Monthly Archives: June 2007

Merayakan Galungan dengan Jotan

Saya baru selesai sholat maghrib ketika pintu gerbang rumah seperti digeser orang. Kamar tempat saya sholat sekitar 10 meter dari pintu dari besi itu. Jadi saya bisa mendengar jelas ketika ada orang masuk rumah.

Saya keluar kamar. Dadong Devita mengetuk pintu. Dadong adalah sebutan untuk nenek di Bali. Devita mengacu pada nama cucunya.

Saya membuka pintu. Dadong masuk membawa sekeranjang buah dan kue. Ada apel, pir, pisang, jeruk, dan rambutan. Kuenya ada begina semacam kerupuk, jaja uli, tape ketan, dan krupuk melinjo.

Sekitar 15 menit sebelumnya, Gede, Bu Wayan, dan Made membawa kue dan buah yang sama. Buah dan kue di meja makan kami semakin penuh ketika Bu Mega juga membawa roti ke rumah malam itu.

Rumah kami di gang kecil pinggiran Denpasar utara. Sepanjang sekitar 50 meter gang itu tinggal aneka rupa keluarga dan berbeda agama.

Di ujung gang, persis di pinggir sungai, Bu Jeani dan Pak Anton tinggal bersama tiga anak mereka Jeani, William, dan Andrew. Pasangan ini beda agama. Bu Jeani muslim asli Padang. Pak Anton Katolik asli Timor Timur, yang kemudian jadi Timor Leste, dan kini warga Denpasar.

Keluarga saya sendiri muslim. Kami sekuler. Tidak ada tanda apa pun yang identik dengan agama apa pun di rumah kami. Bagi kami agama biarlah jadi urusan kami. Bukan untuk diperlihatkan pada orang lain. Istri saya orang Bali dan jadi muallaf ketika menikah dengan saya. Cerita ini sama dengan tetangga kami, Pak Sutir dan Bu Risma, yang kini punya dua anak.

Selebihnya, selain tiga keluarga itu, delapan keluarga lain beragama Hindu. Dan, besok tetangga-tetangga kami ini merayakan Galungan. Tapi, meski tidak beragama Hindu, kami ikut merayakan. Ya, lewat buah dan kue yang dibawa ke rumah kami petang tadi.

Tradisi membawa kue dan buah menjelang hari raya itu disebut ngejot. Tidak hanya menjelang Galungan tapi juga pada upacara lain seperti pernikahan, otonan (peringatan hari lahir), dan seterusnya. Ngejot sebenarnya biasa dilakukan pada tiap tetangga tanpa melihat agama atau suku apa pun. Namun karena tetangga yang Hindu juga merayakan, dan berarti punya buah dan kue yang sama, jadilah ngejot ini lebih banyak untuk yang beragama lain.

Tapi ini tidak mutlak. Kadang-kadang yang sama-sama merayakan Galungan pun berbagi kue atau buah terutama kue yang tidak mereka punyai. Misalnya memberi kue bolu pada tetangga yang tidak punya.

Ngejot, bagi saya, adalah wujud dari toleransi antar-tetangga. Bhinneka Tunggal Ika, kata Mpu Prapanca. Ini kalau dilihat dari perspektif agama. Tapi ngejot bisa juga adalah praktik dari sosialisme. Bukan sosialisme ideologis yang agak berat ala Hugo Chavez, Evo Morales, dan seterusnya, tapi cukup sosialisme sebagai praktik bertetangga, saling membagi apa yang kami punya.

Karena itu ngejot tidak melulu milik orang Hindu. Ketika merayakan lebaran Oktober tahun lalu, kami pun ngejot dengan membagi kue lebaran. Tidak hanya pada tetangga tapi juga pada keluarga di Padangsambian, Oongan, Jl Kenyeri, dan tentu saja mertua di Jl Banteng.

Ketika Natal pun kami mendapat jotan berupa nasi kotak dari Pak Anton, tetangga kami yang juga pegawai negeri tersebut.

