Monthly Archives: June 2006

Playboy Uncencored Version [Terakhir]

Identitas dalam Semangkuk Bakso [Terakhir]

***

Di mata AAGN Ari Dwipayana, maraknya bakso babi Ajeg Bali itu, bisa dilihat sebagai instrumen untuk memperbesar kesempatan mendapat keuntungan ekonomi. “Dua hal itu (ekonomi dan identitas) bukan dua hal yang terpisah, melainkan saling menembus,” kata Dosen Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisipol) Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut. Ari, demikian dia biasa dipanggil, lahir dan besar di Ubud, Gianyar. Kini mengajar di Fisipol UGM. Dari Yogyakarta, Ari intens mengadakan riset-riset tentang desa adat di Bali melalui Lembaga Uluangkep yang berkantor di Denpasar.

Kacamata melihat maraknya Bakso Babi Ajeg Bali juga bisa macam-macam. Bisa jadi penggunaan identitas itu untuk membangun pasar spesifik, dalam hal ini orang Bali. Tapi bisa jadi pula penggunaan identitas itu untuk membangun sentimen kebalian dalam pola konsumsi. Kalau makan bakso orang Bali akan memberikan kesejahteraan bagi orang Bali. Kalau belanja di warung orang Jawa akan mengalirkan keuntungan ke Jawa. “Sentimen itulah yang membuat pembeli beretnis Bali lebih mempertimbangkan faktor identitas dibandingkan dengan rasa atau kemahalan,” tambah Ari.

Analisa Ari ini ada benarnya, tapi juga tak sepenuhnya. Pembeli bakso Gede di Kreneng, Denpasar dan pembeli bakso Nyoman di Yeh Malet, Karangasem banyak yang beli karena ingin mencoba Bakso Babi Ajeg Bali. “Setahu saya setelah pernah membeli mereka jarang yang beli ke sini lagi,” kata Gede. Artinya faktor identitas itu berpengaruh ke pembeli untuk mencoba.

Namun tak semua pembeli demikian. Ketut Suratmaja, misalnya. Pegawai negeri sipil di Pemprov Bali ini tertarik membeli juga karena penasaran. Tapi ketika sudah tahu rasanya, bagi dia sama saja. “Saya beli bakso ya cari mana yang enak, bukan siapa yang jual,” katanya. Beberapa pelanggan di warung Diana malah orang Jawa. “Saya juga masih sering beli bakso dorong orang Jawa,” tambah perempuan berkulit putih ini.

Bagi Ari, makin banyak makanan menggunakan sentimen identitas juga bisa jadi hal positif dalam konteks masyarakat multikultural. Setiap etnis punyai selera makan khas dan kebiasaan dalam cara makan. Karena itulah dia melihat sah-sah saja penggunan identitas itu. “Namun, akan berbahaya kalau makan menjadi urusan politik identitas. Kalau tidak makan di warung Bali maka bukan orang Bali sejati atau kalau tidak mengucapkan Swasti Semeng (selamat pagi dalam bahasa Bali halus) bukan orang Bali,” tambahnya.

Toh, bagi I Gusti Ketut Agung politik identitas tetap sangat terasa dalam maraknya bakso babi Ajeg Bali. “Wacana di permukaan memang soal ekonomi, tapi saya melihat jelas ada nuansa politisnya,” kata Gung Alit, panggilan akrab aktivis Fair Trade tersebut. Nuansa politis itu terlihat dari penggunakan identitas Bali oleh penjualnya.

Gung Alit mendirikan Mitra Bali, usaha di bidang kerajinan berkantor di Ubud, Gianyar. Selain membuat kerajinan sendiri, Mitra Bali juga membeli dari perajin-perajin di Gianyar, Jember, hingga Yogyakarta. Usaha ini, menurutnya, untuk memberdayakan perajin lokal agar bisa bersaing, tapi dengan mengusung konsep perdagangan yang layak (fair trade). Mitra Bali juga jadi anggota federasi internasional usaha perdagangan yang layak, IFAT.

Bapak dua anak ini sendiri mendaftar sebagai anggota Koperasi Krama Bali sejak Agustus tahun lalu. Dia mengajak semua karyawan Mitra Bali dan perajin-perajin binaannya. “Agar bisa memberikan suara lain di situ,” ujarnya. Namun, meski sudah punya kartu anggota bernomor 01.02.0000537, hingga saat ini Gung Alit belum pernah diundang dalam rapat anggota.

Menurut Gung Alit, bakso babi Ajeg Bali, merupakan perlawanan terhadap banyaknya bakso yang dijual pendatang di Bali. “Masak pedagang kecil dilawan, sementara bule-bule yang beli villa dibiarkan saja,” tanyanya.

Tapi bagi Ari, maraknya bakso babi juga bisa dilihat sebagai bentuk keterbukaan Bali pada pilihan-pilihan berkebudayaan, termasuk soal makanan. “Sudah sangat lama Bali berinteraksi dengan budaya dan cita rasa lain,” katanya. Ari menyebut contoh Fu Yung Hay, Kolobak, Cap Cay, dan Siobak yang sudah jadi makanan sehari-hari orang Bali. Dari namanya, terlihat bahwa makanan tersebut termasuk Chinese Food. Tapi Siobak misalnya identik dengan Singaraja.

“Apakah selera bisa dipaksakan?” tanya peneliti Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogya ini.

Soal selera itu pula yang membuat Puji tak resah dengan maraknya Bakso Babi Ajeg Bali itu tadi. Pembeli baksonya tetap banyak orang Bali meski di Denpasar sudah banyak warung bakso Babi Ajeg Bali. Menurutnya, orang beli bakso datang pasti karena enak atau tidaknya bakso dan pelayanan. Bukan karena asal usul penjualnya.

