Kami Bukan Benda Mati, Pak Dokter..

Menuruti anjuran dokter, Sabtu malam lalu kami memeriksakan Bani ke dokter anak. Ketika cabut dari rumah sakit, memang diberi saran. Pertama istri harus cek up. Kedua, Bani juga demikian. Sabtu malam lalu, tepat Bani berumur seminggu kami membawanya ke dokter anak yang juga membantu kelahirannya.

Kami agak malas sebenarnya. Pertama menurut kami Bani baik2 saja. Kedua tempat praktek dokter itu jauh dari rumah kami. Ketiga kami ga mau bawa Bani keluar malam2. But, ya gimana lagi. Ga ada pilihan lain. Takutnya malah Bani kenapa2 kalo ga ke dokter.

Tempat dokter itu sekitar 2 km dari rumah. Kami menyelimuti Bani. Naik motor malam ke tempat praktiknya.

Sampai sana, ternyata banyak juga pasiennya. Ada sekitar 10 pasien. Semua bawa bayi, tentu saja. Masalahnya tempat itu sempit banget. Ruangan menunggu sangat sumpek. Tempatnya persis pinggir jalan. Suara kendaraan lewat sangat ribut. Istri mengeluh terus dengan kondisi itu.

Kami dapat nomor antri 20 yang pesan lewat telepon. Anehnya dua orang lain yang menunggu juga menggenggam nomor yang sama. Untungnya mereka datang belakang. Sehingga kami yg duluan masuk ketika nomor 20 dipanggil.

Ruangan dokter itu juga sempit. Persis pas buka pintu langsung berhadapan dengan mejanya. Aduh, ini ruang dokter kok ga nyaman banget sih. Bani dicek kesehatannya. Lalu diimunisasi. Singkat. Tak sampai 5 menit. Habis itu istri diberi tahu tentang bagaimana memberi ASI dan apa yg dilakukan setelah menyusui.

Sebelum berangkat, kami sudah menyiapkan lima pertanyaan utk dokter. Misalnya soal dahak, cegukan, minum susu sambil tidur, dan daya tahan susu formula. But, belum semua pertanyaan kami ajukan, perawat pembantu dokter sudah memanggil pasien lain. Kami masih di ruangan. Masih gendong Bani. Masih bingung dengan beberapa pertanyaan. Kami merasa diacuhkan.

Oh, beginikah pelayanan dokter ini? Kami dianggap barang yang dengan mudah digeser2 tanpa ada perasaan. Dia mungkin tak sadar bahwa kenyamanan jadi hal penting dlm pelayanan. Kami bukan benda mati, Pak Dokter.

Ketika sampai rumah. Aku dan istri ngobrol. Sepertinya kami tak akan pernah kembali minta pelayanan dari dokter itu. Tidak menyenangkan!

3 Comments

Filed under Uncategorized

3 responses to “Kami Bukan Benda Mati, Pak Dokter..

  1. nie

    wah… dokternya koq pelayanannya jelek bener gitu?! Iya deh, mending ga usah balik. Langsung cari dokter anak laen aja deh >.<
    Gimana puasanya? so far ga bolong2 kan ya? hehehehe…

  2. -FM-

    dokter jaman sekarang, masya allah, manusia seperti barang yang cepat mengeluarkan uang aja. gemes banget rasanya baca ini.

    semoga bisa segera mendapatkan dokter baru yang lebih baik ya.

  3. yoyok

    Kemanakah janji Hipokrates ??

    apakah telah berubah menjadi janji hipokrit ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s