Setelah Usulan Itu Gak Tembus

Usulan ke Playboy Indonesia yg ditolak itu. Ini usulan ketiga yang ditolak. Sebelumnya ada soal operasi dada di kalangan waria dan seni rupa “pinggiran” Bali. Alasan ditolak sih karena tema2 ini gak nyambung sama visi PB yg embracing life.

Hmm, harus pinter2 cari tema kalo gini. Dan, semoga ga patah semangat. :))

+++

Hampir tiap hari terjadi bunuh diri di Bali. Koran lokal Minggu (11/02) kemarin saja memberitakan tiga kasus pada hari yang sama. Pertama dilakukan Wayan W warga Bangli. Diduga dia bunuh diri karena sakitnyatak kunjung sembuh. Dia gantung diri. Kedua oleh IA di Denpasar. Karyawan swasta ini minum obat nyamuk cair gara-gara tak kuat terhadap tekanan suami. Ketiga oleh Made RA dan Ni Made SM di Kuta utara. Tidak jelas apa alasan pasangan muda ini minum obat nyamuk cair untuk mengakhiri hidup.

Tiga kasus Minggu lalu menambah daftar panjang catatan bunuh diri di Bali. Menurut catatan media massa di Bali kasus itu terus meningkat per tahun. Pada 2003 lalu, kasus bunuh diri di Bali ”hanya” 62 kasus. Pada 2004, jadi 121 kasus. Antara Januari hingga September 2005 ada 185 kasus. Saya belum mendapat data kasus selama 2006 dan 2007. Namun berdasarkan laporan media antara 23 Januari hingga 11 Februari sudah terjadi 11 kasus bunuh diri di Bali.

Dari latar belakang umur, lebih dari 50 persen pelau berusia antara 20-40 tahun. Ini usia produktif. Sedangkan penyebabnya sebagian besar karena ketidakmampuan ekonomi.
Penyebab lain sakit menahun dan hubungan dengan keluarga atau pun pacar. Tiga hal itu hanya pemicu. Namun menurut Nyoman Hanati, dokter spesialis jiwa di Rumah Sakit Sanglah Denpasar, penyebab paling penting maraknya bunuh diri adalah sakit jiwa yang makin banyak di Bali. “Orang gampang frustasi,” kata Hanati.

Sejak zaman bahuela, Bali sudah punya ritual bunuh diri yaitu mesatya, bunuh diri oleh istri raja dengan cara membakar diri atau menusukkan keris ke dada. Mesatya dilakukan sebagai simbol kesetiaan istri pada suami. Meski beda cara dan konteks, Perang Puputan pada 20 Sepetmber 1906 yang mengorbankan ribuan nyawa itu juga termasuk bunuh diri secara massal. Rakyat Badung merasa tidak mungkin menang melawan Belanda. Mereka pun berjuang mati-matian (puputan). Tapi mesatya dan puputan dilakukan dengan bangga seperti harakiri atau kamikaze di Jepang.

Beberapa tokoh juga memilih mati dengan bunuh diri. Jim Morisson (The Doors), Kurt Cobain (Nirvana), dan van Gogh mengakhiri hidupnya sendiri. Michel Foucault pun pernah mengiris urat nadinya sebagai usaha bunuh diri, dan gagal. Bagi mereka, kematian adalah jalan menuju kekekalan.

Tapi pemicu bunuh diri di Bali sering terjadi karena masalah sepele: tidak dibelikan motor, tidak dibelikan baju, tidak dibelikan handphone, dan seterusnya.

Generasi frustasi. Mungkin ini yang ada di balik maraknya kasus bunuh diri. Kondisi ekonomi, sakit menahun, dan hubungan sosial hanya pemicu. Tapi masalah sebenarnya belum banyak diungkap. Media massa di Bali hanya menulis kasus, kasus, dan kasus. Pejabat pun demikian. Belum ada yang mencoba menelusuri ada apa di balik maraknya bunuh diri tersebut.

Tulisan ini akan memaparkan maraknya kasus bunuh diri di Bali, menelusuri penyebab, dan mengaitkannya dengan kondisi ekonomi Bali saat ini. Tentu saja faktor kesehatan mental juga tetap ditulis. Sebab, menurut Made Japa, dari Yayasan Kanaivasu yang memberikan trauma healing, maraknya bunuh diri juga karena “malunya” orang untuk mengaku bahwa dia punya masalah kejiwaan.

Leave a comment

Filed under Bali, Jurnalisme, Pekerjaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s