Perempuan di Sarang Penasun [1]

-tulisan terpanjangku. :)) dibuat atas beasiswa liputan dari LP3Y utk bikin liputan ttg HIV/AIDS. sebagian dimuat di Playboy Indonesia Desember ini-

Perempuan di Sarang Penasun

Jarum berbungkus plastik itu berpindah cepat. Yeni, 37 tahun, mengeluarkannya dari tas. Menggenggam lalu memberikannya pada Cecep, 49 tahun. Tanpa melihat kanan kiri, Cecep memasukkan jarum ke saku celana jeansnya. Yeni mencatat.

“Makasih, Yen,” kata Cecep lalu tersenyum. Gigi depannya ompong.

“Iya. Jangan lupa balikin bekasnya,” jawab Yeni.

“Santai saja.”

Mereka ngobrol. Tak lama, sekitar lima menit. Cecep lalu pergi menyuntikkan heroin ke lengannya dengan jarum yang baru dia dapat dari Yeni. Selesai nyuntik, dia mengembalikan jarum itu ke tas Yeni.

Sekitar pukul 11 siang awal Juni lalu belasan orang nongkrong di warung tempat Yeni dan Cecep bertemu di kawasan Sanglah, Denpasar Barat. Hampir semua laki-laki. Satu dua terlihat lusuh dan sering menguap. Sebagian besar dari mereka injecting drug user (IDU) atau pengguna narkoba suntik (penasun). Jarum untuk menyuntikkan heroin itu mereka dapat dari Yeni dan petugas lapangan (PL) lain di warung tersebut.

Selain tiga pelayan warung, perempuan lain di tempat itu adalah Yeni. Toh, Yeni tak takut apalagi risih di antara belasan laki-laki yang bagi banyak orang mungkin terlihat sangar: rambut gondrong, tato sepanjang lengan, anting, dan kaca mata hitam.

Tulisan kaos coklat Yeni menegaskan itu, No Fear, tepat di dada. Kaos itu berpadu celana jeans biru putih tiga per empat. Telinga kanannya tindik dua. Kiri tanpa tindik. Lipstik di bibirnya mengering. Kaca mata hitam di atas kepala.

Yeni akrab dengan belasan laki-laki itu sejak Februari 2003, ketika dia mulai rajin ikut terapi methadone di Program Rumatan Methadone (PRM) Sandat Denpasar. Terapi itu untuk mengurangi ketergantungannya pada heroin. Minggu pertama ikut terapi, Yeni tak rajin masuk. “Sehari masuk, sehari tidak. Tergantung mood,” katanya.

Kini Yeni tiap hari ke tempat pelayanan terapi methadone di dekat Rumah Sakit Sanglah Denpasar tersebut. Selain untuk terapi juga karena dia harus melakukan kegiatan Needle Exchange Program (NEP) atau program pertukaran jarum suntik di tempat tak jauh dari PRM Sandat. Yeni jadi petugas lapangan (PL) NEP Yayasan Kesehatan Bali (Yakeba). Aktivitas membagi jarum itu tak boleh dilakukan di areal PRM Sandat.

Pekerjaan membagi jarum steril pada penasun dilakoni Yeni sejak Oktober 2005. Aktivitas ini mengubahnya dari klien jadi petugas. Semula dilayani kini melayani.

“Jadi lumayan tahu. Untuk ngasi informasi ke klien lebih banyak pakai pengalaman pribadi aja,” katanya. Yeni berharap orang lain bisa belajar dari pengalamannya itu.

“Aku ingin bantu mereka,” tambahnya.

Pelajaran yang disampaikan Yeni adalah agar penasun tak lagi berbagi jarum suntik ketika pakai heroin. Sebab perilaku itu bisa menularkan human immunodeficiancy virus (HIV), virus penyebab sindrom penurunan sistem kekebalan tubuh atau acquired immune deficiancy syndrome (AIDS). Virus itu ada di tubuh Yeni. [ke posting berikut]

***

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s