Lima Hari yang Meremukkan Tulang

Perjalanan ke Flores pekan lalu benar-benar untuk sebuah pekerjaan yang melelahkan. Aku melakukannya bersama Jelle, teman dari kantor pusat tempatku kerja part time. Lembaga di bidang pertanian berkelanjutan ini berkantor pusat di Belgia dan memiliki kantor setidaknya di 15 negara, termasuk di Indonesia. Kami ke Flores untuk meliput program lembaga ini di beberapa tempat di Flores.

Tentu saja melelahkan. Kami harus mengunjungi lebih dari lima kabupaten selama lima hari di Flores. Dan kondisi di sana benar-benar berbeda. Tidak seperti di Bali dan Jawa yang jalan di kampung pun sebagian besar sudah mulus dan datar. Di Flores, jalan naik turun bukit berkelok-kelok. Sudah naik turun, kondisi jalannya pun rusak parah.

Sabtu (19/1) kami tiba di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores. Setelah semalam di daerah pantai barat Flores ini, kami menuju ke Lembor. Persisnya di Desa Munting untuk melihat petani padi organik. Kami ngobrol dengan kelompok petani dampingan Yayasan Komodo Lestari (Yakines) ini.

Usai makan siang, kami pindah ke desa lain, Desa Lontoh. Meski masih satu kecamatan, aduh, desa ini sepertinya jauuuuh banget. Kami melewati jalan naik turun lagi sekitar 1,5 jam dari desa pertama. Tujuan ke sini ya sami mawon: ngobrol sama petani soal pertanian organik. Karena temanya sama, jadi ya tidak banyak yang bisa kami tulis.

Adanya malah sebel karena ini di luar skenario hari itu yang semula hanya akan liputan ke satu lokasi. Eh, kemudian aku baru tahu kalau kami diajak ke desa kedua karena teman yang menemani kami itu memang dari desa tersebut. Dasar!

Kecapekan hari itu masih bertambah karena kami harus melanjutkan ke kabupaten lain, Manggarai. Dari desa kedua, perlu waktu hampir dua jam dengan kondisi jalan yang tetap sama: berliku-liku dan naik turun.

Kami menginap di hotel sederhana di Ruteng, ibu kota kabupaten ini. Cuacanya dingin. Untungnya makan malamnya mantap. Tapi soal makanan ini di tulisan lain saja. Ada bagian tersendiri nanti.

Hari ketiga di Flores (21/1) kami ke desa Arus, kecamatan Poco Ranaka, Manggarai. Ini lokasi paling gila menurutku. Bagaimana tidak, kami harus melewati hutan lindung, bukit dan lembah, bahkan di tepi jurang untuk mencapai desa penghasil kopi ini. Sekitar 2,5 jam perjalanan kami ke desa Arus.

Di desa ini kami ngobrol soal bagaimana petani setempat membangun solidaritas antar-mereka untuk melawan broker kopi. Selain membuat koperasi, mereka juga membuat kelompok pemasaran. Ada tukang lobi, tukang cari informasi harga, dan seterusnya.

Menariknya karena kami ketemu Donatus Matur, sosok manusia langka di desa. Don ternyata ngewes bahasa Inggris. Malah bisa juga basa Jerman. Nemu orang bisa bahasa Inggris di desa yang bagiku sangat jauh dari β€œperadaban” itu tentu saja mengejutkan.Β  Makanya aku berniat bikin bagian tersendiri soal orang-orang yang kami temui selama perjalanan di Flores dan Jawa. Tapi itu nanti saja. Kalau ada waktu. Dan mood, tentu saja. Hehehe..

Kembali dari desa Arus, teman dari Delsos, LSM yang mendampingi di desa ini, mengajak kami melewati daerah lain. Katanya karena jalan lebih dekat. Namun, ini benar-benar pilihan yang aneh bagiku. Bukannya lebih dekat dan cepat, jalan yang melewati sisi tebing ini bagiku malah jauuuuh dan jeleeeek banget. Kami melewati jalan yang belum diaspal dan menurun tajam. Di beberapa bagian, malah ada jalan terputus karena dibongkar warga setempat untuk saluran air.

