Aneka Rupa Satu Agama

Gara-gara tulisan sebelumnya, aku jadi ingin nulis soal agama lagi. Kali ini soal bagaimana sih kehidupan beragamaku, atau keluarga besarku. Ini masih oleh-oleh dari Lebaran kemarin.

Hmm, mulai dari mana ya?

Dari keluarga besar saja deh. Keluarga besar ini merujuk ke keturunan kakek nenek kami. Meski tidak formal, kami biasa nyebut keluarga kami sebagai Bani Taqrib alias keturunan Taqrib, nama kakekku yang punya anak lima orang. Anak pertama dari lima anak ini, alias pamanku yang paling tua, sudah meninggal ketika aku masih kecil. Jadi aku tidak terlalu mengenalnya. Empat anak lain, di mana ibuku adalah yang paling tua, masih segar bugar dan tinggal di desa merana yang sama.

Kehidupan beragama keluarga besar kami cukup unik. Kakek nenek kami termasuk tokoh agama di Mencorek, desa kecil nan panas di pesisir utara Lamongan, Jawa Timur, tempat kami tinggal. Buktinya pada saat itu mereka pemilik satu-satunya langgar, tempat orang belajar agama, di desa kami. Namun, anak cucu mereka justru sering jadi pembangkang, seperti halnya mereka.

Ada yang pernah bilang kalau kakek kami termasuk yang mengenalkan Muhammadiyah ke desa itu. Sempat ada perlawanan dari beberapa orang akibat adanya paham baru ini. Namun kini 100 persen orang di desa kami ikut Muhammadiyah. Belajar dari kakek kami yang pembangkang itu, panteslah kalau keturunannya jadi pembangkang juga. Hehehehe..

Dari cerita yang aku tahu, bibiku yang paling muda termasuk perempuan pertama di desa kecil itu yang belajar naik sepeda gayung pada 1970an. Pada waktu itu, perempuan naik sepeda gayung adalah hal yang tabu. Biasalah orang ndeso dan beragamanya agak konservatif. Tapi bibiku cuek saja ketika banyak orang mencemoohnya, tentu tidak termasuk kakek nenek kami yang menerimanya sebagai sesuatu yang biasa.

Sampai sekarang keluarga kami masihlah bisa disebut tokoh agama. -wekekek, kok maksa banget sih pengen jadi orang besar di kampung?- Ya, soalnya paman kami yang punya musholla di kampung. Mertua pamanku, bisa juga disebut besan ibuku, adalah kiai di kampung itu juga. Pamanku dan mertuanya jadi khotib abadi yang tak tergantikan sampai saat ini di satu-satunya masjid desa kami. Jadilah ini ironi baru: kiai dan ustadz yang menghegemoni. Bahasa gampangnya, kiai dan ustadz yang tidak mau melakukan regenerasi apalagi diganti.

Kuatnya pendidikan agama ini berimbas pada pilihan pendidikan keluarga, apalagi paman dan bibiku juga guru. Satu bibiku lagi jadi ibu rumah tangga biasa. Ibuku, entah karena malas jadi guru atau memang tidak bisa -hehehe-, pilih pekerjaan yang bikin tulang kuduk berdiri: TUKANG MANDIIN JENAZAH! Hihihihi.. Tukang mandiin jenazah, alias modin, laki-laki adalah adik nenekku. Jadi selain keluarga kami adalah tokoh agama, juga berteman dengan orang-orang yang mau dikubur. Wahahahaha..

Dengan latar belakang itu, aku, kakak2ku, adik2ku, dan sepupu2ku pun terbiasa belajar agama dari kecil. Tiap pagi setelah Subuh dan malam hari setelah Maghrib kami belajar ngaji. Sekolah pun semuanya di sekolah Muhammadiyah, hanya aku dan satu sepupuku yang nyempal pindah ke sekolah negeri ketika aku kelas VI dan dia kelas V SD. Ide pindah ini pun datang dari pamanku yang ustadz. Padahal dia sendiri ngajar di madrasah ibtida’iyah, tempat kami belajar sebelumnya.

“Biar kalian lebih pintar pelajaran umum, tidak hanya belajar agama,” kata paklikku itu.

“Ya, madrasahnya jadiin kandang ayam saja,” sindir suami bibiku yang lain ketika tahu bahwa kami pindah sekolah. Dia kecewa dengan pilihan kami untuk pindah sekolah.

Tapi, itu tadi, cuma kami berdua yang nymepal ke sekolah negeri ketika SD. Lulus SD, kami balik kucing ke sekolah Muhammadiyah di desa sebelah, seperti sepupu2 kami yang lain.

