Monthly Archives: July 2006

Nasib Warung Padang Langgananku

Seminggu lebih warung nasi padang langgananku di kampus, jualan sambil kucing-kucingan. Gara2nya mereka diusir Tramtib. Ga boleh jualan di dekat kampus.

Tadi pas makan siang ketemu lagi. Dia cerita lagi gimana jualan sambil sembunyi-sembunyi. Ya memang susah juga. Dia jualan nempel pagar kampus. Tak pernah minta izin siapa pun. Tapi ga bener juga kalo dia begitu saja diusir.

Hmm, jadi pedagang kaki lima memang susah. Kalo ga ada banyak yang kebingungan, termasuk aku. Tapi kalau jualan juga diburu melulu sama Tramtib..

3 Comments

Filed under Uncategorized

Harusnya Sedia Anti Virus Sebelum Terinfeksi

Aku copy file dari komputer teman. Komputer itu biasanya Windows 2000. Tapi kemarin udah ganti jadi Windows XP. Aku sih PD aja akan lebih bagus.

File ter-copy. Aku bawa pulang. Masukin flash ke komputerku. Gedubrak! Ada virusnya. Namanya Hot Wallpaper. Kapasitasnya 154 kb. Lalu virus itu menyebar dengan cepat. Tiga file, empat file, lima file, terus.. Sekitar tujuh file berganti tampilan fisik. Beratnya jadi 154 kb semua.

F**k!

Aku hapus semua file yang sudah terinfeksi. Tapi file Hot Wallpaper itu tetap ga bisa. Kalo aku hidupin komputer, tetep aja krek krek krek terdengar di komputer. Ga tau kenapa. Tapi jelas mengganggu. Aku hapus lagi. Ga bisa lagi. Antivirusku payah. Lama ga aku update.

Kini sibuk cari antivirus update. Huh!

1 Comment

Filed under Uncategorized

Bencana [Lagi, Lagi, dan Lagi..]

Kali ini bencana terjadi di pantai selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tsunami datang, setelah gempa 6,8 skala Richter di laut selatan Jawa, di pantai Pangandaran dan Parangtritis tiga hari lalu. Hingga tadi pagi aku baca di koran lebih dari 500 orang meninggal.

Tsunami Aceh, gempa di Nias, banjir di Jember, gempa Jogja, lumpur panas di Sidoarjo, banjir di Sulawesi.. Semua datang silih berganti.

Bencana lagi. Bencana lagi. Bencana lagi. Lagi. Lagi…. Kenapa terus terjadi?

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Habis Solar Terbit Jatropha

-Konon, Rudolf Diesel mati dibunuh pengusaha minyak. Sebab pencipta mesin Diesel itu sejak awal menciptakan mesin yang menggunakan minyak nabati, kalo ga salah minyak kacang, sebagai bahan bakar. Tak lama kemudian ditemukan minyak bumi. Ada booming. Semua mesin kemudian bergantung pada minyak bumi seperti solar, bensin, dst. Ada korpoarsi besar BP, Exxon, Pertamina, Shell, dst di balik ketergantungan dunia pada minyak bumi. Aku jadi inget buku Confession of Economic Hitman.

Lalu muncul kembali minyak jarak alias Jatropha. Dari kaca mata filosofis ya mungkin ini bagian dari pomodernisme. Gawat banget.. :)). Karena itu laporan utk kantor ini tak posting di blog. Sebab ini sekaligus uji coba pertama di dunia. Kalau kemudian minyak jarak juga jadi bahan bakar penting bagi mesin di masa depan, paling tidak aku pernah liat langsung peristiwa bersejarah itu. “Nanti kita usul ke Depdiknas agar nama kita dimasukkan buku sejarah,” kata Tantyo Bangun. Tentu saja bercanda.-

===========================================================
Ekspedisi Jatropha 2006 membuktikan minyak jarak lebih irit dibanding solar. Cuaca dan gaya menyetir berpengaruh.