“Kalau soal rezeki itu sudah diatur sama yang di atas, Mas,” katanya.+++ [TAMAT]

1 Comment

Filed under Uncategorized

Playboy Uncencored Version [Part 7]

Identitas dalam Semangkuk Bakso [Part 7]

***

Uniknya, penjual bakso babi Ajeg Bali itu ternyata tak melulu orang Bali. Ada pula penjual bakso babi Ajeg Bali itu yang nak Jawa dan muslim. Salah satunya Suyitno. Bujangan asal Genteng, Banyuwangi ini jualan bakso milik Ida Bagus Arianto, juragan bakso baru di Negara, Jembrana. Gerobak berwarna kuning dan oranye yang didorong Suyitno ini juga berisi tulisan dari kertas stiker Bakso Babi Ajeg Bali. Plangkiran pun ada di bagian depan gerobak.

Suyitno pernah jualan bakso sapi di Denpasar. Tapi karena isu formalin dan bakso daging tikus, jualan Suyitno sepi pembeli. Setelah sempat berhenti sebentar, dia diajak temannya untuk ikut jualan bakso babi. Awalnya dia ragu karena jualan bakso babi. Lalu dia pulang ke Genteng dan konsultasi dengan keluarga. Oleh keluarganya diperbolehkan. Alasannya, hanya jualan, bukan makan dagingnya. Juga jualnya ke orang Hindu, bukan orang Islam. “Aku kan juga ora mangan,” katanya dalam logat Jawa.

Jualan bakso babi, menurut Suyitno, hasilnya memang lumayan. Ketika jual bakso sapi, dia bisa dapat maksimal Rp 50.000 per hari. Tapi sekarang dia dapat minimal Rp 100.000 per hari. Hasil itu dipakai untuk mengembalikan modal usaha dan bagi hasil Rp 15.000 pada bosnya, Ida Bagus Arianto.

Gus Tut, demikian dia biasa dipangil, mengaku mulai jualan bakso sejak Februari lalu. Awalnya dia ditawari pedagang bakso sapi yang kos di rumahnya. Pedagang bakso itu mengeluh sebab makin hari makin sedikit dagangannya habis. Kebetulan, Gus Tut sudah biasa bikin bakso membantu pedagang tersebut. Di sisi lain, bakso babi di Negara juga seperti jamur di musim hujan: bermunculan di berbagai tempat.

Karena itu, Gus Tutu mulai membuat bakso babi. Tiga pedagang bakso sapi yang kos di rumahnya, dan semuanya muslim, pun jualan bakso tersebut. Sebagai toleransi, bapak tiga anak ini membuat aturan pedagang itu tidak boleh membeli daging ataupun membuat bakso. “Agar tidak ada kesan saya memaksa mereka jualan,” tambah anak mantan jaksa ini.

Baru seminggu jualan, anak buahnya sudah bertambah. Kini anak buah Gus Tut ada tujuh orang. Tiga nak Jawa dan empat orang Bali. Bagi Gus Tut yang juga aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ini, tak ada masalah dengan lokal dan non-lokal. “Saya sebenarnya mancing saja biar orang Bali tidak jual tanah untuk beli bakso,” katanya. Melalui usaha dagang bakso babi saat ini, Gus Tut ingin mengubah anekdot satir soal bakso dan tanah itu tadi.

Selain itu, jualan bakso babi ini bagi Gus Tut juga jadi semacam “perlawanan” terhadap Koperasi Krama Bali yang terlalu mengedepankan identitas lokal sehingga terkesan anti-pendatang. Karena itulah dia cuek saja mempekerjakan anak buah bukan orang Bali. Anak buahnya juga tak harus memakai kamen atau udeng. Sedangkan penggunaan kata-kata Ajeg Bali di gerobak, menurutnya, untuk menunjukkan bahwa pemilik bakso itu juga peduli pada Bali.

Tulisan Ajeg Bali itu juga ada di punggung kaos oranye yang dipakai anak buah Gus Tutu. Salah satunya ya Suyitno itu tadi. Tapi ketika ditanya apa arti Ajeg Bali, pemuda bertindik dua di kuping ini menjawab santai, “Ora ngerti aku.” [lanjut ke posting berikutnya]

***

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Playboy Uncencored Version [Part 6]

Identitas dalam Semangkuk Bakso [Part 6]

***

Ajeg Bali melalui bakso memang lebih riuh terdengar di kampung-kampung. Di Denpasar, bakso babi Ajeg Bali itu hampir seluruhnya mangkal di warung. Hingga saat ini belum pernah terlihat penjual bakso dengan gerobak yang pakai identitas seperti Gede maupun Diana. Tapi di Karangasem, Klungkung, maupun Jembrana, Bakso Babi Ajeg Bali itu sudah menggantikan bakso gerobak yang dulu dijajakan pendatang dari Malang, Banyuwangi, ataupun Lombok.

Di Karangasem, penjual bakso dorong itu malah ada yang berpakaian adat lengkap dengan kamen, selempod, dan udeng (ikat kepala). Bahkan gerobaknya juga mesaput poleng atau kain motif kotak-kotak hitam putih yang biasa diselimutkan di pohon atau patung di Bali.