Bagi sebagian orang mungkin ini terlalu romantik. Memang ada ketegangan-ketegangan hubungan antar warga akibat perbedaan itu. Namun ngejot bisa jadi salah satu upaya untuk mengingatkan warga bahwa kami bisa saling menghargai dan mengormati di antara perbedaan itu. Ngejot juga perlu terus dibiasakan karena ini soal perut juga. Kalau sudah tentang makanan kan paling gampang untuk mengajak orang.

Selain itu ngejot juga perlu diajarkan pada anak-anak. Biar mereka tidak salah paham lalu bilang, “Awas ada suster ngejot..” Eh, itu suster ngesot ya. he.he [+++]

Leave a comment

Filed under Bali, Keluarga, Pikiran

Aku Ingin Membunuh Pikiranku!

Tiga hari lalu, aku terbangun dengan satu pikiran sangat jelas: AKU INGIN MEMBUNUH PIKIRANKU!

Lalu, pagi ini, aku masih ingin melakukannya. Aku mulai capek dengan sekian banyak pikiran, ide, yang begitu riuh di otakku.

1 Comment

Filed under Daily Life, Pikiran

Awas Tertipu Warung Nusa Lembongan

Ketika keluar dari kantor di daerah Yangbatu, Denpasar, saya sebenarnya berpikir untuk makan soto ayam di Jl Teuku Umar. Lama tidak makan di sana. Mendung dan sesekali gerimis sejak pagi membuat saya ingin menikmati makan siang dengan kuah hangat. Hmm, sepertinya pas untuk mengusir dingin.

Tapi begitu keluar dari Jl Letda Kajeng masuk Jl Cok Agung Tresna, saya mulai merasa terlalu jauh makan di Jl Teuku Umar. Otak saya bergerak. “Makan apa ya yang kira-kira berkuah hangat, ada di daerah Renon, dan bisa dinikmati dengan cepat?” Continue reading

2 Comments

Filed under Aneka Rupa, Bali, Daily Life

Bali Shanti Shanti Shanti

Di lapangan rumput Renon Denpasar, dengan cahaya temaram ketika gelap merayap, sekitar pukul 18.30 Wita, Kepala Dinas Pariwisata Bali Gede Nurjaya menjelaskan peluncuran merk dagang –bahasa kerennya brand, yang artinya sama saja: merk- pada wartawan. Nurjaya berdiri sambil sesekali menunjuk ke layar putih memperlihatkan merk dagang baru itu. Di samping mantan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemprov Bali itu berdiri sebagian anggota tim yang merumuskan merk tersebut.

Wartawan duduk lesehan melihat agak mendongak bergantian, ke Nurjaya, ke layar putih itu. Puluhan pengunjung lapangan Renon petang itu berdiri di belakang wartawan ikut melihat bagaimana merk baru yang dikerjakan sejak akhir 2006 tersebut. Continue reading

1 Comment

Filed under Bali, Pikiran

Media Watch untuk Demokratisasi Media

-ini sebagian notulensinya-

Focus Grop Discussion
Penguatan Media Watch untuk Mendukung Demokratisasi Media
Kemitraan – LSPP Jakarta – LeSPI Semarang
Hotel Horison Semarang, 12 Juni 2007

Hari – LSPP
Kodisi media di Indonesia saat ini secara kuantitas memang ada penambahan. Tapi ada masalah dengan kualitas.

Triyono – Komunikasi Undip
Pasar lebih dominan dan negara mengalami kemerosotan. Masyarakat hanya sebagai pembeli, bukan sebagai entitas yang punya peran. Parahnya lagi ada swastanisasi lembaga penyiaran publik. Continue reading

Leave a comment

Filed under Jurnalisme, Pekerjaan, Pikiran

Garuda, Biar Telat Asal Selamat

Garuda mungkin berprinsip alon-alon waton kelakon alias biar (ter)lambat asal selamat. Masalahnya aku yang kemudian jadi korban.

