Kerajaan Media Bali Post

Catatan: Laporan ini adalah bahan yang aku kumpulkan untuk buku Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) tentang peta media di Bali.

Media Cetak
Meski keran demokratisasi media telah dibuka, nyatanya bisnis media di Bali tetap saja dikuasai empat pemain utama: Bali Post Group, Radar Bali, NusaBali, dan Warta Bali. Saat ini memang masih ada harian lain seperti Fajar Bali, Patroli Post, dan Koran Bali –yang konon akan terbit kembali dengan saham terbesar dimiliki wakil bupati Badung saat ini, Ketut Sudikerta. Namun tiga media itu bisa disebut hanya sebagai figuran. Sedangkan di antara empat harian utama itu Bali Post jelas masih bisa disebut sebagai raja lokal.

Dalam penawaran pemasangan iklannya Bali Post menyebut oplah mereka mencapai 100.000 eksemplar. Data ini jelas lebih besar dari data sesungguhnya karena untuk kepentingan bisnis iklan. Sebagai bandingan majalah SWA edisi 20 Agustus 2003 menulis oplah harian Bali Post mencapai 90.000 eksemplar atau senilai Rp 64,8 milyar per tahun. Sedangkan menurut penelitian Santra (2006) oplah harian Bali Post sebanyak 87.500 eksemplar pada 2006 lalu.

Besarnya Bali Post tidak bisa dilepaskan dari Ketut Nadha sebagai pendiri sekaligus pemilik modal awal. Mendirikan koran bernama Suara Indonesia pada 1948, saat revolusi bersenjata masih terjadi, jelas bukan hal mudah apalagi dilihat dari sisi bisnis. Namun Nadha bersama dua rekannya bisa membuat Suara Indonesia bertahan. Terbit dalam bentuk majalah dan dicetak handset, Suara Indonesia pun terbit tidak tentu.

Kegigihan Nadha membangun Suara Indonesia terus berlanjut meski kondisi politik tidak bersahabat. Begitu juga ketika Suara Indonesia harus berganti nama jadi Suluh Indonesia pada 1966, berganti lagi jadi Suluh Marhaen pada Juni 1966 hingga Mei 1971. Kemudian bernama Bali Post sejak 1972 hingga saat ini. Dedikasi Nadha dibuktikan dengan bahkan masih jadi Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Bali Post hingga akhir hayatnya. Nadha meninggal pada 5 Januari 2001 meninggalkan empat anak, tiga perempuan dan satu laki-laki.

Sepeninggal Ketut Nadha, Bali Post dipimpin anak laki-laki satu-satunya, ABG Satria Naradha yang sebelumnya lebih banyak membangun bisnis Bali Post. Satria selama 10 tahun sebelumnya menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi dan Pemimpin Perusahaan Bali Post. Di tangan alumni Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikosa) Surabaya inilah Bali Post berkembang sangat pesat, terutama dari sisi bisnis media. Hal ini bisa dilihat dari peningkatan pendapatan dari pelanggan dari tahun ke tahun.

Satria Naradha menggagas Kelompok Media Bali Post (KMB), konglomerasi media yang tersebar di berbagai segmen. Mulai anak-anak hingga orang tua.

Di segmen media harian KMB punya Bali Post, Denpost, BisnisBali, Suara NTB, dan Bisnis Jakarta. Bali Post sebagai koran tertua di KMB masih jadi produk utama hingga saat ini. Materi berita Bali Post berupa berita-berita umum mulai politik, ekonomi, olah raga, hiburan, dan opini. Denpost menyajikan lebih banyak berita kriminal. Sedangkan BisnisBali, sebelumnya bernama Prima dan terbit mingguan, tentu saja fokus pada berita ekonomi dan bisnis. Tiga koran itu dijual terpisah meskipun ketika baru terbit mereka masuk sebagai koran suplemen. Suara NTB terbit di Mataram dan Bisnis Jakarta terbit di Jakarta.

Di segmen anak-anak, KMB menerbitkan Tabloid Lintang yang terbit tiap minggu. Tabloid ini merupakan sisipan Bali Post Minggu. Pengasuhnya wartawan Bali Post sendiri. Di segmen remaja, KMB menerbitkan Tabloid Wiyata Mandala. Tabloid ini terbit dua kali tiap bulan. Selain mengandalkan wartawan harian Bali Post, tabloid 16 halaman ini juga punya wartawan siswa di beberapa sekolah.

