Seandainya Saja Pacar Koming Pakai Kondom

Sejak awal saya tahu kalau Koming, tetangga saya di Denpasar, memang tidak terlalu “normal”. Saya tidak tahu persis bagian mana dari perilakunya yang menunjukkan “ketidaknormalan” itu. Saya hanya bisa merasakan, tidak bisa menjelaskan. 

Meski begitu, saya tetap kaget ketika melihat perilaku Koming, cewek berumur 20 tahun, itu tiba-tiba berubah. Tatapan matanya kosong. Ketika saya sapa, dia diam saja. Raut wajahnya sama sekali bukan Koming yang saya kenal sebelumnya. Muram. Bahkan ketika ketemu dengan anak saya, yang biasa membuatnya tertawa lalu menyorongkan tangan untuk menggendong, dia tak bereaksi apa pun.

Koming benar-benar berubah. Dia benar-benar tidak normal. Kalau sebelumnya hanya tidak terlalu “normal”, maka kali ini benar-benar tidak normal. Tidak perlu pakai tandai petik.

Sekitar dua bulan sebelum perubahan pada Koming itu, ada berita yang juga bikin saya kaget: dia hamil! Kalau hanya hamil sih tidak masalah. Tapi ini belum menikah tapi sudah hamil. 

Di Denpasar, atau mungkin Bali, hamil di luar nikah jadi sesuatu yang lumrah. Mungkin di Jawa juga demikian, tapi menurut saya tidak selumrah di Bali. Orang Bali tidak akan ribut-ribut bergosip atau memandang rendah orang yang hamil sebelum nikah. Stereotip orang Bali bagi saya memang sederhana: silakan berbuat apa saja asal tidak mengganggu urusan saya. Artinya hamil itu urusanmu sendiri, bukan urusan saya. Jadi ya si A tidak perlu ribu-ribut hanya karena si B hamil.

Begitu pula dengan cerita kehamilan Koming. Tidak ada ada ribut-ribut di gang kecil tempat kami tinggal. Cerita hamilnya Koming hanya muncul di permukaan sehari dua hari. Setelah itu ditelan waktu. Tidak ada lagi yang terlalu peduli. Mungkin juga saya. Apalagi setelah kehamilan itu, Koming lalu tinggal di rumah keluarga pacarnya. 

Namun, sekitar dua minggu kemudian, kedatangan kembali Koming ke rumahnya dan juga gang kecil kami membuat membicarakannya. Sebab kali ini Koming mengalami perubahan tidak hanya biologis, juga psikologis.

“Dia tertekan karena merasa bersalah,” kata Nengah, kakak kandungnya.  

Koming seperti tidak mengenal semua orang di gang kami. Tak satu pun di antara kami, bahkan saudaranya sendiri, yang bisa mengajaknya bicara tentang apa yang terjadi padanya. “Hanya bapak yang bisa ngajak ngomong,” lanjut Nengah.

Kejadian pada Koming adalah kasus hamil di luar nikah ke sekian kali yang pernah saya temui. Kakak ipar, tiga sepupu, dan beberapa teman saya sudah melakukan hubungan seks sebelum mereka menikah. Buktinya istri mereka hamil dua atau tiga bulan ketika mereka menikah secara adat (Bali). Sekali lagi ini hal yang biasa di Bali. Dan, jangan gunakan kaca mata Anda untuk menghakimi “kelumrahan” ini. Sebab, terlarang bagi Anda belum tentu terlarang bagi orang lain.  

Bagi saya, Bali itu kadang anomali Indonesia. Tato sebagai sesuatu yang “tidak patut” bagi banyak orang justru sesuatu yang biasa di Bali. Minuman beralkohol yang “haram” bagi orang lain jadi sesuatu yang biasa diminum beramai-ramai di balai banjar. Mungkin juga untuk urusan hubungan seks sebelum menikah.

Maaf, Saya tidak melihatnya dari sudut pandang moral ketika membahas masalah ini. Saya melihatnya dari sudut pandang sosial saja. Selama tidak ada orang yang dirugikan dengan itu, bagi saya tidak jadi soal. 