Tapi mobil yang kami sewa, bersama sopirnya, memang canggih. Meski bikin jantungan, tapi mobil ini mengantarkan kami selamat dunia akhirat ke jalan raya utama antar-kabupaten di Flores. Kami pun menuju kabupaten ketiga, Ngada. Namun kami melewati dulu Kabupaten Manggarai Timur. Dan, lagi-lagi, perjalanan terasa panjaaaang..

Sekitar pukul 6 sore, kami sampai di Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada. Seperti Ruteng, kota ini pun dingin karena berada di daerah mirip tengah mangkuk dikelilingi bukit. Hotel tempat kami menginap sangat bagus untuk standar harga kantor yang cuma Rp 150 ribu. Ada TV dan shower. Hingga esok pagi kami baru tahu kalau kami ternyata harus bayar Rp 285 ribu. Gedubrak!

Rupanya teman yang cariin hotel lupa untuk cari hotel yang maksimal harganya Rp 150 ribu. Alamat kami harus bersiap-siap tekor. Sedihnya, udah per diemnya kecil, aku harus nombok. Hiks.hiks..

Untungnya hari itu (22/1) adalah hari terakhir liputan di Flores. Kami akan liputan ke kelompok masyarakat adat di kawasan cagar alam Watu Ata. Masyarakat lokal ini dipaksa menyingkir dari hutan tempat mereka hidup. Maka, Lapmas, LSM di Bajawa mengadvokasi masyarakat di tepi hutan tersebut.

Lokasi liputan ini merupakan lokasi terdekat dari semua tempat yang kami kunjungi. Tidak sampai 30 menit kami ke sana. Jadi ya benar-benar menyenangkan. Apalagi karena sudah hari terakhir, jadi ya asik saja.

Usai ngobrol dengan warga setempat, sekalian aku melihat-lihat desa adat di sana yang unik itu, kami pun melanjutkan perjalanan ke lokasi terakhir liputan, di Nagekeo. Dari isu advokasi tanah, kami pindah ke soal prosessing kacang mete dari sorting, grading, drying, cracking, sampai kacangnya siap dimakan.

Lokasi ini berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Bajawa. Kami sekaligus melanjutkan ke Ende, kota terakhir tempat kami akan kembali ke Denpasar esok hari (23/1). Ketika usai wawancara dan menyelesaikan semua liputan ini, badanku terasa remuk. Tulang-tulangku seperti hilang. Benar-benar melelahkan..

10 Comments

Filed under Pekerjaan, Perjalanan

10 responses to “Lima Hari yang Meremukkan Tulang

  1. perjalanan yang melelahkan namun thanks yo mas info pertaniannya siippp mantab.semantab hidangan malamnya

  2. devari

    ada oleh2 kayu cendana ga?πŸ™‚

  3. Ina

    aku cuma baca doang dah capek aja keliatannya. apa lagi ikutan beneran…πŸ˜€

  4. @ didut: iya nih. kok aku males ya naruh poto2 di sini. padahal banyak jg poto di sana.

    @ baliazura: mantap jg komentarnya.πŸ˜€

    @ devari: sing ada, bli. dapatnya selendang. mau dikirim ke karibia?πŸ™‚

    @ ina: tp temen2 di bali bilang, kondisi di mamasa, tetangga kotamu di sulawesi katanya lbh parah. kalo aku ke sana kapan2, ntar aku ajak deh. biar ada yg mijitin. :p

  5. Tulisan tentang pertanian?! Menarik sekali! Saya tertarik dengan bagian petani melawan broker kopi nya! Mungkin kapan2 bisa diulas lebih detail Bli!

  6. wah review lg ney
    seep deh

  7. Oleh-olehnya apa bli??
    capek ya….hehehe…
    Salam kenal bli…

  8. 5 hari disana pasti jarang mandi ya….???hiks.. soale disana katanya airnya susah….apa bener itu bos…?just kiding man….

  9. @ imsuryawan: siap, bli. tunggu gen.πŸ™‚

    @ arya: ya, bli. ini review gen malu. tulisan lainnya nyusul. masih banyak.πŸ™‚

    @ indra1082: nah kan. sudah tau oleh2nya. salam kenal balik, bli.

    @ ady gondronk: hahaha, tau saja. di bali saja males mandi, apalagi di sana. tp air di sana tidak susah kok. malah berlimpah ruah. sayangnya kurang bisa dikelola.😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s