Monthly Archives: November 2006

Ternyata, Status Itu Penting Juga

-inilah isi otakku seminggu ini-

Ya, begitulah.
Mungkin masih sindrom.
Biasanya kan punya tempat kerja yg jelas meski honor sama sekali ga jelas.

Kini bawaannya mikir kalo pas lagi liputan.
Ga PD aja kalo ditanya, “Wartawan apa, Mas?”
Menjawab, “Freelance..” tuh kayaknya kurang yakin.
Padahal biasanya pakai status juga cuma formalitas.

Ya, tunggu sajalah.
Kali karena belum biasa..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Akhirnya, Aku Mundur Juga

Ah, setelah sekian bulan hanya mikir, mikir, dan mikir, akhirnya aku ngambil pilihan juga. Mundur sajalah. Mari jadi wartawan freelance. Meski itu bukan hal gampang. But, setidaknya lebih merdeka. Ya, liat2 aja sampai Januari ntar gimana kira2 hasilnya.

***

Denpasar, 8 November 2006

Kepada
Yth Pemimpin Redaksi Majalah GATRA
di Tempat

Dengan hormat,

Melalui surat ini, saya Anton Muhajir, dengan ini mengajukan pengunduran diri sebagai Koresponden GATRA di Bali. Menjadi Koresponden GATRA di Bali sejak Juni 2001 hingga saat ini, Saya merasa tidak ada kebijakan yang jelas dari pimpinan GATRA terkait koresponden di semua daerah, termasuk Bali.

Meski demikian, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas semua pelajaran yang pernah diberikan, langsung maupun tidak langsung. Lima tahun bekerja sebagai koresponden GATRA di Bali merupakan pengalaman berharga bagi saya. Saya juga mohon maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan selama jadi Koresponden di Bali.

Demikian surat pengunduran diri saya. Terima kasih atas kerja samanya..

Hormat saya,

Anton Muhajir

1 Comment

Filed under Uncategorized

Begitu Banyak Ide Berkelebat. Dan, Mengendap..

Begitulah. Begitu banyak ide di kepalaku. Bikin media consultant, bikin yayasan utk riset media, ngurusi anak jalanan, bikin buku indepth report soal HIV/AIDS, sampe bikin usaha kaos propaganda.

But, semua hanya berkelebat di kepala. Sekali-kali ide itu muncul kembali. Mendesa-desak ke otak minta diwujudkan. Lalu aku sibuk mencari jalan. Ketika ketemu hanya gang kecil, aku masuk. Buntu. Selalu begitu.

Ide di kepalaku tak pernah terwujud. Hanya membatu. Mengendap di otakku.

1 Comment

Filed under Uncategorized

Dua Kali Hujan untuk Bunda

Dua kali hujan menyambut pagi ini.
Tetesnya menghilangkan embun.
Namun butir-butir hujan,
yang mengendap di bawah dedaunan
ternyata indah sekali.

Mungkin kado untukmu, Bunda.

Selamat ulang tahun.
Udah seperempat abad.
Perjalanan kita,
terasa begitu cepat.
Berdua..

-ayah-

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tak Mungkin Semua Hanya Kebetulan

Apa iya semua itu kebetulan. Lama-lama aku pikir nggak juga kali ya. Dulu, pas aku lagi baca buku lamanya Mochtar Loebis, aku nonton film Gie. Isi buku dan jalannya film mirip banget, soal Indonesia pada 1960an.

Kini, pas aku baca buku jurnalistik peraih Pulitzer, Dinasti Bush Dinasti Saud, aku juga nonton filim yg isinya mirip semua. Dua hari lalu aku sewa V for Vendetta, X Men Last Man Stand -bener ga ya judulnya? :)-, dan Syirianna. Ah, selalu ada benang merah yg menghubungkan semuanya. Kali karena udah dari alam bawah sadarku. X Men mungkin agak maksa nyambungnya, tentang rebutan mutan baik dan mutan jahat. Kisah klasik di setiap zaman.

Pas nonton V for Vendetta, nyambung banget dengan buku karya Craig Ugner -bener ga ya nulis nama penulis buku itu? :)-. Lalu semalem nonton Syirianna, alamak, mak plek persisnya. Bagaimana minyak jadi komoditas politik, bukan urusan perut semata. Dari rebutan minyak itu tergambar rebuatan perusahaan besar, rebutan jabatan, rebutana keyakinan. Ceritanya agak kepisah-pisah. Tapi nyambungnya pada satu hal: MINYAK adalah komoditas penting saat ini. Pengaruhnya ke mana2.

Aku, kamu, mereka, kita semua mungkin tak sadar bahwa kita bagian dari permainan besar itu. Seolah-olah urusan itu begitu jauh dari kita. Tapi rebutan itu berimbas juga pada kita. Pada penilaian orang terhadap keyakinan kita. Pada kemampuan kita mendapat sesuatu. Atau malah mengubah hidup kita tanpa kita sadari bahwa itu terhubung dengan “mereka” yang bahkan tak kita kenal nama atau malah tak pernah kita sadari keberadaannya.

Menurut teori jaringan sosial, tiap orang di dunia terhubung tak lebih dari lima orang. Misalnya kita dengan petani di Peru mungkin hanya perlu dua tiga orang utk bisa kenal, atau kita dengan Osama bin Laden atau George W Bush hanya perlu dua tiga penghubung untuk bisa kenal. Dari maksimal lima penghubung itu, ternyata dunia begitu kompleks sebenarnya. Dan semua terhubung, berpengaruh, tanpa pernah kita sadari.

Adakah semua itu hanya kebetulan? Rasanya tak mungkin..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Media Massa sebagai Penebar Ketakutan

Kok ya kebetulan banget. Aku lagi baca buku Dinasti Bus Dinasti Saud tentang hubungan gelap dua dinasti kuat di dunia. Lebih lengkap soal buku, aku pengen bikin resensi nanti. Hal menarik di buku itu adalah soal motif perang Kuwait 1991. Tak ada alasan lain selain: MINYAK! Parahnya, media massa ternyata jadi bagian dari propaganda pembenaran perang. Koran, TV, internet, ternyata disetting sedemikian rupa agar serangan tentara Amrik terhadap Iraq, yang dituduh menyerbu Kuwait, bisa dibenarkan.

Cerita ini berulang 2003 lalu saat Bush junior menyerang Saddam Husain dengan alasan senjata pemusnah massal. Tak ada bukti. Namun semua media telah jadi bagian propaganda Bush sehingga kebohongan itu seolah-olah benar.

Lalu kemarin aku nonton VCD V for Vendetta. Film karya Wachowski bersaudara, yg sukses bikin Trilogi Matrix, ini bahkan udah jadi pembicaraan ketika baru dibuat. Yg menarik dari film ini adalah karena V menggunakan TV sebagai alat untuk menebar ketakutan. Dan, ketakutan itu jadi senjata Kanselor untuk tetap dibutuhkan rakyatnya.

Nah, begitulah simbiosis mutualisme antara teroris dan penguasa.

Teroris menggunakan media untuk menyebar ketakutan. Bukankah ketakutan memang produk utama teror?

Lalu penguasa, seperti Bush dan Kanselor, menikmati ketakutan itu sebagai berkah. Bukankah mereka seperti dibutuhkan ketika banyak orang dalam ketakutan?

Leave a comment

Filed under Uncategorized