Di segmen wanita dan keluarga KMB menerbitkan Tabloid Tokoh yang terbit seminggu sekali. Sedangkan di segmen pariwisata, KMB menerbitkan mingguan Bali Travel News yang terbit dalam bahasa Inggris.

Di bidang media elektronik, KMB mengelola Radio Global Kini Jani, Radio Suara Besakih, Radio Genta FM, Radio Singaraja FM, Radio Suara Banyuwangi, Lombok FM dan Negara FM. Dalam bidang pertelevisian, KMB mengembangkan stasiun BaliTV, BandungTV, JogyaTV, SemarangTV, MedanTV, Aceh TV, Sriwijaya TV, Makasar TV dan Surabaya TV.

Semua jenis media itu berada di satu payung besar bernama KMB. Jadi KMB ini seperti Kelompok Kompas Gramedia (KKG) yang membawahi berbagai penerbitan. Namun KMB ini bukan lembaga formal semacam holding company. Gampangnya tidak ada hitam di atas putih. KMB berkantor di Gedung Pers K. Nadha di Denpasar Barat. Di gedung yang dipakai sejak 2002 ini juga berkantor Bali TV, Radio Genta, Denpost, Tokoh, dan BisnisBali. Bali Post sendiri masih berkantor di kantor lama di Jl Kepundung Denpasar. Sejak 16 Agustus 1996, Bali Post juga punya Kantor Perwakilan di Jakarta di Jalan Palmerah Barat. Dua perwakilan lainnya berada di Mataram (NTB) dan Surabaya (Jatim). Beberapa biro tersebar di banyak kota di Indonesia.

Untuk mengembangkan sayap ke berbagai jenis media itu, KMB mendirikan beberapa anak perusahaan. Di bawah bendera PT Bali Post, KMB menerbitkan Tabloid Lintang, Tabloid Wiyata Mandala, dan koran BisnisBali. Penanggungjawab semua media ini adalah Direktur Utama Bali Post ABG Satria Naradha.

Selain PT Bali Post ada pula penerbit lain di bawah KMB. Harian Denpost misalnya diterbitkan oleh Koperasi Tarukan Media Dharma, koperasi karyawan KMB. Menurut Artha (2007) koran ini didirikan untuk menampung karyawan dan wartawan harian Bali Post yang kurang produktif akibat perampingan jumlah halaman Bali Post dari rata-rata 24 halaman jadi 12 halaman.

Jumlah halaman Bali Post memang berubah-ubah. Pada akhir 1980-an, terbit 12 halaman dan sesekali 16 halaman. Pada 1990-an meningkat jadi 20 halaman (Putra dan Supartha, 2001). Pada 1996 Bali Post bermaksud menambah jumlah halaman dari 20 menjadi 24 halaman. Mereka pun merekrut wartawan baru. Namun baru saja merekrut wartawan dan menambah halaman, badai krisis ekonomi datang pada 1997 hingga 1998. Halaman Bali Post pun kembali ke 20 halaman. Sementara itu wartawan yang sudah kadung direkrut disalurkan ke berbaagai media baru.

Untuk mendirikan media baru itu wartawan KMB mendirikan Koperasi Tarukan Media Dharma. Koperasi baru ini menambah koperasi di lingkungan KMB yang sebelumnya sudah ada. Jadi saat ini ada dua koperasi karyawan di KMB. Pertama, Koperasi Tarukan Media Dharma yang anggotanya adalah seluruh karyawan dan wartawan KMB di seluruh Indonesia. Kedua, Koperasi Karyawan Bali Post, khusus untuk karyawan dan wartawan harian Bali Post.

Pada 1 Oktober 1998 Koperasi Tarukan Media Dharma menerbitkan tabloid harian Denpasar Pos. Pada tahun pertama, segmen liputan surat kabar Denpasar Pos bukanlah kriminal dan keamanan, tetapi politik. Bentuknya pun dalam format tabloid 16 halaman. Pada saat hari-hari pertama penerbitannya, berlangsung Kongres I PDI Perjuangan di Sanur yang menaikkan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum. Euforia terhadap figur Megawati sebagai alternatif pimpinan nasional saat itu, ditangkap sebagai peluang pasar oleh surat kabar Denpasar Pos. Implementasinya, liputan harian ini sebagian besar mengarah ke kegiatan politik PDI Perjuangan, dengan sasaran pasar adalah massa PDI Perjuangan (Artha, 2007).

