Portal Personal, Merayakan Kebebasan Informasi

Hmm, lama tidak nulis opini serius. Kalau tidak salah sih terakhir kali pas Media Indonesia memuat tulisan resensiku soal mengorganisasi diri dengan informasi Mei lalu.

Dan, kali ini aku bikin tulisan opini serius lagi. Tulisan ini pesanan Koran Pak Oles untuk edisi akhir tahun tentang jurnalisme warga. Ya sekalian media campaign tentan blog lah.

You. Yes, you. You control the Information Age. Welcome to your world. (TIME)

Senin, 12 November lalu jadi peristiwa bersejarah dalam perjalanan blogger dunia. Sebab pada hari itu, salah satu blogger terkemuka di Mesir, Wael Abbas, mendapat penghargaan prestisius dalam pencapaian jurnalis media mainstream dari the International Center for Journalists (ICFJ). Blogger Wael Abbas mendapat Knight International Journalism Award yang selama ini hanya diberikan pada jurnalis. Inilah dua hal yang akhirnya mendapat pengakuan secara formal: bahwa blogger pun masuk dalam ranah jurnalisme.

Berselang mingguan sebelumnya, persisnya pada 27 Oktober 2007, sekitar 500 blogger Indonesia juga merayakan kebebasan itu secara formal. Blogger Indonesia menggelar Pesta Blogger di Jakarta. Meski terkesan basa-basi dan spontan, Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Noeh menyatakan tanggal tersebut sebagai hari blogger Indonesia.

Lalu gemuruh itu akhirnya sampai Bali juga. Pada Minggu, 11 November 2007 lalu, 33 blogger Bali sepakat membuat Bali Blogger Community (BBC). Bertempat di Kedai Desa Dusun di tepi Tukad Ayung Denpasar Timur, pertemuan itu memang seperti formalitas karena adanya komunitas blogger Bali itu sendiri sudah dirintis sejak Juni 2007 lalu.

Inilah gegap gempita blog saat ini. Nyaris tidak ada kota yang tidak ada komunitas bloggernya, termasuk Bali. Blog (portal personal) kini telah menjadi kosa kata baru bahkan ada yang mengatakan inilah masa depan cara berkomunikasi kita. Semua ini dimungkinkan karena pengguna internet, termasuk di dalamnya adalah blogger, telah mengubah dunia ini.

Maka, dengan jenius, TIME menjadikan pengguna internet sebagai Person of the Year 2006. Padahal biasanya majalah terkemuka berbasis di Amerika Serikat itu menjadikan satu tokoh, bukan satu komunitas, sebagai profil menonjol pada tahun tersebut. TIME memilih pengguna internet sebagai apresiasi atas, tidak hanya berkembang, tapi juga berpengaruhnya pengguna internet dalam urusan-urusan publik.

Pada edisi pergantian tahun itu TIME memberikan contoh keberhasilan beberapa portal personal, seperti YouTube, MySpace, Blogspot, dan seterusnya. Portal personal tak hanya jadi ajang silaturahmi seperti halnya Friendster atau Yahoo Messenger. Portal yang dikelola secara individual itu mampu mempengaruhi publik.

Di Amerika Serikat, video Sheaker Ramanuja Sidart yang bekerja untuk kampanye James Webb sebagai calon senat Agustus 2006 lalu ikut mempengaruhi warga Virginia untuk memilih senator mereka. Sidart mempublikasikan video rekamannya tentang George Allen, lawan politik Webb, yang menyebut Sidart sebagai macaca atau monyet. Rekaman itu diposting di situs YouTube dan dilhat 320 ribu kali.

Di Korea Selatan, Kim Hye Won, seorang ibu rumah tangga bisa jadi reporter lepas bagi situs OhMy News yang dikenal sebagai pelopor jurnalisme warga (citizen journalism). Inilah jurnalisme yang tak lagi menjadikan warga hanya sebagai objek dan konsumen media. Warga pun bisa menjadi orang yang membuat berita itu dan melaporkannya.

Cerita Sidart dan Won adalah contoh bagaimana warga biasa bisa berdaya menghadapi elitisme media arus utama (mainstream).

Elitisme media itu bisa dilihat dari adanya ketokohan sebagai salah satu nilai berita yang dipahami media arus utama. Ketokohan cenderung mengakibatkan berita hanya berputar pada mereka yang punya modal sosial, ekonomi, dan politis. Bacalah media arus utama, maka informasinya hampir seragam: politik, ekonomi, kriminal.

Di sisi lain, media juga menjadikan “keanehan”, “ketragisan”, dan hal-hal tidak biasa lain sebagai salah satu nilai yang menarik. Media tidak memberi tempat untuk orang-orang “biasa”. Kalau Anda tidak terkenal, maka berita tentang Anda mungkin hanya ketika Anda jadi korban tindak kriminal, mati mengenaskan, atau karena Anda melakukan hal “aneh” yang belum oernah dilakukan orang lain. Berita remeh temeh tentang Anda tidak akan menarik media.