Tepat pukul 15.00 wita, tim Jatropha Expedition 2006 tiba di pelabuhan Gilimanuk, Bali Selasa lalu. Jarak sekitar 150 km itu ditempuh dari Sanur, Denpasar tiga jam. Di antara padatnya lalu lintas Denpasar-Gilimanuk, sepuluh mobil itu berkonvoi meliuk-liuk. Meski jalan raya lebih banyak naik turun dan berkelok-kelok, mobil yang saya tumpangi tak terlalu terasa naik turun. Tarikannya stabil. Padahal mobil itu menggunakan bahan bakar minyak jarak (Jatropha curcas L).

Saat mobil berjalan, tidak ada bedanya sama sekali penggunaan solar maupun minyak jarak. Menjelang pelabuhan Gilimanuk misalnya converter di mobil dipencet untuk memindahkan bahan bakar dari minyak jarak ke solar. Mobil tetap berjalan. Bahan bakar pun berganti. Namun laju mobil tetap pada 60 km per jam. Tak terasa tiba-tiba pelan seperti pindah gigi. Ketika kembali menggunakan minyak jarak pun tetap tak terasa. “Kalau pakai minyak curah perpindahannya terasa,” kata Prabowo Kartolaksono, peneliti yang mengotak-atik mesin sebelum digunakan dalam ekspedisi.

Jatropha Expedition merupakan perjalanan ujicoba menggunakan bahan bakar minyak jarak yang diadakan Majalah National Geographic Indonesia bekerja sama dengan Pusat Penelitian Bioteknologi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan perusahaan energi Bio Chem. “Kami ingin membuktikan secara empiris kelayakan minyak jarak sebagai bahan bakar,” kata Tantyo Bangun, pemimpin redaksi National Geographic Indonesia.

Ide ini muncul berawal dari perkenalan Tantyo dengan Robert Manurung, Kepala Puslit Bioteknologi ITB yang intens meneliti penggunaan minyak jarak sebagai bahan bakar. Sejak April 2005 lalu mereka gerilya mengajak pihak lain terlibat termasuk mencari bahan bakar seperti kebutuhan, antara 600 hingga 700 liter. Minyak jarak itu diperoleh dari Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur.

Sebagai perbandingan, selama ekspedisi ada tiga mobil yang diujicoba. Mobil bernopol B 9711 WU yang saya tumpangi merupakan mobil yang menggunakan bahan bakar minyak jarak 100 persen. Mobil lain menggunakan bahan bakar campuran 50 persen minyak jarak dan 50 persen solar. Mobil terakhir menggunakan 100 persen solar. Semua mobil berjenis sama, Mitsubishi Strada Double Cab. Rabu pekan lalu perjalanan dimulai dari Atambua, Nusa Tenggara Timur menuju Bandung.

Tim peneliti dipimpin Prabowo, konsultan di PT Agraprana yang sudah biasa melakukan konversi mesin dari bahan bakar solar berganti minyak nabati termasuk jarak dan minyak curah. Sebelum diuji coba, ketiga mesin itu dikondisikan jadi nol. “Agar ketiga mesinnya sama,” kata Prabowo. Pada mesin berbahan bakar 100 persen minyak jarak dilengkapi converter untuk memindahkan penggunaan bahan bakar dari solar ke minyak jarak.

Menurut Prabowo, converter perlu karena minyak jarak tidak bisa langsung digunakan saat mesin dingin. Kalau menyalakan mesin pertama kali harus menggunakan solar. Saat suhu mesin sudah 50o C baru pindah ke minyak jarak. Kalau langsung jalan ya sekitar 300 meter pertama.

Sepanjang perjalanan dilihat total pemakaian bahan bakar, efek terhadap pelumas dan tenaga, serta kadar emisi. Tapi saat sampai di Denpasar Senin lalu, baru kadar emisi dan penggunaan bahan bakar yang diketahui. “Kesimpulan sementara, secara teknis minyak jatropha sudah menyamai atau malah lebih baik dari solar,” ujar Prabowo.