Pada tahun kedua Denpasar Pos berubah format bentuk dari tabloid ke ukuran koran biasa. Ini karena seretnya perkembangan oplah yang diduga oleh manajemennya, bentuk tabloid kurang begitu memikat pasar. Pada akhir tahun kedua, perkembangan oplah kurang menggembirakan. Demikian juga perkembangan iklan sebagai tulang punggung pemasukan media pers, tak kunjung membaik. Ada dugaan manajemen saat itu bahwa segmen liputan politik kurang mampu mendongkrak iklan dan penjualan koran.

Masuk tahun ketiga, Harian Denpasar Pos mengubah segmentasi liputannya menjadi koran kriminal dan keamanan. Namanya pun disingkat jadi Harian DenPost. Pemasaran eceran harian ini digabung satu paket dengan harian Bali Post. Hingga akhir 2005 oplah harian ini mencapai 30.000 eksemplar dengan penyebaran sebagaian besar di Denpasar, Badung, Tabanan dan Gianyar serta kota-kota lain di Bali.

Di bawah bendera Koperasi Tarukan Media Dharma, KMB juga menerbitkan media pariwisata berbahasa Inggris Bali Travel News. Tabloid dua mingguan ini terbit pertama kali pada 14 Oktober 1998, dua minggu setelah Denpost.

Selain PT Bali Post dan Koperasi Tarukan Media Dharma, ada juga PT Tarukan Media Dharma yang menerbitkan tabloid Tokoh. Tabloid ini terbit pertama kali di Jakarta pada 9 November 1998 dengan format berita profil tokoh. Namun pada perkembangannya saat ini Tokoh menyatakan diri sebagai bacaan wanita dan keluarga. Dengan alasan efisiensi, kantornya kemudian pindah ke Bali.

Secara operasional semua media di atas bernaung di bawah KMB. Tapi secara hukum tidak ada hubungan antar satu media dengan media lain. Semua media itu disatukan karena pemiliknya sama, ABG Satria Naradha. Atau setidaknya dia adalah pemilik modal terbesar. Harian Bali Post, misalnya, 80 persen sahamnya milik ABG Satria Naradha. Sisanya milik karyawan. Tokoh pun demikian, 80 persen sahamnya milik Satria Naradha, sisanya milik Koperasi Tarukan Media Dharma. Hanya Denpost dan Bali Travel News yang sepenuhnya milik karyawan melalui bendera Koperasi Tarukan Media Dharma. Toh, Koperasi Tarukan Media Dharma juga milik karyawan dan wartawan yang bekerja di media milik Satria Naradha.

Ketika baru terbit, semua media itu sepenuhnya didanai dari kantong pemilik Bali Post. Tidak hanya modal awal, operasional pun dibantu Bali Post. Gaji karyawan kurang langsung disuntik Bali Post. Mereka cetak di percetakan milik Bali Post sehingga kertas dan cetak tidak bayar. Tapi itu semua dihitung sebagai utang media tersebut pada Bali Post.

Menurut Widminarko, Pemimpin Redaksi Tokoh, pada 2004 lalu utang Tokoh pada Satria pribadi sampai Rp 1,25 milyar. Pada Juli 2005 utang itu sudah dilunasi karena Tokoh bisa mandiri dari penjualan, iklan, dan usaha lain. Hal yang sama juga terjadi di Denpost. Dari yang semula digratiskan semua, mereka ternyata harus membayar utang kemudian.

Dengan menguasai media cetak yang segmennya menyentuh semua kalangan dan jumlah oplah yang terbesar di Bali, sangat mungkin bagi Bali Post untuk menguasai opini publik di Bali. Apalagi Bali Post kemudian juga tak hanya di media cetak. Mereka merambah jenis media lain yang jumlah konsumennya jauh lebih banyak dibanding media cetak. KMB juga menguasai media radio dan TV di Bali.

