Ketika Anggota DPR Niru Tukul

“Sekalian aja celana dalamnya dianggarkan negara,” kata istriku sinis pagi ini.

Komentar itu muncul begitu saja ketika kami membaca di koran bahwa anggota DPR minta laptop. Menurut koran pagi itu 550 anggota DPR masing-masing minta diberi laptop. Tiap satu laptop seharga Rp 22 juta. Total habis duit Rp 13,9 miliar. -Aku tidak ngitung sendiri apakah Rp 22 juta x 550 itu memang senilai Rp 13,9 miliar. Soale belum ngitung udah nek duluan. Pengen muntah. :))-

Dulu aku ikut milih pas Pemilu 2004. Jadi ya mereka juga wakilku dong meski aku ga tau pilihanku jadi anggoa DPR apa tidak. Alasanku waktu itu sederhana: diam toh tidak menjawab masalah negara ini. Tiap pilihan punya konsekuensi, termasuk gagal. Namun harapan itu jauh panggang dari api. Makin hari makin banyak hal yang gak beres dengan DPR kita.

Paling gres ya soal laptop itu. Ini usul yang bener-bener ngawur. Alasan mereka minta laptop untuk meningkatkan kinerja. Alamak. Dari mana logika itu. Bener-bener sableng!

Pertama, laptop hanya pemborosan. Saat ini di ruangan kerja tiap anggota DPR yang tidak mulia itu sudah ada komputer pribadi. Itu pun aku yakin tidak sepenuhnya dipake mereka. Gimana mau make, orang mereka lebih sering bolos dari pada masuk kantor.

Kedua, biaya pembelian laptop dibebankan pada negara. Ini lebih aneh lagi. Gaji mereka kan rata-rata di atas Rp 10 juta per bulan. Masa sih laptop saja harus dibeliin negara. Kalau memang mereka mikir kan seharusnya sebagian pendapatan itu disisihkan untuk mendukung kerja mereka. Bukan hanya mentang-mentang ada yang bisa membiayai lalu semuanya disuruh membiayai orang lain.

Ketiga, masa biaya pembelian laptop sampe Rp 22 juta per biji. Ini paling ngawur. Jelas-jelas aku baca di koran dengan duit Rp 5 juta aja udah dapet. Ya lima juta mungkin terlalu murah. Okelah. Cari yang seharga dua kali lipat dari itu: sepuluh juta. Aku baca iklan di koran ada laptop harga Rp 8,9 juta. Dengan harga segitu udah dapat merk HP dengan speisifikasi prosesor AMD turion, hard disk 120 GB, RAM 512, bluetooth, 5 in card reader, DVD combo, dst. Lalu kenapa sampai minta per laptop Rp 22 juta. Spek segitu jelas lebih dari cukup. Muntah-muntah malah. :)) Lalu mau beli laptop yg kayak apa dengan harga Rp 22 juta. Emang mau dipake nyimpen film bokep mereka kayak Yahya Zaini dan Maria Eva kemarin?

Karena logika anggota DPR yg gak beres itu, maka aku juga mikir dengan logika ngawur juga. Jangan-jangan mereka minta laptop hanya karena ngiri pada Tukul. Soalnya meski ga bisa make, Tukul bisa jadi tokoh yg populer dan identik karena laptopnya. Mungkin anggota DPR malu. Kalau Tukul –yang dianggap ndeso, dan dia dengan pintar memanfaatkan anggapan orang bahwa dia ndeso itu- saja bisa pakai laptop, masak anggota DPR tidak. Biar gak kalah keren, maka para anggota DPR itu kembali ke… LAPTOP! [***]

2 Comments

Filed under Aneka Rupa, Pikiran

2 responses to “Ketika Anggota DPR Niru Tukul

  1. herman

    Hahaha … laptop yang harganya segitu mah buat ngedit film sendiri, biar lebih profisional. Kalau pensiun bisa bikin production house sendiri.

  2. Anonymous

    eiitt.. jgn salah, laptop banyak gunanya:

    1. buat tatakan mie instan, pake piring aja khan panas

    2. sembunyi-in muka kalo ktiduran di meja

    3. ganjel meja kalo goyang2

    ini laptopnya belum idup aja udah banyak gunanya🙂 salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s