Ekspedisi menempuh total 3200 km yang terbagi jad dua etape. Etape I Atambua-Sanur, sekitar 1800 km. Etape II Sanur-Bandung, sekitar 1400 km. Pada perhitungan di akhir etape I, penggunaan bahan bakar 100 persen minyak jarak lebih irit yaitu 1 liter untuk 9,4 km. Campuran 50 persen jarak 50 persen solar 1 liter untuk 8,7 km. Sedangkan 100 persen solar menghabiskan 1 liter untuk 8,6 km.

Uji emisi dilakukan saat di Denpasar. Menurut Muhammad Azhari, Manajer After Sale Service Mitsubishi yang menguji, hasil uji emisi semua mobil memenuhi standar emisi DKI Jakarta. Standar emisi dilihat dari kepekatan gas buang (opasitas). Pada 100 persen minyak jarak rata-rata 21,8 persen. Pada 50:50 hasilnya 24,3 persen. Sedangkan pada 100 persen solar hasilnya 19,9 persen. Standar emisi DKI di bawah 40 persen.

Menurut Azhari, wajar jika uji emisi pada 100 persen minyak jarak lebih tinggi. “Sebab mesin yang digunakan menggunakan mesin yang dibuat untuk solar, bukan untuk jarak,” katanya. Karena itu, menurutnya, kalau nanti hasil tes diterapkan secara massal, harus ada studi khusus untuk pabrikan.

Namun, menurut Prabowo, harus diingat bahwa minyak jarak menghasilkan emisi dari tumbuhan tidak seperti solar yang menghasilkan emisi dari minyak bumi lalu dibuang ke atmosfir. Akibatnya karbondioksida pun makin lama makin banyak. “Tapi kalau dari minyak jatropha tidak akan memperbanyak karbondioksida itu,” katanya.

Gas emisi dari penggunaan 100 persen minyak jarak pun tak terlalu berbau. Beda dengan solar yang berbau khas. Saat di Denpasar, beberapa orang malah menaruh tangan pada knalpot untuk mencium bau emisi. “Kayak minyak goreng. Wangi,” kata salah satu turis asing yang ikut mencium. Saat di Denpasar memang dilakukan eksebisi mobil uji coba itu.
Tes lain yang dilakukan adalah uji akselerasi. Uji coba dilakukan Senin tengah malam di Denpasar. Namun hasilnya belum dianalisa. [Tantyo dan Prabowo menjanjikan akan disampaikan saat jumpa pers di Bandung Rabu sore ini]. Akan diukur juga dengan pengukur tenaga (dynamometer) untuk membandingkan apakah terjadi pengurangan atau malah penambahan tenaga.

“Sejauh ini kami masih puas. Tidak ditemukan masalah pada mesin,” kata Prabowo.

Meski hasilnya memuaskan, menurut Tantyo, uji coba ini masih bersifat empiris, bukan sesuatu yang ilmiah. Sebab banyak faktor luar yang juga berpengaruh pada penggunaan bahan bakar tersebut. Misalnya suhu dan gaya menyetir tiap orang.

Saat di sekitar Gunung Kelimutu misalnya suhu luar mencapai sekitar 13o C. Ternyata suhu dinding berpengaruh pada kualitas minyak jarak. Makin dingin suhu luar, minyak jaraknya makin kental. Akibatnya perpindahan panasnya pun tidak lancar. “Pengalaman ini jadi PR untuk memperbaiki kualitas minyak jarak,” kata Tantyo.

