Jurnalisme Warga adalah Jawabannya

Siang ini kami berdiskusi di kantor Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali di Jl Melati Denpasar. Ada sekitar –aduh, kok lupa ngitung ya?- 15 orang yang datang. Kecuali dua project officer (PO) KPA Bali, semuanya alumni Klinik Jurnalistik, pelatihan jurnalistik bagi aktivis penanggulangan AIDS di Bali.

KJ sudah diadakan dua kali pada Agustus tahun lalu dan April tahun ini. Tujuannya melatih kemampuan dasar jurnalistik bagi mereka agar lebih mudah menyampaikan isu-isu HIV/AIDS lewat media. Aku sendiri bantu mendesain pelatihan sekaligus fasilitator. Ketika pelatihan sih pada semangat. Meski ngerjain tugas sampai dini hari, mereka masih juga semangat.

But, ketika pelatihan sudah usai, tidak banyak yang masih intens nulis. Memang sih ada beberapa alumni KJ, begitu sebutan bagi mereka, yang rajin banget menulis. Namun pada umumnya kurang menggembirakan. Nulisnya pun selama ini lebih banyak berupa opini.

Nah, diskusi siang tadi itu untuk tahu: kenapa jarang yang rajin menulis?

Ada yang bilang karena takut tulisannya jelek. Ada yang bilang tema yang ditulis hanya masalah sepele. Ada yang bilang bukan penulis profesional. Dan seterusnya. Paling penting adalah: mau nulis untuk dimuat di mana?

Sebelumnya sih enak karena ada program kampanye penanggulangan HIV/AIDS di media cetak bernama Lentera. Tapi sejak Juli ini program KPA Bali itu berhenti.

So, dengan PD aku bilang, “Mari menulis untuk http://www.balebengong.net..” Ya, bagiku balebengong sebagai rintisan jurnalisme warga memang memberi jawaban atas semua masalah alumni KJ.

Alasan pertama, tulisan jelek. No problem. Balebengong memberi tempat untuk semua tulisan. Mau jelek mau bagus. Asal ditulis berdasarkan fakta, tulisan sejelek apapun akan tetap dimuat. Lagian jelek bagus kan relatif. Jadi ya tergantung pembaca juga, bukan hanya tergantung penulis untuk menilainya.

Kedua, masalah sepele. Tidak apa-apa. Jurnalisme warga justru untuk memberi tempat untuk masalah-masalah sepele yang tidak mungkin diliput apalagi ditulis media umum seperti koran, TV, radio, dan seterusnya.

Ketiga, bukan penulis profesional. That’s ok. Di zaman yang makin tidak jelas batasnya ini, menulis bukan lagi monopoli wartawan dan penulis. Siapa pun yang berminat bisa menulis dan mempublikasikannya untuk banyak orang. Teknologi sudah memberi tempat untuk itu semua. Tinggal kita hanya mau diam tergilas olehnya atau menghadapi dan menggunakan sebaik-baiknya.. [+++]

Leave a comment

Filed under Blogging, Jurnalisme, Pekerjaan, Pikiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s