Selain ke sekolah Muhammadiyah, pondok pesantren adalah pilihan lain untuk belajar. Tapi pondoknya yang moderat, bukan ala Ngruki begitu. Beberapa sepupuku mondok di Ngabar dan Gontor, Ponorogo. Ketika mondok atau lulus juga biasa-biasa saja. Tidak, misalnya, menolak bersalaman dengan yang bukan muhrim. Pakaiannya juga tidak lalu pakai cadar atau berjenggot ala kambing, eh, ustadz-ustadz aneh itu.

Tapi gaya ustadz jenggot kambing itu mulai diikuti Zen, anak sepupuku, yang mondok di Ngruki seperti di tulisan sebelumnya. Dia juga yang membuatku ingin nulis soal cara kami beragama.
Memang sih dia tidak sampe berjenggot panjang. Tapi bisa jadi karena dia memang belum punya jenggot karena masih muda. Atau bisa jadi karen takut kalah panjang sama jenggot kambing di kandang sebelah rumahnya. Wakakakak..

Kalau sekadar gaya sih tidak soal. Masalahnya, dia kini juga ikut bergaya Front Perusak Islam (FPI) yang sok jagoan. Bersama teman-temannya yang tergabung di FPI -ini FPI beneran tapi level kampung- dia juga mulai maksa-maksa orang untuk beragama ala mereka. Kemarin Tumik adikku cerita kalau si Zen ikut mengusir dia dari gunung tempat kami biasa merayakan kupatan, perayaan seminggu setelah lebaran, karena sudah waktunya Jumatan. Jadi ini keluarga sendiri sudah terbuka konflik beragamanya.

Sikap beragama yang pakai kekerasan ini benar-benar hal baru di keluarga kami, termasuk di wilayah kami. Karena itu, keluarga besar kami juga mulai mengkhawatirkan soal ini. Ya, bisa jadi Zen adalah pembangkang baru di keluarga kami.

Balik ke soal pendidikan agama lagi. Lulus mondok atau SMA, sepupu2ku, termasuk adik dan kakakku kuliah di tempat yang juga tidak jauh-jauh dari itu. Misalnya Universitas Muhammadiyah Malang, Insitut Agama Islam Negeri (sekarang jadi UIN) Yogyakarta, atau Universitas Islam Negeri Jakarta. Jurusannya ya sami mawon: ilmu da’wah, syariah, pendidikan agama, dst. Aku sendiri yang agak nyleneh: pilih kuliah di Universitas Udayana Bali, sesuatu yang bener2 menyimpang dari tradisi keluarga besar kami.

Tapi ya itu tadi, meski semua kuliah agama, keluarga kami tidak lalu berubah jadi orang-orang aneh dengan jenggot panjang, celana cingkrang, dahi bernoda hitam, atau cadar yang menyembunyikan wajah. Dalam obrolan sehari-hari kalau ketemu di rumah saat Lebaran atau ada acara keluarga, kami lebih sering menertawakan orang-orang seperti itu, termasuk Zen itu tadi.

Thobib, sepupuku yang dua tahun lebih tua dibanding aku dan paling dekat yang dosen di Unmuh Malang, malah lebih gila. Mungkin dia mewarisi sifat pembangkang di keluarga besar kami. Dia salah satu pendiri Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Tahun ini dia lulus Australian National University (ANU). Dia belajar soal Islam juga di negeri yang oleh Zen disebut negeri orang kafir.

Thobib ini rajin nulis di media massa. Tidak hanya mengampanyekan rasionalisasi dan liberalisasi bergama, dia juga mengkritik dan menolak ide penerapan syar’iat Islam. Tak heran kalau dia pernah dikafirkan oleh pengikut Islam jenggot kambing dalam sebuah diskusi ketika Milad Muhammadiyah di Malang satu atau dua tahun lalu.

Meski sangat kecil dibanding kecenderungan umum kami yang beragama secara biasa-biasa saja, keluarga besar kami sepertinya sedang ada pada tarikan yang saling bertolak belakang: fundamentalisme dan liberalisme.

Lalu bagaimana dengan aku dan keluarga kecilku? Kita tunggu setelah iklan-iklan berikut. Capek ngetik. Mau kerja dulu sebentar. Tiiiiiiiit… -rehat dulu-

Tiga dari tujuh saudaraku adalah guru agama. Lainnya ada yang jadi juragan ayam goreng di Riau, ada yang jadi wartawan kampus sambil kuliah, ada pula yang jadi anak band sambil sekolah. Ada pula yang tidak jelas, aku.