Tapi menurut Nyoman Carito, pakaian adat pedagang bakso dan gerobak mesaput poleng itu, terlalu resmi baginya. Karena itu, pedagang bakso di perbatasan Klungkung-Karangasem, ini hanya pakai kamen, tanpa selempod ataupun udeng. Bekas penambang pasir di galian C Gunaksa, Klungkung ini bukan anggota Koperasi Krama Bali. Dia usaha dengan modal sendiri. Jualannya juga bukan bakso babi, tapi bakso ayam. “Dulu pernah jual bakso babi, ternyata tak terlalu laku. Pembeli saya lebih suka bakso ayam. Jadi ya saya jual bakso ayam saja,” akunya. Tapi ide jualan itu, tambahnya, memang muncul setelah dia tahu tentang Bakso Babi Ajeg Bali melalui Bali TV.

Tanpa pakaian lengkap dan saput poleng, identitas Nyoman sebagai orang Bali tetap terlihat melalui gerobaknya. Gerobak itu berisi tulisan Ngajegang Bali di sisi kanan dan tulisan Bali Tulen di sisi kiri. Bagian depan atas gerobak berisi plangkiran, bahan berbentuk kotak dari terbuat dari kayu untuk tempat meletakkan sesajen atau canang. “Biar pembelinya tahu kalau saya orang asli Bali,” katanya. Di bagian bawah paling depan gerobak diisi poster iklan rokok Kansas The Real Man dengan gambar wajah laki-laki. “Untuk gaya-gayaan saja,” katanya lalu tertawa ketika ditanya apa maksud gambar itu.

Identifikasi lewat kamen, tulisan, dan plangkiran itu terbukti ampuh menarik pembeli. Ketika sedang ngobrol, sepasang suami istri dan anak perempuannya memarkir motor di dekat gerobak. Turun dari sepeda motor Honda Supra DK 2872 CM, sang bapak bertanya terlebih dulu, “Bali, Pak, Nggih?” Pertanyaan seperti ini biasa ditanyakan untuk orang asing yang belum dikenal. Penanya ingin tahu apakah orang yang ditanya itu orang Bali atau tidak.

“Nggih, Pak,” jawab Nyoman. Bapak, ibu, dan anaknya itu pun pesan bakso sambil istirahat.

Sore itu ketika wawancara kurang lebih dua jam, Nyoman sambil melayani lebih dari 10 pembeli. Rata-rata orang yang lewat daerah tersebut untuk pulang kampung. Lokasi Nyoman jualan saat ini berada di tepi pantai Yeh Malet, Kecamatan Manggis, Karangasem. Dulunya penjual bakso di sini seluruhnya orang Lombok. Tapi kini semua penjualnya orang lokal dengan ciri-ciri sama: pakai kamen, tulisan Ngajegang Bali dan Bali Tulen, serta gerobak berisi plangkiran. “Saya beli gerobak ini dari mereka,” tambah suami Kadek Sutami ini.

Ngajegang Bali, bagi Nyoman, berarti memperkokoh Bali. Sebab, katanya, selama ini orang Bali cenderung malu kalau disuruh kerja seperti jualan bakso. Dia sendiri pun mengalami malu itu ketika pertama kali jualan. “Karena malu pada pembeli juga takut rasanya tidak enak dan cara jualannya salah,” akunya setelah menghisap Gudang Garam Filter di tangannya. [lanjut ke posting selanjutnya]

***

1 Comment

Filed under Uncategorized

Playboy Uncencored Version [Part 5]

Identitas dalam Semangkuk Bakso [Part 5]

***

Berdirinya Koperasi Krama Bali memang cukup merangsang orang Bali untuk jadi anggota. Ketika baru diresmikan, jumlah anggota koperasi ini sudah mencapai 3000 orang. Dalam waktu singkat, Koperasi Krama Bali juga mendapat anggota berbagai pejabat Bali seperti Kapolda, Ketua DPRD, Gubernur, hingga Ketua Partai Politik. Melalui media-medianya, pejabat yang mendaftar bisa dipublikasikan.

Secara kasat mata berhasilnya koperasi ini bisa dilihat dari maraknya usaha-usaha informal di bawah binaan Koperasi Krama Bali. Di Denpasar, setahun terakhir mulai bermunculan Bakso Babi Ajeg Bali. Warung-warung ini terlihat jelas karena memasang spanduk merah putih bertuliskan Binaan Koperasi Krama Bali. Salah satunya Warung Bakso Babi di Pasar Kreneng, Denpasar.

Menurut Ni Putu Diana, pemilik warung, sebelumnya dia jual kopi. Karena makin hari makin sepi, dia beralih dagangan. Kebetulan waktu itu dia tahu tentang Koperasi Krama Bali dari temannya. Januari lalu dia mendaftar dengan menggunakan nama I Kadek Astika, sepupunya. Untuk jadi anggota dia harus bayar iuran pokok Rp 50.000 dan iuran wajib Rp 10.000 per bulan. Diana juga harus menyerahkan Surat Keterangan dari Bendesa atau Kelian Banjar Adat.

Sebelum membuka warung, Diana mendapat pelatihan membuat satu porsi bakso. Mulai bagaimana menyajikan kuah, berapa banyak bola bakso, serta berapa komposisi bihun, saos, dan kecap. Dengan modal Rp 3 juta, Diana pun berganti pekerjaan dari dagang kopi ke dagang bakso. Kini, meski belum balik modal, dia mengaku sudah mendapat keuntungan. Bagi Diana, jadi anggota Koperasi Krama Bali punya keuntungan tersendiri. “Ada jaminan promosi,” katanya.

Hanya berjarak puluhan meter dari warung Diana, ada juga warung Bakso Babi Ajeg Bali lainnya. Bedanya kalau warung Diana ada di kios, warung tetangganya itu masih pakai tenda. Dua pelayan di warung tetangga Diana itu statusnya sebagai karyawan, bukan pemilik. Menu warung itu juga lebih lengkap. Ada bakso ayam, bakso babi, soto ayam, sate ayam, nasi putih, lontong, aqua gelas, dan teh botol.

