Dan, Lahirlah Bali Blogger Community


Tiba-tiba aku merasa agak takut untuk melakukan perjalanan Sabtu sore pekan lalu. Padahal aku hanya hendak ke Ungasan. Tidak jauh. Tidak juga lama. Hanya sekitar 25 km dari Denpasar. Tidak akan lebih dari 30 menit perjalanan ke sana.

Namun aku seperti merasakan kegentaran yang pernah ku alami sebelumnya pada Januari 2006 lalu, ketika aku akan menikah. Hanya berselang hari sebelum hari H pernikahan, aku harus ke Singaraja untuk melihat pementasan teater di sana. Maka, perjalanan sekitar 2 jam dari Denpasar ke Singaraja waktu itu dipenuhi dengan ketakutan: jangan-jangan bla-bla-bla, jangan-jangan bla-bla-bla..

Perjalanan ke Ungasan, seperti halnya perjalanan ke Singaraja, melahirkan kegentaran bahwa aku akan mengalami sesuatu yang menyebabkan tertunda, atau malah batalnya sebuah rencana besar. Januari 2006 lalu rencana besar itu adalah pernikahan. Maka bisa dimaklumi lah kalau aku begitu gentar.

Tapi kali ini tidak ada rencana besar itu. Rencana yang membuatku gentar akan tertunda itu “hanya” Kopi Darat alias Kopdar Bali Blogger. Entahlah. Mungkin aku aja yang kadang terlalu mikir hal kecil jadi seolah-olah begitu besar. Kata Michel Foucoult, filsuf botak perintis post-modernisme itu, inilah yang disebut mikropolitik: membuat gawat sesuatu yang sebenarnya sederhana. Ya, termasuk kopdar ketiga blogger Bali itu.

Seminggu terakhir, kepalaku memang hanya dipenuhi rencana itu: kopdar, kopdar, dan kopdar. Aku begitu bersemangat. Tapi mungkin semangat itu pula yang membuatku malah sebaliknya: cemas dan takut gagal.

Padahal ini bukan kopdar pertama. Kali kali ini malah yang ketiga. Pertama pada Juli. Kedua pada September lalu.

Tapi bagiku ini tetap kopdar yang berbeda. Mungkin karena banyaknya blogger Bali yang mau ikut. Atau entah karena apa. Yang jelas aku merasa berbeda banget dari kopdar sebelumnya.

Karena itu dengan senang hati aku juga ngurusin persiapan kopdar. Cari tempat, undang peserta, ngemis sumbangan. Ah, ini pekerjaan yang sudah biasa. Jadi tidak terlalu soal untuk dilakukan.

Lalu semua seperti berjalan lancar-lancar saja. Tempat gratis di Desa Dusun. Waktu sudah oke meski mepet dengan banyak banget agenda lain. Sumbangan dapat dari dua anggota milis baliblogger. Undangan disebar lewat milis dan Bale Bengong. Satu per satu blogger Bali pun mendaftar, lewat milis maupun Bale Bengong.

Namun pas mau hari H, masalah mulai terasa. Sehari sebelum kopdar diadain, aku baru sadar kalau aku belum menghitung jumlah peserta yang mau datang. Ketika ngrayu Bu Nungki pemilik Desa Dusun bareng Ervi, kami hanya bilang peserta kopdar paling banyak 15 orang. Mungkin karena itu malamnya setelah lobi Bu Nungki langsung telpon aku, “Kami kasih gratis tempat, minum, dan camilannya, Mas.”

Tapi gratis itu hanya untuk 15 orang. Kalau 40 orang jelas terlalu banyak. Maka, sehari menjelang hari H, pas aku baru balik dari Ungasan sore itu, aku langsung ke Bu Nungki. Padahal aku udah ngrasa capek. Gimana tidak, pagi jadi moderator workshop meliput bencana AJI Indonesia dan Oxfam di Denpasar. Abis itu langsung ke Ungasan untuk cek wifi di salah satu villa yang tempatnya juga jauh dari peradaban. Ini untuk persiapan workshop wartawan peliput Konferensi Perubahan Iklim di Nusa Dua Desember nanti.

Sampai di Desa Dusun, dengan wajah kuyu aku merayu Bu Nungki lagi. Dia agak kaget juga kalau peserta kopdar akan sampai 40 orang. Dari wajahnya aku menangkap rasa berat. Ya, aku sadar diri juga. Masak dikasih jantung minta rempelo (basa Indonesiane opo yo?). Jadi sebelum Bu Nungki batalin semua gratisan itu, aku keluarin jurus andalan, “Sisanya yang 25 kami bayar deh, Bu.”