Media Penyiaran
Pergantian rezim pasca-Orde Baru membawa angin segar bagi pengembangan media di Kelompok Media Bali Post (KMB). Birokrasi pendirian lebih mudah, iklim demokrasi lebih bersahabat, dan publik lebih haus akan informasi. Di sisi lain semangat Otonomi Daerah juga berhembus kencang.

Dari yang semula hanya menerbitkan media cetak, KMB pun mulai melirik bisnis media elektronik. Media penyiaran pertama yang didirikan adalah Radio Global FM pada 30 Mei 1999 di bawah anak perusahaan PT Radio Swara Kinijani. Direktur Utamanya I Dewa Gede Janayudi. Radio ini hadir sebagai radio berita pertama di Bali yang siarannya mengekspresikan kebebasan informasi, menyalurkan pertukaran gagasan dan opini, serta pendidikan dan periklanan. Sebagian di antaranya disiarkan secara interaktif, bersinergi dengan media yang tergabung dalam KMB.

Menurut Ida Bagus Anom Putra, Manajer Pemberitaan Radio Global, KMB membeli izin radio Kini Jani milik pengusaha di Tabanan, Agung Raka. Berpindah pemilik, Kinijani kemudian berganti nama jadi radio Global Kinijani. Program juga berubah total. Siaran berita radio yang menggunakan frekuensi 96,5 FM ini mendominasi hingga 70 persen. Sisanya siaran agama dan budaya seperti siaran berbahasa Bali. Radio ini mengudara dari pukul 5.00 hingga pukul 24.00 Wita.

Ketika baru berdiri, radio Global hanya punya 12 pegawai namun saat ini lebih dari 30 orang pegawai termasuk empat orang di bidang pemberitaan yaitu manajer, produser, dan dua reporter. Selebihnya Radio Global mengandalkan wartawan KMB lain terutama untuk berita yang bersifat mendesak.

Kinijani berkantor di Banjar Lumajang, Samsam, Tabanan sekitar 25 km utara Denpasar. Lumajang adalah desa asal Ketut Nadha perintis Bali Post. Di desa ini pula KMB punya ashram, tempat belajar agama Hindu, sekaligus tempat evaluasi KMB sering dilakukan. Di pinggir jalan raya Gilimanuk – Denpasar ini berdiri pemancar berdaya 15.000 watt yang mampu menjangkau Kuta, Nusa Dua, Ubud, Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan, Jembrana, Klungkung, Bangli, dan Karangasem. Di Denpasar radio Global juga punya kantor redaksi yang satu areal dengan kantor Bali Post di Jl Kepundung.

Salah satu program yang paling diminati di radio Global adalah Warung Global. Program ini berupa dialog interaktif dengan pendengar tentang satu topik tertentu. Misalnya tentang pelayanan rumah sakit, kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia, dan seterusnya. Selain itu ada pula program Citra Bali dan Bali Terkini yang mengundang pendengar untuk menyatakan opini melalui radio secara live. Masalah yang dibicarakan pun sangat beragam seperti politik, keamanan, ekonomi, budaya, hingga layanan umum.

Program-program yang melibatkan pendengar ini, menurut Anom, belajar dari program serupa di Radio Suara Surabaya, yang dikenal sebagai radio lalu lintas dan mengandalkan laporan pendengar. Program ini juga dikombinasikan dengan kebiasaan pendengar radio yang senang saling berkirim salam lewat radio. Kebiasaan itu diubah dengan melaporkan apa yang terjadi di lingkungan mereka.

Dengan format program berbeda dibanding radio lain Radio Global pun cepat mendapat tempat di masyarakat Bali. Apalagi pada saat itu juga orang mulai makin berani berbicara kritis secara terbuka. Dalam umurnya yang baru empat tahun pada 2003, Radio Global langsung masuk urutan ketujuh dari sepuluh radio yang paling didengar di Bali.

Hadirnya radio Global sedikit banyak mengubah budaya orang Bali. Sebelumnya orang Bali identik dengan koh ngomong, malas ngomong, meskipun tidak semuanya begitu. Adanya radio Global yang mengundang pendengar untuk berpendapat di radio membuat budaya koh ngomong itu hilang pelan-pelan. Orang Bali makin berani untuk berbicara di publik.