Gede Putu Suadnya, salah satu pelayan mengaku dia juga baru jualan sejak awal Februari lalu. Sebelumnya Gede bekerja sebagai buruh bangunan. Pemuda asal Desa Abang, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, sekitar 150 km timur Denpasar, ini juga pernah bekerja di penggilingan padi. Karena hasilnya tak pasti dan terlalu butuh tenaga kasar, Gede memilih berhenti.

Setelah sempat menganggur, Gede mendengar adanya lowongan di Koperasi Krama Bali melalui Radio Suara Besakih, anak perusahaan Kelompok Media Bali Post di Karangasem. Berbekal foto kopi kartu tanda penduduk dan ijazah terakhir, Gede melamar sebagai karyawan. Dan lolos.

Begitu diterima sebagai karyawan, dan Gede sangat senang karena pengumuman itu disiarkan di radio, dia pindah ke Denpasar. Selama hampir dua minggu dia diajari tentang bagaimana membuat bakso dan melayani tamu. Penampilan harus rapi. Rambutnya pun dicukur hingga panjangnya tak lebih dari 1 cm. “Semua dipotong satu senti supaya jualan bakso kita bersih. Tidak ada rambut yang jatuh,” katanya. Pelatihan itu bahkan termasuk bagaimana cara menyambut pelanggan.

Sopan santun menerima tamu itu terlihat dari cara Gede berbicara pada pelanggan. Ketika ada tamu baru datang, dia mengucapkan salam, “Om Swastiastu..” Salam ini biasa digunakan umat Hindu Bali di awal pertemuan sebagai doa meminta keselamatan. Maknanya sama dengan mengucap Assalamu’alaikum oleh umat Islam. Gede juga berbicara dalam bahasa Bali halus pada pelanggannya.

Pakaian mereka juga berbeda dengan pedagang bakso umumnya. Gede dan Budi, temannya, memakai kamen (sarung yang biasa dipakai upacara atau keperluan adat lain) coklat tanpa selempod (selendang). Keduanya memakai kaos oblong hitam dengan tulisan Goyang Binaan Koperasi Krama Bali di punggung. Ada gambar pulau Bali berwarna putih di lingkaran biru dan dikelilingi delapan sinar kuning berujung emas. Gambar itu adalah lambang Koperasi Krama Bali.

Rombong yang digunakan Gede berukuran sama dengan rombong pada umumnya. Bedanya di bagian depan gerobak terlihat jelas stiker besar Bakso Krama Bali “Sukla” Prasadham. Sukla berasal bahasa Bali halus yang berarti suci. Sukla biasa digunakan untuk menyebut semua hal entah itu pakaian, benda, makanan, atau sesajen yang belum pernah digunakan sebelumnya. Jadi ya kurang lebih artinya baru atau suci.

Ada canang, sesajen dari janur kelapa muda berbentuk kotak berisi bunga dan dupa, di ujung pemanggangan untuk memanggang sate. Pada pakaian Gede, stiker di gerobak, dan canang di pemanggangan, terlihat jelas identitas kebalian.

Toh, Gede tak terlalu berpikir jauh tentang identitas maupun ajeg Bali. “Saya pilih pekerjaan ini hanya agar nanti bisa tahu cara-cara hidup,” kata Gede ketika ditanya motivasi memilih pekerjaan tersebut. Dia kemudian diam lama seperti memikir sesuatu. “Di sini saya hanya belajar,” tambahnya. Jika nanti sudah punya modal, Gede berniat membuka usaha jual bakso sendiri di kampung. [lanjut ke posting berikutnya]

***

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Playboy Uncencored Version [Part 4]

Identitas dalam Semangkuk Bakso [Part 4]

Lalu, bom di Jl Legian Kuta 12 Oktober 2002 seperti jadi antiklimaks kejayaan pariwisata Bali. Bom yang menewaskan 202 orang, sebagian besar turis asing, itu jadi pengingat betapa rentannya Bali hanya bergantung pada pariwisata. Setelah itu beberapa peristiwa global juga mempengaruhi kondisi pariwisata Bali seperti severe acute respiratory syndrome (SARS) alias sindrom pernafasan akut, serangan Amerika Serikat ke Irak, flu burung, dan terakhir bom di Jimbaran dan Kuta 1 Oktober 2005 lalu. Pariwisata Bali babak belur dan seperti berada di titik nadir.

Selain berpengaruh pada ekonomi Bali secara umum, dua kali bom di Bali juga memunculkan kembali sentimen pada pendatang. Salah satu sebabnya karena pelaku teror bom 12 Oktober 2002 maupun 1 Oktober 2005 semuanya berasal dari luar Bali. Meski sentimen ini tak sampai dalam wujud fisik, beberapa pedagang Sari Laut toh sampai menghapus tulisan Lamongan di spanduknya setelah Amrozi, salah satu tersangka bom Bali 12 Oktober 2002 ditangkap. Amrozi memang berasal dari Lamongan.

Bom di Bali seperti mengingatkan kembali tentang ancaman dari luar. Mengutip tulisan Antropolog Degung Santikarma, ada semacam kesepakatan perspektif diantara orang Bali tentang ancaman dari luar tersebut. Pendatang dari luar Bali disangka sebagai sumber kekacauan. Sedangkan orang Bali diposisikan sebagai penjaga ketertiban dan pemelihara tradisi.

Maka muncullah konsep kultural bernama Ajeg Bali. Konsep ini mulai terdengar deras setelah bom Bali 12 Oktober 2002 melalui Bali Post, media terbesar di Bali.