Misalnya, saya jarang ketemu orang yang berantem gara-gara mabuk di Bali. Saya juga belum pernah ketemu kasus laki-laki Bali yang tidak mau bertanggungjawab setelah menghamili anak orang. Jadi urusan orang mabuk dan berhubungan seks sebelum nikah, bagi saya, juga bukan masalah selama tidak ada yang dirugikan. Silakan minum sampai mabuk asal tidak mengganggu orang. Silakan berhubungan seks asal sadar risiko dan mau bertanggungjawab.

Namun, jangan berhubungan seks kalau memang belum sadar dengan risiko dan siap bertanggungjawab. 

Masalahnya, tidak jarang yang belum siap bertanggungjawab tapi hanya mau enaknya berhubungan seks. “Kepret” sudah, tanggung jawab ogah. Salah satu sepupu istri saya menikah ketika pacarnya sudah hamil. Yang repot justru orang tuanya karena sepupu itu masih kuliah dan belum mandiri secara ekonomi.

Karena itu, untuk orang-orang yang mau enak tapi belum siap dengan risiko, bagi saya kondom seharusnya bisa jadi jawaban. Woi, woi. Jangan protes duluan. Sekali lagi ini dari sudut pandang sosial, bukan moral.  

Dalam kampanye penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pengguna narkoba dengan jarum suntik (injecting drugs user) dikenal istilah harm reduction atau upaya untuk mengurangi dampak buruk. Jadi untuk mengurangi dampak buruk penggunaan narkoba suntik itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar mereka tidak memperparah kasus HIV/AIDS. Salah satunya dengan memberikan jarum suntik steril dan tidak berbagi jarum ketika memakai narkoba. Tujuannya agar penularan di antara pecandu narkoba bisa dikurangi.

Nah, saya melihat kondom juga bisa jadi harm reduction di kalangan orang yang sudah berhubungan seks aktif tapi belum siap dengan risiko lebih besar. Misalnya, hamil di luar nikah. 

Tapi ini jelas bukan mudah. Kampanye pemakaian kondom selalu saja dibantah dengan moralitas. Ini jelas gak nyambung blas! Biasanya sih kelompok anti-kondom ini hanya melihat sisi kondom. Padahal dalam kampanye penanggulangan AIDS, selalu ada A (abstinence) dan B (be faithful) sebelum C (condom).

Saya termasuk kelompok yang tidak sepakat untuk kampanye kondom pada anak-anak SMA. Mereka harus difokuskan pada abstinence. Demikian pula ada kelompok yang memang tidak suka berganti pasangan tentu kampanyenya lebih pas kalau be faithful. Jadi ada porsinya masing-masing. Tidak gebyah uyah semua harus C. 

Kampanye anti-kondom ini juga selalu mengikuti kencangnya kampanye pemakaian kondom. Dari dulu dua kelompok ini selalu muncul. Jadi ini pekerjaan rumah yang tidak selesai-selesai.

Namun penyebab paling besar susahnya orang pakai kondom adalah karena rasa malu. Saya sendiri mengalami. Meski sudah menikah, saya tetap tidak pede ketika beli kondom di apotek. Bisa jadi karena perasaan saya, bisa juga karena memang masih ada stigma (cap buruk) pada orang yang beli kondom. Seolah-olah kalau beli kondom itu untuk sesuatu yang buruk. Padahal ya justru untuk mencegah hal yang lebih buruk. 

Ini sih lari pada diri sendiri. Lha wong sejak zaman bahuela juga kampanye ini dilakukan namun masih saja ada stigma. Jadi pelan-pelan saya cuek saja beli kondom di apotek. Malu kalau selalu saja minta ke lembaga penanggulangan AIDS. Tapi cuek itu pun belum bisa sepenuhnya. Kalau banyak orang yang juga ngantri di apotek, saya masih keder. Lalu, mundur teratur batal beli kondom.

Buntutnya, saya tidak jadi dapat jatah. Istri saya termasuk yang ngotot tidak mau berhubungan seks tanpa kondom karena belum siap untuk hamil (lagi). Maklum, anak pertama kami baru berumur 1 tahun 3 bulan. Masih bayi. 