Kami beragama biasa saja. Maksudnya tidak yang maksa-maksa anak untuk mengaji atau bertindak liberal dengan tidak mau sholat lagi. Jadi ya biasa saja. Kakakku yang guru ngaji memilih menolak ketika diajak teman2nya untuk ikut kelompok pengajian yang jilbabnya hitam-hitam segeda gambreng. Dia menolak pula ketika suaminya alias kakak iparku menyuruh Nova, ponakanku, untuk mondok di pondok pesantren Al-Ikhlas di belakang rumah mereka. Nova kini malah sekolah di SMP Negeri.

“Kalau kuliah nanti aku mau dia belajar ilmu umum kayak Fisika, Kimia, dan semacamnya,” kata Yuk Tim, panggilanku ke dia.

Kak Alhan di Jakarta, yang sudah lulus S2 Kajian Agama Islam dari UIN Jakarta dan punya musholla di daerah Duren Sawit, juga biasa saja. Ini malah paling santai urusan beragama. Dia yang membelaku ketika aku tidak mau nama istriku, yang muallaf, diubah jadi nama muslim. Kalau aku mintai nasehat, selalu saja nasehatnya nyambung dengan kemauanku.

Yuk Day yang guru ngaji sami mawon. Kalau di rumah juga santai saja buka jilbab meski duduk di depan rumah. Intinya meski guru agama, tiga kakakku itu tidak harus bersikap sok paling ngerti agama, suci, dan pasti dapat surga.

Kak Hid, dan adik2ku Tulik, Tumik, dan Ya’i, semuanya biasa saja. Kami tidak terlalu ngurus soal agama meski juga tidak murtad-murtad amat.

Lalu aku? Wakakakak, ini yang paling absurd. Kadang konservatif, kadang liberal, kadang murtad. Pokoknya paling gak jelas. Nama saja sudah ANTON. “Itu kan nama orang Kristen,” kata beberapa teman kalau tau nama depanku.

Ketika kelas VI SD pindah ke sekolah negeri karena disuruh paman menemani sepupu sekalian biar tidak melulu belajar. Lulus SD, pilih sekolah SMP dan SMA. Padahal sebagian besar sepupu dan saudara sekolah di Madrasah Tsanawiyah atau Madrasah Aliyah.

Ketika masih SMA, aku mulai merasa bosan dengan agama yang kupelajari sejak kecil. “Kalau aku hanya belajar satu agama dari orang-orang yang beragama itu, maka aku tidak akan belajar agama yang sebenarnya. Karena yang ada pasti klaim kebenaran sepihak,” pikirku waktu itu. -Cailah, sok pinter banget sih. Hehehehe. Ya, tidak persis-persis amat. Tapi kurang lebih ya begitulah-

Dari situ, aku mulai berpikir untuk belajar agama lain. Aku belajar Kristen karena ini paling gampang. Mereka juga agresif untuk mengajari orang bergama lain. Waktu itu aku belum terlalu paham bedanya Katolik dan Nasrani. Pokoke Kristenlah.

Pada sebuah yayasan Kristen, sepertinya sih Katolik, aku meminta buku-buku tentang agama tersebut. Aku mendapat buku, injil, dan bahan-bahan tertulis soal agama Kristen. Karena aku tinggal di kampung yang ndeso banget dan Pak Pos tidak bisa ke desa itu, maka kiriman dari yayasan berkantor di Bogor (apa Bandung ya?) itu dikirim ke sekolahku, SMA Muhammadiyah 9 Sedayulawas, Brondong, Lamongan 62263.

Ini yang jadi masalah. Ketika aku dapat kiriman buku yang ke sekian, teman-teman di kelasku pada tahu kalau aku dapat kiriman bahan-bahan tentang Kristen dari yayasan Kristen. Gossip hot sang bintang kelas itu pun sampai juga pada As’ad Yassin (almarhum), guru kami yang paling galak di perguruan tersebut. Guru agama ini -ya ngajar Aqidah Akhlak, Fiqih, dst- juga rajin nulis ke Majalah Al-Muslimun yang berkantor di Bangil (?), Jawa Timur.

Aku pun dipanggil ke kantor sekolah. Aku ditanya-tanya kenapa belajar agama Kristen. Aku bilang ingin mendapat pengetahuan tentang agama lain di luar agama yang aku pelajari dari kecil. Ada perdebatan kecil yang jelas tidak berimbang.

Setelah diceramahi karena dianggap belum cukup iman untuk belajar agama lain, aku pun dilarang untuk belajar agama lain lagi. Lalu, buku-buku yang aku punya itu dirobek-robek di depan mataku dan dibuang ke tempat sampah. Masih untung injilnya sudah kusembunyikan terlebih dulu. Kalo tidak, waaaah, aku bisa marah besar: masa guru agama merobek kitab agama lain!?

Meski geram dalam hati, aku tidak melawan. Hanya kemarahan di dalam dada. Selain karena memang tidak ada gunanya marah juga karena memang tidak berani melawan orang tua. Takut kualat. Hehehe.