Bali Post didirikan Ketut Nadha dengan nama awal Suara Indonesia pada 1948. Saat ini, Bali Post dipimpin ABG Satria Naradha, anak ketiga Ketut Nadha. Di bawah pimpinan lulusan Akademi Wartawan Surabaya (AWS) ini, Kelompok Media Bali Post (KMB) juga punya jenis media lain seperti Harian Denpos, Radio Global, Tabloid Tokoh, Harian Bisnis Bali, Tabloid Wiyata Mandala untuk remaja, hingga Tabloid Lintang untuk anak-anak. Bali Post juga punya Bali TV, salah satu stasiun TV lokal tersukses di Indonesia. Di bawah bendera Bali TV, KMB juga punya saham di Bandung TV, Jogja TV, dan Semarang TV.

Menggunakan media yang tersebar di berbagai lini dan kabupaten di Bali, ide Ajeg Bali pun cepat tersebar. Tak hanya lewat koran, radio, dan TV, Ajeg Bali juga disebarluaskan melalui seminar dan sangkepan (rapat banjar).

Dalam buku Ajeg Bali Sebuah Cita-cita dijelaskan tentang apa itu Ajeg Bali dan bagaimana pelaksanaannya. Buku terbitan Bali Post dalam rangka ulang tahunnya ke-56 itu memuat padangan berbagai cendekiawan Bali tentang kondisi Bali saat ini, kenapa perlu Ajeg Bali, dan bagaimana strategi pelaksanaan konsep itu. Dalam Editorial buku tersebut, ABG Satria Naradha, Penanggungjawab Bali Post menulis pandangannya tentang Ajeg Bali.

Ajeg Bali bukanlah konsep stagnan, melainkan upaya pembaharuan terus menerus oleh manusia Bali. Tujuannya untuk menjaga identitas, ruang, serta proses budaya Bali… Kesadaran itu penting karena Bali yang identik dengan keindahan, kenyamanan, dan keharmonisan sudah mulai terusik… Tanah Bali yang merupakan bagian dari tanah adat makin banyak berpindah tangan…

Berpindahnya kepemilikan tanah jadi salah satu sebab perlunya Ajeg Bali. Toh konsep Ajeg Bali tak hanya melulu berdimensi ekonomi tapi juga budaya, agama, tata ruang, kependudukan, pendidikan, kesehatan, hingga olahraga.

Di sektor ekonomi, konsep Ajeg Bali ini diwujudkan melalui berdirinya Koperasi Krama Bali. Koperasi ini didirikan pada 26 Mei 2005, bersamaan dengan peringatan ulang tahun ke-3 Bali TV. Tempat peluncurannya juga di gedung Bali TV di Denpasar. Satria Naradha jadi Ketua Koperasi Krama Bali tersebut.

Peluncuran Koperasi Krama Bali dihadiri berbagai pejabat di Bali. Mulai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali maupun Kabupaten dan Kota se-Bali, Muspida Provinsi Bali, Kapolda Bali, Bupati se-Bali, Pangdam IX/Udayana, hingga tokoh Hindu Ida Pedanda Made Gunung. Selesai peluncuran koperasi, Pangdam IX/Udayana Mayjen Herry Tjahyana saat itu juga menandatangani Prasasti Ajeg Bali.

Satria Naradha sendiri tak bersedia diwawancarai untuk keperluan tulisan ini. Meski sudah didesak, dia tetap tak bersedia. “Malu-maluin aja. Ini kan koperasi ecek-ecek. Masa mau ditulis di majalah elit,” katanya entah serius atau bercanda ketika dihubungi per telepon dan diberi tahu bahwa tulisan ini akan dimuat di Playboy edisi Indonesia. [lanjut ke posting selanjutnya]

***

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Playboy Uncencored Version [Part 3]

Identitas dalam Semangkuk Bakso [Part 3]

Dalam perkembangannya, kaum urban itu kemudian identik dengan pendatang dari luar Bali. Padahal, sekali lagi, mereka yang datang ke Denpasar dan Badung juga bisa dari daerah lain di Bali. Pendatang dari luar Bali biasa disebut nak Jawa. Nak artinya orang. Jawa –dibaca Jawe seperti Kuta jadi Kute- artinya, ya, Jawa. Meski demikian, sebutan ini tak hanya diberlakukan pada orang Jawa tapi juga bisa untuk semua orang Indonesia yang datang ke Bali. Jadi orang Batak, Manado, Lombok, atau Papua sekali pun tetap disebut nak Jawa.

Pendatang ini sebagian besar memang terkonsentrasi di Denpasar dan Badung. Namun dalam jumlah lebih kecil, mereka juga ada di daerah-daerah seperti Jembrana, Tabanan, Karangasem, Buleleng, dan daerah lain.

Secara umum pendatang dari luar Bali lebih banyak bekerja di sektor informal atau pekerjaan kasar. Katakanlah buruh bangunan, pemulung, pedagang acung, atau pedagang kaki lima. Tapi bukan berarti orang lokal tak ada yang bekerja di sektor-sektor itu. Ini hanya gambaran umum.

Jenis usaha pedagang kaki lima, terutama makanan, identik dengan asal daerah pendatang. Ada semacam identifikasi makanan dengan asal usul. Sebagai contoh bakso identik dengan Solo, Malang, dan Banyuwangi. Bedanya penjual bakso Solo lebih banyak di warung, sedangkan bakso Banyuwangi dan Malang lebih banyak yang jual sambil dorong gerobak.

Namun, penjual bakso Malang belum tentu orang Malang. Bisa jadi dia berasal dari Jember atau Lumajang, Jawa Timur. Hal sama terjadi pada penjual siomay Bandung. Meski namanya siomay Bandung, hampir semua pedagang siomay adalah orang Lombok.

