Merayakan Keragaman di Gang Kecil Kami

Meski tidak merayakannya, Natal tahun ini memberi sesuatu yang berarti bagiku.

Tahun-tahun sebelumnya aku hanya ngasi ucapan selamat pada teman yang merayakan. Tahun lalu aku main ke salah satu teman yang merayakan. Tahun ini meski hanya di rumah, maknanya sunguh berbeda.

Aku tinggal di gang kecil di pinggiran Denpasar utara. Sepanjang gang sekitar 100 meter itu ada orang dengan beragam agama dan asal usul. Ada Hindu Bali. Ada Jawa Islam. Ada juga Flores Katolik.

Sehari menjelang Natal, istri tetanggaku yang dari Flores itu bagi-bagi makanan nasi kotak. Ah, ini bener-bener surprise. Apalagi perut pas laper. He.he. Aku ucapin Met Natal ke dia, ternyata jawabnya bikin kaget lagi. “Bapak yang Natalan. Kalo saya Idul Fitri.”

Nasi kotak yang diantarin itu memang penting. Tapi yang lebih penting adalah betapa kami saling menghormati dengan perbedaan pada kami.

Ketika aku merayakan Lebaran Oktober lalu, aku undang anak-anak di gang itu untuk main ke rumah. Anak-anak itu tak ada satu pun yang Lebaran karena mereka Hindu dan Katolik. Tapi aku mengundang mereka justru karena mereka tidak merayakannya. Sambil makan ketupat dan kare ayam, kami ngobrol tentang Lebaran, puasa, dan hal-hal lain tentang Islam.

Beberapa hari kemudian ketika kami mengadakan aqiqah, kami juga membagi nasi kotak syukuran ke tetangga-tetangga sambil jelasin apa itu aqiqah dan seterusnya. Tidak besar memang apa yang kami lakukan tapi bagiku itu adalah sebagai upaya untuk saling mengenal.

Masih dalam suasana Lebaran, beberapa tetangga datang ke rumah untuk ngasi selamat merayakan Lebaran.

Ketika Galungan akhir November lalu, tetangga-tetangga yang ngrayain main ke rumah. Kali ini mereka ngejot –memberi buah sisa sesajen ketika sembahyang. Gantian aku yang kasih selamat ke mereka. Tentu saja aku juga main ke rumah mertuaku yang ngrayain Galungan. Kalo tidak bisa-bisa dituduh sebagai menantu durhaka. He.he.

Lalu kali ini Natalan. Tetangga yang ngrayain ternyata melakukan hal yang sama. Sekali lagi ini mungkin bukan sesuatu yang besar. Kami hanya saling berbagi ketika di antara kami ada yang merayakan hari raya. Tapi bagiku inilah penanda bahwa kami saling menghargai keragaman di antara kami. Bahwa kami meman berbeda. Ada yang Lebaran. Ada yang Galungan. Ada yang Natalan. Tapi kami semua turut merayakan mesti tidak meyakininya. Bukti bahwa di gang kecil kami, semua saling menghargai. [***]

Leave a comment

Filed under Aneka Rupa, Bali, Daily Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s