Apa yang mereka cari dengan bom itu?”

1 Comment

Filed under Uncategorized