Secara bisnis, menurut Anom, pada 2003 pula radio Global sudah balik modal. Namun Anom tidak bisa menyebut berapa modal untuk mendirikan radio Global. Balik modal itu diperoleh dari iklan baik iklan komersial maupun iklan program. Namun pendapatan itu lebih banyak diperoleh dari iklan program.

Keberhasilan radio Global segera diikuti dengan pendirian radio KMB di daerah lain di Bali maupun luar Bali seperti Radio Suara Besakih di Karangasem, Radio Genta FM di Denpasar, Radio Singaraja FM di Singaraja, Radio Fajar FM di Banyuwangi, Radio Lombok FM di Mataram Nusa Tenggara Barat, dan Negara FM di Jembrana. Selain itu KMB juga punya dua radio di Yogyakarta. Total ada sembilan radio yang dimiliki KMB hingga akhir Maret 2007.

Di daerah lain KMB menggunakan nama karyawan atau wartawannya sebagai Direktur Utama meskipun modalnya dari KMB. Nama perusahaannya juga bukan KMB.

Radio Swara Widya Besakih (SWIB) di Karangasem misalnya menggunakan nama PT Radio Besakih Rasisonia dengan Direktur Utama I Wayan Yasa Adnyana. Namun Yasa yang juga Ketua Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Cabang Bali itu mengaku kalau dia hanya mewakili KMB. Yasa pernah jadi wartawan harian Bali Post dan ikut mengurusi Bali TV ketika baru berdiri.

Radio Negara FM di Jembrana menggunakan bendera PT Radio Swara Negara sebagai perusahaan dengan Penanggungjawab Ngakan Gede Anom Suastika. Radio Singaraja FM menggunakan PT Radio Singaraja sebagai perusahaan dengan Direktur Utama I Made Adnyana yang sehari-hari juga wartawan Bali Post di Singaraja.

Berdirinya radio Singaraja FM ini layak mendapat catatan tersendiri karena Singaraja selaman ini adalah wilayah yang susah ditembus dari Denpasar atau wilayah lain karena letak geografisnya. Singaraja terletak di bagian utara pulau Bali. Dari Denpasar, kota ini terhalang pegunungan sehingga pemancar siaran radio maupun TV dari Denpasar harus membuat pemancar lain di kota ini. Secara kultur, Singaraja sangat heterogen. Mungkin karena letaknya yang di pinggir pantai dan pernah jadi ibukota provinsi Sunda Kecil yang meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Pada 20 Februari 2002, Singaraja FM resmi mengudara. Posisinya yang di pesisir utara Bali membuat jangkauan siaran radio Singaraja FM bisa sampai daerah Tapal Kuda Jawa Timur seperti Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Madura.

Begitu memulai siaran radio ini jadi saingan berat radio Guntur yang sudah hadir terlebih dahulu dan mengusung berita-berita aktual dalam siaran sehari-hari. Radio Singaraja FM menggunakan frekuensi 107,2 MHz dan mengandalkan format serta visi misi “Pelestarian Adat dan Budaya Bali.” Karena itu mereka memberi ruang 60 persen untuk misi dan visi pelestarian adat dan budaya Bali, serta nasional 40 persen plus berita dari wartawannya sendiri maupun reporter Balipost dan Denpost.

Radio Singaraja FM menyasar segmen segala usia dari anak-anak SD sampai orang tua. Mereka menekankan siarannya untuk masyarakat Bali umumnya dan Buleleng khususnya yang peduli dan berminat pada budaya dan adat Bali. Nama-nama acara yang sebagian besar menggunakan Bahasa Bali sangat memperlihatkan bagaimana kepedulian radio Singaraja FM untuk melestarian budaya Bali.

Beberapa contoh program tersebut adalah Isin Gumi berupa diskusi yang disiarkan langsung tentang masalah adat dan budaya Bali; Mesatua Bali yaitu cerita rakyat Bali untuk anak-anak sebelum tidur; Sor Singgih Bahasa Bali tentang belajar Bahasa Bali; Suarane Bali yaitu lagu Bali yang disisipi berita bahasa Bali; Wariga tentang kalender dan astrologi Bali; dan seterusnya.