Contoh lain identifikasi makanan dengan asal usul adalah Sari Laut Lamongan. Usaha warung sebagian besar penjualnya dari Lamongan, Jawa Timur ini hampir seluruhnya buka saat malam hari. Mereka membuat warung tenda dengan spanduk berisi tulisan Sari Laut. Makanan yang dijual mulai ayam goreng, pecel lele, atau ikan laut. Warung Sari Laut ini memenuhi hampir semua jalan di Denpasar. Jl Tukad Pakerisan di Denpasar Selatan misalnya. Dengan panjang tak sampai 2 km, sepanjang jalan ini ada lebih dari 10 warung Sari Laut.

Selain menggunakan identitas asal usul, warung-warung itu juga menggunakan identitas agama. Warung Muslim dengan mudah bisa ditemukan di Denpasar. Misalnya Warung Muslim Blitar, Warung Muslim Padang, dan Warung Muslim Madura.

Meski menggunakan identitas daerah asal dan agama, pembeli warung-warung itu bukan hanya orang dari daerah yang sama atau beragama sama. Pelanggan paling banyak justru orang Bali. Karena itu, kondisi pariwisata pun berimbas pada laris tidaknya jualan bakso atau pedagang kaki lima lainnya.

Ketika pariwisata lagi booming pada 1990an, Pujiastuti merasakan dampak positif. Dua warungnya, Ayu Minantri I dan Ayu Minantri II, bisa penuh terisi. Bagi Puji, tahun paling ramai sekitar 1997-1998. “Waktu itu kalau malam minggu bisa sampai ada yang nggak dapat tempat duduk,” katanya. Sehari buka dari pukul 9 pagi sampai 11 malam, masing-masing warung bisa menghabiskan daging hingga 100 kg alias satu kwintal!

Tak heran, saat itu Puji sampai bisa beli tanah dan membangun rumah di Denpasar yang ditempati bersama tiga anaknya saat ini. Tak hanya di Denpasar, Puji juga membeli tanah di Desa Banyu Biru, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, sekitar 200 km utara Denpasar. Puji membeli 1 hektar tanah dengan harga Rp 1 juta per are. Di tanah itu, kini suaminya berkebun jeruk.

Selain dibeli penjual bakso seperti Puji, tanah di Bali pada masa itu hingga saat ini juga banyak beralih guna untuk pariwisata. Nyoman Gelebet, ahli tata ruang Bali, pernah memperkirakan bahwa antara 1983 hingga 1993 terjadi alih fungsi lahan pertanian sekitar 1000 hektar per tahun demi pembangunan pariwisata. Tanah yang dijual ini dipakai membangun fasilitas pariwisata sepeti hotel, restoran, dan art shop. Di Tanah Lot, Tabanan, sawah dijual untuk membangun hotel. Di Ubud, Gianyar tebing dijual untuk membangun restoran.

Perilaku ini memunculkan anekdot satir: Orang Jawa jual bakso untuk beli tanah. Orang Bali jual tanah untuk beli bakso. [lanjut ke posting berikut]

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Playboy Uncencored Version [Part 2]

Identitas dalam Semangkuk Bakso [Part 2]

Perubahan nama jadi Amir Ma’ruf seperti penanda perubahan nasib Paimin dan istrinya. Mereka mungkin bisa mewakili keberhasilan kaum urban di Bali. Paimin dan istrinya semula petani di desa kelahiran di dekat Taman Nasional Alas Purwo. Merasa tak akan berubah nasib karena bertani, mereka ke Bali bermodal nekat. Jualan bakso. Hasilnya kini mereka bisa beli rumah bahkan tanah. Ketika mereka memulai usaha 21 tahun lalu, Bali sedang menggeliat perlahan akibat booming pariwisata.

Bali memang jadi salah satu tujuan wisata utama dunia. Jumlah turis berkunjung ke Bali meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai catatan, pada 1986, jumlah turis ke Bali sebanyak 243.000 orang. Hitungan ini berdasarkan data turis yang langsung datang (direct arrival) ke Bali, belum termasuk turis yang misalnya ke Yogyakarta atau ke Jakarta dulu. Jumlah itu jadi 1.030.000 pada 1994. Puncak kedatangan turis terjadi pada 2000 lalu yang hampir mencapai 1,5 juta turis asing dalam waktu setahun.

Dijadikannya pariwisata sebagai modal utama pembangunan berdampak positif pada ekonomi Bali. Tanpa kekayaan alam seperti tambang atau hutan, Bali sebelumnya bergantung pada pertanian. Namun pada 1990an, pendapatan dari sektor pariwisata telah melampaui pendapatan dari sektor pertanian.

Besarnya angka ini juga bisa dilihat dari banyaknya orang Bali yang bekerja di sektor pariwisata secara langsung. Katakanlah sebagai pegawai hotel, pemandu wisata, atau di travel agent. Atau bisa juga kerja yang tergantung pada pariwisata. Misalnya petani sayur atau peternak ayam yang memenuhi kebutuhan hotel dan restoran. Karena itu, Bali makin hari makin makmur meski juga ada ketidakmerataan antar daerah.

Ketidakmerataan ini disebabkan pariwisata memang berpusat pada daerah tertentu seperti Badung, Denpasar, dan Gianyar. Badung kaya karena punya hotel-hotel tersebar di Kuta dan Nusa Dua. Kesenjangan itu bisa dilihat juga, misalnya, dari pendapatan asli daerah (PAD). Pada 1998/1999 lalu misalnya PAD Badung sampai Rp 217 milyar. Bandingkan dengan Bangli. Besar PAD kabupaten yang masih mengandalkan sektor pertanian ini hanya Rp 2 milyar pada tahun yang sama.