Masih ada beberapa alasan yang membuat aku dag-dig-der gak bakal dikasih tempat. Misale soal terlalu banyaknya orang yang akan datang dari yang semula 15 dan otomatis harus pindah ke tempat lain di bawah. Sebab kalau tetap di tempat yang kami rencanakan jelas tidak akan muat.

Tapi tempat lain di bawah, namanya Rumah Kuning, ternyata lagi ditutup. Pohon besar di sebelahnya lagi dirapiin, dipotong beberapa bagian. Jadi agak berantakan. Bu Nungki sempat gak mau ngasih. Apalagi tempat di Rumah Kuning, katanya, tidak cukup untuk lebih dari 30 orang. Alasan lain: kursi harus nambah, lagi berantakan, dst akhirnya ya tidak jadi soal lagi setelah merayu sambil menyembah-nyembah agar dikasih di sana.😀

Maka, tempat pun tidak ada soal. Tinggal kompromi saja dengan waktu, makanan, dan tempat yang agak sesak (mungkin).

Malam itu bisalah aku beristirahat dengan tenang. Namun pikiranku masih saja terganggu dengan bayangan bagaimana ya kira-kira suasana kopdar besok. Tapi ah, sudahlah, lihat saja apa kata besok.

Minggu tiba. Ini masalah baru. Hujan deras mengguyur Denpasar sejak pagi. Di depan rumahku sampai banjir. “Aduh, jangan-jangan sampai sore. Bisa batal nih acara,” pikirku. Untungnya hujan reda ketika siang.

Namun sekitar 2 jam sebelum dimulai, tiba-tiba Lode, istriku, dapat telepon dari panitia Joint Convention Bali (JCB). Mereka minta ketemu saat itu juga untuk mendiskusikan media internal JCB yang akan kami buat Senin. Ini masalah lagi. Soalnya kan udah mepet banget. Lha kalau pas sudah jamnya ternyata belum selesai, gimana aku bisa berangkat. Kami kan berencana berangkat ke sana bareng. Sebab kami kan keluarga blogger, termasuk Bani anak kami.

Dan benar saja, hingga pukul 3 lebih sekian menit, Lode baru datang. Hatiku udah kebat-kebit gak enak dengan blogger lain yang mau datang. Lha masak yang provokasi untuk ngumpul malah datang telat. Kan tidak lucu.

Begitu Lode datang, kami segera meluncur. Untungnya lokasi kopdar dekat rumah. Paling lama 5 menit ke sana.

Aku pikir belum banyak yang datang. Eh, ternyata salah. Sudah sekitar 20 orang di sana. Sebagian sudah kukenal. Anak-anak Bali Orange –yang datang tanpa komandan peleton- sudah beberapa kali ketemu, Prima dan Dewi pas Kopdar Pertama. Adi ketemu pas Kopdar Kedua. Sisanya wajah asing. Dan inilah bagian dari dag-dig-der selanjutnya. Agak panas dingin. Aku sudah yakin jadi agak canggung karena baru kenal offline. Biasanya kan hanya ketemu huruf, tanda, dan ikon yang mewakili mereka. Tapi yowislah. Aku sapa saja satu per satu. Bermodal PD nyalamin Dian, Sakti, Kecek, Dental, Saylows, Kecek, dst.

Kenalan sudah. Lalu apa? Nah, ini juga yang jadi pikiran. Kalau sudah kumpul terus ngapain. Ah, aku cari saja alasan nunggu teman-teman lain yang belum datang. Untung juga ada yang datang terlambat dibanding aku: Mas Yos, Pak Dokter, Yanuar, dst. Ya nama-nama blogger pemalas yang terlambat inilah yang menyelamatkanku sehingga bisa basa-basi dulu sambil ngumpulin energi untuk memulai.

Pukul 16.00 Wita. Tidak ada lagi alasan untuk tidak memulai. Jadi ya dengan hati masih dag-dig-der campur canggung itu tadi, sambitan pun dimulai. Selamat datang, mohon maklum, kenalan.. Dan, ternyata setelah itu makin cair lalu mengalir begitu saja.

Tiga puluh tiga blogger tambah dua mahasiswi germo dosen Kecek itu ngobrol kemu mai. Awalnya aku sempet ragu-ragu. Takutnya obrolan kami akan sebatas basa-basi. Aku sebenarnya sudah nyiapin beberapa ide: nama komunitas, bagi-bagi kerjaan, sampai apa agenda ke depan. Tapi itu semua langsung ilang pas ngobrol bareng.

Hanya satu agenda pasti yang masih aku inget, nama komunitas. Dengan sedikit diskusi, kami sepakat memberi nama Bali Blogger Community, bukan Semeton Belogger, sesuatu yang lebih bersifat lokal. Setelah ngobrolin nama lalu apa lagi? Nah kan bingungku muncul lagi.

