Bayar Murah, Pelayanan Tak Ramah

Setelah terus ngeles dari istri, akhirnya malam ini aku ke dokter. Dengan bersweater untuk menutup dingin udara malam itu –alah, ini kayak bikin puisi- aku ke rumah sakit tak jauh dari rumah, dan pasti murah meriah: Bhakti Rahayu.

Batukku makin menjadi. Sudah tiga mingguan ini batuk tak sembuh-sembuh. Padahal sudah minum obat. Pernah sih berhenti sebentar. Tapi Kamis pekan lalu mendadak kumat. Malah badanku panas. Kepala juga pusing banget.

Seperti biasa, obat terbaikku adalah tidur. Bener juga. Esok pagi badanku sudah baikan. Tapi pagi itu mulai terasa ada yang tidak beres dengan tenggorokanku. Aku sadar diri. Kalau begini aku pasti kena radang tenggorokan. Dan, benar saja. Batuk itu makin lama makin parah. Suaranya sampai grok, grok, grok. Ih, jelek banget pokoknya.

Kalau ke dokter sih biasanya dibilang, “Anda perlu istirahat yang cukup. Pasti nanti juga sembuh.” Setelah itu diberi antibiotik. Makanya aku pikir tidak perlu ke dokter. Cukuplah istirahat dan minum obat Laserin yang terasa semriwing. Eh, sampai obatnya habis batukku gak sembuh juga.

Maka, jadilah malam ini aku duduk manis di kursi kayu untuk menunggu. Setelah hampir satu jam, giliranku tiba juga.

“Kenapa, Pak?” tanya bu dokter itu.

“Batuk, Bu. Sudah hampir tiga minggu tidak sembuh,” jawabku.

“Coba periksa dulu.”

Aku lalu berbaring di kasur kecil itu. Perawat datang memeriksa tekanan darahku. “Satu satu tujuh,” katanya. Karena aku memang orang kuper, jadi ya tidak tahu apa maksud 117 itu. Kali itu ukuran normal. Buktinya reaksi dokter biasa saja.

Dokter alu menyuruhku buka mulut. Dengan agak malu, karena gigi kuning dan penuh karang terjal, aku membuka mulut lebar-lebar. Dokter mengarahkan senter ke dalam mulut yang menganga seperti singa itu. Entah apa yang dicarinya. Sebab, setelah itu dia juga tidak memberi tahu apapun.

Aku sebenarnya berharap dokter itu akan bicara tentang sesuatu yang sebenarnya aku sudah tahu tidak akan jauh-jauh dari cerita dokter lain. Bukankah aku bayar memang untuk dilayani dia. Maksudku, aku ke sana memang untuk periksa kesehatan dan akan ada yang meyakinkan kalau aku memang tidak sehat.

But, aku lihat dia tidak berniat berbicara. Dia hanya menulis sesuatu di kertas resep. Obat apa yang diresepkannya aku juga tidak tahu.

Tak tahan lagi aku lalu tanya tentang hasil pemeriksaan itu. Isinya memang tidak jauh beda dari yang kuduga. Tapi sebel saja. Masa kalau tidak tanya dia tidak akan ngasi tahu tentang apa hasil pemeriksaannya tadi.

Menurutku sih dokter itu seharusnya lebih aktif. Misalnya begini, “Oh, kondisi bapak bla-bla-bla dari yang normalnya bla-bla-bla-.. Itu karena bla-bla-bla-. Jadi sebaiknya bapak bla-bla-bla. Ini saya akan kasih obat bla-bla-bla-. Dan seterusnya.”

Jadi, sebagai pasien kita tuh merasa nyaman berobat. [+++]

Leave a comment

Filed under Aneka Rupa, Bali, Keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s