Faktor lain yang berpengaruh adalah driving style. Pada saat perjalanan antara Larantuka-Labuan Bajo di NTT terjadi perubahan menyolok. Tiba-tiba konsumsi minyak jarak lebih boros dibanding campuran dan 100 persen solar. Saat itu 1 liter 100 persen minyak jarak hanya untuk 7,4 km. Sedangkan campuran 1 liter untuk 9,06 km dan 1 lieter 100 persen solar untuk 9,07 km. Setelah dicek, ternyata campuran dan solar lebih irit karena sopirnya merokok lalu mematikan AC.

“Memang akan banyak variabel mempengaruhi penelitian sambil berjalan seperti ini. Tapi ini jadi hal menarik,” kata Tantyo.

1 Comment

Filed under Uncategorized

Birokrasi yang Bikin Makan Ati

Well, setelah menunggu enam bulan lebih, akhirnya aku dapet jawaban soal molornya pengurusan kartu tanda penduduk [KTP] dan kartu keluarga [KK]. Sejak 23 Januari lalu aku dan istri ngurus surat pindah untuk bikin KTP dan KK. Kami serahkan ke pengurus banjar. Katanya sih silakan nanti cek ke Kepala Lingkungan.

Sekitar dua minggu setelah itu cek ke Kepala Lingkungan. Susah banget. Selain karena dia memang jarang ada di rumah pas kami, atau gantian salah satu di antara kami, ke rumahnya. Begitu terus. Pernah ketemu, dia bilang akan cek dulu. Lalu sekitar dua bulan lalu kami tanya lagi. Hasilnya? Tidak jelas!

Kepala lingkungan bilang mungkin masih di pengurus yang waktu itu terima atau sudah di tempek [semacam ketua RT]. Kami cek ke tempek banjar, tidak ada. Dia bilang tidak pernah terima. Tanya lagi ke kepala lingkungan, dia bilang mungkin di pengurus. Karena males, urusan itu tak kami lanjutin. Pasif aja dulu.

Lalu, awal Juli lalu kami harus ngurus perpanjangan STNK motor. Istriku ga masalah karena pake KTP mertua. Lha aku, jelas ga bisa. Karena KTP udah mati. SIM juga. Keduanya mati pas 19 April lalu. Abis itu aku baru inget lagi soal KTP. Yaudah kami pun tanya2 lagi. Terakhir dapatlah pengurus banjar yang dulu terima surat pindah dan semua tetek bengek yang dulu kami urus.

Hasilnya? Ilang sodara-sodara! Itu pun harus cek2 lagi ke tempek banjar. Sebagai jalan keluar, pengurus banjar meminta kami mengurus surat pindah lagi. Aku dari awal udah bilang keberatan kalau harus ngurus lagi. But, ga ada pilihan lain. Ngurus lagi atau ga dapat KTP selamanya?

Jadi ya, sejak kemarin kami pun ngurus surat pindah lagi. Untungnya barusan aja dapat semua dari Kepala Desa dan Kecamatan asal. Jadi ya mulai lagi berurusan sama birokrasi yang bikin makan ati itu..

1 Comment

Filed under Uncategorized

Membaca Penanda Piala Dunia

Finally, Final Piala Dunia 2006 berakhir. Hasilnya, mamamia!, Italia menang.. Azzuri ngalahin Perancis [apa Prancis ya?] di final lewat adu penalti. Ketakmampuan David Trezzeguet [bener ga ya nulisnya] nendang penalti jadi berkah bagi Marcello Lippi. Italia menang 5-3.

Momennya memang udah lewat. Tapi tetap menarik ngobrolin piala dunia, entah pialanya itu sendiri maupun finalnya.

Piala Dunia, sebagai sebuah benda, hanya berupa piala berbentuk bola dunia dengan tangan di bawahnya. Pengganti piala Jules Rimet ini dilapisi emas 18 karat, tinggi 36 cm, dan berat 4.97 kg [ini versi wikipedia]. Tapi piala dunia itu tak melulu benda. Dia hanya simbol. Hanya penanda, menurut kajian semiotika ala Umberto Eco. Di baliknya banyak banget petanda atau makna yang ingin disampaikan.