Kesenjangan pendapatan ini berdampak pada berduyun-duyunnya kaum urban ke Badung atau Denpasar sebagai ibu kota provinsi. Tak hanya dari daerah lain di Bali seperti Karangasem, Jembrana, atau Buleleng, kaum urban itu juga datang dari provinsi lain, terutama Lombok dan Jawa. Pujiastuti dan suaminya termasuk salah satunya. [lanjut ke posting berikutnya]

***

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Playboy Uncencored Version [Part 1]

-inilah tulisan terpanjangku sampai saat ini. :)) 4588 kata, 30.832 karakter termasuk spasi, 14 halaman satu spasi pake times new roman 12. tulisan dimuat di Playboy Indonesia edisi kedua. ini versi asli sebelum diedit. uncencored! :)) aku pisah dalam delapan bagian tulisan. nulis ini hanya untuk ngasi tau bahwa begitu repot kalo segala sesuatu dibawa ke masalah identitas, termasuk bakso-

Identitas dalam Semangkuk Bakso [Part 1]

Tak hanya urusan perut, bakso di Bali juga bersinggungan dengan identitas.

Pujiastuti, 38 tahun, tak terlihat sedikit pun sebagai bos. Pakaiannya sederhana. Baju krem bermotif lingkaran-lingkaran kecil dipadu celana kain abu-abu dan jilbab coklat menutup hingga dada. Sandalnya selop. Satu-satunya perhiasan yang terlihat hanya cincin emas di jari manis kiri. Ketika ditemui pertengahan Maret lalu, dia juga bekerja seperti karyawan lain meski berbeda bagian. Karyawan lain melayani pembeli sedangkan dia menjaga kasir.

Padahal wanita kelahiran Purwoarjo, Banyuwangi itu pemilik Warung Ayu Minantri, warung bakso terbesar di Denpasar atau bahkan Bali mungkin. Puji, begitu dia biasa dipanggil, punya dua warung bakso, Ayu Minantri I dan Ayu Minantri II. Keduanya berlokasi di Renon, kawasan pusat pemerintahan (civic centre) Provinsi Bali. Jarak satu warung dengan warung lain tak sampai 1 km dan masih satu arah di Jl Tjok Agung Tresna, Renon, Denpasar.

Renon termasuk kawasan elit Denpasar. Selain sebagai civic center, Renon juga tempat beraneka rupa restoran seperti Baruna, Bendega, Ayam Bakar Wong Solo, Ikan Bakar Cianjur, Ayam Betutu Gilimanuk, dan restoran lain. Dengan berlokasi di Renon, sedikit banyak bisa menunjukkan “kelas” Ayu Minantri.

Bangunan warung milik Pujiastuti termasuk luas. Warung Ayu Minantri I di tanah hampir tiga are. -Ukuran tanah di Bali memang lebih familiar disebut dalam satuan are. Satu are sama dengan 100 meter persegi-. Sedangkan Warung Ayu Minantri II luasnya lebih dari lima are. Dengan bangunan seluas itu, Ayu Minatri II bisa menampung 22 meja dan 44 kursi yang tiap kursi dari kayu itu bisa muat setidaknya tiga orang. Artinya kalau penuh warung itu bisa dipenuhi sampai 132 pembeli.

Sukses Ayu Minantri dimulai Pujiastuti dan suaminya Paimin, 39 tahun, sejak 1985 lalu. Ketika memulai 21 tahun lalu, suami istri itu hanya bermodal Rp 10.000. Mereka belum pernah jualan bakso sebelumnya. Dengan modal itu, Puji dan Paimin membeli peralatan: gerobak, dandang (tempat bakso dan kuahnya), mangkok, dan sendok garpu. Untuk membuat bola bakso dia menggilingnya pakai talenan dari kayu dan dipukul dengan besi biar bisa lumat. “Waktu itu belum ada selip (penggilingan) daging,” kata Puji.

Mereka kontrak kamar di Kampung Wanasari, dikenal juga sebagai Kampung Jawa, Denpasar bagian utara. Tarifnya Rp 5000 per bulan. Alasan Puji tinggal di daerah ini karena Wanasari dekat Terminal Ubung, terminal terbesar di Bali. Mereka jualan berkeliling tak jauh-jauh dari terminal dan tempat kos. Harganya Rp 250 per porsi waktu itu. Penjual bakso mangkal maupun dorong gerobak juga masih bisa dihitung. Pelan-pelan usaha itu makin meningkat hasilnya. Timbul niat mereka untuk membuat pangkalan. “Capek kalau terus dorong rombong,” ujar Puji.

Sejak 1991, mereka mangkal di daerah Renon, sekitar 10 km dari tempat kos mereka yang lama. Lokasinya sewa Rp 125.000 untuk lima tahun. Renon masih sepi saat itu. Listrik belum ada. Kalau malam mereka pakai lampu petromaks.

Dua tahun kemudian, mereka pindah. Di lokasi warung mereka dibangun kantor Dinas Pendapatan (Dispenda) Kota Denpasar. Kini, Ayu Minantri I, tempat Puji dan anak buahnya bekerja, persis di seberang jalan kantor Dispenda tersebut. Meski sudah 13 tahun mangkal di tempat tersebut, status tanahnya masih kontrak Rp 5 juta per are tiap tahun. Enam tahun kemudian, Ayu Minantri II buka. Tanahnya juga kontrak.