Di antara sembilan radio milik KMB, hanya satu yang menggunakan nama ABG Satria Naradha yaitu radio Genta Bali. Radio berbahasa Bali ini didirikan PT Radio Genta Swara Sakti. Radio ini berkantor di Gedung Pers K Nadha di Denpasar. Menggunakan frekuensi 106,150 MHz dan pemancar dengan kekuatan 10.000 watt, radio ini mampu menjangkau Denpasar, Badung, Kuta, Nusa Dua, Ubud, Gianyar, Klungkung, Bangli, Karangasem, Lombok, Tabanan, Negara, Banyuwangi, dan sebagian Singaraja.

Menggunakan siaran total berbahasa Bali satu-satunya di Bali, radio yang siaran dari pukul 05.00 pagi hingga 24.00 Wita ini menyasar kalangan menengah ke bawah seperti petani, buruh, pengerajin, dan pedagang. Namun mereka juga membidik kalangan generasi muda bahkan kaum profesional Bali yang kini bangkit untuk mempertahankan jati dirinya. Bisa jadi yang dimaksud jati diri ini adalah rasa ke-Bali-an pendengar tersebut.

Radio Genta punya enam penyiar dan empat staf yang mengurusi siaran tujuh hari selama seminggu. Radio ini lebih banyak menyiarkan hiburan berupa lagu interaktif permintaan penonton. Sekitar 45 persen muatan siaran adalah berita yang diambil dari radio Global (relay). Selain itu materi berita juga diambil dari Denpost yang dibaca 15 menit pada pukul 09.00.

Meski baru berdiri pada 2002, radio Genta dengan cepat meraih banyak pendengar di Bali. Pada 2004, dia bahkan mengalahkan saudara tuanya, radio Global FM. Menurut laporan Perhimpunan Perusahaan Periklanan Indonesia dalam buku Indonesia Media Guide, pada tahun 2004, radio Genta sudah masuk uruan ketujuh dari 10 radio paling didengar di Bali.

Tak hanya di radio, KMB pun kemudian mendirikan TV lokal bernama Bali TV di bawah bendera PT Bali Ranadha Televisi. TV lokal ini mulai resmi mengudara pada 26 Mei 2002. Kehadiran Bali TV bisa dikatakan sebagai salah satu tonggak bersejarah bagi Bali. Sebab sebagai TV lokal, Bali TV sangat mengedepankan siaran-siaran budaya Bali maupun agama Hindu di Bali. Sementara sebelumnya, pemirsa TV di Bali hanya “dipaksa” menerima siaran-siaran TV nasional.

Pendirian Bali TV, menurut company profile mereka, untuk mewujudkan visi Ajeg Bali yaitu cita-cita ideal menjaga identitas, ruang serta, proses budaya Bali. Visi diwujudkan melalui memberi ruang bagi upaya penggalian nilai-nilai budaya warisan yang relevan untuk menjawab tantangan globalisasi, media pencerahan bagi masyarakat Bali untuk pendalaman dan pemahaman ajaran Hindu yang jadi identitas Bali, media pendidikan dan alat kontrol sosial masyarakat, serta merevitalisasi nilai budaya adiluhung dan aspek kehidupan lain di dalam bingkai satu kesatuan negara Indonesia.

Karena itu Bali TV cukup besar memberikan porsi untuk program-program budaya Bali maupun agama Hindu. Program untuk budaya dan agama itu antara lain Puja Trisandya, Dharma Wacana, Gita Santi, Panglibagbagan, Mulat Sarira, Nangun Yadnya, dan lain-lain. Salah satu program yang berhasil adalah Dharma Wacana atau khotbah tentang agama Hindu. Program 30 menit ini sampai dilakukan tiga taki setiap hari. Program ini pun bisa mempopulerkan dharma wacana seperti halnya pengajian agama lain. Beberapa pedanda, tokoh agama Hindu, pun jadi lebih dikenal masyarakat Bali karena memberikan Dharma Wacana di Bali TV. Selain Dharma Wacana ini juga ada program Ajeg Bali yang membicarakan strategi menjaga identitas, ruang, dan budaya Bali itu tadi.

