Playboy Uncencored Version [Part 3]

Identitas dalam Semangkuk Bakso [Part 3]

Dalam perkembangannya, kaum urban itu kemudian identik dengan pendatang dari luar Bali. Padahal, sekali lagi, mereka yang datang ke Denpasar dan Badung juga bisa dari daerah lain di Bali. Pendatang dari luar Bali biasa disebut nak Jawa. Nak artinya orang. Jawa –dibaca Jawe seperti Kuta jadi Kute- artinya, ya, Jawa. Meski demikian, sebutan ini tak hanya diberlakukan pada orang Jawa tapi juga bisa untuk semua orang Indonesia yang datang ke Bali. Jadi orang Batak, Manado, Lombok, atau Papua sekali pun tetap disebut nak Jawa.

Pendatang ini sebagian besar memang terkonsentrasi di Denpasar dan Badung. Namun dalam jumlah lebih kecil, mereka juga ada di daerah-daerah seperti Jembrana, Tabanan, Karangasem, Buleleng, dan daerah lain.

Secara umum pendatang dari luar Bali lebih banyak bekerja di sektor informal atau pekerjaan kasar. Katakanlah buruh bangunan, pemulung, pedagang acung, atau pedagang kaki lima. Tapi bukan berarti orang lokal tak ada yang bekerja di sektor-sektor itu. Ini hanya gambaran umum.

Jenis usaha pedagang kaki lima, terutama makanan, identik dengan asal daerah pendatang. Ada semacam identifikasi makanan dengan asal usul. Sebagai contoh bakso identik dengan Solo, Malang, dan Banyuwangi. Bedanya penjual bakso Solo lebih banyak di warung, sedangkan bakso Banyuwangi dan Malang lebih banyak yang jual sambil dorong gerobak.

Namun, penjual bakso Malang belum tentu orang Malang. Bisa jadi dia berasal dari Jember atau Lumajang, Jawa Timur. Hal sama terjadi pada penjual siomay Bandung. Meski namanya siomay Bandung, hampir semua pedagang siomay adalah orang Lombok.

Contoh lain identifikasi makanan dengan asal usul adalah Sari Laut Lamongan. Usaha warung sebagian besar penjualnya dari Lamongan, Jawa Timur ini hampir seluruhnya buka saat malam hari. Mereka membuat warung tenda dengan spanduk berisi tulisan Sari Laut. Makanan yang dijual mulai ayam goreng, pecel lele, atau ikan laut. Warung Sari Laut ini memenuhi hampir semua jalan di Denpasar. Jl Tukad Pakerisan di Denpasar Selatan misalnya. Dengan panjang tak sampai 2 km, sepanjang jalan ini ada lebih dari 10 warung Sari Laut.

Selain menggunakan identitas asal usul, warung-warung itu juga menggunakan identitas agama. Warung Muslim dengan mudah bisa ditemukan di Denpasar. Misalnya Warung Muslim Blitar, Warung Muslim Padang, dan Warung Muslim Madura.

Meski menggunakan identitas daerah asal dan agama, pembeli warung-warung itu bukan hanya orang dari daerah yang sama atau beragama sama. Pelanggan paling banyak justru orang Bali. Karena itu, kondisi pariwisata pun berimbas pada laris tidaknya jualan bakso atau pedagang kaki lima lainnya.

Ketika pariwisata lagi booming pada 1990an, Pujiastuti merasakan dampak positif. Dua warungnya, Ayu Minantri I dan Ayu Minantri II, bisa penuh terisi. Bagi Puji, tahun paling ramai sekitar 1997-1998. “Waktu itu kalau malam minggu bisa sampai ada yang nggak dapat tempat duduk,” katanya. Sehari buka dari pukul 9 pagi sampai 11 malam, masing-masing warung bisa menghabiskan daging hingga 100 kg alias satu kwintal!

Tak heran, saat itu Puji sampai bisa beli tanah dan membangun rumah di Denpasar yang ditempati bersama tiga anaknya saat ini. Tak hanya di Denpasar, Puji juga membeli tanah di Desa Banyu Biru, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, sekitar 200 km utara Denpasar. Puji membeli 1 hektar tanah dengan harga Rp 1 juta per are. Di tanah itu, kini suaminya berkebun jeruk.

Selain dibeli penjual bakso seperti Puji, tanah di Bali pada masa itu hingga saat ini juga banyak beralih guna untuk pariwisata. Nyoman Gelebet, ahli tata ruang Bali, pernah memperkirakan bahwa antara 1983 hingga 1993 terjadi alih fungsi lahan pertanian sekitar 1000 hektar per tahun demi pembangunan pariwisata. Tanah yang dijual ini dipakai membangun fasilitas pariwisata sepeti hotel, restoran, dan art shop. Di Tanah Lot, Tabanan, sawah dijual untuk membangun hotel. Di Ubud, Gianyar tebing dijual untuk membangun restoran.

Perilaku ini memunculkan anekdot satir: Orang Jawa jual bakso untuk beli tanah. Orang Bali jual tanah untuk beli bakso. [lanjut ke posting berikut]

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s