Satu per Satu Mereka Tertipu

Tidak banyak yang berubah ketika aku mudik Lebaran tahun ini. Kampungku ya tetep saja kampung dan udik. Kalo bukan kampung, pasti namanya bukan pulang kampung. Terus kalau bukan udik juga pasti namanya bukan mudik. :))

Meski tidak seperti tiga empat tahun lalu, pluputan -ritual berkunjung dan minta maaf ke keluarga- bersama sepupu-sepupu tetap mengesankan. Tapi ya pelan-pelan semangat itu makin hilang. Mungkin karena kami makin tua: kali ini bahkan sudah empat orang yang punya anak, termasuk aku.

Kami termasuk keluarga besar di kampung kecil itu. Dan, kami semua menyebar: Malang, Surabaya, Ponorogo, Lamongan, Denpasar, Jakarta, Yogyakarta, Riau, Malaysia. Maka Lebaran jadi waktu kami bertemu dan membagi cerita.

Di antara semua riuh rendah kami berbagi itu, ada satu yang paling membekas di otakku.

Pas hari lebaran pertama (12/10) -oya, kami semua merayakan Lebaran Jumat. Maklum, Muhammadiyah totok! he.he- aku ngobrol sama ponakan. Dia anak dari sepupu kami yang paling tua.

Zen, ponakanku itu, baru lulus mondok di Ngruki. Sejak awal dia mondok di sana, aku sudah tidak sreg. Bisa jadi aku jadi korban citra jelek pondok punya Abu Bakar Ba’asyir itu. Tidak hanya citra sih. Aku kenal beberapa alumni pondok Ngruki juga cenderung hitam putih kalo lihat masalah. Parahnya mereka selalu merasa pada posisi putih dan orang lain hitam. Kalau sebatas menganggap berbeda sih tidak maslah. Parahnya mereka ingin yang berbeda itu harus ikut putih. Makanya banyak dari mereka pake baju putih, jenggot putih. hehehe. Tapi ya itu pilihan dia untuk mondok di sana, masak aku mau nglarang.

Sore itu, sambil menikmati kue kecil di rumahku, aku tanya akan ke mana dia setelah mondok. Zen, yang umurnya sekitar 18 tahun itu, bilang akan ngabdi dulu di pondok sambil memperdalam ilmunya.

“Kalau teman-temanmu nglanjutin ke mana?” tanyaku.

Dengan sangat yakin dia bilang, “Banyak yang ke Yaman.”

“Belajar apa?”

“Militer.”

Haaa, belajar militer? “Kok aneh. Habis mondok kok belajar militer?”

“Kita harus mempersiapkan diri sebelum kita diserang Amerika, Zionis, Yahudi, bla.bla.bla..” Aku tidak bisa mericek sejauh mana kebenaran cerita itu. Aku hanya mendengar dari dia. Tapi bagiku itu cukuplah. Toh, aku tidak sedang liputan. Hehehe..

Penuh semangat Zen bercerita tentang teman-temannya di pondok yang belajar menembakkan senapan, belajar melemparkan pisau, dan hal-hal lain yang lebih pantes diajarkan di Akademi Militer, bukan Pondok Pesantren. Dengan mata berbinar, dia juga bercerita dan mengaku kagum dengan salah satu seniornya yang mengaku pernah ikut perang di Pakistan dan Afghanistan. Mereka sih menyebutnya jihad, dan aku tidak mau menyebutnya dengan istilah
yang sama.

Maka, kami terlibat bukan lagi obrolan atau diskusi tapi adu mulut. Zen, ponakanku itu, begitu yakin bahwa kekerasan harus dilawan kekerasan. Bahwa orang Yahudi dan Nasrani tidak puas sebelum melihat orang Islam mengikuti mereka. Bahwa orang Islam harus mempersipkan diri dengan belajar militer sebelum diserang terlebih dahulu. Hal yang sama dikatakan khotib pagi pas kami sholat Ied tadi pagi. Intinya sama: kebencian itu yang diajarkan pada kami.

“Kenapa kalian selalu berpikir bahwa kita akan diserang?”

Aku tidak habis pikir kenapa masih saja ada orang-orang yang lebih banyak menanamkan ketakutan kita terhadap orang berbeda agama. Bahwa “mereka”, -entah mereka yang mana, Amerika yang mana, Yahudi yang mana- selalu berusaha mengalahkan “kita”, entah kita yang mana, entah Islam yang mana.

Adu mulut kami selesai tanpa kesimpulan. Zen sibuk mengutip ayat Al-Quran, aku suntuk dengan alasan-alasan kemanusiaan. “Di sejarah dunia, agama lebih sering jadi alasan perang daripada perdamaian,” kataku. Zen sibuk mengatasnamakan Islam, adikku yang kuliah di Malang nyaut dari kamar, “Islam yang mana?”

Habis Zen, dua hari kemudian aku ketemu temanku ketika di SMA. Dia dulunya biasa saja. Aku yakin pengetahuan agamanya tidak lebih baik dibanding aku ketika itu. Hehehe. Tapi sejak lima tahun terakhir, gayanya memang berbeda. Dia suka berjenggot, dahinya menghitam entah karena suka digaruk-garukkan di lantai ketika sujud atau entah kenapa. Dia ikut Pondok Pesantren di desa tetanggaku, yang didirikan alumni Ngruki juga. Sidney Jones pernah menyatakan pondok itu masuk bagian dari lingkaran “kelompok garis keras”. Beberapa pengajarnya pernah dihukum penjara karena membantu pelarian Ali Imron, tersangka bom Bali 2002.

Sejak rajin ngaji di pondok itu, temanku itu memang berubah. Tiap kali aku main ke rumahnya, dia selalu cerita tentang kebencian pada Amerika, pada Yahudi. Ya, aku juga benci pada Amerika sebagai sebuah negara. Tapi aku tidak menjadikan agama sebagai alasan untuk membencinya.

Salah satu alasan yang terus dipakai adalah bahwa mereka ingin mendapatkan surga dengan kebencian itu. Aduh, ini apa lagi. Katanya orang beragama harus ikhlas. Lha ini kok malah minta surga dengan membenci orang. Maka, aku jawab saja dengan santai, “Aku pilih masuk neraka aja deh kalau itu gara-gara berbuat baik pada orang lain..”

Surga? Maaf, aku tidak membutuhkannya..

1 Comment

Filed under Aneka Rupa, Keluarga, Pikiran

One response to “Satu per Satu Mereka Tertipu

  1. saya butuh, mas!
    konon di sana nanti disediakan banyak bidadari yg masih perawan…wauw…betapa menyenangkannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s