Monthly Archives: August 2006

Separuh Hidup Bergantung Dunia Maya

Lebih dari seminggu ga posting. Banyak kerjaan ga jelas. Banyak hal menarik untuk ditulis. Sampe rumah kadang udah males keluar lagi ke warnet utk sekadar cek imel atau posting.

Kalau udah gini, aku bener2 pengen langanan internet di rumah. But, kenapa istriku ga mau juga? Ayolah, Bunda. Separuh hidup kita bergantung pada dunia dunia maya. :))

Ga ada salahnya langganan internet. Apalagi ntar lagi kalau Bani sudah lahir. Bisa sambil nungguin dia, sambil surfing. Asik kan?

-ayah-

2 Comments

Filed under Daily Life, Pekerjaan, Uncategorized

Anak-anak Tentara Melawan HIV/AIDS

Persis pas aku baru keluar dari rumah teman, sebuah pesan masuk ke HP. Isinya tentang teman yang sakit. Dia orang dengan HIV/AIDS (Odha). Teman yang aku kunjungi juga Odha. Mereka kakak beradik. Kami ngobrol tentang bagaimana kakak adik itu saling mendukung. Juga ibunya.

Selesai baca SMS itu, aku segera ke tempat teman lain yang lagi sakit itu. Kami kenal -tak begitu akrab- sekitar setahun lalu. Hanya tau nama dan latar belakang dia sebagai mantan pecandu heroin [junkie]. Sejak tiga bulan lalu aku mulai kenal akrab dengan teman yg lagi sakit itu karena jadi pendamping dia untuk urusan minum ARV -antiretroviral, untuk menghambat laju HIV di tubuhnya.

Sampai di rumah teman itu, sudah ada tiga teman lain di samping kasurnya. Teman itu tinggal di salah satu kawasan Denpasar yang identik dengan keluarga tentara. Dia memang anak tentara. Dia tertular HIV juga karena kebiasaan bertukar jarum suntik saat masih nyuntik heroin. Kini dia masih tinggal di asrama tentara itu sama bapak ibunya.

Teman itu sangat kurus. Beratnya di bawah 40 kg. Mukanya pucat. Aku raba kakinya, hangat. Dia hanya bersandar di ujung kasur kusam. Kupingnya infeksi. Dua2nya bengkak dan keluar air. Kalau mendengar orang ngomong, dia harus njewer kupingnya sendiri. Suaraku pun harus keras agar dia bisa dengar.

Teman yang terbaring itu hanya satu contoh. Banyak teman lain di sekitar asrama itu juga yg positif HIV. Hampir semua karena kebiasaan waktu masih pakaw dulu. Untungnya mereka kini sudah berhenti, kemudian aktif di penanggulangan HIV/AIDS. “Sudah 13 teman di sekitar sini yang lewat,” kata teman lain, yang jga Odha dan anak tentara.

Melihat teman itu terbaring di kasur, di asrama tentara, aku menemukan ironi. Bapak mereka mungkin jagoan di medan perang. -Setauku mereka semua pernah tugas di Timor Timur saat masih masuk wilayah Indonesia-. Tapi mereka sendiri kini berjuang melawan HIV/AIDS.

Ironi yang baru kusadari, tepat sehari sebelum Indonesia merayakan 61 tahun kemerdekaannya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Beginilah Nasib Wartawan Tergantung Order

Besok 17 Agustus. Paling menarik biasanya liputan ke penjara. Ada remisi untuk para napi. Di Bali sih yang menarik diliput remisi untuk napi bom bali. Sekaligus liat kegiatan napi2 asing, terutama warga Aussie, pas Agustusan.

Cuma, itu menarik untuk berita harian. Kalau utk majalah rasanya susah. Kecuali sesuatu yg luar biasa. Remisi, Agustusan, tentu berita yg bukan luar biasa.

Tapi aku juga mesti siap2. Sebab, takutnya, tiba2 tempat kerja media lain -harian di Aussie- minta laporan juga soal itu. Takutnya koresponden di Jakarta datang ke Bali lalu minta ditemenin liputan. Buat jaga2, ya aku daftar aja untuk liputan. Untuk liputan di penjara memang harus ada izin dari Kakanwil Departemen Hukum dan HAM. Jadilah kemarin aku ngurus izin itu.

