Bali Serasa Darurat Militer

Konferensi PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC) resmi dibuka hari ini di Nusa Dua. Ini narasi besar tentang pemanasan global. Dan, yang terjadi di lapangan hanyalah ketidaknyamanan.

Aku mulai merasakannya minggu-minggu ini. Paling terasa sih di Sanur pas habis mandi di pantai sama anak istri kemarin. Agak aneh juga melihat polisi bersenjata lengkap berdiri siaga menghadap ke jalan di perempatan Jl Hang Tuah – Jl By Pass Ngurah Rai. Bukannya ini tempar bersantai. Tapi kok polisi bermuka serem itu berdiri dengan tegaknya di sana? Bagiku sih tidak menimbulkan rasa nyaman, malah sebaliknya: perasaan seperti terancam.

Lalu siangnya aku ke Ungasan. Tidak jauh berbeda.  Polisi berkaca mata hitam, bersenjata lengkap (entah AK 47, entah M16), berdiri tegak di pinggir jalan itu juga ku lihat di bunderan Simpang Siur dan pertigaan Bandara Ngurah Rai. Dan, honestly, itu membuatku bertanya-tanya.

Kok ada polisi bersenjata lengkap di sini? Apakah akan ada orang menyerang atau membuat kerusuhan? Ataukah Bali memang begitu gawat? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja. Jadi polisi yang seharusnya untuk memberi kenyamanan itu untukku malah sebaliknya. Beberapa teman yang ku tanya menjawab hal yang tidak jauh berbeda. Mereka tidak nyaman dengan pengamanan berlebihan.

Dan sore tadi aku ke Mumbul, Nusa Dua. Di pinggir jalan sekitar Taman Mumbul, segelondong kawat berduri diletakkan. Ini seperti persiapan untuk menghalau massa dalam jumlah besar. Aduh, harus sebegitu gawatkah sikap yang harus diperlihatkan? Tidakkah cukup dengan pengamanan “tersembunyi” tanpa harus secara terbuka menunjukkan demikian?

21 Comments

Filed under Aneka Rupa, Bali, Daily Life, Perjalanan, Pikiran

21 responses to “Bali Serasa Darurat Militer

  1. Iya tuh..
    Dengan cara seperti itu malah membuka celah buat “orang2 usil” untuk menerobos sistem keamanannya.
    Sabar bli.., cuma beberapa hari ini. Lagian itu untuk kepentingan orang banyak (bumi) juga..

  2. @ pus: “orang2 usil” jg pasti ga bakal trbuka kan utk menerobos sistem keamanan, apalagi teroris. soalnya pengamanan terbuka gitu. lha kalau “silent security” mungkin “orang2 usil” dan teroris mgkn tidak sadar kalau diawasi. ya, begitulah kira2.

  3. selalu ada pengorbanan demi kepentingan bersama🙂

  4. @ kojaq: injih, pak. betul. :))

  5. mungkin seperti pepatah kedokteran, “mencegah lebih baik daripada mengobati”

  6. Bes gawat! Setuju!🙂 Btw, blogwalking negh! Main2 ke blog-ku yah!!!

  7. @ wira: saja, pak dosen. beneh to. :))

    @ suryawan: sudah main, bli. thx udh mampir.

  8. iya ya harus lihat penjaga itu kita merasa aman kok malah degdegan ….. namapaknya sama ketika bogor kedatang joshbussh serasa mau perang aja suasananya

  9. Mudah-mudahan ga terjadi apa-apa, Btw februari 2008 ada lagi (gossip…) UN juga tapi skalanya lebih kecil.

  10. hihihi…. bener-bener mengerikan,,, jadi kayak di afghanistan ya😀

  11. goyangan

    polisi melindungi dan mengayomi rakyat…

  12. Pingback: Baladika Palace - Ceria Bersama…Berbagi senyum berbagi cerita, Yakinlah hidup itu indah » Berwisata Militer di Bali

  13. gimana ya mau masuk ke nusa dua ? harus bawa id id an segala. gak bisa ke tempat selingkuhan ku nih buat warming2an😛 . bener2 global warming.

  14. Kalo inget2 jadi lucu juga. Liat para polisi2 berdiri di pinggir jalan pake kacamata hitam bawa senjata berpose bak model yang lagi mo foto.😀

  15. Saya sempat bicara dengan seorang delegasi dari Swiss saat berobat di praktek, pada prinsipnya mereka tidak merasa terganggu dengan ketatnya keamanan ini, cuma memang mereka tidak bisa bersantai, maka dari itu mereka memperpanjang waktu tinggal di bali agar bisa liburan.

  16. lahan bagus untuk buka catering nasi bungkus buat para penjaga:mrgreen:

    ya..mudah-mudahan mereka tidak hanya pandai berdiskusi tapi juga pandai mewujudkan apa yang di diskusiin.

  17. @ kangguru: juga kasian ngeliat mereka berdiri mematung. :))

    @ balibuddy: wah, alamat laris manis lagi dong, bli.

    @ baladika: mirip2 dikit. tp di sini tidak ada yg pake jenggot kambing dan cadar kayak di sana.

    @ goyangan: jg mungut pungli di jalanan.

    @ brokencode: hahaha. global warming bikin panas yg lain neh.

    @ ivan: ya itu tadi, campur kasian. :((

    @ imcw: alamat makin banyak turis yg berobat jg ke pak dokter.

    @ baliazura: boleh jg tuh. skalian nawarin pijat. wah, pasti laris manis.

  18. namanya juga internasional konpren😛 …tp BTW US gak ikutan to?

  19. rasanya jauh lebih gawat waktu bush datang. tuh, tentara nge camp nya depan rumahku. seperti biasa, kalo ada evet rada aneh gini, mereka bangun tenda di lapangan depan rumah. dan gak seramai pengamanan bush. better lah, jadi gak terlalu berisik.

  20. @ didut: US ikut ngacau saja. :)) pengennya mereka malah UNFCCC gagal biar gak ada kebijakan baru utk pengurangan emisi. makanya dibuat molor terus. dasar amrik!

    @ heru: wah, kalau rumahmu di nusa dua mungkin akan terasa gawatnya. :))

  21. hari_bumi

    terlalu serem pengamanannya…ada polisi PBB jg…tiap ada mobil delegasi yg lewat kendaraan distop…bikin macet…apa semua pejabat harus dikawal ketat+ngebut+nyetop pengguna jalan lain dan hasilnya kemacetan panjang….ah…koh ngomong ne! biar KTT udh berlalu tindak lanjutnya apa? tetep aja ga ada perubahan significant!

    akses ke BTDC saat itu tertutup jemput tamu ribetnya minta ampun….apakah KTT spt ini harus “mengganggu” “PAYUK JAKAN” orang lain?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s