Saya lalu mikir. Kalau cuma tidak dapat jatah sih tidak masalah. Bagaimana dengan yang sudah kebelet berhubungan seks tapi tidak berani beli kondom. Jadilah dia berhubungan seks tanpa kondom. Lalu hamil.

Ini pula yang mungkin terjadi pada Koming dan pacarnya. Gara-gara pacarnya tidak pakai kondom, Koming hamil padahal dia (sepertinya) belum siap. 

Ah, andai saja pacar Koming mau pakai kondom, mungkin saya tidak akan kehilangan senyum Koming..

16 Comments

Filed under Daily Life, Pikiran

16 responses to “Seandainya Saja Pacar Koming Pakai Kondom

  1. Di Bali ada banyak Koming-Koming lain yang bernasib sama yah bli, mungkin perlu vending machine kondom saja supaya ga perlu malu-malu lagi beli kondom😐

    Eh ato udah ada yah?

  2. @ MI: (not) nice comment, pak haji. :p

    @ didut: hah! gudlak? nyata2 dia ga luck. :((

    @ anima: bener, prim. banyak yg gara2 malu malah mlentu (hehe) alias hamil. ATM kondom udah ada. tp lokasinya yg tidak strategis. jd ya jarang ambil ke sana.

  3. Merinding sehabis baca ulasanmu ini Pak ! Soal beli kondom, hehe, keknya saya sudah pantas untuk kasih pandangan ke Anton, ya karena tiyang sudah nikah euy. Selama antre di apotik utk beli kondom itu tdk merugikan orang lain, ya beli saja. Mode cuek bebek. Toh utk kepentingan pribadi. Klo malu beli, akhirnya kena omel istri, dan nggak dpt jatah. Untung istri nggak bilang, “Beli plastik gula di toko sebelah Pa !”.
    *Ngeloyor*

  4. koming memang berani,
    sering jadi pertanyaan kalau denger kasus-kasus spt itu. apa yang dipikirkan/pemacu/ ketika mereka akan dan melakukan hubungan seks pranikah sehingga koming perutnya menjadi kembung. apakah bener-bener karena budaya,lingkungan sosial, atau malu karena dianggap masih virgin.??
    kupas lagi om anton…

    ehh.. sibani nonggol bukan karena malu beli kondom kan.?? he.he..
    *unsubscribe*

  5. betul, hamil di luar nikah memang sudah lumrah di Bali, tp itu bagi yg memang sudah siap utk menikah. Bagi yang belum siap menikah (masih sekolah, dll), pasti akan jadi omongan/cibiran orang, apalagi sampai tidak ada yang bertanggung jawab atas kehamilan tersebut.

    Tidak jarang juga ada yang menunggu hamil dulu, baru menikah.

    Tentang kondom, kalau calon istri jadi apoteker, tentu tidak ada malu kan, tinggal ambil aja… hehehe

  6. hah, ada? dimana itu bli?

  7. kebanyakan temen saya bilang, kalo pake kondom kayaknya kurang gimana gitu… kurang mak nyoss katanya , tyang sendiri nggak pernah pake soalnya.
    Di desa tyang nyari kondom susah, males kalo harus ke Singaraja hanya untuk beli kondom

  8. yah sih…. tapi kalo menularkan penyakit kelamin berarti sdh merugikan orang lain. Bagaimanapun pre marital sex mengandung resiko, dan wanita selalu menjadi korban.