Ada wilayah yang jarang disentuh media. Wilayah bukan orang hebat dan bukan orang tragis. Padahal inilah wilayah paling besar juga tak kalah menarik untuk dipublikasikan dan jadi bahan belajar bagi orang lain. Wilayah ibu-ibu rumah tangga, mahasiswa, remaja gaul, orang desa, pedagang kaki lima, prajurit, satpam, dan seterusnya.

Undang-undang Dasar 1945 menjamin bahwa tiap orang berhak atas informasi. Bahkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) pun menjadikan hak atas informasi sebagai salah satu bentuk HAM. Sayangnya hak atas informasi masih menjadi hak untuk mengonsumsi informasi, bukan hak untuk memproduksinya.

Publik pun dijejali berita-berita yang sering kali tidak revelan dengan kebutuhan mereka. Ibu-ibu harus membaca berita perceraian artis A atau perselingkuhan tokoh B. Petani di desa harus mengonsumsi berita tentang luberan lumpur Sidoarjo yang tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan mereka.

Ujung demokratisasi adalah perayaan kebebasan individu. Sayangnya demokratisasi di media itu belum terjadi. Demokratisasi media adalah demokratisasi antara pemilik modal ekonomi, politik, atau sosial itu tadi. Publik hanya jadi penonton riuh rendahnya suara di media.

Beruntunglah ada teknologi informasi yang bisa menjawab elitisme media arus utama tersebut. Informasi yang semula searah itu kini tak lagi terjadi. Orang-orang yang tak mendapat tempat di media arus utama kini bisa memilih dan memilah informasi yang sesuai kebutuhan mereka. Tak hanya mengonsumsi, mereka kemudian memproduksi sendiri informasi tersebut melalui portal personal. Portal personal merupakan anti-tesis terhadap elitisme media arus utama.

Selain itu, portal personal, sekaligus perayaan atas kebebasan informasi saat ini. Saat di mana informasi tak lagi bisa dibatasi geografis atau kondisi sosial.

Sayangnya, di Indonesia, perayaan kebebasan ini masih menghadapi sejumlah masalah. Teknlogi informasi pun masih jadi elitisme baru di Indonesia. Konsumen informasi ala portal personal pun masih kalangan tertentu, katakanlah mahasiswa, ibu rumah tangga, atau karyawan swasta. Kelompok marjinal masih susah mendapat tempat. Beda misalnya dengan Thailand yang bahkan pedagang kaki lima pun bisa berjualan sambil berseluncur di dunia maya, melahap sekaligus menghasilkan informasi.

Mengutip Mulya Amri (2007), ada tiga hal yang harus segera dilakukan di Indonesia untuk mengembangkan teknologi informasi agar bisa dinikmati kaum marjinal. Pertama pengembangan infrastruktur melalui penyediaan teknologi informasi itu sendiri. Misalnya komputer, jaringan telepon, internet, dan semacamnya. Diakui atau tidak, internet dan infrastrukturnya masih jadi sesuatu yang elit. Masih sebatas kelas tertentu, menengah ke atas.

Kedua peningkatan kapasitas untuk menggunakan teknologi informasi seperti kemampuan membuat portal personal. Kalau toh secara infrastruktur sudah tercapai, masih ada masalah pada kemampuan untuk membuat dan memanfaatkan infrastruktur tersebut. Internet memang sudah masuk sekolah. Namun berapa siswa sih yang bisa menggunakannya dengan baik. Atau berapa banyak sih wartawan, yang sudah familiar dengan komputer dan internet itu, mampu membuat dan mengelola isi portal personal?

Ketiga pengembangan materi yaitu kemampuan untuk memproduksi informasi agar bisa dipahami orang lain. Ini soal content, materi sebuah portal personal. Sekilas saya lihat, portal personal di Indonesia masih melulu bersifat narsis-self-exhibitionism. Melulu tentang mereka sendiri. Masih sedikit blog yang bisa menulis dengan kritis terhadap isu-isu di seputar mereka.

Tiga hal inilah pekerjaan rumah yang harus dilakukan bersama.

4 Comments

Filed under Blogging, Jurnalisme, Pikiran

4 responses to “Portal Personal, Merayakan Kebebasan Informasi

  1. tulisan di blog memang diawali tentang diri sendiri, mudah-mudahan lama kelamaan mulai bisa menulis tentang dunia sekitar kita..

    mungkin masih ada rasa takut untuk mengungkap “keanehan-keanehan” di masyarakat, terutama dengan cap “sok suci”

  2. Mungkin bisa ditambahkan dikit tentang sejarah Blog. Semuanya lengkap tersaji disini http://en.wikipedia.org/wiki/Weblog

    Artikel yang bagus.

  3. Semoga dengan arus informasi swadaya ini bisa mendukung grass-root movements untuk perbaikan negeri. Reputation-based governance mungkin adalah upaya yang bisa terus digencarkan melalui medium blog ini.

    Indeed, information is a new cutting edge to improvement.😀

    Nicely put! – thanks

  4. wah mesti sering buka blog ini biar kosakata blog dan pengetahuan saya nambah terus.dan berani nulis skrip yang terjadi diseputar kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s