Lalu hari ini ngambil izinnya. Eh, ternyata izin untuk bos di Jakarta udah ada sekalian dengan pembantu korespondennya -yg tugas mirip sama aku. Jadinya ragu2. Kalau gitu besok aku liputan ke penjara ga ya?

Beginilah nasib wartawan tergantung order.. :((

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Apa Salahnya Pasang Bendera?

Beberapa teman bertanya dengan nada nyindir setelah melihat bendera merah putih di stang motorku. “Kamu nasionalis banget, sih?”

Kali ini cerita tentang bendera. Tiap Agustus tiba banyak banget penjual bendera di pinggir2 jalan. Di Denpasar daerah favorit mungkin di Renon. Sepanjang lingkar jalan itu penuh dengan penjual bendera merah putih. Tak hanya bendera tapi juga umbul2, spanduk, dst. Pokoknya yg berbau Agustusan.

Tiap Agustus pula aku ikut pasang bendera di motor. Ya, tiga taun terakhir mungkin aku selalu begitu. Bagi aku sih itu ya untuk menghargai hari kemerdekaan. Kalau bukan kita, siapa lagi yang bangga sama negerinya sendiri? Hatjing!

Soale, aku juga heran. Agustusan di Bali tuh kayaknya garing banget. Kalau dulu aku di kampung pesisir Lamongan, Jawa Timur sana tiap Agustusan tuh rame banget. Banyak lomba: sepak bola, tenis meja, karambol, cerdas cermat, gerak jalan, hingga dangdutan semalaman. Plus isi tawuran. :))

Balok soal bendera. Bagi aku itu sih penghargaan pada pendahulu yg udah susah payah ngangkat senjata, dipenjara, maupun yg “cuma” bantu di dapur umum. Negeri ini merdeka dengan susah payah. Lalu apa salahnya menghargai itu semua, meski ya cuma bisa dengan cara beli bendera. Lalu memasangnya..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Sepeda Kumbang dan Sebuah Ingatan

Sore sekitar pukul 16.00 wita. Pas lagi jalan mau ke internet kemarin, aku ngeliat seorang anak berhenti di pinggir jalan. Umurnya sekitar 10 tahun, masih berseragam merah putih dan membawa tas. Artinya dia baru pulang sekolah.

Aku perhatiin. Ternyata anak itu sedang memperbaiki sepeda kecilnya. Rantai belakangnya lepas. Dia mundurin sepeda itu agar bisa masang rantai lagi. Aku merhatiin sambil lalu. Ga sempet nolongin. Juga takut dianggap yg nggak2 kalau mau nolongin. -Aneh juga ya, takut nolongin orang. But, begitulah memang. Untuk nolongin orang juga perlu mikir. Takut dianggap yg nggak2-

Anyway, bukan soal nolong atau gak. Ngeliat anak kecil dengan sepedanya yg rusak itu, aku seperti terbawa ke kejadian 15an tahun lalu. Ketika aku masih SD. Sekolahku sekitar 2 km dari rumah. Kadang naik sepeda, kadang jalan kaki. Sepeda yg aku punya ga pernah bertahan lama. Rumah tak jauh dari laut membuat sepeda cepet berkarat. Apalagi aku memang males bersih2 sepeda.

Hasilnya sering banget sepeda macet di tengah jalan. Cuaca panas. Mau ga mau harus benerin sepeda dulu sebelum jalan. Atau sering pula boncengin garam puluhan kilo sampai sepeda terbalik. Pas puasa kadang bantuin beli es balok dari kampung sebelah. Lagi2 jatuh.

Kalau musim panas, debunya putih ga ketulungan. Kanan kiri jalan tambak garam. Jelas panas. Tumbuhan hanya ada satu dua sepanjang jalan itu. Kalau musim hujan, tanahnya lengket. Soale jalan itu deket kali berair asin.

Semua ingatan berjalan. Berseliweran. Kini hidup sudah banyak perubahan. Banyak yang harus lebih disyukuri..

1 Comment

Filed under Uncategorized

Ketika Aktivis Belajar Jadi Jurnalis

Well, akhirnya Klinik Jurnalistik [KaJe] pun kelar. KaJe diadakan 3-5 Agustus kemarin di Bedugul. Idenya muncul setelah beberapa teman aktivis penanggulangan HIV/AIDS sering minta diajarin nulis berita maupun artikel.

