Bali Shanti Shanti Shanti

Di lapangan rumput Renon Denpasar, dengan cahaya temaram ketika gelap merayap, sekitar pukul 18.30 Wita, Kepala Dinas Pariwisata Bali Gede Nurjaya menjelaskan peluncuran merk dagang –bahasa kerennya brand, yang artinya sama saja: merk- pada wartawan. Nurjaya berdiri sambil sesekali menunjuk ke layar putih memperlihatkan merk dagang baru itu. Di samping mantan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemprov Bali itu berdiri sebagian anggota tim yang merumuskan merk tersebut.

Wartawan duduk lesehan melihat agak mendongak bergantian, ke Nurjaya, ke layar putih itu. Puluhan pengunjung lapangan Renon petang itu berdiri di belakang wartawan ikut melihat bagaimana merk baru yang dikerjakan sejak akhir 2006 tersebut.

Sebelumnya, sekitar pukul 15.30 Wita, bersamaan dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-29 Sabtu (16/6) lalu Gubernur Bali Dewa Made Beratha meluncurkan merk dagang Bali sebagai tempat tujuan pariwisata. Merk dagang Bali itu berupa tulisan Bali dalam dengan latar belakang ukiran Bali berbentuk segi tiga. Di bawah tulisan Bali itu berisi tulisan Shanti Shanti Shanti.

Peluncuran oleh Gubernur Bali itu disaksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang hari itu juga membuka PKB dengan pukulan kulkul lalu diikuti tepuk tangan ribuan orang di Jl Raya Puputan Renon Denpasar.

Dalam penjelasannya Gede Nurjaya mengatakan bahwa merk dagang Bali itu akhirnya dibuat secara resmi setelah selama ini julukan pada Bali lebih banyak diberikan oleh orang luar, terutama turis. Misalnya sebutan Bali oleh Jawahral Nehru sebagai tempat matahari terbit –atau semacam itulah- atau Bali sebagai Pulau Seribu Ruko –eh, Seribu Pura-, atau Bali Island of Gods dan seterusnya. “Brand kali ini adalah yang resmi dibuat oleh pemerintah Bali,” kata Nurjaya.

Meski tidak tersurat, merk dagang baru itu mungkin dibuat untuk menandingi gencarnya pesaing Bali sebagai tempat pariwisata mengidentifikasi diri seperti Malaysia menyebut diri sebagai Truly Asia atau Singapura dengan Uniqely Singapore dan seterusnya.

Merk dagang Bali itu sendiri konsepnya menekankan pada tradisi, budaya, dan agama Hindu yang begitu melekat pada Bali. Maka nuansa tradisi, budaya, dan agama itu sangat terasa mulai dari warna, desain, hingga motifnya. Merk itu didominasi merah dengan paduan hitam dan putih yang dikenal di Bali sebagai Tridatu. Sedangkan bentuk segi tiga sebagai pelaksanaan konsep Tri Hita Karana atau tiga hal untuk menjaga keharmonisan alam yaitu hubungan dengan Tuhan, manusia, dan alam.

Munculnya merk tersebut melalui proses panjang. Hartono, salah satu anggota tim perumus mengatakn selama tiga bulan awal, tim melakukan riset dan wawancara mendalam tentang apa sih ciri khas Bali. Wawancara itu dilakukan dengan berbagai kelompok dari kalangan pariwisata, pemuka agama, gubernur dan calon gubernur, bupati, seniman, wartawan, dan banyak lagi. Dari situ muncullah adat, budaya, dan agama Hindu sebagai sesuatu yang sangat khas Bali.

Hasil riset ini kemudian divisualisasikan. Didapatlah merk yang kemudian diluncurkan petang itu. Menurut Hartono, diferensiansi alas pembedaan dari merk dagang pesaing, katakanlah Malaysia, Singapura, dan Thailand memang jadi alasah kenapa merk dagang Bali itu sangat old fashion.

Merk dagang old fashion itu menggabungkan empat hal utama yaitu visual, font, warna, dan tagline. Segi tiga adalah lambang keseimbangan mulai tiga dewa penguasa alam, tiga tingkatan alam, maupun tiga tingkatan hidup. Motif ukiran mewakili keseimbangan (lagi) sekaligus menggambarkan kreativitas orang Bali. Tulisan Bali mengadopsi bentuk dan garis khas aksara Bali dengan huruf B mirip angka 3 dan mirip aksara Ang. Warna ya itu tadi Tridatu sebagai representasi Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Adapun tagline Shanti Shanti Shanti bermakna permohonan agar damai selalu.

Perencanaan, konsep, dan filosofi yang begitu dalam itu ternyata agak susah terjemahkan melalui merk dagang itu. Sekali lagi: bentuknya sangat konservatif.

Filosofi Tri Hita Karana, kedamaian, dan seterusnya itu kan tidak harus divisualisasikan dalam bentuk yang tua begitu. Tidak ada modernitas yang terlihat dalam merk dagang itu. Teguh Mahasari, anggota tim pembuatan pun mengiyakan bahwa memang tidak ada modernitas dalam merk dagang itu. Keunikan Bali kan sebenarnya pada kemampuannya untuk menyerap modernitas itu tanpa harus meninggalkan tradisi. Lihatlah punker di Bali yang masih rajin sembahyang atau ahli teknologi informasi yang masih rajin mebanten di atas komputernya.

Sayangnya anak-anak muda seperti ini tidak mendapat tempat dalam pembuatan merk dagang itu. Kalau orang seperti Rudolf Dethu, Popo Danes, Jango Paramartha, atau anak-anak muda yang mengerti desain dilibatkan mungkin merk dagang itu akan lebih keren. Tag line Shanti misalnya bisa saja tetap muncul –tidak usah tiga kali. Tapi akan menarik kalau kata-kata itu bisa bertemu dengan kata-kata Inggris –yang sudah pasti adalah bahasa universal.

Kalau ini yang muncul, mungkin merk dagang itu akan lebih menarik orang. Sayangnya sih itu menarik buat turis, bukan untuk orang Bali sendiri. [+++]

1 Comment

Filed under Bali, Pikiran

One response to “Bali Shanti Shanti Shanti

  1. Maaf ya, mungkin komentarnya sudah agak basi karena sudah lama.
    Kebetulan company tempat saya bekerja adalah konsultan dari pihak pemerintah Bali.
    Mengenai logo brand Bali, yang mengerjakan adalah designer-designer muda berbakat yang juga terlibat dalam riset, dan memahami sekali, bahwa logo dari brand, bukanlah logo keren-kerenan, tetapi harus mencerminkan esensi dari brand tersebut. Juga sudah dilakukan riset mengenai berbagai logo dari negara-negara di seluruh dunia, maka dipilih sesuatu yang tidak generik.
    Sedangkan pemilihan tagline, memang Shanti Shanti Shanti karena itu ada makna filosofisnya, anda sebagai orang Bali tentu lebih tahu.
    Mengapa tidak dipilih bahasa Inggris, karena tagline semacam ini sudah sangat generik, Uniquely Singapore, Truly Asia, The Land of Aloha, you name it …., ingat bahwa brand itu harus unik dan eye catching.
    Ini mempertimbangkan juga trend global yang justru sekarang kecenderungannya suka segala sesuatu yang berbau ketimuran dan eksotis.
    Jadi tujuan nya memang dua, merepresentasikan nilai-nilai yang ada di Bali sekaligus juga menarik target marketnya.
    Tapi tentu saja, kita tidak bisa memuaskan semua orang, jadi kalau anda menganggap ini tidak menarik, ya itu hak anda. Berbeda pendapat itu perlu, dan terima kasih atas masukannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s