Satu jam lebih sebelum waktu terakhir, aku sudah check in di counter Garuda Bandara Ahmad Yani Semarang. Aku salah hitung. Aku pikir pesawat akan terbang 17.30 WIB. Ternyata terbangnya 18.30 WIB. Pas aku check in, pegawai di bagian check ini dengan santai bilang, “Pesawat ditunda 30 menit, Pak.” Aku lihat di boarding pass memang ternyata pesawat akan berangkat pukul 18.50 WIB dari yang awalnya 18.30 WIB. Yowis, mau apa lagi. Tunggu saja sampai waktunya tiba. Continue reading

Leave a comment

Filed under Aneka Rupa, Pekerjaan, Pikiran

Repotnya Pergi ke Semarang

Minggu malem, sekitar pukul 8, pas aku lagi santai dengan anak istri ada SMS masuk ke ponselku. “Mas, sudah terima undangan LeSPI belum?” Kurang lebih begitu isi SMS dari nomor Mas Wisnu, LeSPI Semarang. Aku jawab belum cek imel sejak Jumat sore. Kata Mas Wisnu, LeSPI ngundang Sloka Institute ikut focus group discussion (FGD) soal media watch di Semarang Selasa ini. Undangannya mendadak banget.

Parthership yang ngadain diskusi itu. Undangan ke LeSPI baru dikirim Kamis. Jadi, menurut Mas Wisnu, undangan itu baru bisa dikirim Jumat sore. Aduh, kok suka banget sih Partnership ini ngadain kegiatan mepet-mepet. :(( Continue reading

2 Comments

Filed under Aneka Rupa, Pekerjaan

Di Belakang Meja yang Membosankan

Sekitar 30 menit menjelang pulang kerja pukul lima sore, Bu Yuli, Office Manager kantor tanya ke aku, “Gimana kesan dan pesannya satu bulan kerja di sini, Mas?”

“Membosankan,” kataku spontan. Bu Yuli diam. Dalam hati aku langsung tidak enak hati. “Soalnya di belakang meja terus. Biasanya kan di lapangan tidak jelas,” lanjutku. Continue reading

Leave a comment

Filed under Daily Life, Pekerjaan, Pikiran

Oleh-oleh Perjalanan Mendadak ke Karangasem

Pertama-tama, Selamat Hari Lingkungan Sedunia. Banyak agenda menarik sebenarnya hari ini. Iwan, teman di WWF, mengajak ke Taman Nasional Bali Barat untuk kegiatan underwater clean up di sekitar Pulau Menjangan. Menariknya lagi ada pecaruan dan pekelem, ritual pembersihan lingkungan. Sepertinya menarik kalau ikut ke sana. Lama juga aku tidak ke sana. Menikmati terumbu Pulau Menjangan dan –hmmmm- ayam betutu Gilimanuk. Agenda lain, Aik Walhi tadi juga SMS ngasih tahu ada aksi damai di Lapangan Renon. Sepertinya asik juga.

But, semua undangan harus diabaikan. Ini Selasa, hari untuk kerja di VECO. Biasalah Senin, Selasa, Rabu full day dari pukul 8 sampai 5 sore aku harus jadi anak manis yang duduk di belakang meja.he.he. Kalau tidak ada agenda penting banget, aku harus masuk kantor. Continue reading

Leave a comment

Filed under Bali, Pekerjaan, Pikiran

Kepala Garuda Bisa Jadi Penanda

Pas lagi duduk di ruang tamu sama istri, aku melihat tas handphone di stang sepeda Bani, anak kami. Di tas kecil dari kain itu aku lihat gambar gajah. Aku langsung tahu kalau tas itu dari Thailand. Eh, ternyata bener.

“Itu untuk pemred. Kalau untuk yang lain cukup pembatas buku,” kata Lode, istriku. Tas itu diberi Ike yang ke Thailand Maret lalu. Ike wartawan Kulkul, tempat istriku kerja jadi Pemimpin Redaksi. Continue reading

1 Comment

Filed under Daily Life, Keluarga, Pikiran, Uncategorized