Selama 20 tahun lebih, usaha Puji dan suaminya termasuk berhasil, paling tidak secara materi. Tahun 1997 lalu, mereka sudah bisa membangun rumah di Yang Batu, Denpasar Timur. Saat itu harga tanah masih Rp 30 juta per are. Kini harga per are minimal Rp 150 juta. Di rumah bertingkat itu pula, Puji membangun mess untuk 15 karyawannya. Pada 1998, Puji dan Paimin bisa naik haji. Sepulang naik haji, Paimin berganti nama: Amir Ma’ruf. [lanjut ke posting berikut]

***

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Ada Apa di Bali Penolakan Playboy di Bali?

“boz tulisan ente di playboy memancing kemarahan besar bali post krn krama balinya. gmn nih? skrg mereka kondisikan hajar playboy. ngr swasta jd bamper.”

Pesan dari teman wartawan media lokal itu masuk Minggu malam pas aku lagi santai baca koran. Aku nggak terlalu serius nanggepin. Aku jawab, “Wah, masa sih segitunya? Siapa yang bilang mereka marah karena tulisanku?”

Istriku yang justru agak khawatir. Bukan karena isi SMS itu tapi karena takut temanku itu akan membuat maalah jadi besar. Menurutku kami, teman itu memang kadang membuat berita sepele seolah-olah gawat.

Temanku bales. “Barusan ada pertemuan tokoh2 di rumah ng suasta. playboy ditolak mrk di bali. Trus Iwan fotografer BP smpt komentari berita smpyn.”

“Waduh, kalau gitu sih udah parah nih,” pikirku. Kalau sampe ada pertemuan banyak tokoh terus mereka menolak Playboy di Bali, berarti gerakannya sudah sistematis. Malam itu aku mulai kepikiran. To be honest dari awal aku memang agak takut tulisan itu akan dianggap gak bagus. Bagiku sih biasa saja. Cuma karena ngritik -secara tersirat- soal Ajeg Bali, padahal aku bukan orang Bali asli, aku pikir itu akan jadi masalah. Apalagi ada nuansa ngritik Bali Post, media terbesar dan konservatif di Bali.

Untungnya istriku yang nenangin.

Ga ngerti ya aku memang penakut banget. Aku bayangin yang nggak2. Misalnya sampai diteror, didemo, atau malah “diusir” dari Bali. Aku inget waktu zaman mahasiswa pernah diteror preman bahkan diskusi kami dibubarkan dan seorang teman dikeroyok pas diskusi soal kasus reklamasi Pulau Serangan. Waktu itu selama dua bulan aku selalu paranoid. Tiap jalan merasa ada yang buntutin. Padahal ya ga ada apa-apa. Malam itu ketakutan itu muncul.

Untungnya ada Piala Dunia. Jadi ga terlalu kepikiran setelah itu.

Esok pagi aku baca di Radar Bali. Di halaman satu ada berita soal pertemuan itu. Tapi tidak semua menolak Playboy. Sebgain malah mengaku dijebak untuk menolak. Bali Post hari itu juga menulis HL halaman dua tentang penolakan adanya Playboy di Bali. Padahal, aku inget banget, mereka tidak pernah nulis Playboy pindah ke Bali.

Dua hari berturut-turut setelah itu berita tentang penolakan Playboy pindah ke Bali masih ada di media-media lokal. Sementara sih aksi-aksi itu biasa saja. Semoga besok2 malah ga ada lagi. :))

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Hwaaaaa. Tulisanku Muncul Juga!

Sehari kemarin aku agak deg2an. Gara2nya Playboy edisi kedua bakal terbit hari itu (Rabu, 7/6). Abis itu juga karena ada jumpa pers+launching di Bali.

Oke. Ini beberapa alasan kenapa agak deg2an. Pertama karena kata teman di Playboy, tulisanku akan dimuat di edisi kedua. Ini tulisan terpanjang yg pernah tak buat. Sekitar 4200 kata lalu diedit jadi 3200 kata. Aku juga ga nyangka bisa bikin tulisan sepanjang itu. :)) Tulisan terpanjang sebelumnya dimuat (almarhum) Latitudes edisi terakhir soal Jejak Hindu di Kampung Amrozi.

Deg2an karena harap2 cemas. Jangan-jangan tulisanku ga jadi dimuat. Tengsin aja! Udah bilang ke beberapa teman kalo aku liputan utk Playboy, eh, masak ga jadi dimuat.

Deg2an kedua karena Playboy jd pindah ke Bali. Dari awal Alfred, temanku yg di Playboy bilang kalo semula mereka mau berkantor di Bali. Karena mahal dan istri+pacar ga mau ditinggal akhirnya kantor tetap di Jakarta. Gara2 diserbu FPI terus, kantor pun pindah.

Masalahnya adalah tulisanku agak anti-pati soal Ajeg Bali melalui Bakso Babi, Koperasi Krama Bali, dst. Takutnya, -ah, dasar aku memang penakut dan sangat penakut!- tulisan itu akan direspon negatif ma kelompok konservatif dan fundamentalis di Bali. Lamongannya itu lho. ;)) Aku mikir, “Jangan2 malah kantor Playboy didemo mereka..” Atau malah tulisanku dianggap provokatif.

Pukul 15.30 setelah nunggu skt dua jam plus ledekan banyak wartawan krn aku dianggap Kabid Humas Playboy krn SMS mereka soal jumpa pers siang itu -he.he- akhirnya jumpa pers pun dimulai. Abis itu Playboy edisi kedua dibagi2. Tak sabar lagi. Tulisanku di halaman 88! “Identitas dalam Semangkuk Bakso”

Hwaaaaaa! Hilang semua deg2an itu..

1 Comment

Filed under Uncategorized