Selalu Ada Gelap di Silaunya Terang

Pernahkah kita berpikir bahwa apa yang kita pakai, apa yang kita makan, atau apa yang kita lihat sehari-hari tidaklah sesederhana adanya?

Pertanyaan itu muncul setelah aku nonton Blood Diamond yang menceritakan bagaimana ironi sebuah permata yang berkilau itu ternyata lahir oleh perang tak berkesudahan dan perjuangan berdarah-darah. Ketika permata itu telah ada di tangan konsumen mereka tak pernah berpikir tentang itu semua. Permata adalah kemewahan. Begitu menyilaukan hingga orang tidak sempat berpikir tentang darah yang mengalir di baliknya.

Permata di Sierra Leon Afrika ditambang oleh tentara pemberontak untuk membiayai perlawanan mereka pada pemerintah. Solomon Vandy salah seorang yang dipaksa bekerja mencari tambang itu. Ketika dia menemukan permata sebesar jempol kaki, itulah permata terbesar yang pernah ditemukan dalam sejarah tambang permata setempat. Solomon menyembunyikan permata itu namun ketahuan salah satu penjaga.

Ketika penjaga itu hendak mengambilnya, muncul pasukan pemerintah mengepung tempat pertambangan tersebut. Sebagian besar mati, termasuk penjaga yang akan mengambil permata sebesar jempol tersebut. Solomon masih sempat mengubur kembali permata itu sebelum berlari.

Namun kabar ditemukannya permata sebesar jempol itu sudah menyebar, termasuk ke Danny Archer, anggota tentara yang bertugas mencari permata untuk dijual ke London dan membiayai tentara.

Danny bertemu Solomon. Mereka berdua lalu mencari kembali permata itu. Perjalanan ini yang penuh ironi. Solomon bertemu anaknya, Danny Vandy, yang direkrut sebagai tentara pemberontak bersama ribuan tentara anak lain. Endingnya? Ah, kayak aku bikin resensi soal film aja. He.he.

Ironi permata di Blood Diamond adalah ironi kita semua. Tentang barang-barang berkilau yang mungkin lahir akibat perang berdarah-darah. Bensin yang kita pakai mengisi motor atau mobil tidak nongol begitu saja. Dia mungkin diambil dari tempat dimana ada nelayan yang dirugikan. Nasi yang kita makan mungkin dihasilkan perusahaan besar yang harus menyingkirkan petani kecil. Sepatu yang kita pakai mungkin hasil kerja anak di bawah umur yang seharusnya menikmati masa kecil mereka tanpa harus dipaksa bekerja.

Dan kita tidak pernah berpikir tentang itu semua. Kita hanya menikmatinya..

1 Comment

Filed under Aneka Rupa, Pikiran

One response to “Selalu Ada Gelap di Silaunya Terang

  1. lely lee

    syangnya kbanyakan dri qta blom bisa ‘melihat’ hal-hal yg da d sekitar qta. butuh kesadaran bwt smua tu..

    ptnyaannya kpan ksadaran tu muncul?
    pa mzti nunggu smpe kntrak mw abiz…hmm..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s