Nasi Goreng Organik Rasa Bayar

Wah, lama juga tidak posting apa pun ke blogku setelah soal profesor yang disensor. He.he Kali ini soal liputan di Batukaru saja lah. Meski udah lewat, teep saja harus disimpan. Suatu saat pasti ada gunanya.

Liputan ke pegunungan Batukaru, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan, sekitar 70 km barat daya Denpasar, ku lakukan Rabu minggu lalu. Liputan ini untuk menambahi artikel tentang Subak di SALAM yang ditulis DNK Widnyana. Tulisan staf Pengairan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bangli itu terlalu teoritis. Ketika aku telepon untuk menambahi artiel dengan kisah nyata, dia bilang tidak ada waktu. Selain itu, menurutnya, kemauan redaksi SALAM agak berbeda dengan maunya dia.

Maka, dengan senang hati aku liputan ke Batukaru karena di tempat ini petaninya pakai pertanian organik. Sepertinya menarik. Juga, capek dan bosan duduk di belakang meja terus. Liputan begini membuat spirit jurnalismeku menyala-nyala lagi. Cailah!

Setelah sekitar 1,5 jam perjalanan dari Denpasar dengan jalan menanjak dan berliku, sampai juga aku di desa sejuk ini. Liputan di Subak Cari Tangis, persisnya di sawah Gede Hanjaya yang merintis pertanian organik sejak 1998 lalu. Melihat De Han, aku kok jadi inget banget sama Ngurah Gembrong yang sekarang bertani juga di Plaga. Mereka mirip banget gaya ngomongnya.

Hal menarik dari liputan ini adalah betapa pertanian organik memberi ruang untuk kehidupan itu sendiri. Ah, dalam banget filosofinya. Tapi ini memang kenyataan yang bisa kulihat sendiri. De Han menanam padi di sekitar 60 are sawah miliknya. Menurut De Han, kita tidak perlu membunuh tikus dan belalang gara-gara hama itu merusak padi. “Biarkan saja. Nanti juga ada elang dan ular yang makan tikus. Belalang cukup dialihkan perhatiannya dengan kepiting sawah. Kita tidak perlu membunuh jatah hidup makhluk lain,” kata De Han.

Maka De Han tidak terlalu risau ketika sebagian lahannya dimakan tikus. Juga belalang ada di sebagian padinya. Bagi De Han belalang dan tikus juga berhak memakan apa yang ditanamnya. Buktinya, hasil pertanian organik De Han toh tidak berkurang. Malah naik dua kali lipat dibanding masih bertani anorganik.

Mungkin kesadaran bahwa makhluk hidup lain berhak memakan apa yang ditanam De Han itu pula yang membuatnya mempersilakan aku makan siang di restoran organiknya di pinggir sawah.🙂 Maka, setelah selesai wawancara dan liputan, dan tentu saja perut suadh keroncongan, aku pun melahap sepiring nasi goreng organik itu. Makan di pinggir sawah dengan gemeiricik suara air di sebelahku, wah, ini nuansa yang susah ditemukan. Apalagi makannya tidak usah bayar. Aduh, nikmatnya gak ketulungan.🙂

Nasi goreng organik itu rasanya rasa bayar. Maksude ora usah bayar. He.he. [+++]

1 Comment

Filed under Aneka Rupa, Bali, Pekerjaan

One response to “Nasi Goreng Organik Rasa Bayar

  1. Anonymous

    Wow, Ton…
    asikya perjalanan itu…
    sawah, sungai, restoran tepi sawah, duh senenity banget. peaceful and tranquil..

    Anton, kangen bali nih!

    Dont you think Bali and and other parts of our country are paradises. That’s what I feel. We have ricefields, mountains, forests, rivers, beaches, and hospitality…

    And De Han, pretty difficult to find this character, today. In this 21st century, you still find this kind of lenient principle. He’s so generous…

    and organic agriculture, is a great issue has been spreading in many developed countries, since the last decade…

    and I think we have to bear this issue, saving the earth through environmental friendly approaches in our agriculture.

    save the planet!
    MI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s