Tapi syukurlah Tuhan yang Maha Lucu itu mengirimkan Ebo untuk hadir. Dia yang ngeluarin banyak ide di kopdar kali ini.

Idenya tidak jauh beda dengan isi otakku selama ini. Mungkin juga dengan otak belog blogger Bali lain. Bahwa blogger Bali perlu melakukan sesuatu untuk menyebarluaskan blog. Misalnya ke siswa sekolah, jurnalis, dan kelompok lain. Tujuannya biar makin banyak orang belog di Bali. Hehehe.

Ada pula ide untuk bekerja sama dengan Indosat atau perusahaan semacam itu untuk pengembangan blog. Ini sih lebih ke urusan bisnis. No problemo. Kami kumpul dari berbagai latar belakang. Tinggal bikin kompromi saja. Seperti kelahirannya, blog kan untuk demokratisasi. Masak kami harus saling menghilangkan ide semacam ini meski sebagian besar blogger sepertinya enggan kalau blog terlalu dibawa ke urusan bisnis online.

Banyak ide. Banyak diskusi. Banyak foto-foto. Banyak kenangan. Banyak agenda. Dan, satu hal sudah pasti lahir hari itu, Bali Blogger Community.

Oya, ini daftar hadir blogger yang datang. Dicolong dari blog Prima.

13 Comments

Filed under Aneka Rupa, Bali, Blogging, Daily Life

13 responses to “Dan, Lahirlah Bali Blogger Community

  1. adi

    ternyata ketua geng-nya sempet cemas juga yak😀

  2. hihihi, ternyata begitu kejadiannya yak bli :p
    tapi iya untung ga ujan yah, kalo ujan bisa berantakan semuanya.

  3. ehh… aku on time kok datengnya…

    *protes*
    he.he.he.

  4. wah selamat selamat atas lahirnya BBC, mudah mudahan aja BBC nggak “Booking Booking Cancel” alias dibentuk kemudian bubarrrrrrr nggak karuan …. mas anton maaf yo nggak bisa dateng waktu kopdar-an kemarin ….. Hidup BBC !!!!! :p

  5. Ady

    Selamat ya, semoga menjadi komunitas yang mak nyus….😀

  6. Hiks..setiap kubaca ulasan kopdar, kayanya seru banget. Tapi yah..jarak dan waktu juga yang bikin aku gak bisa dateng..
    Makasih banyak Ton, buat tenaga dan pikiran buat komunitas ini. Hehe..Hutang budi dan nyawa jadinya..

  7. gutlak buat community-nya..*asyik kalo ke bali bisa nyari tempat tebengan😛 *

  8. untung ga ujan sorenya, jadi meskipun dateng alone tetep pede and udah niat mo ketemu blogger Bali,
    BTW banner BBC udah bisa dipasang blom ?yang mana yg dipake?

  9. asn

    ada yg baru aja bebas dr beban neh😀

    sori bang anton, saya absen. smoga seri 4, the jedi bisa strikes back

  10. viva BBC, tapi saya waktu itu ga bisa ikut bli padahal udah dirayu-rayu baliazura buat ikut he..he..he..

  11. jawaban komennya jd satu saja deh. semua dimulai dg kata yg sama: UNTUNG.

    @ adi: untung kamu dateng. jd ada tambahan belogger yg udah kenal.

    @ anima: untung ada kamu yg bs jd pawang hujan.

    @ yanuar: untung kamu telat. -kan udah ku tulis di atas-

    @ 4arie: untung kamu ga dateng. jd ga nambah banyak jatah makanan.

    @ ady: untung (hmmm, apa ya? *garuk2 ga nemu jawaban yg pas*)

    @ pus: untung ga smp utang nyawa. kalo ya, gawat jg tuh.

    @ didut: untung ga sering ke bali. jd ga sering nebeng.

    @ azura: untung jg mantramu ampuh ngusir hujan.

    @ asn: untunglah ada the jedi yg akan ngurus next kopdar. jd aku cuma bantu doa.

    @ adek: untung rayuan azura ga cukup ampuh.

    @ semua: untung bacanya ga serius. jd, aku tdk perlu disambit rame2. :))

  12. selamat deh ada komunitas blogger-nya bali…aku mau gabung neh…gimane caranya bro..cheers

  13. @ balidreamhouse: aduh, namamu susah bgt sih nulisnya. :)) kalau mau gabung, ikut saja di milis baliblogger@yahoogroups.com. abis itu, udah deh masuk. aku jg udah kirim undangan ke imelmu. smg sampai dg selamat. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s