Ada pun materi berita di Bali TV disiarkan enam kali tiap hari. Seputar Bali pada pukul 06.35 Wita, pukul 12.30 Wita, dan pukul 18.30 wita. Sedangkan Lintas Mancanegara pada pukul 07.35 Wita dan pukul 21.00 Wita. Ada pula program berita berbahasa Bali, Orti Bali, tiap pukul 19.30 Wita. Untuk berita-berita lokal, Bali TV juga mengandalkan kontributor dari Hubungan Masyarakat Pemerintah Daerah dan Pemerintah Kabupaten di Bali selain juga dari wartawannya sendiri. Sedangkan berita nasional, mengandalkan wartawan di Jakarta dan TV lain di bawah KMB seperti Semarang TV, Jogja TV, dan Bandung TV.

Saat ini Bali TV melakukan siaran dari pukul 05.52 hingga 24.00 wita dengan program yang sebagian besar produksi sendiri. Untuk mendukung siarannya, Bali TV punya dua pemancar yaitu 599,25 MHz dan 615,25 MHz. Pemancar pertama menjangkau hampir seluruh wilayah Bali selatan dan bermain di frekuensi 37 UHF. Sedangkan pemancar lain yang bermain di frekuensi 39 UHF menjangkau Bali utara dan sebagian Bali barat.

Penggunaan kanal 39 UHF oleh Bali TV sebenarnya pernah jadi masalah pada awalnya. Sebab kanal itu sebenarnya milik Metro TV. Berdasarkan izin dari Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Metro TV diperbolehkan siaran di Bali menggunakan kanal 39 UHF. Begitu sampai di Bali, kanal itu sudah digunakan Bali TV.

Karena menghormati “tuan rumah”, Metro TV kemudian mengudara dengan memakai kanal 51. Sedangkan Bali TV tetap dengan kanal 39-nya. Padahal itu bukan miliknya. Adapun penggunaan kanal berdasarkan izin gubernur Bali. Meski pernah ditegur Ditjen Postel agar mencabut pemberian izin penggunaan frekwensi Bali TV, gubernur Bali tetap tak mencabut. Hingga kini, kanal 39 UHF pun masih dipakai “raja lokal” Bali TV.

Selain itu Bali TV juga menggunakan satelit Palapa C-2 yang bisa menjangkau seluruh negara di Asia Tenggara, Australia, sebagian Asia Tengah, serta sebagian Asia Timur dan Asia Pasifik.

Sukses dengan Bali TV, Satria Naradha yang juga Ketua Asosiasi TV Lokal Indonesia itu pun mendirikan TV di daerah lain di luar Bali. Dia mendirikan Bandung TV di bawah anak perusahaan PT Bandung Media Televisi Indonesia. Siaran TV ini menjangaku Bandung dan sekitarnya seperti Bogor, Sumedang, Cisarua, Purwakarta, Subang, Cianjur, Cimahi, dan Soreang.

Di Yogyakarta, KMB juga punya PT Yogyakarta Tugu Televisi yang mengelola Yogya TV. Menggunakan kanal 48 UHF, Yogya TV bisa mencapai Jogjakarta, Gunung Kidul, Magelang, Sleman, Bantul, Kulonprogo, Wonosari, Solo, Purworejo, dan Kutoarjo. Di Semarang KMB juga mengelola Semarang TV di bawah anak perusahaan PT Televisi Semarang Indonesia yang menjangkau Semarang dan sekitarnya seperti Ungaran, Salatiga, Ambarawa, Purwodadi,Grobogan, Pati, Demak, Kudus, Pati, Jepara, Weleri, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, dan Rembang. Saat ini KMB sedang menjajaki Palembang TV dan Aceh TV.

Usaha di Luar Media
Selain usaha di bidang media cetak maupun media penyiaran, KMB juga punya anak perusahaan di bidang lain. Di antaranya Warung Sari Warta Boga di Jl Imam Bonjol Denpasar, Koperasi Krama Bali, dan Pusat Oleh-oleh di Kuta.

Di antara tiga usaha itu, Koperasi Krama Bali (KKB) bisa dikatakan paling menonjol. Sebab KMB memang gencar memberitakannya melalui semua medianya. KKB berdiri sejak 26 Mei 2005 bersamaan dengan ulang tahun ketiga Bali TV. Ketua Umumnya ABG Satria Naradha.