Semula maunya datengin aja ke tiap LSM satu per satu. Satu wartawan diminta ke satu lembaga. Ngajarin dasar2 jurnalistik hingga nulis artikel opini. Tapi kalo gitu akan susah. Soalnya tak semua wartawan bisa ngasi pelatian lengkap gitu. Belum lagi soal waktu.

Akhirnya ya udah diadain saja di luar kota dalam waktu tiga hari. Normalnya sih lima hari untuk materi dasar seperti dasar2 jurnalistik, berita langsung, berita kisah, dan artikel opini. Karena diadakan di luar kota, peserta bisa ngerjain tugas malam2. Sengaja pilih tempat dingin. Didapatlah di Bali Handara Kosaido, yg punya lapangan golf dan pemandangannya asik banget.

Pas baru dateng, 15 peserta dari 13 lembaga penanggulangan HIV/AIDS di Bali sudah kaget2 lita viewnya yg asik. But, mereka bilang sayang banget karena ga bisa puas menikmati pemandangannya.

Gimana bisa? Tiap hari mereka dikasi materi dari pukul 08.30 sampe 17.30 wita. Malamnya mereka ngerjain tugas. Pematerinya Slamet Riyadi [LP3Y], Wayan Junairta [The Jakarta Post], dan Darma Putra [Kolumnis, wartawan ABC]. Tugasku hanya ngasi tugas. :))

Hasilnya di bawah target. Masih banyak yg belum ngerti beda berita langsung dengan berita kisah. Nulis opini juga belum lancar. But, paling tidak udah ngasi sesuatu buat orang lain. Sudah berbagi ilmu pada teman2 aktivis itu. Tinggal nunggu apakah mereka bisa memanfaatkan ilmu itu..

2 Comments

Filed under Uncategorized

Memoir of Waria

-judulnya niru Samuel Mulia yang mlesetin Memoir of Geisha. asik soale. :))-

Sabtu malam lalu diundang teman waria pertandingan voli di Kediri, Tabanan. Sekitar 45 menit dari Denpasar. Aku males. But, karena istri juga ngotot liat, yaudah, kami berangkat juga bareng temen lain.

Di salah satu kampung di Kediri, pertandingan itu diadakan. Kata teman yang waria itu, mereka ikut karena beberapa alasan. 1) menghapus stigma dan diskriminasi pada waria. Soale selama ini waria kan masih saja jadi masyarakat kelas pinggiran di tengah hiruk pikuk masyarakat “normal”. 2) kampanye tentang HIV/AIDS. sebab, stigma juga masih terjadi pada orang dengan HIV/AIDS.

Well, ide yang menarik. But, kenyataannya agak jauh dari itu.

Pas baru sampe aku udah ngliat gimana teman-teman waria itu dandan di salah satu tempat dengan diliatin puluhan atau malah ratusan orang. Aku mikir kenapa sih ga dandan di tempat lebih tertutup. Menurutku sih ketika mereka lagi dandan dengan dipelototi begitu banyak orang, tetap aja mereka jadi objek.

Paling parah justru setelah itu. Waria-waria itu ternyata diundang untuk nyanyi lip sync -bener ga ya nulisnya?-. Intinya untuk bernyanyi tanpa suara. Hanya meniru gerak gerik penyanyi. Ada lima “penyanyi” waria malam itu. Semua “nyanyi” dengan gerakan-gerakan seduce. Ya seperti biasa. Salah satunya malah mendekati banyak laki-laki melakukan adegan oral. Padahal separuh penonton malam itu anak-anak.

Udah beberapa kali aku bilang, “Kenapa sih temen2 waria masih ngasi pertunjukan gitu2? Malah memperparah stigma.” Buktinya malam itu tetep aja terjadi. Bagiku sih itu ga ngubah pandangan negatif pada waria.

Untungnya penampilan temen2 waria ditutup dengan pertandingan voli. Melawan tim tuan rumah mereka berbagi nilai 1-1. Ya, voli jelas jauh lebih tegas untuk menghapus stigma dari pada gerakan2 erotis di depan anak2, dan mengganggu suami orang.

Leave a comment

Filed under Uncategorized