Perempuan di Sarang Penasun [4]

***

Yayasan Hatihati kemudian mengintervensi perilaku ini dengan membagi jarum suntik steril ke penasun. Lima relawan NEP saat itu membagi jarum steril di beberapa kawasan nongkrong penasun seperti Kampung Flores dan Sudirman Denpasar serta Jl Nakula dan Jl Poppies Kuta. Selain membagi jarum, intervensi juga dilakukan untuk mengubah perilaku junkie, bahasa lain penasun. Selain agar tak lagi berbagi jarum, juga agar junkie tak memakai jarum bekas.

Jumlah junkie yang dijangkau Yayasan Hatihati terus bertambah. Dari 184 junkie pada 1999 jadi 366 junkie pada tahun berikutnya. Per Mei lalu mereka sudah menjangkau 1850 junkie, 100 di antaranya cewek. Petugas lapangannya pun bertambah, 13 orang. Mereka tak hanya di Denpasar tapi juga menjangkau kota lain seperti Singaraja, sekitar 150 km utara Denpasar, dan Negara, sekitar 200 km barat laut Denpasar.

PL Yayasan Hatihati berganti-ganti. Ada yang keluar, ada pula yang masuk. Salah satu yang bertahan lama itu Komsa Nursalam, akrab dipanggil Gale. Sejak Februari tahun ini dia menjangkau Negara dan sekitarnya. Sebelumnya, staf Yayasan Hatihati sejak 2001 ini menjangkau Kuta. Gale, juga mantan junkie, sedikit banyak mengubah perilaku Yeni.

Mereka kenal saat masih pakaw bareng di Kuta. Sudah lama akrab membuat Gale mudah diterima Yeni termasuk ketika mengajaknya jadi klien NEP Yayasan Hatihati. Awalnya Yeni tak terlalu peduli. Paling penting dia dapat jarum steril. “Apalagi dia lagi kenceng-kencengnya pakaw waktu itu,” kata Gale. Pelan-pelan perilaku Yeni berubah. Selain tak lagi berbagi jarum, Yeni juga berani mengembalikan jarum bekas.

Bahkan, dia mulai mencari substitusi heroin dengan methadone, jadi klien PRM Sandat Denpasar sejak Februari 2003. Tapi baru beberapa hari ikut terapi dia berhenti. Transportasi jadi alasan. Waktu itu dia tinggal di Kuta sementara PRM Sandat ada di Sanglah, Denpasar. Jaraknya sekitar 15 km. Yeni tidak punya kendaraan pribadi. Padahal angkutan umum di Bali sangat susah.

Alasan lain, dia dan suaminya masih pakaw. “Heroin bagiku tidak bisa digantikan saat itu,” akunya.

Satu hari Yeni benar-benar tidak bisa beli barang. Dia hampir sakaw –sakit karena badan kecanduan heroin. Dia minum methadone. “Ternyata sakawku hilang,” katanya. Sejak itu, dia benar-benar rajin ikut terapi methadone. Tiap hari dia naik ojek dari Kuta ke Sanglah. Pelan-pelan, hidupnya berubah lebih baik.

“Aku mulai sabar. Pikiran juga tenang,” katanya. Yeni makin mengurangi pakaw meski kadang-kadang masih. Dia pun pindah ke Denpasar agar lebih dekat tempat terapi.

Tidak lagi pakaw juga membuat ekonominya membaik. Dia bisa beli TV, sepeda motor, dan kulkas. Sejak Februari lalu dia pindah dari kos sekitar 4×3 meter persegi ke rumah dengan dua kamar tidur, satu kamar tamu, satu dapur, dan satu kamar mandi meski masih kontrak Rp 7 juta per tahun. Rumahnya di Denpasar Selatan termasuk kawasan baru. Di depan rumahnya masih berupa sawah. Pohon pisang dan ilalang liar rimbun di sekitarnya sempat jadi masalah. [lanjut ke posting berikutnya]

***

1 Comment

Filed under Uncategorized

One response to “Perempuan di Sarang Penasun [4]

  1. Saya Sasty. Saya akan ke bali kira2 3 minggu. dan sepertinya lebih baik saya sewa kost daripada sewa hotel? saya ke bali utk berlibur, jadi yg diutamakan :
    -dekat dengan pantai, bisa jalan kaki baik ke pantai maupun ke jl legian.
    -ac
    -gender free
    -wc dalam
    -kasur sudah tersedia.

    budget saya 500.000-1.000.000
    kalau ada info nya, tolong ya mas.. saya sangat berterimakasih atas balasannya.

    best regards.
    Sasty

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s