Selalu Ada Tempat Bermula dan Selalu Ada Tempat untuk Kembali

Setelah memindah istri dari ruang operasi ke ruang recovery, aku menunggu Bani akan dibawa ke ruang itu juga. Namun perawat yang datang memberi aku ari-ari di dalam tembikar seperti kendi.

Menurut ritual Jawa atau Bali, ari-ari biasa ditanam di rumah. Ari-ari dianggap sebagai saudara kandung si bayi. Aku ga terlalu ngerti soal ini. Tapi sepertinya asik juga kalau punya ritual tertentu menyambut si bayi. Maka ari-ari itu aku bawa pulang untuk kutanam di rumah.

Aku cari tempat di halaman depan, mepet tembok, di bawah pelangkiran [tempat menaruh banten kalau sembahyang]. Aku bongkar grass block di situ menggali sekitar 30 cm. Kami sudah sepakat sebelumnya untuk menanam ari-ari itu bersama globe [bola dunia] dan pulpen. Kami pengen si Bani bisa menjelajah dunia bermodal pulpen. Tak logis memang. Tapi bagiku, menanam ari-ari bersama globe dan pulpen hanya simbol harapan kami pada si Bani.

Untuk menutup kendi, aku ambil Kompas edisi Sabtu [23/09] tersebut. Aku ambil halaman Internasional yang -kebetulan banget- ternyata satu bagian dengan opini tentang perlunya rendah hati saat puasa.

Aku tanam di halaman rumah. Aku bacakan doa. “Bani anak kami. Aku kubur saudaramu dengan sebuah harapan. Bahwa kau bisa jadi orang yang lebih baik dari kami. Bisa peduli para orang lain tanpa melihat asal usulnya. Bisa membela orang2 kalah. Bisa berempati pada orang2 tertindas. Dan, kau seperti namamu, akan berani menulis untuk mengubah sesuatu.”

“Oya, kami juga berharap kamu bisa menjelajah dunia dengan tulisan2mu itu.. Bisa bertemu dengan beragam budaya. Menjelajah semua benua. Membuka pikiran seluas-luasnya.”

“Bani anak kami. Kamu hanya titipan. Kami hanya tempat kau pernah lahir. Kalau sudah besar, larilah. Kejarlah apa yang kamu cari. Namun percayalah bahwa apa pun adamu, kami selalu siap menerima keluhmu. Siap menerimamu ketika letih dalam perjalanan.”

“Bani, rumah ini tempatmu berasal dan tempat mu boleh kembali kapan pun..”

“Bani, anak kami. Selalu ada tempat bermula. Dan selalu ada tempat untuk kembali..”

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “Selalu Ada Tempat Bermula dan Selalu Ada Tempat untuk Kembali

  1. yoyok

    hiks…rumah tempat ari-ariku keknya terancam digusur mas😦

  2. mygame

    Salam kenal mas Anton.Boleh juga blognya. Oya, cara buat dialog box itu gimana ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s