  9. heheh dulu juga pernah malu2 pas di apotek mo beli kondom😀 habisnya setelah nikah pengen kuliah dulu😀 tapi ya gitu deh, maju mundur hahahha… tapi ya akhirnya nebelin muka .. jadi beli deh..bareng suami😛 hihih .pasti si mbak nya mikir, wajah masih kecil kok beli kondom😀 pakai jilbab lagi..hmmhhh….muka curiga dari si mbak penjaga apotek😀 tapi ya..cueeeeek beibeh..mau dikasih buku ‘ajaib’ kita? hhahhaha.. setelah itu ya gak mau beli kondom lagi … mending KB hehehe

  10. @ hendra: pakai plastik? emangnya lontong.😀

    @ yanuar: salah satunya mmg disebut wira di bawah komentarmu. di bali banyak pula yg ingin hamil dulu baru nganten. makanya sebagian besar yg berhubungn seks itu yg memang sudah siap nikah. mungkin ini pula yg membuat jarang ada laki2 bali yg ninggalin pacarnya setelah hamil.

    nah, soal bani. ini jawaban serius. menyangkut sejarah hidup anakku soale. -gawaaaaat-. salah satu syarat yg harus kami penuhi ketika akan menikah adalah adanya tes kehamilan. aku tidak tau apa dasar hukumnya.

    karena toh kami pikir tidak ada salahnya, maka lode ya tes hamil saja di puskesmas. hasilnya? negatif. jadi, dijamin 100 persen bani lahir bukan karena malu beli kondom. apalagi waktu itu supply kondom jg banyak. hehehe..

    @ wira: yup, dua2nya benar. soal apoteker tuh lbh asik kalau pacaran sama yg punya pabrik kondom. :p

    @ anima: ada di PKBI Bali di Jl Gatsu IV. mau tak cariin?😀

    @ marebangun: itu sih mitos. menurutku sih lbh asik pake kondom. aman dan nyaman. jg tidak lari ke mana2.

    @ putu: perempuan memang lbh sering jd korban. makanya harus punya posisi tawar. laki2 jg harus sadar utk memberi ruang tawar. jd tidak mentang2 pacar atau istri sendiri lalu seolah-olah bisa maksa2.

    @ bunda aysar: hehehe, itu mmg kombinasi yg pas utk menimbulkan kecurigaan. mgkn besok2 kalo beli kondom bawa saja surat nikahnya. daripada cuma disimpen di laci rumah. :))

  11. sumpah om, bukan saya pacarnya koming,bener..bukan saya…:mrgreen:

    BTW:memang kondom masih jadi hal yang tabu apa lagi kalau seorang wanita membelinya pasti asumsi nya adalah mengarah pada sex,meskipun kita ga tau sex ‘halal’or ‘tidak halal’.dalam masalah ini selalu pihak wanita dirugikan meskipun telah ada kondom khusus wanita tapi harganya tidak semurah kondom yang berwarna warni.jadi berani berbuat berani menerima resiko meskipun itu hamil pranikah dan resiko ditinggal kabur pihak laki-laki.untung saya orannya cuek bebek saat membeli kondom entah penjualnya cewe or cowo,saya juga pernah disuruh beliin temen,ech ga tau kenapa kok tetep hamil juga dan akhirnya mereka nikah.

    *sepertinya saya cocok jadi kurir kondom hiks…hiks..*

  12. asn

    baru baca.. artikel yg keren!😉 terutama yg membahas soal seks pranikah di bali. lebih seneng baca yg blak2an sperti ini. karena yg laen ga berani nulis, takut dibilang “mendukung seks pranikah”

    di bali, keturunan sangat penting. bahkan kadang lebih penting dari segalanya. maka jgn heran kalo ada orangtua yg “merestui” anak2 mereka melakukan seks pranikah demi mendapat kepastian akan keturunan, dengan kondisi para ortu sudah setuju dengan sang calon mantu.

    tidak sekali dua kali saya ketemu kasus ini. dan hampir 100% tanpa masalah. bgitu yg cewek hamil, pernikahan disiapkan, lalu pangeran dan tuan putri hidup bahagia.

    bagi orang2 kita kebanyakan, ini akan terkesan tidak bermoral. tapi sbnernya tidak satupun dari kita berhak men-judge seseorang bermoral ato tidak

    asal elo ga nyenggol gue…..

  13. @ baliazura: wah, boleh jg tuh jd profesi baru: kurir kondom. hehehe..

    @ asn: elu bener selama tidak nyalahin gue. hehehe..

  14. adi

    Salut…semoga menjadi ilmu yg bermanfaat buat generasi muda yg suka kebablasan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s