Taman 65, Ketika Rumah jadi Pusat Kebudayaan

-ini hasil ngobrol kemarin sama Termana alias Kingkong apa Lekong ya? he.he. aku kirim ke Jakarta Post. semoga dimuat besok. kalo ga besok, semoga Kamis depan. kalo ga dimuat juga, paling tidak aku muat sendiri di blog ini. :))-

Setelah melewati pintu utama, tiap orang yang masuk areal di daerah Denpasar timur tersebut, akan disambut lukisan. Sepanjang koridor itu lima lukisan dipajang. Dengan warna dominan merah, lukisan-lukisan itu langsung menyita perhatian. Namun lukisan-lukisan itu tidak tergantung di dinding galeri atau museum. Lukisan itu ditempelkan “hanya” di dinding rumah. Ya, bener-bener rumah tempat tinggal.

Lukisan berkarakter abstrak ekspresif maupun abstrak figuratif itu digantung di dinding samping dua rumah yang jarak satu sama lain sekitar dua meter. Dinding memanjang membentuk lorong sehingga pas benar untuk tempat menggelar pameran.

Tak hanya di dinding sepanjang lorong itu, tujuh karya lain juga di pajang di bagian lain rumah tersebut. Ada di dalam bale, ada di samping toilet, ada juga yang ditaruh begitu saja di sebelah taman.

“Kami sengaja berpameran di rumah untuk menolak adanya kelas dalam seni rupa,” kata Ngurah Termana, 28 tahun, penggagas pameran itu. Menurut Termana selama ini seni rupa hanya jadi isu middle class. Seni rupa telanjur elit dan eksklusif. Pameran lukisan lebih sering diadakan di galeri dan museum. Akibatnya seni rupa hanya isu sekelompok orang. “Jangankan ibu rumah tangga, kami pun malas melihat pameran lukisan di galeri,” katanya.

Termana ingin mengajak seni rupa kembali ke rumah. Sederhana saja. Dia ingin ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak juga bisa menikmati karya seni rupa. Maka, dia kemudian mengajak Putu Hardika, 24 tahun, untuk berpameran di jeroan (kompleks rumah khas Bali) di pinggir daerah Kesiman tersebut.

Komar, panggilan akrab pada Hardika, drop out kuliah dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Sehari-hari dia juga pemain gitar di band Ripper Clown. Komar yang senang melukis sejak SD sudah pernah menggelar pameran bersama di museum dan galeri. Dia juga menjual karyanya di art shop Semar Kuning Lodtunduh Ubud. Namun menggelar 12 karya di rumah adalah pengalaman pertamanya. “Asik. Rasanya lebih puas. Tidak bisa digambarkan,” katanya.

Pameran sejak dua minggu lalu itu akan diadakan selama sebulan. Meski diadakan di areal rumah, ada saja pengunjung yang datang melihat. Malah dua lukisan sudah laku dibeli tamu yang datang meski disumbangkan juga ke rumah tersebut.

Pameran lukisan hanya salah satu kegiatan di Jeroan Beng, kompleks rumah yang dihuni delapan kepala keluarga di tepi Jl WR Supratman Denpasar tersebut. Sehari-hari rumah itu dipenuhi berbagai kegiatan kebudayaan. Menurut Termana, alumni Jurusan Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, kegiatan itu dilakukan untuk menjadikan rumah sebagai pusat belajar kemanusiaan dan kebudayaan. Namun semua dilakukan dengan santai. Tak ada formalitas.

Selasa sore itu misalnya di taman di tengah rumah duduk delapan orang. Beralas tikar karet di samping bunga kamboja, mereka sedang asik membaca tulisan-tulisan anggota keluarga di rumah tersebut yang akan dimuat di Pelangi, majalah dinding keluarga. Tema tulisannya tentang pengalaman hobi masing-masing. Ada yang menulis tentang renang, ada pula tentang basket. Ketika asik ngobrol, dua gadis kecil di antara mereka membaca sajak. Keduanya tak terlihat malu-malu. Mereka percaya diri sekali.

Ngobrol santai itu sering diadakan di taman yang mereka sebut sebagai Taman 65. Nama itu ditulis di batu keramik di tengah taman. Nama Taman 65 diambil dari peristiwa pahit di mana ratusan ribu orang Bali dibunuh setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Salah satu tetua di rumah itu dibunuh karena dianggap terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dituduh melakukan gerakan tersebut. Taman 65 dibangun untuk mengenang peristiwa itu, sekaligus sebagai bahan pelajaran tentang kebudayaan dan kemanusiaan.

