Menyepi dari Waktu yang Berlari

Ketika melakukannya dua tahun lalu, aku hanya berpikir untuk lari dari ingar bingar perayaan tahun baru di Denpasar. Entahlah. Aku memang tidak bisa menikmati suasana yang ramai. Kadang-kadang malah seperti cemas di tengah kerumunan banyak orang. Begitu pula pada perayaan tahun baru.

Ketika masih jadi wartawan baik-baik, larut di dalam perayaan tahun baru seperti jadi sesuatu yang “wajib”. Tapi aku tidak bisa menikmatinya. Meski sudah mencoba kayak apa, tetap saja aku merasa terasing di sana.

Bisa jadi karena latar belakangku sebagai wong ndeso. Sampai umur 18 tahun, aku hanya tinggal di kampung. Jauh dari peradaban, termasuk hiruk pikuk tahun baru. Jadi tidak ada beda malam tahun baru atau tidak. Sebab memang tidak ada beda dalam sesungguhnya.

Lalu ketika di Denpasar, malam pergantian tahun seperti sesuatu yang “harus” dirayakan. Semasih di Persma Akademika, aku dan teman-teman di sana bikin malam renungan tiap malam pergantian tahun baru. Ada doa bersama, ada kesan pesan, dan seterusnya. Tapi setelah itu tidak ada apa-apa. Yang berganti hanya tanggal. Teman masih sama. Tempat nongkrong masih sama.

Setelah itu sempat pula tiap tahun baru aku hanya diam di kamar. Nonton TV atau main game komputer sama teman-teman di kos-kosan. Tahun baru nyaris tidak membuatku harus bergegas di tengah ingar bingar perayaan kedatangannya.

Lalu, sejak dua tahun lalu, aku mulai punya kebiasaan baru. Tiap 31 Desember, aku dan istri memilih menyepi di Karangasem. Kami berangkat sore dari Denpasar. Di jalan biasa beli terompet atau kembang api. Sampai Pekarangan, Manggis, rumah kakek nenek, kami hanya ngobrol kangin kauh. Setelah ngobrol bakar kembang api. Lalu, tidur. Tidak perlu ada hiruk pikuk, instropeksi, atau tetek bengek lainnya.

Awalnya menyepi ke kampung itu ya memang karena males dengan keramaian Denpasar. Malas dengan ribu-ribut orang trek-trekan, orang tiup terompet, orang minum di pinggir jalan, dan seterusnya.

Kemudian baru aku sadari (ini sih gara-gara baca tulisan Bre Redana, wartawan Kompas yang berhasil meracuni aku untuk jatuh cinta pada cultural studies) bahwa bertahun baru di kampung itu ternyata bisa jadi counter culture. Waaah, keren juga istilahnya. Artinya kurang lebih tandingan dari budaya massal ingar bingar perayaan tahun baru yang tidak jelas itu.

Jadi aku kini makin punya pembenaran untuk menyepi di kampung dadong pekak di Karangasem. Maka, mari ke kampung saja pas tahun baru. Kita lari dari semua hiruk pikuk perayaan ini..

13 Comments

Filed under Daily Life, Pikiran

13 responses to “Menyepi dari Waktu yang Berlari

  1. Eka

    mapir cuma mo ngucapin met tahun baru bli….

  2. Made

    met taon baru bang anton🙂

  3. Kalo semua orang akhirnya pada pulang kampung pas tahun baru, he… nanti juga pasti ada yang melarikan diri dari pulang kampung…

    MI

  4. goyangan

    met taun baru…moga makin tua…eh dewasa…😀

  5. @ eka+made+goyangan: met tau baru juga buat semua..

  6. Made

    waaa, saya juga menyepi. missed the party semalam. (ketiduran)

  7. mari mas….kita lari saja…:D have a wonderful year mas….send our best to Bani and his mummie…wish the family all the best…:x

    sakti – opie

  8. @ made: gapapa, bli. toh jd irit biaya.🙂

    @ imsuryawan: sama2, bli..

  9. saya juga cenderung merayakan malam tahun baru di tempat yg aman dan nyaman, ngumpul di rumah temen..

  10. @ wira: teman apa tunangan, pak dosen? hehe..

  11. Pingback: Selamat Tahun Baru Blogger!! | dharma-putra.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s