Di balik piala dunia ada ego manusia yang tak mau kalah. Lihatlah Christiano Ronaldo yang menangis gara-gara kalah ma Jerman. -Syukurin!- Ada superioritas. Ada gengsi. Karena itu 32 negara rela menghabiskan milayarn duit “hanya” untuk ikut lari-lari mengejar bola di lapangan. Piala dunia jadi ajang pamer kekuatan. Mungkin inilah perang tanpa senjata yang dinikmati milyaran orang di dunia.

Kalau sepakbola adalah agama, mungkin dia akan jadi agama paling besar di dunia. Gitu tulis Kafi Kurnia di Intrik GATRA. Sepakat! Inilah agama yang tak perlu disebarkan dengan pedang atau pistol atau meriam. Lihatlah tentara Amerika Serikat yang istirahat sejenak di Irak demi memonton Reyna dan kawan2nya melawan Italia.

Piala Dunia juga bisa jadi lawakan terbesar di Indonesia. Terutama komentator di TV. Lihatlah Roni Patinasarani yang berbuih-buih ngecap mengomentari strategi tiap pelatih. Menyalahkan kadang-kadang. Komentarnya kadang-kadang naif. “Yang anak kecil pun bisa bilang kayak gitu,” tulis M Mahfud, mantan menteri itu. Sejawaran Asvi Warman Adam juga ikut nulis komentar terhadap komentator. Indonesia cuma bisa berkomentar tapi tak bisa ikut main. Lalu mantan menteri dan sejarawan juga ikut mengomentari komentar komentator.

Kini, aku malah mengomentari komentar mereka terhadap komentar komentator. Bener2 lucu..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

drop lagi. masih aja ga bisa istirahat..

ga tau kenapa, kok akhir2 ini fisikku payah. baru capek dikit udah drop. seperti juga sekarang. dari dua hari lalu tiba2 hidung kayak tersumbat. agak cuek. eh, besoknya badan langsung panas. parahnya lagi tenggorokan terasa kering. “walah, paling radang tenggorokan lagi,” pikirku.

kalo udah gitu, obat paling mujarab sih istirahat. but, maunya istirahat, tapi masih keluar untuk satu urusan. malemnya keluar lagi karena harus kirim laporan ke kantor. alamak! mana dingin2 lagi.

lalu, hari ini maunya istirahat lagi. eh, masih ada kerjaan belum beres juga. pagi tadi harus kirim tulisan ke tabloid tokoh. harusnya tiga tapi karena buru2 jd kirim satu aja dulu. dan, sekarang nyusul dua lagi buat denpost+bali post. tulisannya soal kampanye HIV/AIDS di media cetak.

huh! habis ini aku mau diem aja di rumah. sibuk dg stik game aja. :))

2 Comments

Filed under Uncategorized

Menulis Panjang itu Candu!

baru pekan lalu selesai nulis panjang lagi. sebelumnya, soal bakso babi bisa sampe 4000an kata, yang terakhir mala sampe 8000an kata. panjaaaaang banget.

tulisan terakhir soal perjuangan dua perempuan positif HIV dalam penanggulangan HIV/AIDS. satu perempuan tertular karena kebiasaan berbagi jarum saat pakai heroin dengan jarum suntik. dia kini aktif di program pertukaran jarum suntik bagi pecandu heroin. “biar tidak ada lagi orang tertular HIV dari jarum suntik,” katanya. satu lagi tertular HIV dari suami. kini dia aktif kampanye, testimoni, dan mendampingi orang dengan HIV/AIDS. “biar orang lain tidak merasakan apa yang pernah aku alami,” akunya.

ini liputan panjang. perlu pendekatan setahun lebih agar keduanya nyaman berbagi.

nulis panjang ternyata sangat memuaskan. kali ini aku klimaks. seperti halnya onani -ups!- menulis panjang ternyata bikin kecanduan!

2 Comments

Filed under Uncategorized