Sejak sekitar Juni 2005, dibuatlah berbagai kegiatan yang mungkin tak biasa dilakukan di rumah lain di Bali maupun di Indonesia. Di rumah itu diadakan nonton film bersama, pameran lukisan, diskusi, pentas musik, belajar menulis, kursus bahasa Inggris, dan majalah dinding. Pesertanya semua penghuni rumah mulai balita hingga nenek-nenek yang berjalan pun tertatih karena umur yang uzur.

Namun mereka juga mengundang pihak lain untuk terlibat. “Karena kegiatan itu juga untuk tempat kami belajar berbagi dengan orang lain. Bukankah apa yang kita punya harus kita bagi dengan orang lain,” ujar Termana.

Ketika mereka mengadakan kegiatan Kertasku Untukmu tahun lalu misalnya mereka melibatkan pedagang lumpia, penjaga toko, hingga nenek di panti jompo. Kegiatan itu berupa pemberian kertas putih kosong untuk tempat menggambar sketsa. “Jadinya luar biasa. Ada yang menggambar sketsa tentang keprihatinan karena harga BBM naik. Ada yang menggambar bagaimana perempuan Bali selalu jadi objek penderita. Ada pula yang menggambar tekanan hidup akibat bersikap berbeda dengan lingkungannya. Dari sketsa itu ternyata kami bisa saling belajar pengalaman orang lain,” kata Termana.

Namun, beberapa anggota keluarga di jeroan itu sempat menentang kegiatan-kegiatan tersebut. Pada pameran pertama dua tahun lalu, ibu-ibu di rumah itu menolak adanya salah satu lukisan yang dianggap terlalu porno. Pernah pula ada karya lukis yang diturunkan dan dirusak anggota keluarga lain karena dianggap tidak menghormati tempat suci. “Mereka menganggap lukisan itu membuat rumah leteh (kotor). Tapi setelah kami ngobrol, mereka bisa mengerti. Bahkan sepakat dengan lukisan tersebut. Artinya dialog tetap penting untuk menihilkan kesalah-pahaman,” lanjut Termana.

Dialog-dialog itu memang selalu terjadi ketika ada kegiatan. Tak hanya untuk saling mengerti tapi juga belajar tentang masa lalu.
Toh, bukan berarti hal-hal “serius” saja yang dilakukan di rumah tersebut. Sehari setelah Nyepi lalu mereka juga mengadakan perayaan ulang tahun bersama di Taman 65. Sekitar 30 orang dari bayi yang digendong hingga nenek-nenek berkumpul mengelilingi lilin yang kemudian ditiup lima orang yang ulang tahun. Mereka lalu saling bercanda dan makan bersama. Suasananya sangat hangat.

Tiap Sabtu sore, ibu-ibu di rumah itu juga senam aerobik bersama. Sabtu depan mereka akan belajar tentang “Bagaimana merawat gigi yang benar?”. Pesertanya harus membawa sikat gigi. Anda tertarik ikut? Silakan datang. Gratis, kok. [***]

2 Comments

Filed under Bali, Keluarga

2 responses to “Taman 65, Ketika Rumah jadi Pusat Kebudayaan

  1. Anonymous

    Taman 65 tetap jaya. Rindu sajaan dot mulih puk. Uli dua jam yang lalu tiyang ngalih-ngalih sing bakat kenken carane ngirim tulisan mai. Pokoknya kalian tenang saja, kita di sini sudah semakin sehat dan otot kita membesar. Bukan karena gym atau ikut tarung derajat tapi karena salju. Bilang lemeng nedas salju ditambah nganti popok. Otot sudah pasti membesar dan gawatnya otak yang mengecil. Kangwang monto malu nah, tiyang kel nganti popok. Gung Tra

  2. Anonymous

    Merumahkan sejarah

    Setiap rumah selalu punya sejarah, tapi tiap sejarah belum tentu punya rumah karena “sejarah” selama ini hanya “dirumahkan” pada istana, puri dan keraton. Ketika sejarah dirumahkan dia tidak lagi bercerita tentang keharuman nama klan, suku dan kelurga. Justru sebaliknya menyimpan kebusukan,saling jegal, tipu daya masing masing penghuninya. Inilah pemebelajaran pahit yang mesti disimak agar tidak diulanggi esok hari,kini dan nanti.

    Mogi-mogi.
    Ajin Kubil
    Pengkaji mako separatis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s