Playboy Uncencored Version [Part 5]

Identitas dalam Semangkuk Bakso [Part 5]

***

Berdirinya Koperasi Krama Bali memang cukup merangsang orang Bali untuk jadi anggota. Ketika baru diresmikan, jumlah anggota koperasi ini sudah mencapai 3000 orang. Dalam waktu singkat, Koperasi Krama Bali juga mendapat anggota berbagai pejabat Bali seperti Kapolda, Ketua DPRD, Gubernur, hingga Ketua Partai Politik. Melalui media-medianya, pejabat yang mendaftar bisa dipublikasikan.

Secara kasat mata berhasilnya koperasi ini bisa dilihat dari maraknya usaha-usaha informal di bawah binaan Koperasi Krama Bali. Di Denpasar, setahun terakhir mulai bermunculan Bakso Babi Ajeg Bali. Warung-warung ini terlihat jelas karena memasang spanduk merah putih bertuliskan Binaan Koperasi Krama Bali. Salah satunya Warung Bakso Babi di Pasar Kreneng, Denpasar.

Menurut Ni Putu Diana, pemilik warung, sebelumnya dia jual kopi. Karena makin hari makin sepi, dia beralih dagangan. Kebetulan waktu itu dia tahu tentang Koperasi Krama Bali dari temannya. Januari lalu dia mendaftar dengan menggunakan nama I Kadek Astika, sepupunya. Untuk jadi anggota dia harus bayar iuran pokok Rp 50.000 dan iuran wajib Rp 10.000 per bulan. Diana juga harus menyerahkan Surat Keterangan dari Bendesa atau Kelian Banjar Adat.

Sebelum membuka warung, Diana mendapat pelatihan membuat satu porsi bakso. Mulai bagaimana menyajikan kuah, berapa banyak bola bakso, serta berapa komposisi bihun, saos, dan kecap. Dengan modal Rp 3 juta, Diana pun berganti pekerjaan dari dagang kopi ke dagang bakso. Kini, meski belum balik modal, dia mengaku sudah mendapat keuntungan. Bagi Diana, jadi anggota Koperasi Krama Bali punya keuntungan tersendiri. “Ada jaminan promosi,” katanya.

Hanya berjarak puluhan meter dari warung Diana, ada juga warung Bakso Babi Ajeg Bali lainnya. Bedanya kalau warung Diana ada di kios, warung tetangganya itu masih pakai tenda. Dua pelayan di warung tetangga Diana itu statusnya sebagai karyawan, bukan pemilik. Menu warung itu juga lebih lengkap. Ada bakso ayam, bakso babi, soto ayam, sate ayam, nasi putih, lontong, aqua gelas, dan teh botol.

Gede Putu Suadnya, salah satu pelayan mengaku dia juga baru jualan sejak awal Februari lalu. Sebelumnya Gede bekerja sebagai buruh bangunan. Pemuda asal Desa Abang, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, sekitar 150 km timur Denpasar, ini juga pernah bekerja di penggilingan padi. Karena hasilnya tak pasti dan terlalu butuh tenaga kasar, Gede memilih berhenti.

Setelah sempat menganggur, Gede mendengar adanya lowongan di Koperasi Krama Bali melalui Radio Suara Besakih, anak perusahaan Kelompok Media Bali Post di Karangasem. Berbekal foto kopi kartu tanda penduduk dan ijazah terakhir, Gede melamar sebagai karyawan. Dan lolos.

Begitu diterima sebagai karyawan, dan Gede sangat senang karena pengumuman itu disiarkan di radio, dia pindah ke Denpasar. Selama hampir dua minggu dia diajari tentang bagaimana membuat bakso dan melayani tamu. Penampilan harus rapi. Rambutnya pun dicukur hingga panjangnya tak lebih dari 1 cm. “Semua dipotong satu senti supaya jualan bakso kita bersih. Tidak ada rambut yang jatuh,” katanya. Pelatihan itu bahkan termasuk bagaimana cara menyambut pelanggan.

Sopan santun menerima tamu itu terlihat dari cara Gede berbicara pada pelanggan. Ketika ada tamu baru datang, dia mengucapkan salam, “Om Swastiastu..” Salam ini biasa digunakan umat Hindu Bali di awal pertemuan sebagai doa meminta keselamatan. Maknanya sama dengan mengucap Assalamu’alaikum oleh umat Islam. Gede juga berbicara dalam bahasa Bali halus pada pelanggannya.

Pakaian mereka juga berbeda dengan pedagang bakso umumnya. Gede dan Budi, temannya, memakai kamen (sarung yang biasa dipakai upacara atau keperluan adat lain) coklat tanpa selempod (selendang). Keduanya memakai kaos oblong hitam dengan tulisan Goyang Binaan Koperasi Krama Bali di punggung. Ada gambar pulau Bali berwarna putih di lingkaran biru dan dikelilingi delapan sinar kuning berujung emas. Gambar itu adalah lambang Koperasi Krama Bali.

Rombong yang digunakan Gede berukuran sama dengan rombong pada umumnya. Bedanya di bagian depan gerobak terlihat jelas stiker besar Bakso Krama Bali “Sukla” Prasadham. Sukla berasal bahasa Bali halus yang berarti suci. Sukla biasa digunakan untuk menyebut semua hal entah itu pakaian, benda, makanan, atau sesajen yang belum pernah digunakan sebelumnya. Jadi ya kurang lebih artinya baru atau suci.

Ada canang, sesajen dari janur kelapa muda berbentuk kotak berisi bunga dan dupa, di ujung pemanggangan untuk memanggang sate. Pada pakaian Gede, stiker di gerobak, dan canang di pemanggangan, terlihat jelas identitas kebalian.

Toh, Gede tak terlalu berpikir jauh tentang identitas maupun ajeg Bali. “Saya pilih pekerjaan ini hanya agar nanti bisa tahu cara-cara hidup,” kata Gede ketika ditanya motivasi memilih pekerjaan tersebut. Dia kemudian diam lama seperti memikir sesuatu. “Di sini saya hanya belajar,” tambahnya. Jika nanti sudah punya modal, Gede berniat membuka usaha jual bakso sendiri di kampung. [lanjut ke posting berikutnya]

***

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s