Peluncuran KKB dihadiri berbagai pejabat di Bali. Mulai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali maupun Kabupaten dan Kota se-Bali, Muspida Provinsi Bali, Kapolda Bali, Bupati se-Bali, Pangdam IX/Udayana, hingga tokoh Hindu Ida Pedanda Made Gunung. Selesai peluncuran koperasi, Pangdam IX/Udayana Mayjen Herry Tjahyana saat itu juga menandatangani Prasasti Ajeg Bali.

Ketika baru diresmikan, jumlah anggota koperasi ini sudah mencapai 3000 orang. Dalam waktu singkat, KKB juga mendapat anggota berbagai pejabat Bali seperti Kapolda, Ketua DPRD, Gubernur, hingga Ketua Partai Politik. Melalui media KMB, pejabat yang daftar bisa dipublikasikan. Secara kasat mata berhasilnya koperasi ini bisa dilihat dari maraknya usaha-usaha informal di bawah binaan KKB. Di Denpasar, sempat marak bermunculan warung Bakso Babi Ajeg Bali yang memasang spanduk merah putih bertuliskan Binaan KKB.

KKB juga menyebar ke berbagai daerah di Bali. Di Singaraja misalnya pada Maret 2007 lalu jumlah anggota KKB sampai 1.212 orang dari 634 orang pada tahun sebelumnya. KKB Singaraja pun sudah merealisasikan kredit hingga sekitar Rp 1,5 milyar dari Rp 1,2 milyar pada tahun sebelumnya (Bali Post, 12/3/07).

6 Comments

Filed under Bali, Jurnalisme, Kliping

6 responses to “Kerajaan Media Bali Post

  1. Oplah boleh banyak, tetapi kwalitas beritanya sebenarnya tidak sebanding dengan media lokal lainnya di Bali. Anda bisa baca. Bali Post besar karena sudah tua dan menjadi pendahulu penerbitan pers di bali. selebihnya, Bali POst tidak ada apa-apanya.

  2. kang-kung

    ya jangan sirik-lah, gung… apa media lokal lainnya di bali ada apa-apanya seperti maksud loh. Lalu, standar kualitas apa yang lo pake, sehingga brani katakan bali post gak ada apa-apanya….?

  3. de agra

    Wah, informasinya lumayan banyak.
    Asal Ketut Nadha, perintis Bali Post, bukan Lumajang, Samsam, tetapi Denpasar.

  4. Bali post diminati diluar bali, bahkan sampai kalahkan koran local lainnya. Saya sendiri heran di daerah yg bukan mayorotas org bali, bali post justru dicari, hal ini bisa diliahat dipersimpangan traffic light. itu artinya Koran ini sdh standard. cuma saya sarankan jgn banyak tulis ttg activitas pemerintahan desa, jangan tulis activitas si Peter Yongren di Bali yg seolah olah org Bali mendukung dan setuju dia berkhotbah di depan public dan berupaya menggemparkan Bali. Lambat laun akan meluluhlantahkan upaya ajeg bali. Lihat semua pemangku sengaja dibawa kepangggung terus disembuhkan dan dibisiki agar menyebutkan dan diselamatkan Sang Hyang Yesus.Ini ditulis Bali Post yg membantu upaya misionaris ini bisa lega di Bali. Di daerah lain terlarang lho kok orang Bali toleransi??? dan mereka mengundang ribuan org Bali untuk disembuhkan dengan tujuan meyakini Yesus? saya heran jangan2 ada pejabat disumabt duit atau istrinya bukan dari Bali Hindu, sperti si Winasa itu

  5. Id@ AZ

    Dulu saya pernah magang jadi reporter di Wiyata mandala waktu masih sekolah di SMAN 4 Denpasar.
    Pa kabar yah Wiyata Mandala yang sekarang? jadi kangen dech

  6. Wah, Bali Post saya atensi banget. Maksudnya begini, sebagai sebuah koran tertua dan terbesar di bali, Bali Post sangat konsen dengan pengembangan budaya Bali. Agama Hindu juga diberi porsi besar, hal itu wajar sebab Hindu mayoritas di Bali. Dan harus diketahui juga, Bali Post milik putra Bali asli. Sementara Radar Bali punya Jawa Pos, Nusa Bali punya Bakrie, dan lainnya. jadi sebagai orang Bali, banggalah dengan Bali Post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s