Kehangatan Keluarga di Taman 65

Kue ulang taun di meja kecil itu dikelilingi sekitar 30 orang. Umur mereka beragam. Ada yang masih digendong, ada juga yang berjalan tertatih karena umur yang uzur. Mereka semua bergembira. Ada yang berteriak, “Cium. Cium. Cium..” Lalu semua mengikuti teriakan itu. Dengan malu-malu, ibu yang merayakan ulang tahun ke-50 malam itu mencium pipi suaminya. Semua tergelak. Tertawa.

Sebelum kue dipotong ada yang berbicara. Ada sanjungan. Ada pujian. Ada terima kasih.

Lilin sudah menyala sekitar 15 menit sebelumnya. Sebelum lilin makin meredup, lagu ulang tahun dinyanyikan bersama. Ada lima orang yang ulang tahunnya dirayakan karena lahir pada Maret ini. Satu per satu mereka memotong kue. Setelah itu mereka makan nasi kuning dengan mie goreng, telur rebus, dan ayam panggang yang masih hangat karena baru selesai dipanggang.

Selasa malam kemarin aku tak sengaja ke griya -semacam kumpulan rumah untuk bangsawan di Bali- tersebut. Awalnya karena janjian dengan teman untuk ngomong soal yayasan yang akan kami buat. Tapi teman itu ngajak ketemu di griya tersebut. Kebetulan pas ada Ngembak Geni -sehari setelah Nyepi- itu juga ada pesta ultah di griya tersebut. Aku ikut menikmati makan malam itu, juga kehangatan mereka.

Malam itu -sebatas yang aku lihat- semua bergembira. Padahal keluarga besar itu pernah melewati kepahitan yang luar biasa. Mereka pernah mengalami konflik karena ideologi partai. Salah satu tetua mereka hilang tak jelas di mana karena dianggap orang PKI. Setelah itu mereka hidup saling mencurigai.

Namun malam itu seperti tak ada lagi. Mungkin mereka sudah mengalami proses “rekonsiliasi” itu lama. Namun, kata temanku, perayaan malam itu adalah untuk pertama kalinya mereka semua bergembira seperti itu.

Persis di bawah meja kue ulang tahun itu tertulis semacam batu padas dengan tulisan, Taman 65. Tulisan itu untuk mengenang pahit getir yang terjadi pada 1965, masa di mana semua orang yang dianggap terlibat PKI harus dilenyapkan.

Bagi mereka kenangan itu bukan untuk dilupakan. Bukan untuk dikubur. Tapi harus diakui pernah ada. Dan jadi renungan.

Leave a comment

Filed under Bali, Daily Life, Keluarga, Pikiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s