Setelah itu aku masih belajar-belajar agama lain. Aku tidak sampai pindah agama. Namun hanya yakin bahwa semua agama mengajarkan kebaikan. Tidak ada agama yang salah. Karena itu, aku pikir tidak harus pindah agama. Biarkan aku memeluk agama yang sudah kupelajari dan kuyakini dari kecil. Toh, sama-sama mengajarkan kebaikan. Kalau pindah ke agama lain juga jadi ribet. Harus belajar dari nol lagi, harus ganti KTP, harus dicemooh banyak orang, dst, dst. Belum lagi kalau dikafir2kan dan ditakut2i akan masuk neraka. Takuuuutt. Hehehe..

Kuliah dan tinggal di Bali membuatku makin kenal agama lain yang makin membuatku yakin bahwa tidak perlu lagi ribut-ribut soal agama. Apalagi di Bali juga yang lebih banyak merusak adalah orang yang seagama dengan aku. Bukan agamanya yang salah tapi itu gara-gara agama saja tidak bisa menyelesaikan masalah. Pinter ngaji tapi tidak pinter kerja ya jadinya nyolong punya orang. sekali lagi ini bukan salah agama, tapi salah orang yang selalu merasa agamanya paling hebat.

Tapi guncangan datang juga. Ketika semester V atau VI, aku baca buku Nietzsche, karya St Sunardi. Buku karya filsuf Katolik yang jago soal Islam dan Timur Tengah ini mengguncang karena mengajarkanku bahwa, kata Nietszche dan seperti yang aku pahami, Tuhan sering kali harus dibunuh kalau kita ingin menjadi diri sendiri.

Kredo yang aku ingat adalah bahwa hidup ibarat perjalanan berlayar tak berkesudahan. Kita harus membakar pelabuhan agar kita tidak berpikir lagi untuk kembali dan harus menghadapi tiap gelombang yang datang. Aku, yang ketika itu sedang gelisah dengan agama, merasa bahwa Tuhan memang harus ditiadakan dari pikiran kita kalau ingin menghadapi kenyataan hidup.

Ah, tapi aku tidak seberani itu. Ketika akhirnya masalah datang bertubi-tubi, aku lalu memilih bahwa aku butuh Tuhan untuk tempat pelarian. Mengingat Tuhan seperti kenikmatan tak tergantikan. Jadi Tuhan memang jadi tempat kita sadar bahwa kita toh akhirnya terbatas juga kemampuannya. Aku tidak bisa jadi ubermansch seperti yang dikatakan Nietzsche.

Yowis. Jadilah aku memahami Tuhan dengan caraku sendiri. Kalau aku butuh, aku lari mencarinya dan mengadu. Kalau aku sok paling hebat ya aku bunuh dia. Sederhana kan?

Sekarang sih aku makin bertobat. -Wakakakak- Ya, ingat Tuhan bisa kapan saja dengan cara apa saja. Tidak perlu membunuhnya. Cukup menempatkan dia pada waktunya. Bukan jadi tempat pelarian atau sesuatu yang menakutkan. Kadang-kadang Dia jadi tempat berterima kasih kalau memang aku perlu berterima kasih. Bisa jadi tempatku mengumpat kalau memang aku sebel sama Dia. Kadang-kadang aku merasa tidak membutuhkan-Nya kalau aku merasa harus melupakannya dulu agar tidak tergantung. Ya, begitulah. Absurd memang..

Soal toleransi? Ini juga tidak kalah absurdnya. Kadang santai, kadang konservatif, kadang liberal. Ya, memang aku pilih tidak harus pada kutub tertentu. Kata orang ini orang plin plan, oportunis. So what? Tuhan saja tidak bisa memaksaku, kenapa orang lain harus capek-capek menilaiku dengan standar mereka.

Ah, sudahlah. Terlalu panjang. Tulisanku makin tidak jelas nih kayak orangnya..

4 Comments

Filed under Aneka Rupa, Keluarga, Pikiran

4 responses to “Aneka Rupa Satu Agama

  1. wong jogja

    wah

    kok kita sama ya…

    mencari kebenaran itu ribet

    bertahan hidup saja sudah pontang panting

    apalagi sambil mencari kebenaran

    I LOVE THIS BLOG !

  2. kayaknya mas ini kebalikannya saya, lahir di Bali tapi sekarang harus menetap di jawa timur. hehehe salam kenal deh

  3. @ ford: sama2 ga jelas! hahaha

    @ wong jogja: wah, lebih susah utk jawab komen ini daripada mencari kebenaran. hehehe.

    @ putu: ya udah. tukar tambah. kamu yg tambah menderita. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s